Archive

Archive for the ‘about me’ Category

Mencoba Belajar Menulis Lagi

April 24, 2011 5 komentar

hilangkan hambatan dalam menulis dengan latihan (gambar dari http://geoffreyphilp.blogspot.com)

Author: Suhadi

Sudah lama tidak menulis. Rasanya aneh juga. Rada mikir, harus dimulai dengan tema apa? Kata apa? Terasa ada hambatan. Mungkin ini yang sering disebut orang dengan writer’s block? Akhirnya setelah berpikir-pikir, jadilah tulisan ini.

Katanya, sih, dalam buku-buku teori menulis, writer’s block bisa dihilangkan dengan latihan. Saya percaya seratus persen dengan gagasan ini. Saya tahu, menulis adalah sebentuk keterampilan. Dan, keterampilan akan semakin terotomatisasi pada diri seseorang yang selalu melatihkan keterampilan itu.

Wah, jadi saya akan lebih rajin lagi menulis dan mengisi blog yang lama terlantar ini? Mudah-mudahan. Adanya banyak alasan—yang tak sepatutnya dijadikan alasan bila saya memang ingin menjadi penulis—yang menyebabkan saya lama tak menulis. Tapi tentu takkan saya paparkan di sini.

Mudah-mudahan saya bisa meng-update blog ini, paling tidak nanti sekali seminggu. Isinya? Yah, tentunya takkan jauh-jauh dari artikel-artikel terdahulu. Mudah-mudahan. Amin.

Baca ulasan saya tentang BUKU :

Tipes dan 24 Wajah Billy

September 28, 2010 11 komentar

Author: Suhadi

Sudah belasan hari ini saya kolaps tak berdaya. Saya sedang sakit tipes atau demam tifoid (catatan: tipes atau demam tifoid tidak sama dengan penyakit tifus). Sungguh penyakit yang membuat saya teramat menderita. Selama beberapa hari ini saya berjuang menahan sakit kepala yang tak pernah mereda, perut yang perih, mual lalu muntah, demam lalu kedinginan, dan seluruh badan yang terasa sakit. Sebelum pemeriksaan darah di laboratorium, pengobatan yang diberikan dokter sepertinya tidak ada efeknya sama sekali, walaupun ketika ditanya istri saya, saya selalu berkata kepadanya kalau saya sudah merasa lebih baikan. Padahal, kepala saya melulu sakit.

sumber: dokumen suhadinet

Hasil tes darah itulah yang telah menunjukkan bahwa saya telah positif terinfeksi bakteri Salmonella – Typhi O, Salmonella P – Typhi AO, Salmonella P – typhi BO, dan Salmonella Typhi H. Bakteri jahat ini , menurut informasi yang saya peroleh dari sana-sini, biasanya berasal dari makanan-minuman atau peralatan makan yang tidak bersih, lalu menyebabkan infeksi di usus halus. Bakteri ini kemudian terbawa bersama aliran darah. Salmonella berkembangbiak terutama di hati dan limpa, kemudian dari kedua organ ini bakteri masuk kembali ke peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, utamanya kelenjar limfoid di usus halus. Akibatnya menyebabkan usus halus terluka, bahkan bisa terjadi kebocoran usus (Wah ngeri juga! Mudah-mudahan usus halus saya belum bocor).

Terimakasih pada hasil tes laboratorium yang membantu diagnosa menjadi lebih pasti dan, tentu saja 2 butir kapsul cacing yang dibawakan seorang guru saya waktu di SMP yang kini jadi kolega saya (kini saya dapat tambahan lagi kapsul cacing dari tetangga dan kerabat dekat istri saya). Berkat itu semua dan do’a orang-orang yang menyayangi dan mencintai saya, kini kondisi saya sudah mulai membaik.

Berhari-hari sakit kepala yang tak pernah berhenti barang lima belas menitpun, dan tidak enak badan plus perasaan mual dengan isi perut yang terasa bergolak, membuat saya tak bisa apa-apa. Kini, setelah agak baikan saya tanpa sengaja terpandang pada sederet buku-buku koleksi saya di atas rak sebuah lemari. Lagi tak ada bacaan, dan rasanya sepi sekali di rumah. Cuma berbaring dan duduk-duduk saja. Saya ambil salah satu novel yang sudah sangat lama saya beli tapi belum saya selesaikan membacanya karena pada waktu dulu terasa kurang sreg dengan banyaknya kata-kata “nggak” dalam novel tersebut. Saya telah mengambil “24 Wajah Billy” yang merupakan terjemahan dari “The Minds of Billy Milligan”, sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata Billy Milligan karya Daniel Keyes. Buku yang saya pegang tersebut adalah cetakan ke VI tahun 2007, diterbitkan oleh Penerbit Qanita PT Mizan Pustaka.

