Arsip

Posts Tagged ‘danau panggang’

Dipindahtugaskan

April 30, 2009 20 komentar

suhadi61Author: Suhadi

Sejak 31 Maret 2009, saya dipindahkantugaskan ke SMPN 4 Amuntai, sebuah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang sedang berkutat menuju Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Sayang juga kalau Kabupaten Hulu Sungai Utara tak punya RSBI, padahal UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menuntut minimal empat (1 SD/MI, 1 SMP/MTs, 1 SMA, dan 1 SMK) Sekolah Berstandar Internasional (SBI) untuk tiap kabupaten/kota. Mudah-mudahan saya bisa ikut membantu mewujudkan cita-cita mulia ini. Semoga sekolah yang saya tinggalkan, SMPN 4 Danau Panggang juga semakin maju sepeninggal saya.

Iklan

Illegal Logging, Indonesia Tak Mencegahnya?

Maret 30, 2009 26 komentar

Author: Suhadi

Apa yang dilakukan pemerintah untuk mencegah illegal logging dan pengrusakan hutan di Indonesia? Hmm… kayaknya belum ada! Memang kita bisa/biasa melihat selama beberapa tahun ini kepolisian melakukan penangkapan terhadap armada-armada (laut, sungai, atau darat) pengangkut kayu log (gelondongan) atau kayu-kayu setengah jadi. Selebihnya, adakah usaha lain yang lebih baik?

Pemerintah sepertinya tidak memperhatikan atau bahkan mengabaikan (?) tindakan pencegahan. Berapa anggaran yang disediakan pemerintah untuk mengawasi hutan-hutan kita di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua, atau pulau-pulau lainnya? Armada apa yang dipergunakan? Helikopter? Baca selanjutnya…

Peran Serta Masyarakat (PSM) terhadap Pendidikan

Desember 19, 2008 22 komentar

(Refleksi Pelatihan Penyegaran Tim Teknis Pendidikan Program Pilot Pendidikan – PNPM Mandiri Perdesaan Kab. Hulu Sungai Utara – Amuntai, 15 Desember – 20 Desember, 2008)

 

Author: Suhadi

 

Bukan hal yang asing, bila kita seringkali mendengar semboyan ini: Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pmerintah, orang tua, dan masyarakat. Tetapi pada kenyataannya, sampai saat ini, khususnya untuk Kabupaten Hulu Sungai Utara, peran serta masyarakat masih sangat kecil. Walaupun sekarang semua sekolah telah membentuk Komite Sekolah yang pada prinsipnya merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah, namun belum berfungsi dan berperan sebagaimana yang diharapkan.

 

Beberapa sekolah memang telah mendapatkan dukungan dari masyarakat. Tetapi bila dilihat dari aspek kualitas, masih terkategori pada Tingkatan III dan Tingkatan IV. Lebih menyedihkan, beberapa sekolah kondisinya justru berada pada Tingkatan I saja. Baca selanjutnya…

Klimaks Cinta Rani

September 18, 2008 57 komentar

Cerpen ini sangat erat berkaitan dengan cerpen : “Kita Putus Saja, Bur!” yang sudah saya terbitkan beberapa waktu lalu di blog ini.

 

 

Author: Suhadi

 

“Papa dan Mama sudah saling membicarakan ini Sayang. Kami setuju saja. Kamu sudah sangat dewasa. Kalau kamu memang benar-benar yakin dan benar-benar mencintainya, kita selalu mendukung. Karaktermu benar-benar seperti Papa saat ingin menikahi Mama kamu dulu. Papa salut denganmu” Suara di seberang terdengar seperti terkekeh. Rani jadi tersenyum membayangkan air muka Papanya yang terkenang masa mudanya dulu.

“Terimakasih Papa, atas dukungannya. I love you, Pa.”

“Papa dan Mama juga cinta kamu Sayang.”

Dan koneksi handphone di seberang sana diputuskan.

 

***

 

Rani tersenyum lega, tak disangka Papa dan Mama menyetujui keputusannya.

Ditaruhnya handphone di atas meja. Perlahan diambil Rani tiga buah album foto berukuran besar yang tersimpan di rak paling atas lemari buku. Album-album foto dengan seseorang yang sedemikian dekat dengannya selama lebih dari tujuh tahun ini. Selama lebih sebulan bertugas di SMP Danau Panggang, tempat terpencil yang jauh dari kota kabupaten Amuntai yang berada di tengah rawa-rawa mahaluas itu, entah sudah berapa kali album-album foto itu menemani malamnya. Baca selanjutnya…

Perempuan Bergaun Putih

September 15, 2008 29 komentar

Cerpen ini adalah posting ulang. Sekedar pengingat, bahwa Pak Sawali Tuhusetya adalah orang yang telah membuat saya berani menulis cerpen (fiksi). Cerpen perempuan bergaun putih ini adalah cerpen hasil rekayasa ulang saya terhadap cerpen dengan judul yang sama (Perempuan Bergaun Putih) karya Pak Sawali Tuhusetya.

