Archive

Archive for the ‘cerpen’ Category

Al Fakieh (Pada Sebuah Rumah Sakit)

September 8, 2009 10 komentar

Author: Suhadi

Dua bocah kecil kakak  beradik yang hanya selisih umur 2 tahun itu berjingkat-jingkat di balik pintu. Mata mereka menoleh ke setiap sudut rumah sakit, ke arah taman kecil di sekitar tangga menuju lantai dua yang langsung berseberangan dengan laboratorium, ke arah bangku-bangku kecil yang tampak apik di depan kamar-kamar pasien bedah, hingga ke koridor panjang berubin putih yang menuju ruang radiologi dan ruang operasi. Sepi, kelihatannya tidak ada orang sama sekali. Situasi ini membuat keduanya bersitatap dengan sorot yang sama nakalnya. Tidak ada seorangpun yang melihat  mereka, begitulah pasti arti masing-masing gerak bola mata itu. Tak sepersekian detik, keduanya terkikik dan segera berhamburan menuju pintu ruangan yang sedikit terbuka itu, sebuah ruangan yang di bagian atas pintunya itu bertuliskan: KAMAR MAYAT.

Rifki dan Rais, kedua bocah itu sesaat saja telah berkeliaran di antara dua buah meja yang terdapat di salah satu sisi jalan masuk. Rifki—sang kakak, segera melompat ke atas kursi empuk dan berputar-putar sambil bersandar sambil cekikikan. Kegembiraan meluap di hatinya. Kenakalan kanak-kanaknya bersama adiknya Rais memunculkan perasaan gairah dan debar-debar tersendiri.Dan ia sangat menikmati itu. Sementara Rais—sang adik yang berusia 4 tahun itu berusaha menarik-narik lengan kursi yang diduduki Rifki, merengek ingin ikut duduk bersama. Si Rais memang selalu menjadi pengikut yang setia. Bocah itu tak pernah jauh dari kakaknya. Baca selanjutnya…

Jerami 8

Maret 23, 2009 11 komentar

Author: Suhadi

Baca dulu ………….Jerami 7

Di Kota Kecamatan Pandan Barambang, di Kantor Polisi Sektor, tampak beberapa orang petugas sedang melayani pengaduan warga. Kegemparan di Desa Sisir Punduk telah mengawali kejadian ini. Seorang anak berumur delapan tahun, bernama Muji telah menghilang. Muji di duga tersesat masuk ke dalam Hutan Beringin yang angker di tepi desa.

Seorang perempuan berumur empatpuluhan, Bu Hasnah dan seorang lelaki, Pak Jarin duduk di kursi berseberangan meja dengan Pak Darto. Perempuan itu tak berhenti-henti menagisi anaknya, Muji. Sang suami berusaha menenangkannya tapi seakan tak berhasil karena hatinyapun tak kalah gundah.
“Jadi kapan Muji terlihat?” tanya Pak Darto sambil mengetik keyboard komputernya.
“Terakhir mereka bermain bola di tepi desa bersama kawan-kawannya kemarin pagi.”
“Teman-temannya tak ada yang tahu ke mana Muji pergi setelah bermain bola?”
“Tidak ada, Pak. Setelah bermain bola mereka pulang. Tak ada yang memperhatikan apakah Muji juga pulang.”
“Yakin anak itu tersesat di dalam Hutan Beringin? Bukannya bermain di sungai atau tempat lainnya setelah bermain bola?”
“Yakin benar sih tidak Pak, cuma yang jelas anak itu tak pernah berani main ke sungai. Ia tak pandai berenang. Dan sudah beberapa kali anak-anak hilang dan tersesat di Hutan Beringin sebelum ini. Kami juga menemukan sandalnya yang tertinggal di sawah itu.” Seorang penduduk lainnya memberikan masukan.

Pak Darto mengetik lagi di keyboardnya.

“Selain Muji, Si Acin yang tinggal di tepian Hutan Beringin juga menghilang Pak. Ia tak pernah lagi muncul. Mungkin penunggu hutan itu sedang marah dengan penduduk, Pak.” Seru salah seorang penduduk yang ikut mengantar ayah dan ibu Muji melapor.

