Archive

Archive for the ‘motivasi belajar’ Category

Motivasi Belajar: Untukmu Guru yang Mulai Frustasi dan Putus Asa

September 1, 2010 3 komentar

Don’t try to fix the students, fix our selves first. The good teacher makes the poor student good and good student superior. When our student fail, we, as teachers, too, have failed. (Marva Collins).

Jika Anda seorang guru atau paling tidak Anda pernah mengajar, Anda pasti akan tahu bagaimana rasanya memandang wajah siswa-siswa yang tak termotivasi untuk belajar. Menyebalkan dan bikin frustasi. Seringkali kita ingin sekali mendekat kepada mereka lalu membisikkan kata-kata macam ini (atau bahkan berteriak?), “Saya menyerah. Saya tak tau lagi harus bagaimana. Saya sama sekali tak bisa memotivasi kamu untuk belajar!”

Saat Anda merasa sudah seperti ini (dan pasti Anda akan atau bahkan sudah dan sedang merasakannya, jika Anda adalah seorang guru), adalah sangat penting untuk selalu mengingat bahwa bagi siswa, pembelajaran kita hanyalah sebagian kecil komponen dalam kehidupan mereka (Luce, 1990). Ingatlah bahwa mereka juga mengikuti mata pelajaran yang lain dengan guru-guru yang lain, punya banyak PR, harus ikut kursus atau les, berteman, bermain, berorganisasi, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan tertentu, dan bahkan mungkin bekerja sepulang sekolah. Singkat kata, mereka selalu terlibat dalam kehidupan yang amat kompleks yang akan berimbas pada berapa banyak energi dan atensi yang dapat mereka berikan pada pembelajaran kita.

Satu lagi, adalah sangat penting untuk selalu mengingat  bahwa ada suatu kenyataan tentang keterbatasan guru untuk memotivasi siswa untuk belajar. Tetapi, ingatlah selalu untuk terus berupaya sekuat kemampuan kita. Mungkin suatu waktu kita dapat merasa frustasi, lelah, dan ingin menyerah. Setiap saat, setiap kesempatan, ada sangat banyak jenis tekanan yang dapat menjatuhkan dan melemahkan motivasi belajar siswa. Jika kita selalu berupaya sebaik mungkin untuk memotivasi mereka untuk terus belajar, yakinlah seumur hidup mereka, mereka takkan pernah melupakan upaya Anda.

Luce, Ronald W. (1990). Motivating the Unmotivated. Innovation Abstracts. Center for Excellent in Teaching.

Motivasi Belajar—Buat Siswa Tertantang

Desember 9, 2008 21 komentar

Author : Suhadi

 

Kalau sudah tertantang, rasanya panas di dada. Harus bisa! Harus berhasil! Harus dapat skor tertinggi! Harus menang! Harus menguasi keterampilan itu! Harus…….! Timbul semangat baru untuk berupaya belajar lebih keras. Pernahkah guru Anda waktu di sekolah dulu membuat Anda merasa tertantang?

 

Begitulah, akan bergejolak rasa di dada setiap siswa yang merasa tertantang oleh pembelajaran seorang guru yang pandai melibatkan emosi siswa. Guru harus cerdas membuat seluruh siswanya merasa tertantang. Guru harus pandai memunculkan “rasa gatal”, “rasa tergelitik”, “rasa penasaran”, dan memicu siswa untuk berusaha berpikir kembali, mengutak-atik materi ajar dan tugas belajar dengan cara baru.

 

Berbagai langkah dapat dilakukan guru untuk membuat mereka merasa tertantang untuk bisa, tertantang untuk berhasil, tertantang untuk mendapat skor tertinggi, tertantang untuk menguasai suatu keterampilan, tertantang untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh guru. Misalnya, guru dapat menyodorkan isu-isu yang bersifat kontroversi. Bisa juga dilakukan dengan Baca selanjutnya…

Motivasi Belajar—Koreksi dan Kembalikan Kertas Kerja Siswa Sesegera Mungkin

Desember 9, 2008 4 komentar

Author: Suhadi

 

Feedback (umpan balik) merupakan suatu bagian penting dalam kegiatan belajar-mengajar. Umpan balik sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Salah satu prinsip penggunaan umpan balik adalah: diberikan sesegera mungkin oleh guru kepada siswa. Jangan pernah menunda pemberian umpan balik!

 

Guru biasanya harus memberikan umpan balik terhadap tugas, latihan soal, PR, ulangan harian, perkembangan keterampilan sosial, upaya belajar, penguasaan suatu keterampilan, dsb, yang telah diupayakan oleh siswa. Untuk memberikan umpan balik, guru dapat melakukannya baik secara verbal maupun secara nonverbal. Umpan balik dapat bersifat reward misalnya, untuk proses pembelajaran maupun terhadap hasil belajar yang mereka lakukan/capai dengan baik. Bisa pula berupa kritikan yang bersifat membangun motivasi belajar dan perbaikan proses atau pencapaian hasil belajar tadi. Baca selanjutnya…

Motivasi Belajar—Sensitif dan Tanggap Terhadap Siswa yang Membutuhkan Bantuan

November 24, 2008 23 komentar

Author : Suhadi

 

Guru merupakan sosok yang seharusnya pandai membaca keadaan di kelasnya saat pembelajaran sedang berlangsung. Guru yang baik akan bersifat sensitif terhadap kebutuhan siswa. Sangat mudah baginya untuk mengenali dan mengetahui apabila ada siswa yang memerlukan bantuan dalam kegiatan belajar mengajar.