 

Author: Suhadi

 

Telah lewat tengah malam saat Juni melompat dengan hati-hati lewat jendela kamarnya. Ia berjalan tergesa ke ujung hilir kampung sambil membawa sebuah bungkusan kantong kresek hitam. Juni menuju gedung sekolahnya untuk memenuhi sebuah ujian gila yang tak akan ingin diulanginya lagi seumur hidupnya nanti. Lebih kurang duapuluh menit berjalan di bawah gerimis, akhirnya sampai juga ia di depan gedung sekolah itu. Juni menengok ke kiri, ke kanan dan ke belakang berulang-ulang kali. Lalu memantapkan hati maju melangkah ke depan.

 

“Kree…..eee.ee…ttttt…” Juni mendorong pintu teralis besi yang berat itu perlahan. Bunyi engsel yang lama tak diminyaki menegakkan bulu kuduknya. Dinginnya besi-besi bulat penyusun pintu teralis gerbang sekolah itu sedingin ujung-ujung jari tangan dan kakinya. Lehernya tegang. Dengan perlahan, sekali lagi ia menengok ke kiri dan ke kanan, kemudian ke belakang. Ia merasa seperti ada sepasang mata tengah mengintainya di balik sudut-sudut gelap gedung SMP Danau Panggang yang dibangun di atas rawa-rawa ini. Rawa-rawa yang amat luas dan menyatu dengan Sungai Pandan Liris yang mengalir tepat di depan gedung sekolah. Sungai yang merupakan jalur transportasi satu-satunya menuju kota kecamatan.

 

Sial…sial…sial. Rutuknya berulang-ulang kali dalam hati. Sementara bibirnya yang yang dingin dan terasa berat bergerak-gerak berusaha melafadzkan bacaan ayat-ayat Al qur’an  sebisanya. Andai saja ia tak berkeinginan bergabung dengan anak-anak Geng Macam Hitam. Andai saja ia tak meladeni permintaan Katung c.s. untuk meletakkan bunga kacapiring ini di depan pintu laboratorium IPA yang terkenal angker ke seluruh antero kampung. Laboratorium IPA yang telah dikenal masyarakat Desa Sapala sebagai tempat yang banyak makhluk halusnya. Berbagai macam cerita pernah didengarnya tentang makhluk-makhluk halus penunggu laboratorium IPA itu, dari jin berkepala api, atau laki-laki bertubuh tinggi besar hitam dengan jari-jari tangan sebesar pisang ambon, sampai perempuan bergaun putih yang sering menangis atau tertawa di malam-malam gerimis. Hiii…ngeri.

 

Semua ini berawal ketika Juni menyatakan ingin bergabung dengan sebuah perkumpulan anak laki-laki kelas VIII SMP Danau Panggang. Sebuah perkumpulan tidak resmi, di luar Osis tentu saja. Juni sangat tertarik ikut dengan perkumpulan ini karena sepertinya keren sekali. Namanya saja Geng Macam Hitam. Kalau kemana-mana mereka selalu bersama. Kalau ada anggotanya yang berkelahi, semua anggota yang lain akan membantu. Keroyok rame-rame. Pokoknya kompak. Geng Macan Hitam terdiri dari Katung sebagai ketuanya, lalu ada Syarif, Bambang, Encek, dan Hamid. Di sekolah tak ada anak yang berani macam-macam dengan mereka.

 

Barangkali benar kata Pak Zidan beberapa waktu yang lalu saat pelajaran Bahasa Indonesia. Kata beliau, hati-hati dengan ucapan kita. Ada peribahasa, karena mulut badan binasa. Ah… akankah aku malam ini mati karena dicekik oleh makhluk-makhluk halus penunggu ruang laboratorium IPA itu. Hiii.. Rasanya Juni belum ingin mati semuda ini. Ada segumpal penyesalan di hati Juni. Tapi apa daya, demi sebuah harga diri dan kata-kata yang telah diucapkannya di hadapan anggota Geng Macan Hitam, ia akan lakukan ini walau apapun yang akan ditemuinya nanti. Harga diri, rasanya ingin Juni menganalisa ulang definisi tentang harga diri. Apakah harga dirinya memang harus dipertahankan dengan sebuah pembuktian gila macam ini. Harga diri…… heh, ada yang bilang, harga diri hanyalah selembar kertas basah yang kita pertahankan mati-matian agar tidak sobek. Padahal, tersentuh sedikit saja habislah ia. Masih teringat perjanjiannya dengan Katung c.s. tadi siang di depan pintu ruang laboratorium IPA saat jam pulang sekolah.

 

 “Kalau kamu mau ikut gabung geng kita, kamu harus memenuhi sebuah syarat. Kamu harus membuat sebuah pembuktian yang bisa meyakinkan kita berlima bahwa kamu tidak penakut. Geng ini adalah kumpulan anak-anak pemberani. Kami tidak akan dengan mudah menerima anggota yang terkenal pengecut macam kau Jun!” kata Katung di hadapan semua anggota geng. Nada suara Katung jelas bernada melecehkan. Itupun masih ditambah senyum mengejek yang kompak dari Syarif, Bambang, Encek, dan Hamid.

