Arsip

Posts Tagged ‘media pembelajaran’

Tips untuk Guru: Memilih Sumber Belajar

Oktober 8, 2010 7 komentar

Author: Suhadi

We are students of words: we are shut up in schools, and colleges, and recitation-rooms, for ten or fifteen years and come out at last with a bag of wind, a memory of words, and do not know a thing. (Ralph Waldo)

Kegiatan belajar-mengajar (KBM) yang berhasil dengan baik, seringkali dalam pelaksanaannya mengandalkan penggunaan sumber belajar yang tepat atau sesuai, tidak melulu berupa ceramah dengan hamburan kata-kata dari sang guru. Sumber belajar yang sesuai, saat digunakan dalam KBM akan memberikan manfaat seperti: (1) Memberikan dorongan kepada siswa terhadap pembelajaran karena dapat menarik perhatian dan merangsang minat mereka; (2) Pengalaman belajar yang diperoleh siswa menjadi lebih bermakna dan membuat mereka terlibat secara langsung; (3) Dapat memberikan andil dalam pembentukan sikap dan pengembangan apresiasi siswa terhadap pembelajaran dan terhadap guru; (4) Dapat memperjelas dan memberikan ilustrasi yang lebih baik serta memberikan kesempatan bagi siswa untuk melatihkan keterampilan bekerja.

Ada beragam sumber belajar yang dapat digunakan oleh guru dalam KBM, misalnya: (1) sumber nyata, yang dapat berupa pembicara tamu, benda dan alat, model dan tiruan benda asli; (2) bahan tak terproyeksikan (dwimatra), seperti lembaran kertas bercetak, papan tulis atau kartu peraga, diagram, bagan, grafik, foto objek, dan alat bantu kerja; (3) rekaman suara, dapat berupa rekaman dalam kaset, rekaman dalam cakram atau disc; (4) gambar diam yang diproyeksikan, dapat berupa slide, lembaran transparan-OHP, program komputer; (5) gambar bergerak yang diproyeksikan, dapat berupa film, rekaman video; (6) kombinasi media, yang dapat berupa kertas bercetak dan kaset suara, slide dan kaset suara, komputer interaktif dan cakram/disc, presentasi dengan program power point atau flash.

sumber: coin-ced.org

Dengan beragamnya sumber belajar yang mungkin tersedia, maka seorang guru harus bisa memilih sumber belajar yang tepat untuk KBM yang akan dilaksanakannya. Setidaknya, ada 3 cara yang lazim digunakan oleh guru untuk memilih sumber belajar, yaitu: Baca selanjutnya…

Iklan

Cara Membuat Awetan Basah Tumbuhan Lumut

Agustus 27, 2009 Tinggalkan komentar

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk membuat media pembelajaran berupa awetan basah tumbuhan lumut.
Pertama:
Bersihkan kotoran dan tanah dari tumbuhan lumut yang ingin diawetkan.
Kedua:
Siapkan larutan fiksatif dengan komposisi: (1) asam asetat glasial sebanyak 5 ml; (2) formalin sebanyak 10 ml; (3) etil alkohol sebanyak 50 ml. Selanjutnya untuk mempertahankan warna hijau lumut, dapat pula ditambahkan ke dalam larutan fiksatif tadi larutan tembaga sulfat dengan komposisi: (1) tembaga sulfat 0,2 gram; dan (2) aquades sebanyak 35 ml.
Ketiga:
Matikan lumut dengan merendamnya ke dalam larutan fiksatif yang telah ditambahkan larutan tembaga sulfat tadi. Biasanya diperlukan 48 jam perendaman.
Keempat:
Siapkan tempat berupa botol penyimpanan yang bersih, kemudian isi dengan alkohol 70% sebagai pengawetnya.
Kelima:
Masukkan lumut yang telah siap tadi dalam botol penyimpanan, atur posisinya sehingga mudah diamati.
Keenam:
Buatkan label berupa nama spesies lumut tanpa mengganggu pengamatan.
Ketujuh:
Awetan basah tumbuhan lumut siap digunakan. Secara berkala atau bila perlu, misalnya larutan menjadi keruh atau berkurang, gantilah dengan larutan pengawet yang baru secara hati-hati.

Cara Membuat Awetan Kering Kerangka Katak

Agustus 15, 2009 Tinggalkan komentar

Kerangka katak yang diawetkan dapat digunakan untuk media pembelajaran macam-macam bentuk tulang. Cara membuat awetan rkering angka katak adalah sebagai berikut:
Pertama:
Lepaskan semua kulit dan daging dari tulang secara hati-hati. Jangan sampai persendian terputus. Upayakan sebersih mungkin, sampai daging yang melekat pada rangka seminimal mungkin.
Kedua:
Rendam rangka katak dalam bubur kapur. Bubur kapur dapat dibuat dengan melarutkan CaO ke dalam air, dengan menambahkan sedikit KOH.
Ketiga:
Bila tulang telah bersih, cucilah bubur kapur dari rangka.
Keempat:
Keringkan rangka dan atur posisinya pada suatu landasan yang telah disediakan terlebih dahulu.
Kelima:
Pernis rangka katak tersebut, sehingga tampak lebih menarik dan membuat tulang-tulang menjadi lebih awet.
Keenam:
Beri label atau keterangan pada awetan yang sudah jadi tersebut.