“Jadi selain Muji, ada juga seorang warga yang menghilang. Warga itu bernama Acin?” Tanya Pak Darto sambil mengelus kumis tebalnya.

“Benar, Pak. Acin itu pemuda yang agak terbelakang mental. Pondoknya tak jauh dari tempat anak-anak bermain bola itu.” Sambung sang pelapor lainnya.

“Baiklah. Laporan Bapak-Bapak saya terima. Kita sebaiknya berkoordinasi dengan kepala desa agar dapat membantu mengerahkan warga untuk mencari Muji di hutan itu. Kita perlu banyak orang. Bapak-Bapak pasti maklum kalau kami tak punya cukup orang di kantor polisi ini untuk melakukan pencarian. Bagaimana?”

“Tentu, Pak. Kami sudah berbicara dengan kepala desa, sekarang beliau memang tidak bisa ikut ke sini karena ada urusan keluarga di Amuntai.”

“Bagus! Tapi kita harus bergerak cepat. Kalau benar anak itu tersesat di sana kita harus segera menolongnya.”

Mendengar itu, semua orang manggut-manggut memaklumi. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan seorang anak sekecil Muji yang hanya berumur delapan tahun di tengah Hutan Beringin yang angker itu. Si perempuan yang merupakan ibu Muji itu semakin terisak. Beberapa saat saja, orang-orang itu segera meninggalkan tempat itu, selain Pak Darto ada dua orang polisi muda lain yang mengikuti mereka itu melakukan pencarian.

***

Di sebuah rumah kecil yang agak terpencil dari rumah-rumah lainnya karena dikelilingi kebun singkong yang amat luas, seorang perempuan yang dikenal dengan nama Mak Antung sedang mencoba mengobati seorang pasien. Pasien itu adalah seorang anak kecil berumur sekitar sepuluh tahun.
Baca selanjutnya…

Test Pack

Februari 6, 2009 36 komentar

mabruka-azzahra1Author: Suhadi

Sebuah cerpen yang dibuat saat suntuk, terjepit berbagai setoran pekerjaan yang menggunung….. Damn, sungguh saya hampir tak punya waktu buat menulis..

 

Setelah dibukakan pintu, Henardi bergegas masuk. Fennita, istrinya yang sedari tadi menunggunya dengan penuh sabar mengekor di belakang.

Henardi duduk di sofa. Menghempaskan tas kerja, dan juga pantatnya yang terasa lebih penat dari biasanya. Ia menarik napas panjang sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher. Lelaki itu mencoba menyamankan diri dengan duduk menyandar.

“Capek ya, Kak?”

“Hemmm…”, Henardi mengangguk. Terlihat agak kikuk.

“Fennita buatkan kopi dulu ya, Kak?”, istrinya yang sudah lima tahun hidup serumah itu tersenyum penuh kelembutan. Senyum ikhlas yang—biasanya—mampu meneduhkan badai apapun yang dihadapi Henardi.

“Terima kasih, Sayang.” Lelaki itu mengangguk kemudian tersenyum, tapi tak sempurna mengembang. Ada sesuatu yang teramat besar yang akan meledak hari ini. Dan, tak bisa Henardi tunda-tunda lagi.

Harus hari ini…. , batin Henardi.

Henardi membuka satu kancing kemeja. Lalu, dua. Panas masih terasa udara. Ah harus hari ini…. tak bisa ditunda-tunda lagi. Aku harus bicara pada Fennita… Kata hatinya berulang-ulang memantapkan diri.

“Ini kopinya, Kak.” Perempuan cantik berumur tigapuluhan itu telah kembali dari belakang. Fennita membungkuk, menghaturkan secangkir kopi dan sepiring kecil cookies buatan tangannya yang terampil. Apapun yang diracik oleh tangan halus itu selalu enak dan nikmat.

“Diminum dulu kopinya, pasti bisa lebih menyegarkan.”

