Arsip

Posts Tagged ‘lateks’

Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 4)

Juli 10, 2008 25 komentar

Author: Suhadi

 

Bila Anda tergesa-gesa tapi berkenan untuk membaca, silakan di save lebih dulu. Posting ini cukup panjang.

 

Ada baiknya Anda baca secara berurut dari Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 1), sebelum membaca Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 4-Tamat) ini

 

Kepala Madi masih terasa sakit. Keras sekali pukulan di belakang kepalanya tadi. Sudah lewat tengah malam saat ia tersadar dari pingsan. Badannya pegal-pegal karena ikatan tangan dan kakinya di kursi itu sangat kencang dan kuat. Ia tak bisa bergerak. Bulan dan Pak Ramdani—yang sekarang berupa sosok sangat mengerikan itu—telah meninggalkan mereka bertiga dalam keadaan terpasung. Ada segumpal penyesalan di hati Madi. Diamatinya keadaan Rudi yang tertembak di bahu kanan. Darah sesekali masih keluar dan merembes membasahi bajunya. Ah mudah-mudahan anak itu bisa bertahan, tak kehabisan darah. Wajahnya sudah nampak pucat. Sementara itu, Galih dengan kacamata minusnya masih tergolek-tengadah. Mulutnya setengah terbuka. Kacamata minusnya tampak sedikit retak di sudut bawah belahan lensa kirinya. Dipukul seperti dia-kah anak itu sehingga sampai sekarang tak sadar-sadar juga? Teringat Madi akan lolongan-teriakan Amat yang demikian keras tadi malam saat tertangkap akan masuk lewat jendela. Diapakan Pak Ramdani sahabatnya yang selalu menurut padanya itu? Kenapa ia tak ada di sini? Kenapa Amat tak diikat bersama mereka? Dibunuhkah? Mudah-mudahan ia berhasil melarikan diri. Jika ia tewas, tak akan ada yang tahu kami terperangkap di sini. Oh, habislah sudah. Semua ini salahku. Akan diapakan aku dan teman-teman oleh kedua beranak itu? Mereka sedang menyiapkan sesuatu untukku. Menyiapkan apa? Digantungkah? Atau disiram larutan asam sulfat? Madi tak berani membayangkannya. Ia takkan sanggup menanggung rasa sakitnya.

 

Nyali Madi benar-benar sudah menciut. Tak ada lagi bayangan pesta pora penyekapan Bulan seperti yang mereka rencanakan saat di kamarnya tadi sore. Tak ada lagi desir kenikmatan ketegangan itu. Kini ia benar-benar tak berdaya. Bulan ternyata jauh lebih kuat dari dugaannya. Bulan ternyata bukan gadis lemah tak berdaya. Ia bahkan masih punya Pak Ramdani yang dikiranya telah tewas sepuluh tahun yang lalu.

 

Sampai kokok ayam hutan mulai terdengar, tak satupun, baik Galih maupun Rudi yang sadar dari pingsannya. Usaha Madi untuk melepaskan diri dari ikatan tali-temali yang menjerat tangan, tubuh, dan kakinya—sia-sia belaka. Lampu tembok masih menyala, walaupun salah satunya sudah mulai meredup karena—mungkin mulai kehabisan bahan bakarnya. Entah sudah berapa lama sejak ayam hutan berkokok bersahutan. Madi berusaha menggeser pergelangan tangannya. Tali nilon pengikat lengan itu begitu kencang dan kuat, sakit rasanya. Ia berhasil juga melirik jam tangan digital di pergelangan. Pukul 06.23. Sudah pagi rupanya.

 

Tak berselang lama, Madi mendengar langkah-langkah kaki di luar. Lalu bunyi pintu ruangan itu di buka. Bulan muncul dengan sosok mengerikan—Pak Ramdani. Senyum penuh kemenangan nampak jelas di sudut bibir gadis cantik bersepatu boot kulit itu. Sorot matanya dingin dan tajam. Sambil menyibakkan tirai compang-camping yang menutup jendela, gadis itu berbicara pada Pak Ramdani. Cahaya matahari pagi masuk lewat kaca kusam berdebu.

“Hoo, belum sadar juga dua cecunguk ini rupanya.”

“Argghhh mgrrrhhhhhaahhh.”

“Ya, mungkin ayah terlalu keras memukul si kacamata ini.” Kata Bulan sembari memeriksa kepala Galih.

 

Ia kemudian beralih mengamati kondisi Rudi yang pucat pasi. Gadis itu memegang sekitar pergelangan tangannya. Mungkin ia mencoba mencari nadi Rudi untuk memeriksa keadaannya. Ia juga memegangi jidat Rudi. Madi hanya dapat memandanginya saja.

“Mungkin temanmu yang satu ini sebentar lagi akan mati.” Kata Bulan tanpa ekspresi pada Madi, kecuali tatapannya yang dingin dan tajam. Suaranya bahkan terdengar datar tanpa intonasi. Baca selanjutnya…

Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 1)

Juni 24, 2008 33 komentar

Author: Suhadi

 

Suara ketiga motor itu meraung-raung saat dipacu para pengendaranya. Mereka bergerak melingkari perbukitan. Saling salip di bawah pohon-pohon karet. Turun naik mengikuti sebuah jalan setapak yang hampir tertutup oleh semak karena hampir tak pernah dilewati penduduk. Ada enam orang di atas motor-motor itu. Mereka saling berboncengan. Madi dan Jainah, Rudi dan Amat, serta Galih dan Rina. Seragam putih abu-abu mereka penuh corat-coret spidol, stabillo, dan cat semprot aneka warna. Pengumuman kelulusan mereka di sekolah tadi pagi membuat keenam siswa satu-satunya SMA di kaki Pegunungan Meratus itu larut dalam euforia. Ini adalah sebuah perayaan kelulusan. Dan mereka punya rencana gila. Menghabiskan waktu siang itu—setelah puas corat-coret baju dan konvoi dengan teman-teman lain—ke sebuah tempat terpencil. Jauh, di dalam sebuah perkebunan karet yang pernah menggegerkan kota kecil mereka.

 

Ya, sebuah kejadian menggegerkan yang terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat pertengahan musim keramarau yang teramat panjang. Kemarau yang mengeringkan sumber-sumber air di desa-desa di bawah kaki Pegunungan Meratus. Membuat sawah dan ladang kering-kerontang. Tanah pertanian merengkah dan palawija kurus merana. Kemarau panjang yang membuat daun-daun karet di kebun penduduk menguning dan rontok satu per satu. Melayang jatuh meninggalkan ranting-rantingnya.

 

Di atas motor mereka, keenamnya tertawa-tawa bebas. Jainah malah membentangkan tangan dan memejamkan mata. Rambutnya tergerai menari-nari berkibar ditampar-tampar angin. Ia begitu menikmati kesejukan dan keteduhan sisa-sisa daun karet terakhir. Sebelum seluruhnya jatuh di beberapa pekan ke depan. Kemarau panjang memang telah datang kembali. Pohon-pohon karet di perkebunan yang tak terawat ini mencoba mempertahankan hidup dengan mengurangi transpirasi. Suatu proses fisiologis, penguapan air lewat daun. Mereka menggugurkan daun-daunnya. Roda-roda motor itu menggilas tanah yang mengering. Sesekali mereka keluar dari jalan setapak. Jika tak ada semak dan rumput ilalang. Bermanuver di antara pohon-pohon karet. Hembusan sejuk angin dari puncak-puncak Pegunungan Meratus menimbulkan kesiur dendang daun-daun karet yang saling bergesek. Baca selanjutnya…