Arsip

Posts Tagged ‘haji’

Ikhlas Untuk Kepergian Orang-Orang Tercinta

Juni 19, 2008 7 komentar

makam baqi'
makam baqi’

Author: Suhadi

Setelah berpisah dengan isteri dan Bunda yang ingin jalan-jalan mencari oleh-oleh untuk keluarga, aku berjalan menerobos kerumunan laki-laki aneka bangsa di depan komplek makam Baqi’. Ya, hanya laki-laki. Karena perempuan memang dilarang masuk komplek makam. Hitam, putih, kuning—semua perbedaan warna berbaur—melebur menjadi satu: hamba Allah yang mengharap ridhoNya. Baqi’—hamparan tanah kuburan untuk penduduk Madinah sejak jaman jahiliyah sampai sekarang. Jamaah Haji yang meninggal di Madinah juga dimakamkan di sini. Dahulu komplek makam Baqi’ terdapat di pinggiran kota Madinah. Sekarang, karena perluasan dan pengembangan Masjid Nabawi, Baqi’ telah menjadi satu kesatuan dengan Masjid. Setiap pagi, seusai sembahyang shubuh, komplek makam yang terdapat di sebelah timur Masjid Nabawi ini dibuka hingga menjelang waktu dzuhur.  

 

 

 

Semilir angin pagi yang masih dingin di penghujung November justru menyegarkan tubuhku yang tadi malam beri’tikaf di Masjid Nabawi hingga pukul dua. Menyerahkan segenap kefakiran diri kepadaNya. Memohon belas kasih dan ampunanNya. Meminta kepada Sang Maha Pemberi akan kekayaan hati—penuh bahagia. Menangis di hadapan sang Rabb, Tuhan bagi sekalian alam. Lalu kembali lagi saat alarm di telepon genggamku berdering di pukul setengah lima. Berangkat tergesa untuk shalat shubuh di hamparan sajadahNya. Baca selanjutnya…

Iklan

Angels or Just Another Ordinary Moslems from Pakistani

Maret 30, 2008 1 komentar

Kota Mekkah, sekitar jam 09.15 di awal Bulan Desember, 2007.

Kumantapkan langkah kakiku menyusuri koridor penginapan 312 di Distrik Jumaijah kota Mekkah. Baru satu malam aku berada di kota ini. Ibuku yang sakit setelah menempuh cuaca dingin menggigit dalam perjalanan 9 jam dari Medinah, tergolek tak berdaya di kamar. Ah.. aku harus menguatkan hati. Tawakkal kepada Allah. Menyerahkan segalanya kepadaNya, pemilik seluruh alam. Beberapa rekan jama’ah satu penginapan yang kebetulan berpapasan denganku, tersenyum. Aku membalasnya dengan kaku..

Salah seorang menyapa, “sudah umrah wajibnya?”

Aku hanya menjawab dengan singkat, “belum.”

Sekali lagi kumantapkan hati, menyerahkan segalanya kepada Rabb, mempercayakan ibuku yang sedang sakit kepadaNya, dan mempercayakan arah jalan langkahku menuju Masjidil Haram yang untuk pertama kalinya akan kudatangi.. Ya Allah aku datang memenuhi panggilanMu..

Aku tak tau jalan.. Kata rekan jama’ah satu kamar, jarak Masjidil Haram ke penginapan kami sekitar 2-3 km. Jarak yang lumayan jauh. Aku memang belum menunaikan umrah wajib yang harus dikerjakan oleh setiap calon jema’ah haji yang baru pertama kali tiba di Mekkah setelah selesai mengerjakan ibadah arba’in (shalat wajib 40 waktu) di Masjid Nabawi Medinah, sebelum mengerjakan haji. Rekan-rekan satu kloter sudah menyelesaikan ibadah umrah wajib tersebut dini hari setibanya kami dari Medinah. Sementara itu, ibuku yang sakit dan aku tak dapat mengikuti ibadah tersebut dan harus bertahan di penginapan.

Karena itu pagi ini, setelah rekan-rekan sekamar beristirahat sepulang dari Masjidil Haram, aku menguatkan hati untuk mencoba ke Mesjid sendiri. Tanpa bergantung pada para pembimbing dan petugas kloter. Walaupun sewaktu di kamar, beberapa rekan menyarankan agar aku mengajak seorang pembimbing atau petugas kloter, aku tetap dengan keputusanku, pergi sendiri. Bukannya apa-apa, aku cuma tak suka merepotkan mereka yang pastinya sudah kelelahan. Mereka kan baru pulang ke penginapan sekitar 1 jam yang lalu. …lanjutkan baca