Cara Membuat Taksidermi (Awetan Kering Hewan)

Agustus 7, 2009 4 komentar

Taksidermi adalah hewan hasil pengawetan, biasanya golongan vertebrata yang dapat dikuliti. Pada pembuatan taksidermi, hewan dikuliti, organ-organ dalam dibuang, untuk selanjutnya dibentuk kembali seperti bentuk aslinya. Ewan-hewan vertebrata yang sering dibuat taksidermi misalnya berbagai jenis mamalia, kadal atau reptil, dsb. Taksidermi seringkali dipergunakan sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan vertebrata, juga menunjukkan berbagai macam ras yang dimiliki suatu spesies. Selain itu, tentu saja taksidermi dapat dijadikan sebagai media pembelajaran biologi.
Alat dan bahan yang diperlukan antara lain: (1) bak bedah; (2) alat-alat bedah seperti gunting dan pinset; (3) alat-alat dan bahan pembius misal kloroform dan sungkup; (4) kawat, benang, kapas, dan jarum jahit; (5) zat pengawet seperti boraks atau tepung tawas, formalin; (6) air.
Cara pembuatan taksidermi adalah sebagai berikut.
Pertama:
Potong otot-otot paha dan pisahkan tulang paha dari persendian dan pangkal paha, keluarkan bagian ini.
Kedua:
Potonglah otot-otot pada tumit, keluarkan jaringan lunak pada telapak kaki dengan jalan mengirisnya. Keluarkan semua bagian kaki lainnya yang masih tertinggal di dalam kulit.
Ketiga:
Ulangi langkah pertama dan kedua di atas untuk bagian tangan, dan ekor.
Keempat:
Untuk bagian kepala, lepaskan kulit secara hati-hati, sertakan telinga, kelopak mata pada kulit. Jaga jangan sampai robek. Potonglah tulang rawan hidung dan biarkan melekat pada kulit. Potonglah bagian kepala dan leher, bersihkan bekas-bekas otak dengan cara menyemprotkan air.
Kelima:
Balikkan kulit dan bersihkan dari sisa daging dan lemak.
Keenam:
Basuh bagian permukaan dalam kulit tubuh dengan boraks, demikian pula untuk ekor, kaki, tangan dan tengkorak kepala.
Ketujuh:
Sebagai pengganti mata, gunakan bola mata tiruan. Bentuk tubuh hewan kembali dengan menggunakan kapuk dan kawat, lalu jahit dengan rapi.
Kedelapan:
Atur posisi hewan sebagaimana kebiasan hewan sewaktu masih hidup.
Kesembilan:
Pajang taksidermi pada tempat-tempat yang aman dan terhindar dari serangan serangga, bersih dan kering. Insektisida, atau kamper (naftalen) dapat ditambahkan untuk mencegah serangan jamur. Ada baiknya taksidermi disimpan dalam boks kaca.

Cara Membuat Awetan Hewan Sehingga Tampak Transparan

Agustus 1, 2009 1 komentar

Pada pembelajaran biologi, di beberapa materi, misalnya sistem rangka memerlukan media pembelajaran asli. Untuk melihat bagaimana susunan tulang-tulang pembentuk rangka dalam keadaan dan posisi sebenarnya di dalam tubuh hewan yang diawetkan seperti tikus, kodok, kadal, burung, ikan, dsb., kita harus membuat jaringan-jaringan yang menutupi rangka hewan-hewan tersebut menjadi transparan. Tulang-tulang penyusun rangka akan dapat diamati dengan mudah pada kedudukan aslinya karena jaringan otot telah berubah menjadi transparan.

Cara membuatnya adalah sebagai berikut:

Pertama:

Semua hewan yang ingin dibuat awetan jenis ini harus terlebih dahulu dibersihkan dari sisik, bulu, maupun rambutnya.

Kedua:

Fiksasi tubuh hewan tersebut ke dalam larutan formalin 10% sekurang-kurangnya 1 minggu.

Ketiga:

Masukkan awetan tersebut ke dalam larutan KOH 2% agar daging atau otot menjadi transparan. Lama perendaman tergantung jenis hewan dan ketebalan dagingnya. Selama melakukan perendaman, lakukan penggantian larutan bila KOH telah menjadi keruh. Penggantian harus dilakukan dengan segera, bila terlambat 2-3 hari, awetan dapat menjadi hancur, dan anda harus mengulang lagi dari langkah awal. Bila daging telah benar-benar transparan, pindahkan awetan ke larutan KOH yang baru, dan anda dapat melanjutkan pembuatan ke tahapan berikutnya.

Keempat:

Beri beberapa tetes larutan Alizarin Red S. (5-6 tetes untuk larutan 250 ml), sehingga larutan berwarna merah muda. Biarkan hewan dalam larutan ini selama 24 jam hingga tulang menjadi berwarna ungu muda. Larutan Alizarin Red S dibuat dengan cara melarutkan 0,1 gram kristal Alizarin Red S ke dalam larutan KOH 1% yang telah ditambah sedikit NH4OH.

Kelima:

Pindahkan awetan ke dalam larutan yang terdiri dari KOH 1% dan gliserin dengan perbandingan 1:1, dan biarkan sampai awetan hewan tenggelam.

Keenam:

Masukkan ke dalam tempat penyimpanan yang permanen dengan larutan gliserin murni dan atur posisi hewan awetan. Agar tidak epat berjamur, dapat ditambahkan sedikit timol atau fenol.