Archive

Posts Tagged ‘tajak’

Jerami (6)

Januari 9, 2009 33 komentar

Author: Suhadi

 

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), Jerami (3), Jerami (4), atau Jerami (5)?

 

Danan menghela napas. Sedikit ragu-ragu, lelaki setengah baya itu mulai menceritakan tragedi di tepi desa, yang hanya diketahui segelintir orang.

 

***

 

Sepuluh hari yang lau, di pinggiran Desa Sisir Punduk, di ambang batas Hutan Beringin:

 

pinah-dan-dananDanan senang sekali, demikian pula isterinya Pinah. Hari itu cuaca sangat bangus. Cerah. Tak ada seorangpun dari mereka yang menduga bahwa di hari itu akan terjadi sesuatu yang merupakan pangkal banyak kejadian ganjil di Desa Sisir Punduk beberapa hari kemudian.

 

Kicau burung-burung penyanyi menyemangati iring-iringan mereka. Bersama mereka ikut Harti, Dayat, Kustam, dan Acin. Keenam orang itu sedang menuju hamparan luas padi yang sedang menguning. Mereka akan menuai padi. Memang tidak biasanya Hardi mau bergabung membantu pekerjaan di sawah. Biasanya hanya Danan dan Pinah yang mengurusi sawah-sawah peninggalan mendiang orang tua mereka.

 

Hari itu Harti juga diajak karena lebih mudah membawanya ikut serta daripada meninggalkan gadis terbelakang mental itu di rumah sendirian. Dayat dan Kustam masih terhitung sepupu Danan. Sedangkan Acin, pemuda yang juga terbelakang mental itu ikut membantu karena ia memang biasa diajak Danan. Acin, pemuda bermata sipit berambut lurus tegak seperti lidi itu sudah ikut memelihara padi di sawah milik peninggalan almarhum ibu Danan di pinggir Hutan Beringin. Kebetulan, Acin memang tinggal di sekitar situ.

 

Acin adalah pemuda penderita down syndrome sebagaimana Harti, adik tiri Danan. Walaupun demikian, bujang yang senang keluar-masuk Hutan Beringin, lalu bercerita tentang makhluk-makhluk halus penunggunya ini cukup dapat diandalkan tenaganya. Acin sangat lihai menggunakan tajak, alat khusus serupa parang yang bertangkai panjang, berbentuk huruf L, biasa dipakai penduduk untuk menyiangi rumput di sawah yang berair. Tenaganya yang kuat juga bisa diandalkan untuk mengangkut karung-karung gabah yang selesai dirontok oleh mesin perontok milik Dayat dan Kustam. Saat bulir-bulir padi mulai menguning, Acin juga diberi tugas oleh Danan untuk menghalau burung-burung pipit dan gelatik, hama pemakan biji padi.

  Baca selanjutnya…

Jerami (1)

November 22, 2008 23 komentar

jerami-monster2Author: Suhadi

 

“Braaakkkk…kkk!!!!!”. Pintu dari kayu yang kokoh itu terkuak dengan lebar. Lalu bergetar. Pintu itu seakan terlepas dari sepasang engsel dan bingkainya karena didobrak dengan sangat keras.  Hempasannya menggetarkan seluruh bagian dinding rumah besar yang terbuat dari papan. Hardi, pemuda berusia tujuhbelas tahun itu menggigil ketakutan. Giginya gemeletuk. Lututnya terasa lemas. Perlahan-lahan ia menyeret tubuhnya beringsut mundur ke belakang. Beberapa langkah. Terasa berat sekali. Ia mundur hingga punggungnya yang penuh berotot dan kekar itu menyentuh dinding. Tangannya meraba-raba benda yang ada di sekitar tempatnya berdiri. Banyak sekali alat-alat pertanian di tempat itu. Ada sekop, cangkul, linggis, garu, parang, hingga mata bajak mesin traktor. Ia berusaha menemukan salah satu di antaranya. Tangannya berhasil menyenggol sesuatu. Ia merobohkan beberapa kaleng pestisida yang disusun di atas sebuah bangku panjang. Suara kaleng berjatuhan itu membuat Hardi semakin takut. Sial, rutuknya dalam hati. Hardi meraba-raba lagi dengan lebih hati-hati. Kini tangannya menyentuh sesuatu. Cangkul. Hati Hardi masygul. Ragu, apakah benda yang dipegangnya itu merupakan alat yang dapat melindunginya dari sesuatu yang sedang mengejarnya. Tapi tak ada pilihan lain. Terlalu gelap di ruangan itu. Ia tak bisa melihat apa-apa dalam kekalutannya.

  Baca selanjutnya…