Lalu tubuh semampai berbalut blus berwarna kuning cerah yang meronakan kulit putih mulusnya itu duduk menyampingi Henardi. Tubuh indah itu menggelayut manja pada lengan Henardi. Jemari lentiknya memijit-mijit. Dalam suasana biasa, jari-jari lentik itu mampu meregangkan otot-otot punggung dan pinggangnya yang tegang dan kaku karena seharian bekerja di kantor. Usapannya jemari lentik itu—biasanya—mampu membuatnya rileks dan melupakan tumpukan berkas-berkas kontrak kerja perusahaan yang harus diteliti kata-per-kata, kalimat-per-kalimat, paragraf-per-paragraf, hingga kesatuan utuh maknanya, yang menjadi keseharian tugasnya. Dan, suara serta desah napas istri tercintanya—Fennita, akan mampu melenakannya. Tapi sepertinya tidak untuk hari ini.

Walaupun demikian dibiarkan Henardi, istrinya memperlakukannya bak seorang maharaja. Ia tak meresapi dan tak menikmati. Bukan tak ingin, tapi tak bisa. Ia sedang berusaha menyusun kata-kata. Ungkapan yang sehalus-halusnya, kalau mungkin. Henardi tak ingin melukai pasangan batinnya itu. Ia tak ingin menggores, apalagi mengiris dan menyayat Fennita. Itulah sebabnya sampai hari ini, Henardi tak pernah sanggup mengungkap apa yang akan disampaikannya.

“Honey….”

“Hmm…..?”

“Kakak mau menyampaikan sesuatu.” Henardi tersenyum kecut. Sayang, kesan itu tak tertangkap oleh Fennita, karena wanita itu juga sedang asyik dengan pikirannya sendiri.

“Berita gembira lagi…?”

“Sebuah kejutan… tapi….”

“Tapi Kakak tak ingin aku menganggap ini kejutan bukan? Karena Kakak menganggap ini bukan sesuatu hal yang besar, seperti liburan seminggu penuh ke Bali bulan lalu, kan?” Fennita mencoba menebak seadanya, karena perempuan ayu itupun sedang berusaha menyusun kata-kata. Fennita juga punya sesuatu di saku celananya. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang pastinya bisa membuat kaget—gembira—suaminya tercinta itu.

“Ya, kakak tak ingin Fennita jadi kaget, karena ini memang sebuah kejutan. Kakak tidak ingin Fennita jadi shock dan pingsan. Jantung Fennita-kan suka ndak kuat,” jawab Henardi sembari tersenyum. Ragu-ragu, lelaki itu berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia betul-betul tak ingin istrinya shock. Ia harus bicara pelan-pelan agar Fennita bisa memaklumi keadaannya.

“Kalau begitu, biar Fennita saja yang bicara dulu ya, Kak? Fennita juga punya sesuatu untuk Kakak.” Jemari lentik itu menggamit lengan Henardi dengan lebih mesra. Ia merapatkan tubuhnya yang hangat. Lelaki itu makin jadi tak karuan.

“Fennita punya sesuatu yang bisa membuat Kakak amat senang?” tanya Henardi. Gundah, tapi sekali lagi sayang, kesan ini tak tertangkap oleh mata Fennita.

“Hmm, ya…” Fennita mengerling manja.

“Ah, apapun yang Fennita punya atau berikan untuk Kakak, pasti bisa membuat Kakak senang. Sebuah arloji-kah? Atau…….” Henardi tersenyum lagi. Tapi kini dengan kecut yang kian meraja. Ia siap meledak. Henardi harus bicara…..

“Fennita punya in……”

Sekejap telunjuk Henardi diletakkan di atas bibir Fennita, menahan Fennita yang akan bicara. Perempuan itu terhenti…

“Lebih baik, Fennita dengarkan kabar dari Kakak dulu, ya..?”

Fennita mengangguk. Mengalah. Bersabar membendung kata-kata yang hampir melontar dari bibir mungilnya yang padat sensual. Tangannya memasukkan kembali sebuah benda kecil yang tadi berangsur ingin dikeluarkannya dari saku celana panjangnya.

“Kakak menikah lagi, Fennita…. Sudah hampir tiga bulan dan kini…. Anneke telah mengandung….,” lirih suara Henardi. Wajahnya tertunduk. Suara itu pelan keluar dari bibir lelaki berkumis tipis itu. Tapi efek yang diakibatkan sungguh luar biasa.

“Menn…ni…ka..hh..!!!???!!!” Istri Henardi yang cantik itu ternganga tak percaya. Ia benar-benar shock, lalu lunglai dan jatuh pingsan.