 

Memang, sebagian siswa dengan gamblangnya dapat mengajukan pertanyaan atau meminta bantuan guru. Siswa-siswa demikian mempunyai keterampilan komunikasi yang baik. Mereka tidak pemalu, berani bertanya, dan terbuka dalam mengemukakan pendapat. Terhadap siswa yang seperti ini tidaklah terlalu menyulitkan guru untuk mengetahui apabila mereka memerlukan bantuan. Tetapi, terhadap siswa yang pemalu, pendiam, dan tidak terbiasa berkomunikasi dengan guru melalui pertanyaan-pertanyaan atau pengungkapan pendapat, guru haruslah peka. Guru harus bisa mengenali siswa yang membutuhkan bantuan dari gerak-gerik, atau mimik yang terekspresikan oleh mereka. Memang ini bukan perkara yang mudah. Tapi, setiap guru perlu mencatat bahwa ini adalah salah satu keterampilan yang harus dimilikinya. Baca selanjutnya…

Motivasi Belajar—Jangan Memberikan Stigma Jelek Kepada Siswa

November 21, 2008 10 komentar

Author: Suhadi

 

Banyak guru tanpa sadar telah memberikan stigma jelek kepada sebagian siswa di kelas mereka. Memberikan stigma jelek sering dilakukan guru baik secara verbal maupun nonverbal. Stigma jelek secara verbal yang dilakukan oleh guru terhadap siswa tentu bisa ditangkap langsung oleh telinga siswa yang bersangkutan. Ini sangat-sangat tidak baik. Siswa yang disebut sebagai ‘pemalas’, ‘pengacau’, ‘tidak pintar’, ‘nakal’, ‘selalu memerlukan remidi’, ‘lambat paham’ atau cap-cap negatif lainnya akan membetuk citra diri seperti yang diberikan oleh guru. Stigma yang diberikan akan merusak motivasi belajar yang mungkin mereka miliki sebelumnya.Bila stigma negatif ini melekat pada siswa dan juga dianggap betul demikian adanya oleh teman-temannya, maka akan susah sekali untuk menghapusnya. Bisa saja motivasi belajar akan lenyap sama sekali. Mereka akan membenci guru yang bersangkutan.

 

Kadang-kadang guru juga memberikan stigma jelek kepada siswa secara nonverbal. Walaupun tidak sampai terlontar dari mulut guru saat pembelajaran di kelas, ini tetap tidak baik. Secara tidak sadar, bisa jadi oleh karena kesal atau marah, guru akan mengekspresikan stigma jelek tersebut lewat gerak-gerik, mimik, dan nada suaranya. Beberapa siswa yang peka akan merasakan itu dengan baik dan selanjutnya juga akan membentuk pencitraan negatif terhadap diri mereka seperti halnya pemberian stigma jelek secara verbal. Ujung-ujungnya juga sama, melemahkan bahkan memupus motivasi belajar mereka terhadap pembelajaran.

 

Setiap guru yang memahami pedagogik seharusnya Baca selanjutnya…

Motivasi Belajar—Pembelajaran yang Terorganisasi dengan Baik

November 20, 2008 17 komentar

Author: Suhadi

 

Alasan sederhana jika kita mencari sebab mengapa siswa tidak termotivasi belajar dalam sebuah kelas adalah: GURU TIDAK SIAP MENGAJAR.

 

Ketidaksiapan guru untuk mengajar seringkali disebabkan karena tidak adanya perencanaan yang matang oleh guru. Mereka mengajar seadanya. Pembelajaran yang digenjot oleh guru pada sebuah kelas seharusnya telah dirancang sedemikian rupa sebelumnya, agar pembelajaran berlangsung efektif dan efisien.

 

Pembelajaran yang terencana dengan baik akan terlihat dari organisasi materi ajar, organisasi waktu, organisasi siswa, dan organisasi bahan ajar saat pembelajaran itu dilaksanakan di kelas. Semua komponen tersebut akan saling menunjang untuk memotivasi belajar siswa dan akan berujung pada tercapainya keberhasilan pembelajaran. Baca selanjutnya…

Motivasi Belajar—Menghubungkan Materi Pelajaran dengan Keseharian Siswa

September 10, 2008 10 komentar

Author: Suhadi

 

Memberikan gambaran bahwa suatu materi pembelajaran penting untuk siswa kuasai adalah suatu hal yang dapat meningkatkan motivasi belajar. Bila siswa berkeyakinan bahwa materi pembelajaran tersebut penting untuk kehidupannya di luar sekolah atau akan penting pada jenjang pendidikan selanjutnya yang akan ditempuhnya, akan dapat memacu motivasi belajar mereka. Cara yang dapat dilakukan guru untuk menunjukkan pentingnya suatu materi pelajaran bagi mereka adalah dengan menghubungkannya dengan keseharian mereka.

 

Bisa jadi tidak semua konten (meteri) pelajaran di sekolah dengan mudah bisa dihubungkan atau dikaitkan dengan keadaan sehari-hari siswa. Akan tetapi, guru harus berusaha untuk ini. Semakin bagus gambaran yang diberikan oleh guru, tentang bagaimana sebuah materi pelajaran penting bagi kehidupan mereka di luar sekolah, semakin termotivasi anak untuk mempelajarinya. Baca selanjutnya…