 

“Aku bukan pengecut. Itu harus kalian catat! Apapun syaratnya aku akan penuhi. Sebutkan saja Tung!” Juni menantang.

 

“Okey, begini syaratnya.” Lalu Katung menyebutkan syarat yang harus dipenuhinya. Sebenarnya syarat itu lebih berupa sebuah ujian atau tes unjuk keberanian. Juni diminta mengambil tujuh kuntum bunga kacapiring di komplek pekuburan umum di ujung hulu Desa Sapala saat Adzan Baca selanjutnya…

Kita Putus Saja Bur!

September 7, 2008 29 komentar

Author: Suhadi

 

“Kita putus saja, Bur….!” Demikian kalimat yang meluncur dari seberang sana.

“Apa…?!?!”

“Putus! Kita putus. Pacaran kita cukup sampai di sini!”

“Ada apa ini? Apa alas…”

“Tut..tut…tutt!” Terdengar bunyi koneksi yang diputuskan. Bahkan sebelum Burhan selesai dengan pertanyaannya.

Gila Si Rani, apa-apaan lagi ini. Burhan tak habis pikir.

“Akhhhhh…………..!!!!!!!!!!!!!!!”

Burhan berteriak, dibantingnya handphone yang baru saja dibelinya di Amuntai dua hari yang lalu dengan ditemani Rani. Tidak pecah memang, karena Burhan membantingnya ke kasur di kamarnya. Bukan di lantai.

“Burhan!! Ada apa?” suara ibunya dari dapur. Perempuan itu kaget karena pemuda penggembala kerbau rawa itu berteriak keras dengan nada sangat jengkel.

“Tak apa-apa, Bu! Cuma ingin teriak saja.”

Burhan berteriak sekenanya menjawab pertanyaan Hajjah Siti Aminah.

Ibunya yang di dapur geleng-geleng kepala saja. Sudah biasa. Memang begitu adat dan kelakuan Burhan. Anak yang aneh, pikirnya sembari tersenyum-senyum sendiri. Persis Haji Rahim, suaminya waktu muda dulu.  Baca selanjutnya…

SMPN 4 Danau Panggang, Lulus UN 50%…Alhamdulillah (Hiks..)

Juni 24, 2008 17 komentar

Senin 23 Juni 2008 lalu saya di daulat untuk ngisi materi Model-Model Pembelajaran Inovatif pada sebuah seminar untuk guru. Lumayan kaget juga pas sampai di lokasi. Kegiatan yang dipanitia-i oleh guru-guru SMAN 1 Danau Panggang ini ternyata dijubeli peserta. Pada saat panitia mengontak saya, Jum’at 20 Juni, mereka mengatakan bahwa peserta dibatasi hanya 60 orang. Ee.. ternyata, peserta membengkak hingga 200 orang. Dari guru SD hingga guru SMA. Banyak juga yang datang dari Amuntai dan Alabio, gak cuma seputaran Danau Panggang.Hoho.. untung saya sudah cukup persiapan. Segala materi presentasi, termasuk beberapa editan video pembelajaran dan selingan potongan-potongan klip-klip musik (Klip musik? Yups..! Tapi masih terkait materi lho!_Terkait materi? Kok bisa? Ya iyalah…Pak Suhadi….He..he..).

Di sela-sela ngisi materi untuk kegiatan itu, saya sempatkan nelpon ke sekolah. Ternyata persentase kelulusan anak-anak cuma 50%. Itu berarti dari seluruhnya siswa yang 16 orang, ada 8 orang yang tidak lulus. Agak kecewa juga. Tapi itu sudah hasil akhir perjuangan kami selama ini.

Ternyata dari ke-16 siswa, untuk IPA yang saya pegang secara bergantian dengan Bapak Kepala Sekolah, 14 orang sudah melampaui passing grade kelulusan. Dua (2) orang belum atau tidak lulus untuk IPA. Dari rekap nilai yang saya amati setelah kembali ke sekolah dari kegiatan seminar, ternyata ke-8 siswa yang tidak lulus itu disebabkan mereka tidak berhasil dalam mata uji Bahasa Inggris dan Matematika. Ironis ya…gurunya ikut natar kesana-kemari, ee…siswanya banyak yang gak lulus. Apakah karena sekolah kami letaknya di kampung? Ah..saya tidak ingin itu jadi alasan. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih baik.

Andai kami punya guru yang lebih lengkap…Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia… hiks.. (sudah! Jangan beralasan!)

Saya makin sedih ketika dua siswa yang terpandai ternyata tidak hadir saat acara pengumuman kelulusan. Setelah tanya sana-sini dengan anak-anak, maklumlah saya. Keduanya tak akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat ini mereka telah bekerja. Seorang bekerja di sebuah perusahaan kayu lapis (cukup umur gak ya?), satunya lagi menjadi shop keeper di Palangka Raya. Ironis. Pintar kok disuruh bekerja oleh orang tuanya.

Kapan pendidikan menjadi prioritas nomor satu bagi orang-orang Danau Panggang?