“Nita…. Fennita…..!!!” Henardi menyergap tubuh yang jatuh tak berdaya itu. Ia mengguncang-guncang bahu istrinya. Henardi meluruskan kaki dan memperbaiki posisi lengan Fennita. Sebuah benda kecil panjang berwarna putih tiba-tiba terjatuh di atas lantai. Benda yang tadi berada dalam genggaman Fennita. Benda yang tentunya akan ditunjukkan pada Henardi, tapi berangsur diurungkan dan kembali dimasukkan Fennita ke dalam saku karena Henardi ingin terlebih dulu menyampaikan sesuatu. Sungguh sebuah kebetulan saat mata Henardi menangkapnya. Lelaki itu kemudian segera memungut benda kecil itu. Benda yang hampir sama dengan yang tadi pagi Anneke—istri mudanya, tunjukkan padanya. Sebuah stik kecil dengan dua garis ramping berwarna merah muda.

Ya Tuhan…. Fennita hamil….

Penuh penyesalan Henardi menggenggam stik berwarna putih itu. Test pack itu telah menunjukkan bahwa Fennita hamil. Inilah yang dimaksud Fennita, “sesuatu” yang akan membuat ia amat senang. Kehamilan yang selama ini mereka rindukan. Buah cinta perkawinan mereka yang telah direnda selama lima tahun. Sayang, Henardi tergoda bujuk saudara-saudaranya agar menikh lagi secara diam-diam karena ia tak ingin menyakiti Fennita yang amat dicintainya. Anak, dambaan Henardi yang telah membuatnya membohong pada Fennita. Nikah siri. Kawin di bawah tangan, tanpa sepengetahuan Fennita. Saat Anneke—istri mudanya itu hamil dan ia mencoba mengungkapkan kebohongan besarnya selama ini pada Fennita, ternyata perempuan yang benar-benar belahan batinnya itu juga hamil. Kehamilan yang telah lama mereka tunggu-tunggu kehadirannya.

Henardi lemas tak berdaya. Tak bisa berhenti ia mengutuki dirinya sendiri.

Alabio, 6 Februari 2009.

Jerami (7)

Januari 24, 2009 19 komentar

monster-hospes-jeramiAuthor: Suhadi

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), Jerami (3), Jerami (4)Jerami (5), atau Jerami (6)?

Benda bulat itu tak lebih besar dari buah kelapa. Sebola kaki. Dalam keadaan melayang di udara dan mengeluarkan cahaya yang amat menyilaukan dan suara berdesing itu, benda aneh itu telah menyembuhkan Acin. Bahkan hingga ke sekecil-kecilnya infeksi nonmutualis—apalagi parasitis. Tak ada inflamasi apapun di tubuh Acin. Tubuh Acin telah siap untuk sebuah misi yang amat penting. Tubuh itu telah siap sebagai sebuah medium bagi sesuatu yang akan membuatnya menjadi suatu makhluk yang benar-benar berbeda. Hospes!

Benda bulat itu semakin nyaring berdesing. Semakin menyilaukan cahayanya. Acin tak sanggup lagi memandanginya. Ia berlutut, menunduk, dan menutup telinga serapat-rapatnya dengan kedua telapak tangan. Saat saraf-sarafnya sampai di limit terendah untuk menahan rasa sakit, benda bulat hitam mengilap itu meledak.

“Dhuarrrrr…rrrr!!!!!!!!!!!!!”

Menakjubkan. Tidak tampak ada serpihan-serpihan. Benda itu total berhamburan dalam bentuk serbuk hitam yang amat halus. Lebih halus dan lebih lembut dari bedak. Warna serbuk yang hitam membuat udara di sekitar tempat itu menjadi berkabut gelap.

Acin mendongakkan kepala. Ia perlahan bangkit dan berdiri. Kedua belah tangannya didedahkan keangkasa. Acin tersenyum. Ia kemudian tertawa-tawa dan menari-nari. Berputar-putar seperti anak-anak sedang mandi hujan di tengah hamparan rumpun-rumpun padi yang baru dipanen. Melompat-lompat di atas jerami sambil menadahkan tangannya ke angkasa. Keajaiban terus berlanjut. Baca selanjutnya…

Jerami (6)

Januari 9, 2009 33 komentar

Author: Suhadi

 

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), Jerami (3), Jerami (4), atau Jerami (5)?

