Arsip

Posts Tagged ‘anak smp’

Cerita Pendek yang Jadinya Gak Pendek: Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas (Part 4—Tamat)

Mei 5, 2008 10 komentar

Author : Suhadi

 

Aku tak tau butuh waktu berapa lama sampai akhirnya sebutir pil merah itu membuat reaksinya. Mungkin sekitar 20 menit atau mungkin 30 menit. Benar-benar tak tau.

Yang jelas, saat aku bangkit dari tempat tidur, aku mengambil jaket levi’s kesayanganku dari gantungan baju dan bergegas menuju motor yang tadi siang kuparkir di halaman rumah. Di bawah rerimbunan pohon mangga harum manis yang buah lebatnya bergelantungan hingga menyentuh kepala.

Pil ini rupanya benar-benar telah mempengaruhi caraku berpikir.

Atau bahkan barangkali telah mengambil alih dan menguasai pikiranku. Oh man!

Mungkin otakku telah mbrojol, copot, dan keluar dari batok kepalaku, aku hampir bisa melihatnya melayang-layang sejengkal tingginya di atas kepalaku.

Rasanya sangat aneh dan tidak enak sama sekali. Aku tak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata.

Tak kumatikan dvd player itu saat kutinggalkan. Mungkin ia telah memainkan track yang kesekian puluh…

Entahlah. Aku harus pergi untuk sesuatu hal yang jauh lebih penting dalam hidupku. Cinta pertamaku. Walaupun mungkin hanya sekedar cinta monyet. Aku tak ingin menunda sedikitpun apalagi melewatkan waktu untuk segera sampai di sana.

Hari telah begitu sore.

Dengan langkah terhuyung-huyung limbung karena kepalaku yang terasa ringan luar biasa, aku memutar motor. Lalu mencoba memasukkan anak kunci dengan susah payah.

Ada banyak lubang kunci….3 lubang…bukan 5 lubang….. eh 7 lubang ding…..!

Ha…ha….ha…….anak kunciku juga jadi banyak….jari-jariku lebih banyak lagi, dan hampir seluruhnya lebih dalam bentuk blur, kabur. Aku coba pilih salah satu yang paling jelas—setelah berkali-kali gagal.

Akhirnya berhasil juga!

Tiba-tiba dari arah samping kiriku terdengar suara tawa terkekeh.

“He..he..he…kita balapan yuk! Aku yakin kamu, Satria Bertangan Seribu takkan sanggup melawanku. Aku akan tiba duluan di rumah Marni!”

Pangeran Kegelapan! Baca selanjutnya…

Iklan

Cerita Pendek yang Jadinya Gak Pendek: Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas (Part 3)

Mei 1, 2008 6 komentar

 Author : Suhadi

 Di kamar pulang dari sekolah, sehabis shalat dzuhur, mandi dan makan siang yang sudah kelewat kesorean, aku mengambil sekaleng sprite dari kulkas.  Dengerin lagu oldies-nya Frank Sinatra “All the way”. Lagu lama yang keren. Terutama pada bagian liriknya. Pas banget dengan suasana hatiku yang lagi falling in love.

Asyik, bergaya di depan cermin seperti penyanyi flamboyan itu. Akulah Frank Sinatra…. Dan Marni adalah gadis dengan rambut pirang yang ikal, memakai bandana putih di kepalanya…. tersenyum padaku di antara ratusan penonton di balkon VIP, melambai-lambaikan saputangan putihnya yang senada warna dengan bandananya di sela-sela gadis-gadis cantik pirang lain berteriak dengan histeria luar biasa….Gegap gempita seisi ruangan besar nan megah itu. Satria…!!!!! Satria….I love you !!!!!!! Frank….!!!!!!! Frank…..!!!!!!! Satria…..!!!!!!!! I love you !!!!!!! Satria………!!!!!!!!! Kulemparkan senyuman paling mematikan ke segenap penjuru ruang theater. Senyuman yang jauh lebih mematikan dari racun viver—si ular gurun yang amat berbahaya. Ku ambil sisir dan kujadikan mikrofon…..

 

When somebody loves you

It’s no good unless she loves you—all the way

Happy to be near you

When you need someone to cheer you—all the way

 

Taller than the tallest tree is

That’s how it’s got to feel

Deeper than the deep blue sea is

That’s how deep it goes—if it’s real

 

When somebody needs you

It’s no good unless she needs you—all the way

Through the good or lean years

And for all the in—between years—come what may

 

Who knows where the road will lead us

Only a fool would say

But if you let me love

It’s for sure I’m gonna love you

All the way

All the way

 

Ah…andai saja Marni merasakan seperti yang kurasakan.