Saya ingat, dulu saya membelinya karena tertarik melihat judul dan covernya. Nyatanya, setelah membaca sekitar 100 halaman saya berhenti karena kurang suka dengan kalimat-kalimat terjemahannya, utamanya pada banyaknya kata “nggak” di dialog-dialog dalam novel tersebut.

Perlahan-lahan dengan sedikit rasa pening di kepala saya mulai membaca, tidak lagi dari depan karena saya malas melakukannya dan rasa-rasanya masih bisa mengingat-ingat ceritanya yang telah saya baca dulu, langsung saya bergerak ke arah halaman yang ada penandanya yang ternyata persis masih terletak di mana saya dulu berhenti membacanya. Halaman demi halaman saya ikuti. Saya coba mengenyahkan rasa tak nyaman Baca selanjutnya…

Alifa Rahma Rizqina: After Bath

Maret 22, 2010 9 komentar

Hai… seger sekaleeee, habis mandi cih…

gembira

Dipindahtugaskan

April 30, 2009 20 komentar

suhadi61Author: Suhadi

Sejak 31 Maret 2009, saya dipindahkantugaskan ke SMPN 4 Amuntai, sebuah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang sedang berkutat menuju Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Sayang juga kalau Kabupaten Hulu Sungai Utara tak punya RSBI, padahal UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menuntut minimal empat (1 SD/MI, 1 SMP/MTs, 1 SMA, dan 1 SMK) Sekolah Berstandar Internasional (SBI) untuk tiap kabupaten/kota. Mudah-mudahan saya bisa ikut membantu mewujudkan cita-cita mulia ini. Semoga sekolah yang saya tinggalkan, SMPN 4 Danau Panggang juga semakin maju sepeninggal saya.

KKG Guru Kelas III di SDN Sarang Burung

Maret 20, 2009 13 komentar

Author: Suhadi

Sepanjang perjalanan dari sekolah menuju acara Kelompok Kerja Guru Kelas III tingkat SD/MI di SDN Sarang Burung Kecamatan Danau Panggang saya melihat awan keperakan menggantung di langit. Di arah utara, awan hitam berarak pelan. Barangkali mau turun hujan lagi. Semilir angin sejuk menemani perjalanan.

Bersama saya, beriringan Pak Khairil Anwar, seorang Fasilitator Pendidikan untuk Proyek Pilot Pendidikan yang bersasaran daerah tertinggal seperti Kecamatan Danau Panggang. Kami sama-sama mengendarai sepeda motor.

“Kita harus lewat jalan memutar, Pak.” Serunya dari arah belakang saya. “Tidak bisa lewat tanggul. Tanahnya becek dan lengket. Sepeda motor bisa amblas di jalan itu.”

Memang, hujan lebat yang turun tadi malam membuat jalan tanggul menuju Desa Sarang Burung yang panjangnya beberapa kilometer itu menjadi becek dan lengket. Saya sendiri sebenarnya belum pernah lewat jalan tanggul. Ini adalah pengalaman pertama kali ke Desa Sarang Burung.

Desa Sarang Burung seperti beberapa desa terpencil lainnya di Danau Panggang, seringkali berada di tengah-tengah rawa. Penduduknya kebanyakan bermatapencaharian sebagai nelayan air tawar. Jumlah penduduknya juga tidak banyak. Sarang Burung boleh jadi merupakan desa pemekaran dari Desa Telaga Mas, yang letaknya agak lebih dekat ke jalan aspal.

KKG guru kelas III tingkat SD/MI selalu menantang. Sebulan yang lalu saya menjadi narasumber di SDN Longkong. Sekolah ini tak jauh beda dengan SDN Sarang Burung, juga terletak di tengah-tengah rawa. Pengalaman yang tak mungkin terlupa saat itu adalah: saya salah mengambil arah waktu mau pulang. Bukannya menuju jalan besar dan keluar dari Desa Longkong, malahan saya mengarahkan sepeda motor menuju ujung desa yang menurut para penduduk akan menuju Desa Manarap. Ada-ada saja.

