Archive

Posts Tagged ‘monster’

Jerami (7)

Januari 24, 2009 19 komentar

monster-hospes-jeramiAuthor: Suhadi

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), Jerami (3), Jerami (4)Jerami (5), atau Jerami (6)?

Benda bulat itu tak lebih besar dari buah kelapa. Sebola kaki. Dalam keadaan melayang di udara dan mengeluarkan cahaya yang amat menyilaukan dan suara berdesing itu, benda aneh itu telah menyembuhkan Acin. Bahkan hingga ke sekecil-kecilnya infeksi nonmutualis—apalagi parasitis. Tak ada inflamasi apapun di tubuh Acin. Tubuh Acin telah siap untuk sebuah misi yang amat penting. Tubuh itu telah siap sebagai sebuah medium bagi sesuatu yang akan membuatnya menjadi suatu makhluk yang benar-benar berbeda. Hospes!

Benda bulat itu semakin nyaring berdesing. Semakin menyilaukan cahayanya. Acin tak sanggup lagi memandanginya. Ia berlutut, menunduk, dan menutup telinga serapat-rapatnya dengan kedua telapak tangan. Saat saraf-sarafnya sampai di limit terendah untuk menahan rasa sakit, benda bulat hitam mengilap itu meledak.

“Dhuarrrrr…rrrr!!!!!!!!!!!!!”

Menakjubkan. Tidak tampak ada serpihan-serpihan. Benda itu total berhamburan dalam bentuk serbuk hitam yang amat halus. Lebih halus dan lebih lembut dari bedak. Warna serbuk yang hitam membuat udara di sekitar tempat itu menjadi berkabut gelap.

Acin mendongakkan kepala. Ia perlahan bangkit dan berdiri. Kedua belah tangannya didedahkan keangkasa. Acin tersenyum. Ia kemudian tertawa-tawa dan menari-nari. Berputar-putar seperti anak-anak sedang mandi hujan di tengah hamparan rumpun-rumpun padi yang baru dipanen. Melompat-lompat di atas jerami sambil menadahkan tangannya ke angkasa. Keajaiban terus berlanjut. Baca selanjutnya…

Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 3)

Juli 4, 2008 22 komentar

Author: Suhadi

 

Bila Anda tergesa-gesa tapi berkenan untuk membaca, silakan di save lebih dulu. Posting ini cukup panjang.

 

Ada baiknya Anda baca secara berurut dari Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 1), sebelum membaca Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 3) ini

 

Kini Madi sudah berada di depan pintu gerbang. Cahaya sepotong bulan di langit cerah berbintang sangat membantu pandangannya. Ia tak perlu menyalakan senter kecil. Tak seperti saat tadi mereka menyusuri jalan setapak berbatu di dalam perkebunan.

 

Besi-besi penyusun gerbang itu sudah berkarat. Walaupun tak terkuak lebar, pintu gerbang yang sedikit terbuka itu masih memungkinkan orang untuk keluar masuk halaman dengan mudah. Hampir seluruh bagian gerbang telah dililit oleh tanaman liar yang merambat. Pintu gerbang itu bersambungan dengan pagar yang juga dari dari jeruji besi. Tinggi pagar dan pintu gerbang lebih kurang dua kali tinggi orang berdiri. Keadaan pagar sama seperti pintu gerbang, penuh tanaman liar yang merambat. Seingat Madi pagar tinggi itu mengelilingi seluruh halaman, termasuk rumah-rumah petak bekas tempat tinggal pegawai perkebunan dan gudang di bagian belakang rumah. Sebenarnya ada dua pintu gerbang. Di depan ini dan di bagian belakang.

 

Rumah besar itu benar-benar tampak gelap. Balkon besar yang terdapat di atas teras juga gelap. Hanya pantulan cahaya bulan yang memperjelas bentuk pilar-pilar megah penyangganya yang mungkin terbuat dari pualam. Jendela-jendela kaca di lantai atas sama sekali tak menyiratkan ada kehidupan di dalamnya. Bingkai kusennya seakan membentuk figura. Bagaikan pajangan lukisan-lukisan malam di atas kanvas hitam pada sebuah pameran. Gadis yang pintar dan sangat hati-hati, pikir Madi. Siapapun tentu takkan menyangka bila ada orang yang menghuni rumah besar itu. Kesan angker dan kisah mengerikan yang membalutnya takkan membuat orang berani dekat-dekat rumah itu. Apalagi memasukinya. Diedarkannya pandangan ke seluruh bagian halaman. Penuh semak belukar lebat dan tinggi. Tak ada siapa-siapa.

 

Bunyi jengkrik dan tonggeret masih terdengar, walaupun sesekali berhenti. Madi memberi isyarat dengan gerakan tangan agar Rudi, Amat, dan Galih bergerak maju. Ketiganya mendekat. Baca selanjutnya…