Arsip

Posts Tagged ‘science fiction’

Jerami 8

Maret 23, 2009 11 komentar

Author: Suhadi

Baca dulu ………….Jerami 7

Di Kota Kecamatan Pandan Barambang, di Kantor Polisi Sektor, tampak beberapa orang petugas sedang melayani pengaduan warga. Kegemparan di Desa Sisir Punduk telah mengawali kejadian ini. Seorang anak berumur delapan tahun, bernama Muji telah menghilang. Muji di duga tersesat masuk ke dalam Hutan Beringin yang angker di tepi desa.

Seorang perempuan berumur empatpuluhan, Bu Hasnah dan seorang lelaki, Pak Jarin duduk di kursi berseberangan meja dengan Pak Darto. Perempuan itu tak berhenti-henti menagisi anaknya, Muji. Sang suami berusaha menenangkannya tapi seakan tak berhasil karena hatinyapun tak kalah gundah.
“Jadi kapan Muji terlihat?” tanya Pak Darto sambil mengetik keyboard komputernya.
“Terakhir mereka bermain bola di tepi desa bersama kawan-kawannya kemarin pagi.”
“Teman-temannya tak ada yang tahu ke mana Muji pergi setelah bermain bola?”
“Tidak ada, Pak. Setelah bermain bola mereka pulang. Tak ada yang memperhatikan apakah Muji juga pulang.”
“Yakin anak itu tersesat di dalam Hutan Beringin? Bukannya bermain di sungai atau tempat lainnya setelah bermain bola?”
“Yakin benar sih tidak Pak, cuma yang jelas anak itu tak pernah berani main ke sungai. Ia tak pandai berenang. Dan sudah beberapa kali anak-anak hilang dan tersesat di Hutan Beringin sebelum ini. Kami juga menemukan sandalnya yang tertinggal di sawah itu.” Seorang penduduk lainnya memberikan masukan.

Pak Darto mengetik lagi di keyboardnya.

“Selain Muji, Si Acin yang tinggal di tepian Hutan Beringin juga menghilang Pak. Ia tak pernah lagi muncul. Mungkin penunggu hutan itu sedang marah dengan penduduk, Pak.” Seru salah seorang penduduk yang ikut mengantar ayah dan ibu Muji melapor.

“Jadi selain Muji, ada juga seorang warga yang menghilang. Warga itu bernama Acin?” Tanya Pak Darto sambil mengelus kumis tebalnya.

“Benar, Pak. Acin itu pemuda yang agak terbelakang mental. Pondoknya tak jauh dari tempat anak-anak bermain bola itu.” Sambung sang pelapor lainnya.

“Baiklah. Laporan Bapak-Bapak saya terima. Kita sebaiknya berkoordinasi dengan kepala desa agar dapat membantu mengerahkan warga untuk mencari Muji di hutan itu. Kita perlu banyak orang. Bapak-Bapak pasti maklum kalau kami tak punya cukup orang di kantor polisi ini untuk melakukan pencarian. Bagaimana?”

“Tentu, Pak. Kami sudah berbicara dengan kepala desa, sekarang beliau memang tidak bisa ikut ke sini karena ada urusan keluarga di Amuntai.”

“Bagus! Tapi kita harus bergerak cepat. Kalau benar anak itu tersesat di sana kita harus segera menolongnya.”

Mendengar itu, semua orang manggut-manggut memaklumi. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan seorang anak sekecil Muji yang hanya berumur delapan tahun di tengah Hutan Beringin yang angker itu. Si perempuan yang merupakan ibu Muji itu semakin terisak. Beberapa saat saja, orang-orang itu segera meninggalkan tempat itu, selain Pak Darto ada dua orang polisi muda lain yang mengikuti mereka itu melakukan pencarian.

***

Di sebuah rumah kecil yang agak terpencil dari rumah-rumah lainnya karena dikelilingi kebun singkong yang amat luas, seorang perempuan yang dikenal dengan nama Mak Antung sedang mencoba mengobati seorang pasien. Pasien itu adalah seorang anak kecil berumur sekitar sepuluh tahun.
Baca selanjutnya…

Iklan

Jerami (7)

Januari 24, 2009 19 komentar

monster-hospes-jeramiAuthor: Suhadi

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), Jerami (3), Jerami (4)Jerami (5), atau Jerami (6)?