 

Danan menghela napas. Sedikit ragu-ragu, lelaki setengah baya itu mulai menceritakan tragedi di tepi desa, yang hanya diketahui segelintir orang.

 

***

 

Sepuluh hari yang lau, di pinggiran Desa Sisir Punduk, di ambang batas Hutan Beringin:

 

pinah-dan-dananDanan senang sekali, demikian pula isterinya Pinah. Hari itu cuaca sangat bangus. Cerah. Tak ada seorangpun dari mereka yang menduga bahwa di hari itu akan terjadi sesuatu yang merupakan pangkal banyak kejadian ganjil di Desa Sisir Punduk beberapa hari kemudian.

 

Kicau burung-burung penyanyi menyemangati iring-iringan mereka. Bersama mereka ikut Harti, Dayat, Kustam, dan Acin. Keenam orang itu sedang menuju hamparan luas padi yang sedang menguning. Mereka akan menuai padi. Memang tidak biasanya Hardi mau bergabung membantu pekerjaan di sawah. Biasanya hanya Danan dan Pinah yang mengurusi sawah-sawah peninggalan mendiang orang tua mereka.

 

Hari itu Harti juga diajak karena lebih mudah membawanya ikut serta daripada meninggalkan gadis terbelakang mental itu di rumah sendirian. Dayat dan Kustam masih terhitung sepupu Danan. Sedangkan Acin, pemuda yang juga terbelakang mental itu ikut membantu karena ia memang biasa diajak Danan. Acin, pemuda bermata sipit berambut lurus tegak seperti lidi itu sudah ikut memelihara padi di sawah milik peninggalan almarhum ibu Danan di pinggir Hutan Beringin. Kebetulan, Acin memang tinggal di sekitar situ.

 

Acin adalah pemuda penderita down syndrome sebagaimana Harti, adik tiri Danan. Walaupun demikian, bujang yang senang keluar-masuk Hutan Beringin, lalu bercerita tentang makhluk-makhluk halus penunggunya ini cukup dapat diandalkan tenaganya. Acin sangat lihai menggunakan tajak, alat khusus serupa parang yang bertangkai panjang, berbentuk huruf L, biasa dipakai penduduk untuk menyiangi rumput di sawah yang berair. Tenaganya yang kuat juga bisa diandalkan untuk mengangkut karung-karung gabah yang selesai dirontok oleh mesin perontok milik Dayat dan Kustam. Saat bulir-bulir padi mulai menguning, Acin juga diberi tugas oleh Danan untuk menghalau burung-burung pipit dan gelatik, hama pemakan biji padi.

  Baca selanjutnya…

Jerami (5)

Desember 24, 2008 22 komentar

Author: Suhadi

 

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), Jerami (3), atau Jerami (4)?

 

Siang itu cuaca cerah. Danan sedang asyik membersihkan sangkar burung murai batu kesayangannya. Kakak tiri Hardi itu menyikat bersih alas sangkar yang terbuat dari tripleks. Kalau sudah di depan sangkar burung itu, ia bisa betah berlama-lama. Sedari tadi, mungkin sudah setengah jam ia bekerja.

 

Sebuah motor yang dinaiki seorang polisi muda, Junaidi, berhenti tepat di depan rumah Danan. Laki-laki itu menyangkutkan sangkar pada sebuah besi pengait di teras rumahnya yang asri. Lalu bergegas menyalami Junaidi. Ia sudah mengenalnya dengan baik. Pasti polisi itu mau bertanya-tanya soal kasus pembunuhan adiknya, Hardi.

 

“Silakan, Pak. Mari masuk.”

 

“Terima kasih.”