“Lalu kita lewat mana, Ril?” Saya memang biasa langsung menyebut nama kepada Pak Khairil Anwar. Saya menanggalkan kata ‘Pak’ di depan namanya. Dia lebih senang dipanggil begitu. Mungkin karena umurnya jauh lebih muda dari saya. Beda sepuluh tahunan.

“Lewat Desa Telaga Mas.”

“Jadi kita lewat titian panjang?” tanya saya lagi.

Khairil mengangguk.

Saya tersenyum kecut.

Asal tahu saja, Desa Telaga Mas dihubungkan dari jalan aspal Alabio-Danau Panggang oleh titian dari kayu ulin yang kondisinya rusak parah. Banyak kayu-kayunya yang telah patah. Khairil sendiri, pernah tercebur bersama sepeda motornya. Walhasil, laptopnya rusak dan hpnya hilang. Terjun bebas ke air rawa yang kedalamannya berkisar dari sedada orang dewasa hingga 2 meteran. Peristiwa itu terjadi sekitar setahun yang silam. Belum lagi masalah mengangkat sepeda motor dari dalam rawa, perlu tenaga beberapa orang penduduk dan peralatan seperti tali atau katrol.

Akhirnya kamipun tiba di depan titian panjang dari kayu ulin selebar 160cm. Tanpa pagar. Saya meminta Khairil yang duluan di depan, soalnya dia lebih sering lewat sini. Saya sendiri, beberapa kali pernah lewat di titian ini. Alhamdulillah belum pernah jatuh. Cuma ya itu, sering nahan napas dan jantung jadi deg-degan. Bikin gugup.

Titian yang bikin spot jantung itu

Titian yang bikin spot jantung itu

Khairil melaju. Namun, hanya beberapa saat saja segera melambat karena banyaknya bagian titian yang rusak. Bahkan saya yang di belakangnya harus ekstra hati-hati. Bagaimana tidak. Titian itu benar-benar bikin spot jantung. Beberapa kali saya turun dari sepeda motor membetulkan letak papan-papan yang hampir jatuh karena lepas tercabut pakunya. Lihat saja contohnya di foto berikut. Mata saya hanya tertuju pada papan-papan lantai titian itu. Bolong dan patah di mana-mana. Kadang-kadang ban sepeda motor hanya berjalan di atas gelagar (kayu balok ukuran 5cm x 5cm) penyangga papan. Papan-papannya sendiri telah patah dan lepas. Perjalanan menjadi terasa lama sekali.

Ternyata yang takut-takut melintasi titian itu tak cuma saya. Beberapa ratus meter di depan, saya melihat iring-iringan para guru kelas III peserta KKG. Ibu-ibu guru terpaksa menuntun sepeda motor. Beberapa yang berboncengan juga harus turun. Perjuangan yang luar biasa untuk sebuah kegiatan KKG? Saya pernah mempertanyakan kepada mereka mengapa KKG kadang-kadang diadakan di tempat yang sulit dijangkau. Jawab mereka, “Agar ada pergantian tempat saja. Guru-guru lain biar tau bagaimana kondisi sekolah-sekolah yang terpencil. Biar sekolah-sekolah yang terpencil itu juga mendapat kesempatan didatangi pihak-pihak terkait semacam pengawas, atau orang-orang Dinas Pendidikan.”

Setelah melewati Desa Telaga Mas, kamipun akhirnya memasuki Desa Sarang Burung. Sebuah desa di atas air. Rumah-rumah panggung berjejer di kanan kiri titian. Anak-anak usia sekolah yang tak bersekolah bermain-main di beranda rumah. Rupanya banyak anak yang putus sekolah atau barangkali memang tak pernah sekolah. Penasaran apakah mereka murid kelas I dan II yang sudah pulang sekolah? Saya tengok jam di hp dalam saku celana, saat itu masih jam sembilan pagi. Saya coba berpikir positif, anak-anak itu tentu anak-anak kelas I dan II yang dipulangkan lebih awal karena ruang kelas mereka dipakai untuk kegiatan KKG nanti.

Halaman sekolah berair dan dipenuhi enceng gondok-mereka tak punya lapangan olahraga

Halaman sekolah berair dan dipenuhi enceng gondok-mereka tak punya lapangan olahraga

Sekolah yang dituju akhirnya terlihat juga di depan mata saya. Ada banyak anak-anak berseragam merah putih. Beberapa guru peserta KKG berbincang-bincang dan hamparan enceng gondok di tengah-tengah halaman sekolah yang berbentuk huruf U.

