Archive

Posts Tagged ‘ketidakadilan’

Teori Kebutuhan Maslow, Pendidikan di Indonesia, dan Unjuk Rasa Yang Santun

Mei 15, 2008 8 komentar

\

Author: Suhadi

Masih ingat tentang Teori Kebutuhan Maslow?

Maslow, 1954, membagi kebutuhan manusia menjadi dua kelompok utama, yaitu kebutuhan dasar dan kebutuhan tumbuh.

Kebutuhan dasar sebagaimana namanya berada di bawah posisi kebutuhan tumbuh. Kebutuhan dasar ini berturut-turut dari bawah ke atas adalah: (1) kebutuhan fisiologis, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, dll; (2) kebutuhan akan rasa aman; (3) kebutuhan untuk dicintai; (4) kebutuhan untuk dihargai.

Sedangkan kebutuhan tumbuh hierarkinya berada di sebelah atas posisi kebutuhan dasar, berturut-turut dari bawah ke atas: (5) kebutuhan untuk mengetahui dan memahami (belajar); (6) kebutuhan keindahan; (7) kebutuhan aktualisasi diri.

Catat: Kebutuhan yang berada di hierarki lebih tinggi baru akan dirasakan bila kebutuhan yang ada di hierarki lebih bawah telah terpenuhi.

 

Nah, setelah mengingat kembali pelajaran saya waktu sma ini, saya jadi ketawa sendiri (adik ipar saya yang ada di kamar sebelah mungkin berpikir kalau saya sudah mulai gila). Mengapa ketawa sendiri? Saat saya menghubung-hubungkan teori Maslow ini dengan dunia pendidikan kita yang kualitasnya dicoba “ditingkatkan” dengan cara menaikkan standar kelulusan siswa pada UN 2008. Huh! Menaikkan kualitas pendidikan secara riil atau hanya semu dengan permainan angka-angka di atas kertas seperti yang selama ini pemerintah lakukan pada bidang-bidang lain?

 

Sebelum saya lanjutkan, tolong pembaca jangan berpikiran bahwa saya menulis ini karena saya takut siswa-siswa saya tidak lulus UN. Kami telah mempersiapkan mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka telah belajar semampunya. Kami juga selalu berdo’a. Sembahyang hajat berjama’ah, mengadakan selamatan, bahkan mungkin karena putus asa, ada siswa saya yang pergi ke dukun untuk minta jampi-jampi supaya mendapat pencerahan saat menjawab soal-soal UN (wallahualam—siapa yang tau?). Baca selanjutnya…

Seandainya Salomena Tidak Lulus UN

Mei 7, 2008 17 komentar

Tayangan Sosok di SCTV di hari Minggu tanggal 4 Mei lalu benar-benar membuat saya trenyuh.

Saat program acara tersebut menampilkan seorang Salomena, siswi kelas 3 SMA Negeri 1 Asologema di Wamena Papua. Dengan penerangan seadanya berupa lampu teplok, Salomena beralaskan jerami di dalam honainnya sedang belajar dan menekuri buku catatannya.

Belajar Bahasa Inggris untuk mengikuti Ujian Nasional esok harinya.

Belajar Bahasa Inggris dari buku catatan? Barangkali tak ada buku teks di sekolah itu. Saya bisa bayangkan bagaimana fasilitas seadanya yang tersedia di sekolah Salomena. Satu-satunya SMA yang ada di dataran itu.

Siapapun pasti bisa menyadari betapa sulitnya belajar kalau hanya lewat buku catatan. Berapa banyak kosakata yang bisa ditulis di buku itu?

Berapa banyak contoh-contoh kalimat yang bisa dipelajari, jika waktu belajar mereka di kelas lebih banyak dipakai untuk mencatat? Bagaimana dengan pelajaran matematikanya? Fisika-Biologinya? Atau Bahasa Indonesianya? Apakah semuanya juga harus dicatat—tanpa punya pegangan buku teks? Baca selanjutnya…