 

Junaidi mengiringi Danan masuk. Keduanya duduk di ruang tamu. Sekilas, Junaidi memandangi seluruh bagian ruangan. Ruang tamu yang bersih. Pasti istri Danan yang bernama Pinah itu sangat cekatan dan rajin. Tak seperti istrinya, pikir Junaidi, sembari tersenyum kecut pada dirinya sendiri. Istrinya terlalu sibuk dengan berbagai macam sampel-sampel jamurnya. Mengamatinya, memotret, membuat deskripsinya, dan kalau memungkinkan, menyimpan spesimennya. Wanita itu terlalu tergila-gila pada jamur. Selain tergila-gila padanya, tentu saja. Rumah dinas mereka tak pernah beres. Berantakan. Mirip kapal pecah.  Astri tak pernah punya cukup waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumahan. Tapi, barangkali bukan karena waktu yang tak cukup. MUngkin, karena Astri bukan wanita yang suka mengerjakan pekerjaan demikian. Tapi, Junaidi sudah terbiasa dengan itu semua. Mata Junaidi yang awas menyelusur setiap sudut. Lalu ia bicara.

 

“Saya ingin menanyakan sesuatu.” Kata Junaidi datar.

 

“Apa saja yang saya bisa, pasti saya bantu, Pak.” Danan tampak bersungguh-sungguh.

 

“Terima kasih. Kita telah bicara sebelumnya. Saya cuma ingin menanyakan ini kembali. Sekali lagi, tolong Pak Danan ingat baik-baik! Adakah Hardi terlibat masalah dengan seseorang?”

 

Danan diam. Dia menggeleng.

 

“Yakin?”

 

Danan sedikit gelagapan. Polisi muda itu menangkap gerakannya. Ia segera menentang pandangannya pada Danan. Danan tertunduk.

 

“Yakin, Pak Danan?”

 

“E… e…aa…”

  Baca selanjutnya…

Jerami (4)

Desember 17, 2008 9 komentar

hutan-beringin-jeramiAuthor: Suhadi

 

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), atau Jerami (3)?

 

Hutan Beringin memang sesuai dengan namanya. Di hutan itu, walaupun tak semua vegetasi penyusunnya adalah beringin, pohon yang berukuran besar dengan akarnya yang menggantung dan bersilang-kait itu cukup mendominasi. Hutan Beringin di tepi desa itu bukan tempat yang biasa dikunjungi orang. Dari generasi ke generasi masyarakat Desa Sisir Punduk dan sekitarnya, telah sering terulas cerita tentang angkernya tempat tersebut. Sebagian besar penduduk percaya akan cerita-cerita yang berhembus. Sebagian lagi mungkin tidak. Tapi yang jelas, hutan itu dipenuhi aneka satwa liar yang berbahaya. Terutama ular tadung, sejenis kobra berbisa yang seluruh sisik tubuhnya berwarna hitam mengkilap. Populasi ular ini tentu sangat banyak, karena seringkali ular-ular itu muncul di tepi hutan yang berbatasan dengan sawah dan ladang penduduk. Jadi, baik orang-orang yang percaya maupun yang tak percaya akan keangkeran Hutan Beringin, takkan mau masuk ke dalam sana.

 

Hanya dua orang manusia yang diketahui suka atau mau memasuki Hutan Beringin. Manusia pertama adalah Acin, pemuda terbelakang mental, berambut lurus seperti lidi, bertubuh bongsor, dan bermata sipit. Penampilannya khas. Baju kumal dan bau karena tak terurus. Itulah kesan pertama yang bisa ditangkap oleh mata bila kita berpapasan dengannya. Lalu, pemuda itu akan dengan mudah memberi senyum untuk memamerkan gigi-giginya yang kuning dan jarang. Acin hidup sebatang kara. Makannya dari belas kasihan penduduk. Kalau tak ada yang memberinya makan, maka ia akan mengambil singkong di tegalan penduduk. Atau, mengambil pisang. Pemuda ini punya gubuk reyot bekas peninggalan ayahnya yang telah meninggal hampir tujuh tahun yang lalu, saat Acin masih berusia tigabelas tahun. Letak gubuk itu di tepi hutan beringin. Penduduk yakin, pemuda dua puluh tahunan itu berani masuk ke Hutan Beringin tak hanya karena bloon, tapi juga karena ia memiliki gampiran makhluk halus. Demit, setan, atau barangkali jin penunggu hutan beringin adalah saudara kembarnya saat dilahirkan. Gampiran Acin. Baca selanjutnya…