Andai aku Frank Sinatra dan Marni adalah gadis berbandana putih di antara ratusan penggemar di gedung pertunjukan itu. Andai Marni adalah the biggest fan di antara lautan penggemar yang meneriakan histeria I love you!

Andai saja…..

“Duk!!! Duk!!!! Duk!!!!! Satria bisa kecilin volumenya ndak….!!!!” Kakak membuka sedikit pintu kamarku, cukup untuk nongolin kepalanya.. Baca selanjutnya…

Cerita Pendek yang Jadinya Gak Pendek: Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas (Part 2)

April 25, 2008 15 komentar

Author : Suhadi

 

Dua minggu berlalu. Tak ada satupun usahaku untuk menarik perhatian Marni berhasil. Cewek mungil berambut ikal yang lincah bagai burung kenari itu seakan tak perduli. Perduli dalam artian menganggapku sebagai seorang laki-laki yang cukup dewasa yang pantas dijadikan pacar. Marni tidak menunjukkan emosi yang sama seperti yang kutunjukkan padanya. Mungkin karena aku sama sekali tak berpengalaman. Aku tak tau apa yang harus dilakukan seorang cowok untuk mendapatkan perhatian cewek yang diinginkannya. Dia super cuek dan malah terkesan mengejek. Ngenyek! Ada kesan yang kutangkap kalau Marni menganggapku masih sebagai anak kecil. Huh!

Sekarang sudah jam pulang. Jam 14.15. Anak-anak baru saja bubar, guru-guru juga. Aku memang tadi sengaja berlambat-lambat sampai akhirnya semua warga sekolah pulang. Si Adi, teman se-genk-ku yang tadi mau ngajak pulang bareng (baca: mbonceng) terpaksa pulang jalan kaki dengan kesal. Heh, salahnya sendiri. Maunya mbonceng terus, lama-lama gue jadi kayak ojek langganannya. Sorry lah-yaw!!

Rasanya hari ini aku lemas sekali. Tak punya energi. Bukan karena tak makan atau dehidrasi dan kekurangan ion tubuh. Tidak. Aku tak punya energi karena tak punya semangat. Kan tadi sudah kukatakan kalau sudah dua minggu ini tak ada satupun usahaku yang berhasil menarik perhatian Marni.

Tak ada siapa-siapa lagi di sekolah. Lonceng dari besi bulat bekas mesin penggilingan padi yang dibeli Pak Gazali dari Haji Dullah seharga lima ribu perak (Aku tau persis, soalnya aku yang disuruh ngangkat dari penggilingan padinya Haji Dullah) berderik-derik bunyinya, tergantung dan bergerak-gerak dihembus angin yang cukup kencang. Aku mendongak ke langit. Mendung berarak dari arah timur. Hujan akan turun barangkali. Angin semakin kencang. Parkiran sepeda sudah kosong melompong. Aku bangkit dari bangku panjang di parkiran yang sepi itu. Kalau beberapa waktu tadi ramai dan riuh rendah dengan anak-anak yang saling bercanda saat mengeluarkan sepeda masing-masing, sekarang tak satu batang hidungpun tampak. Baca selanjutnya…

Cerita Pendek yang Jadinya Gak Pendek: Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas (Part 1)

April 17, 2008 9 komentar

Author : Suhadi

 

“Hyaaattttt…………..!!!!!!”

Aku bergerak sangat cepat, melompat tinggi. Beberapa tombak melambung ke udara. Dengan ilmu meringankan tubuh yang kumilki, tak terlalu sulit melakukan itu. Kulihat musuhku, si Pangeran Kegelapan kebingungan di bawah sana. Kepalanya celingukan. Kehilangan musuhnya.

“He lari kemana kau Satria tengik!”

“Satria Bertangan Seribu tak pernah lari dari musuhnya bodoh!!!”

“Haa!!!!”

“Rasakan ini, Pukulan Seribu Badai!!!!”

Aku meluncur turun mengarahkan pukulan terbaikku. Tenaga dalam yang kuhimpan saat menghela napas saat meluncur turun kualirkan ke tangan kanan, terpusat di kelima jari. Siap menghentak dan merontokkan hingga tulang belulang sekalipun. Ku yakin Pangeran Kegelapan akan jatuh takluk kali ini.

“Ciiiaat!!!!”

“Hup….heya…!!!”

Dugaanku meleset. Sama melesetnya dengan pukulanku. Rupanya si jelek rupa itu telah mempersiapkan diri dengan mundur dua langkah ke belakang. Sial..rutukku dalam hati. Gagal.

Hempasan angin Pukulan Seribu Badaiku yang mengenai tempat kosong tak pelak menimbulkan angin menderu dan membuat debu-debu menjadi beterbangan. Aku segera merubah posisi turunku secepat kilat dan mendarat dengan sempurna. Baca selanjutnya…

Kategori:cerpen Tag:, ,