Arsip

Posts Tagged ‘teori kebutuhan maslow’

Motivasi Belajar—Penguatan (Reinforcement), Apa Bedanya Dengan Umpan Balik (Feedback)?

Juli 31, 2008 34 komentar

Author: Suhadi

Tulisan ini saya buat setelah terpicu oleh komentar seorang sahabat, Fitri Jamilah yang merupakan guru IPS dari SMPN 2 Karang Intan. Fitri adalah seorang guru profesional yang pertama kali saya kenal saat kami sama-sama mengikuti Lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional tahun 2006 di Bogor. Dan untuk bidang IPS, Fitri berhasil mengharumkan nama Kalsel sebagai Juara I mengalahkan juara-juara perwakilan dari 32 propinsi lainnya. Hebat kan ni Bu Guru? Beberapa kali dia mengomentari tulisan-tulisan di blog ini, sampai akhirnya dia mengatakan tertarik untuk membuat blog juga. Ingin punya blog sendiri. Ternyata oh ternyata, sekarang Fitri muncul dengan tiga blog sekaligus, yaitu Black Zone, Puuuuuisi, dan Esai-Artikel. Salut!

Fitri, pada posting saya yang berjudul “Motivasi Belajar—Feedback Bisa Dijadikan Sarana Untuk Tujuan Ini Lho!”, memberikan komentar yang sangat menarik. Begini bunyinya:

·         Setelah saya ingat-ingat, feedback yang bapak contohkan selama ini sering saya lakukan, tapi saya tidak tau kalau itu namanya feedback. saya pikir itu yang namanya memberi penguatan. Apapun istilahnya, memang wajib dilakukan guru untuk memotivasi siswanya…,ya kan…

Pada prinsipnya saya sependapat dengan Fitri, bahwa “apapun istilahnya, memang wajib dilakukan oleh guru untuk memotivasi siswanya.” Sip!

 

Sekarang, yang membuat saya tertarik untuk menulis ini adalah Fitri berpikir bahwa apa yang telah dilakukannya itu namanya penguatan (reinforcements/reinforcers). Lalu, yang jadi pertanyaan adalah, samakah penguatan dengan feedback (umpan balik)? Saya telah menjawab komentar Fitri dengan mengatakan bahwa “kedua-keduanya bisa menjadi kabur saat kita menerapkannya di dalam kelas”. Kok bisa begitu? Ya, bisalah. He..he… Memang kita bangsa yang suka bikin kabur makna istilah-istilah khusus. (Fit, jangan marah, saya tidak menyalahkan kamu. Jangan ngambek. Cuma alangkah baiknya kalau kita sama-sama membuka lagi materi kuliah dulu waktu di FKIP Unlam  tentang apa itu penguatan dan apa itu feedback.) Sekali lagi saya tandaskan, bahwa ini cuma teori. Teori tanpa praktek sama saja dengan omong kosong, Baca selanjutnya…

Teori Kebutuhan Maslow, Pendidikan di Indonesia, dan Unjuk Rasa Yang Santun

Mei 15, 2008 8 komentar

\

Author: Suhadi

Masih ingat tentang Teori Kebutuhan Maslow?

Maslow, 1954, membagi kebutuhan manusia menjadi dua kelompok utama, yaitu kebutuhan dasar dan kebutuhan tumbuh.

Kebutuhan dasar sebagaimana namanya berada di bawah posisi kebutuhan tumbuh. Kebutuhan dasar ini berturut-turut dari bawah ke atas adalah: (1) kebutuhan fisiologis, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, dll; (2) kebutuhan akan rasa aman; (3) kebutuhan untuk dicintai; (4) kebutuhan untuk dihargai.

Sedangkan kebutuhan tumbuh hierarkinya berada di sebelah atas posisi kebutuhan dasar, berturut-turut dari bawah ke atas: (5) kebutuhan untuk mengetahui dan memahami (belajar); (6) kebutuhan keindahan; (7) kebutuhan aktualisasi diri.

Catat: Kebutuhan yang berada di hierarki lebih tinggi baru akan dirasakan bila kebutuhan yang ada di hierarki lebih bawah telah terpenuhi.

 

Nah, setelah mengingat kembali pelajaran saya waktu sma ini, saya jadi ketawa sendiri (adik ipar saya yang ada di kamar sebelah mungkin berpikir kalau saya sudah mulai gila). Mengapa ketawa sendiri? Saat saya menghubung-hubungkan teori Maslow ini dengan dunia pendidikan kita yang kualitasnya dicoba “ditingkatkan” dengan cara menaikkan standar kelulusan siswa pada UN 2008. Huh! Menaikkan kualitas pendidikan secara riil atau hanya semu dengan permainan angka-angka di atas kertas seperti yang selama ini pemerintah lakukan pada bidang-bidang lain?

 

Sebelum saya lanjutkan, tolong pembaca jangan berpikiran bahwa saya menulis ini karena saya takut siswa-siswa saya tidak lulus UN. Kami telah mempersiapkan mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka telah belajar semampunya. Kami juga selalu berdo’a. Sembahyang hajat berjama’ah, mengadakan selamatan, bahkan mungkin karena putus asa, ada siswa saya yang pergi ke dukun untuk minta jampi-jampi supaya mendapat pencerahan saat menjawab soal-soal UN (wallahualam—siapa yang tau?). Baca selanjutnya…