Arsip

Posts Tagged ‘kerbau rawa’

Klimaks Cinta Rani

September 18, 2008 57 komentar

Cerpen ini sangat erat berkaitan dengan cerpen : “Kita Putus Saja, Bur!” yang sudah saya terbitkan beberapa waktu lalu di blog ini.

 

 

Author: Suhadi

 

“Papa dan Mama sudah saling membicarakan ini Sayang. Kami setuju saja. Kamu sudah sangat dewasa. Kalau kamu memang benar-benar yakin dan benar-benar mencintainya, kita selalu mendukung. Karaktermu benar-benar seperti Papa saat ingin menikahi Mama kamu dulu. Papa salut denganmu” Suara di seberang terdengar seperti terkekeh. Rani jadi tersenyum membayangkan air muka Papanya yang terkenang masa mudanya dulu.

“Terimakasih Papa, atas dukungannya. I love you, Pa.”

“Papa dan Mama juga cinta kamu Sayang.”

Dan koneksi handphone di seberang sana diputuskan.

 

***

 

Rani tersenyum lega, tak disangka Papa dan Mama menyetujui keputusannya.

Ditaruhnya handphone di atas meja. Perlahan diambil Rani tiga buah album foto berukuran besar yang tersimpan di rak paling atas lemari buku. Album-album foto dengan seseorang yang sedemikian dekat dengannya selama lebih dari tujuh tahun ini. Selama lebih sebulan bertugas di SMP Danau Panggang, tempat terpencil yang jauh dari kota kabupaten Amuntai yang berada di tengah rawa-rawa mahaluas itu, entah sudah berapa kali album-album foto itu menemani malamnya. Baca selanjutnya…

Kita Putus Saja Bur!

September 7, 2008 29 komentar

Author: Suhadi

 

“Kita putus saja, Bur….!” Demikian kalimat yang meluncur dari seberang sana.

“Apa…?!?!”

“Putus! Kita putus. Pacaran kita cukup sampai di sini!”

“Ada apa ini? Apa alas…”

“Tut..tut…tutt!” Terdengar bunyi koneksi yang diputuskan. Bahkan sebelum Burhan selesai dengan pertanyaannya.

Gila Si Rani, apa-apaan lagi ini. Burhan tak habis pikir.

“Akhhhhh…………..!!!!!!!!!!!!!!!”

Burhan berteriak, dibantingnya handphone yang baru saja dibelinya di Amuntai dua hari yang lalu dengan ditemani Rani. Tidak pecah memang, karena Burhan membantingnya ke kasur di kamarnya. Bukan di lantai.

“Burhan!! Ada apa?” suara ibunya dari dapur. Perempuan itu kaget karena pemuda penggembala kerbau rawa itu berteriak keras dengan nada sangat jengkel.

“Tak apa-apa, Bu! Cuma ingin teriak saja.”

Burhan berteriak sekenanya menjawab pertanyaan Hajjah Siti Aminah.

Ibunya yang di dapur geleng-geleng kepala saja. Sudah biasa. Memang begitu adat dan kelakuan Burhan. Anak yang aneh, pikirnya sembari tersenyum-senyum sendiri. Persis Haji Rahim, suaminya waktu muda dulu.  Baca selanjutnya…

Rawaku yang Terlantar

Mei 27, 2008 9 komentar

Tadi siang saya melayat ke rumah famili yang meninggal dunia di Desa Telaga Mas. Saat menyusuri titian panjang dari papan kayu ulin selebar lebih kurang 150 cm yang terentang dari Desa Bitin ke Desa Telaga Mas di Kecamatan Danau Panggang sepanjang kira-kira 3 kilometer tadi siang terpikir oleh saya betapa luasnya kawasan rawa di daerah saya. Setelah saya buka-buka di sini, betapa bertambah kagumnya saya. Dari keseluruhan luas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara sebesar 892,7 km2, ternyata 570 km2 (63,85%) adalah rawa dan diakui oleh situs resmi Pemda Kab. HSU ini bahwa lahan rawa ini belum digarap secara optimal. Lebih rinci penggunaan lahan di Kab. HSU adalah sebagai berikut: (1) kampung/pemukiman penduduk 4.283 ha; (2) sawah 23.853 ha; (3) kebun campuran 1.859 ha; (4) hutan rawa 29.711 ha; (5) rumput rawa 22.768 ha; dan (6) penggunaan lainnya yang  tidak dirinci seluas 1.224 ha. (Hi..hi..hi…., satuan luas yang dipakai beda, untuk konversi dari ha ke km2 bisa lihat di sini. Hitung sendiri ya, bener gak data orang pemda itu?)

 

Saya ingin menggarisbawahi kata-kata belum digarap secara optimal di atas. Menurut saya itu pengakuan yang sungguh memalukan. Heh, selama ini pemda HSU terlena dengan pendapatan daerah dari sektor pertambangan batubara—walaupun manfaat penambangan batubara untuk masyarakat HSU sendiri tak begitu dirasa. Batubara lebih banyak diekspor ke negara pemilik modal besar dan menyisakan kerusakan lingkungan bagi kami. (Ingat-ingat dong! Bangsa kita sedang krisis energi!) Setelah daerah penghasil emas hitam itu memisahkan diri dari Kab HSU dan membentuk kabupaten baru—Kabupaten Balangan baru Pemda HSU gigit jari. Baca selanjutnya…