Benda bulat itu tak lebih besar dari buah kelapa. Sebola kaki. Dalam keadaan melayang di udara dan mengeluarkan cahaya yang amat menyilaukan dan suara berdesing itu, benda aneh itu telah menyembuhkan Acin. Bahkan hingga ke sekecil-kecilnya infeksi nonmutualis—apalagi parasitis. Tak ada inflamasi apapun di tubuh Acin. Tubuh Acin telah siap untuk sebuah misi yang amat penting. Tubuh itu telah siap sebagai sebuah medium bagi sesuatu yang akan membuatnya menjadi suatu makhluk yang benar-benar berbeda. Hospes!

Benda bulat itu semakin nyaring berdesing. Semakin menyilaukan cahayanya. Acin tak sanggup lagi memandanginya. Ia berlutut, menunduk, dan menutup telinga serapat-rapatnya dengan kedua telapak tangan. Saat saraf-sarafnya sampai di limit terendah untuk menahan rasa sakit, benda bulat hitam mengilap itu meledak.

“Dhuarrrrr…rrrr!!!!!!!!!!!!!”

Menakjubkan. Tidak tampak ada serpihan-serpihan. Benda itu total berhamburan dalam bentuk serbuk hitam yang amat halus. Lebih halus dan lebih lembut dari bedak. Warna serbuk yang hitam membuat udara di sekitar tempat itu menjadi berkabut gelap.

Acin mendongakkan kepala. Ia perlahan bangkit dan berdiri. Kedua belah tangannya didedahkan keangkasa. Acin tersenyum. Ia kemudian tertawa-tawa dan menari-nari. Berputar-putar seperti anak-anak sedang mandi hujan di tengah hamparan rumpun-rumpun padi yang baru dipanen. Melompat-lompat di atas jerami sambil menadahkan tangannya ke angkasa. Keajaiban terus berlanjut. Baca selanjutnya…

Jerami (6)

Januari 9, 2009 33 komentar

Author: Suhadi

 

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), Jerami (3), Jerami (4), atau Jerami (5)?

 

Danan menghela napas. Sedikit ragu-ragu, lelaki setengah baya itu mulai menceritakan tragedi di tepi desa, yang hanya diketahui segelintir orang.

 

***

 

Sepuluh hari yang lau, di pinggiran Desa Sisir Punduk, di ambang batas Hutan Beringin:

 

pinah-dan-dananDanan senang sekali, demikian pula isterinya Pinah. Hari itu cuaca sangat bangus. Cerah. Tak ada seorangpun dari mereka yang menduga bahwa di hari itu akan terjadi sesuatu yang merupakan pangkal banyak kejadian ganjil di Desa Sisir Punduk beberapa hari kemudian.

 

Kicau burung-burung penyanyi menyemangati iring-iringan mereka. Bersama mereka ikut Harti, Dayat, Kustam, dan Acin. Keenam orang itu sedang menuju hamparan luas padi yang sedang menguning. Mereka akan menuai padi. Memang tidak biasanya Hardi mau bergabung membantu pekerjaan di sawah. Biasanya hanya Danan dan Pinah yang mengurusi sawah-sawah peninggalan mendiang orang tua mereka.

 

Hari itu Harti juga diajak karena lebih mudah membawanya ikut serta daripada meninggalkan gadis terbelakang mental itu di rumah sendirian. Dayat dan Kustam masih terhitung sepupu Danan. Sedangkan Acin, pemuda yang juga terbelakang mental itu ikut membantu karena ia memang biasa diajak Danan. Acin, pemuda bermata sipit berambut lurus tegak seperti lidi itu sudah ikut memelihara padi di sawah milik peninggalan almarhum ibu Danan di pinggir Hutan Beringin. Kebetulan, Acin memang tinggal di sekitar situ.

 

Acin adalah pemuda penderita down syndrome sebagaimana Harti, adik tiri Danan. Walaupun demikian, bujang yang senang keluar-masuk Hutan Beringin, lalu bercerita tentang makhluk-makhluk halus penunggunya ini cukup dapat diandalkan tenaganya. Acin sangat lihai menggunakan tajak, alat khusus serupa parang yang bertangkai panjang, berbentuk huruf L, biasa dipakai penduduk untuk menyiangi rumput di sawah yang berair. Tenaganya yang kuat juga bisa diandalkan untuk mengangkut karung-karung gabah yang selesai dirontok oleh mesin perontok milik Dayat dan Kustam. Saat bulir-bulir padi mulai menguning, Acin juga diberi tugas oleh Danan untuk menghalau burung-burung pipit dan gelatik, hama pemakan biji padi.

  Baca selanjutnya…