Setelah menunggu beberapa peserta lain akhirnya acara KKGpun dilaksanakan. Semua berjalan lancar seperti yang diharapkan, kecuali para petugas konsumsi yang terjebak di jalan tanggul yang becek dan lengket. Oleh sebab itu, acara makan siang setelah KKG selesai sedikit agak tertunda.

Sesi diskusi pada KKG di SDN Sarang Burung

Sesi diskusi pada KKG di SDN Sarang Burung

Pada perjalanan pulang gerimis menyirami iring-iringan kami: guru-guru SD/MI kelas III, pengawas TK/SD dari UPT Danau Panggang, kawan-kawan dari Pilot Pendidikan, Tim Teknis Pendidikan yang bersepeda motor di atas titian itu.

Kategori:about me

Kopi Darat dengan Para Penulis Hebat

Desember 22, 2008 28 komentar

Author: Suhadi

 

Hari Minggu yang lalu (21 Desember 2008) adalah hari istimewa. Saya menyempatkan untuk ke Banjarbaru, bertemu Sang Motivator Menulis, Pak Ersis Warmansyah Abbas. Saya berangkat jam 05.30 dari rumah. Sehabis shalat shubuh. Maklum, untuk ke Banjarbaru saya perlu sekitar 4 jam perjalanan.

 

“Janji ketemu Pak EWA jam 10.00”, demikian kata Taufik lewat SMS sehari sebelumnya. Akhirnya, pukul 09.40 sampai juga saya di gerbang batas kota Martapura-Banjarbaru. Sesuai perjanjian dengan Taufik, saya turun dari angkutan umum di sana, lalu bersama-sama Taufik akan berangkat naik motor ke rumah Pak Ersis.

 

Benar saja, Taufik memang on time. Pas saya turun, lalu mencoba menghubungi Taufik, eh dia sudah ada di sana. Tak perlu tengok kanan kiri untuk memastikan Taufik (barangkali juga dia, untuk mengenali saya), dengan segera saya segera mengenalinya. Gak beda dengan avatarnya di blog. Ternyata Taufik ingin mengajak saya mampir dulu di rumah mertuanya yang purnawirawan tentara. Saya ikut saja dengan hati senang. Di bawah langit Martapura yang mendung kami tiba di sebuah rumah besar yang bersih dan asri. Rupanya keluarga Pak Taufik dan saudara-saudaranya yang lain biasa berkumpul di sana setiap hari libur. Senang sekali mengamati si kembar Faiz dan Faqih, putera Pak Taufik yang berusia tiga tahunan. Semuanya harus sama. Kalau beda dikit, mereka bisa ”bergulat”. Sungguh keluarga yang hangat. Pada cuaca yang dingin itu, saya diundang untuk mencicipi rawon. Rejeki… saya tak pernah nolak. He..he… (Tapi maaf Pak Taufik, sebenarnya saya kemarin makannya agak dipaksakan: jujur, saya tak suka makan rawon :mrgreen: ).

  Baca selanjutnya…

Tentang Nama Saya

Oktober 23, 2008 40 komentar

Author: Suhadi

 

Siapa nama Anda? Apakah ada arti khusus berkaitan dengan nama itu?

Nama saya Suhadi. Hanya terdiri dari satu kata dengan 6 huruf. Pendek sekali. Tapi dulu, waktu masih kecil saya ingat, orang-orang di sekitar rumah nenek memanggil saya dengan sebutan Khairus. Ya, Khairus. Tahu kenapa? Dulu, waktu pertama kali diberi nama, nama saya bukan Suhadi. Tapi Khairus Suaidi.

 

Konon, semenjak saya dilahirkan ibu jadi mulai sakit-sakitan. Begitu juga saya, bayi yang dilahirkannya itu juga sering sakit-sakitan. Almarhum ayah saya pernah bercerita kepada saya bahwa nama saya yang bagus itu (he..he… Kahirus kan dari kata Khair yang dalam Bahasa Arab berarti bagus atau baik), terpaksa diganti karena terlalu berat disandang oleh saya. Kebagusan nama! Tidak seimbang. Tidak balance dengan karakter yang saya miliki. Atas saran beberapa orang alim (kyai), tapi juga pandai menghitung aksara (suatu keahlian menentukan nama yang berkaitan dengan hitung-hitungan huruf yang dipakai, konon, harus disesuaikan dengan tanggal lahir, nama ayah, nama ibu, dsb) akhirnya nama saya diganti. Mulanya Khairus Suaidi diubah menjadi Khairus Suhadi. Baca selanjutnya…

Kategori:about me Tag: