Beranda > bahan bacaan > Qaisra Shahraz-Perempuan Suci (The Holy Woman)

Qaisra Shahraz-Perempuan Suci (The Holy Woman)


perempuan suci-coverAuthor: Suhadi

Tak terlalu banyak novel bagus yang saya baca (alamak! sombong sekali kau!), dengan kemampuan mampu mengaduk-aduk perasaan saya sehebat Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata (buku 1 yang banyak bercerita tentang pendidikan kita) lebih dari setahun yang lalu hingga akhirnya sekitar seminggu yang lalu saya membaca Perempuan Suci  (versi aslinya: The Holy Woman) karya Qaisra Shahraz. Novel ini—yang sebenarnya sudah tahun 2006 lalu diterbitkan—merupakan sebuah novel yang  luar biasa. Dari belasan (puluhan?) novel yang saya baca belakangan ini, hanya novel ini yang benar-benar mampu menggugah rasa dan menimbulkan decak kekaguman sementara saya membolak-balik halaman-halamannya.  Ha..ha.. padahal pada awalnya saya tak suka covernya, telah lama saya melihat novel ini tergeletak di toko buku tempat saya biasa berbelanja buku, hanya karena saya merasa kecewa setelah sebelumnya membeli beberapa novel dari pengarang dalam negeri yang tak memberi greget apa-apa. Keterbatasan pilihan novel yang dijual di kota kecil Amuntai-lah yang membawa saya pada putusan meraihnya dari rak beberapa waktu yang lalu.

Perempuan Suci ternyata adalah karya pertama berwujud novel dari  Qaisra Shahraz. Novel ini benar-benar membuat saya ikut hanyut saat meresapi setiap kata dari dialog masing-masing tokohnya. Penulis kelahiran Pakistan yang kini tinggal di Manchaster ini memang hebat merangkai dialog. Suatu hal yang saya sangat kesulitan melakukannya dalam upaya belajar menulis fiksi. Semua dialog benar-benar logis dan mampu memunculkan konflik yang memberi kesan natural dalam imajinasi saya,tidak dibuat-buat, memunculkan karakter tokoh yang berdiri tegas dengan keunikannya masing-masing. Seluruh karakter tokoh yang ditampilkan dalam novel  setebal  517 halaman ini merupakan sebuah kekuatan tersendiri.

Ketika menggarap dialog-dialog para tokoh, yang menurut saya merupakan salah satu keunggulan lain novel ini, Qaisra Shahraz melakukannya dengan teramat baik. Jalinan kata-kata yang dipilih mampu—setelah memunculkan konflik, membentuk karakter para tokoh—sebagai sarana untuk penyelesaian konflik yang cerdas.

Membaca novel ini, bagi saya yang di tahun 2000-2005-an adalah penikmat sejati film-film romantik Bollywood (cieee….) dengan pemain-pemain macam Ajay Devgan, dan Kareena Kapoor,😉  membawa imajinasi saya terbang ke negeri Pakistan (yang secara kultural dan historis amat dekat dengan India—pernah merupakan wilayah India sebelum memisahkan diri). Ya, saya bisa membayangkan dengan detil setting cerita ini berlangsung pada keluarga-keluarga tuan tanah yang dihormati—disegani, perbedaan status sosial antara para pecinta yang terlibat, para perempuan desa yang senang bergosip, selera mereka pada aneka perhiasan dan baju-baju gemerlap, hingga sawah, dan jalanan desa  yang menjadi pilar utama dalam membangun cerita. Nasihat saya: tontonlah beberapa film percintaan Bollywood yang romantik, lalu bacalah novel ini. He…he….he…..  :mrgreen:

Saya memetik buah hikmah, bahwa inti dari novel ini adalah cara pandang—tipikal?—kepribadian orang Pakistan yang memandang harga diri terkait status social/kasta (sesuatu yang sebenarnya sangat debatable bagi etnis/bangsa lain). Dalam Perempuan Suci kita digiring sehingga bisa memahami bagaimana seorang Chauharani Kaniz (janda seorang tuan tanah) yang merasa kehormatannya akan jatuh hina jika harus bermenantukan perempuan bernama Firdaus yang merupakan anak seorang tukang cuci. Atau, saat seorang Zarri Bano (tokoh sentral perempuan dalam novel ini) harus mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia masih memendam cinta yang teramat luar biasa pada Sikander saat ia terpaksa harus mengawini lelaki yang pernah menjadi tunangannya itu demi keponakannya Haris (anak Sikander dari adik perempuannya: Ruby yang menjadi syuhada haji sewaktu thawaf di hadapan Baitullah). Konflik batin yang mahahebat menderanya. Zarri Bano harus berusaha sekuat tenaganya  melepaskan “harga diri” sebagai seorang perempuan suci yang tak boleh menikah (karena ia telah menikahi keyakinannya: Al Qur’an)dan membiarkan fitrahnya tumbuh kembali sebagai seorang perempuan yang selalu mendamba pasangan hidup: seorang lelaki, Sikander. Dalam pergulatan bati n itu Zarri Bano ternyata sangat tak mudah untuk melepaskan pangkat sebagai perempuan suci, padahal ia tahu persis bahwa penasbihanannya (mulanya secara paksa oleh ayahnya), sebagai seorang perempuan suci adalah hal yang tidak pernah tertulis dalam hukum Islam, dalam Al Qur’an atau Sunnah Rasul—bahkan tentu bertentangan dengan fitrahnya sebagai perempuan.

Sebagai seorang yang bercerita dengan amat bagusnya, Qaisra Shahraz telah membumbui konflik perang batin seorang Zarri Bano, seorang terpelajar berpendidikan magister, jurnalis,redaktur, aktivis  feminis yang sering berkeling dunia dan peduli pada masalah-masalah perempuan, ternyata tak mampu saat ia diharuskan menekuri peran yang diselempangkan padanya  sebagai seorang perempuan suci. Ia harus terpasung di bawah tirani partriarkat para lelaki (ayah dan kakeknya)—menjadi seorang perempuan yang harus mengenakan burqa (jubah hitam tertutup) dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk ibadah (180 derajat berkebalikan dengan profil Zarri Bano).  Kemudian selanjutnya konflik dilanjutkan dengan konflik batin: pemulihan jiwa Zarri Bano agar kembali menjadi seorang perempuan normal yang sepantasnya juga menikah dengan orang yang dicintai-mencintainya tapi tetap berpegang pada agama/Islam.  Bumbu-bumbu manis, pedas, asin, dan asam telah dibubuhkan Qaisra Shahraz melalui konflik antara Zarri Bano-Sikander, Zarri Bano-Ruby, Zarri Bano-Habib, Chaudharani Syahzada-Habib, Chaudharani Kaniz-Fatima, Chaudharani Kaniz-Firdaus, dan Firdaus-Khawar. Oh..oh, semua menimbulkan chemistry yang luar biasa. Saya bahkan berpikir, bahwa Qaisra Shahraz tak pernah melupakan setiap dialog yang telah dibuatnya untuk setiap tokoh di halaman-halam depan untuk kembali dibuka dan dipertajam di halaman-halaman berikutnya, tanpa harus membuat kita menjadi bosan karenanya. Dia tidak mengulang sepenuhnya sebuah dialog, tapi pengulangan beberapa kata tertentu membuatnya menjadi penegasan yang luar biasa bahwa setiap tokoh punya memori masing-masing terhadap setiap peran yang diberikan Qaisra padanya.Semua karakter menjadi hidup. Harus saya akui, saya sering tergetar karenanya. Salut!

Pada saat-saat membaca novel ini, beberapa kali saya tercenung, bagaimana mungkin konflik yang sekilas dalam pikiran saya adalah sebuah konflik yang teramat sulit, dapat diselesaikan menjadi sesuatu yang begitu manis dan indah saat Qaisra menyelesaikannya pada bab-bab tertentu. Huh, itu selalu membuat saya menjadi bernapas lega, karena begitu terpengaruhnya emosi saya. Saya terkagum-kagum dengan caranya menyelesaikan konflik, walaupun itu baru bisa selesai dengan dialog-dialog panjang dan saling debat antar tokohnya—tapi disitulah menariknya. Novel ini tak menimbulkan efek tak ingin berhenti membaca (tak bisa berhenti sampai selesai) sebagaimana Andrea Hirata melakukannya pada Tetralogi Laskar Pelangi, Perempuan Suci karya Qaisra Shahraz dapat dinikmati dengan santai tanpa terburu-buru—setiap saat kita memegang buku ini kita akan menikmatinya dan membuat perenungan terhadapnya. Andai saya punya kemampuan seperti penulis ini……..😦

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari novel ini misalnya ini:

Komentar Khawar yang menyakitkan padanya masih membekas. Firdaus mulai belajar bahwa keangkuhan adalah sebuah fenomena jahat yang tak akan menghasilkan apa pun, selain jurang di antara orang-orang yang saling mencinta (h.420).

Novel ini juga penuh dengan kalimat-kalimat indah, yang terkadang juga kalimat-kalimat sarkastis bahkan konyol. Namun, mohon maaf Qaisra Shahraz, ternyata saya juga menemukan sedikit kejanggalan dalam novel ini, di mana saat Qaisra Shahraz mencoba bercerita tentang penyadapan karet di Malaysia, ia melakukan kekeliruan. Saya pikir wanita yang hingga umur 8 tahun masih tinggal di Pakistan ini tidak begitu tahu tentang pohon karet, ha..ha…ha….:

“Assalamu’alaikum!” sapa laki-laki itu yang ternyata penyadap karet. Ia segera tahu dari jilbab hitam Zarri Bano bahwa mereka Muslim seperti dirinya. Sambil tersenyum lebar, ia membawa mereka ke dekat sebuah pohon karet, dan dengan sebilah pisau khusus, ia menunjukkan Bagaimana karet disadap. Zarri Bano dan Sikander mengamatinya dengan kagum saat cairan kental seperti jel yang berwarna jingga keluar dari pelepah terluar batang karet itu (h.501).

Ada-ada saja, masa pohon karet mengeluarkan getah seperti jel yang berwarna jingga—bukannya putih susu? Lalu pohon karet ada pelepahnya—kaya pohon kurma saja. He..he… Namun, tak apa-apa, itu hanya cela kecil, dan tak ada lagi cela lain yang saya lihat.

Buku ini ada lanjutannya, tapi sayang saya belum menemukannya di sini (tak banyak toko buku yang menjual novel di sini. Judulnya aslinya Thypoon (versi terjemahannya: Perempuan Terluka, Mizan 2007). Hm, mudah-mudahan saya bisa menemukannya. Saya terlanjur jatuh cinta pada permainan kata-kata Qaisra Shahraz… Oh oh…😉

  1. DV
    September 9, 2009 pukul 12:29 pm

    Wah, ternyata lama nggak aktif di blog bukan berarti nggak menulis ya, Pak Guru.

    Salut! Tetap produktif!

  2. September 9, 2009 pukul 6:13 pm

    wah, sudah lama saya terlalu jauh dari novel.
    sudah saatnya ke gramedia buat beli satu lagi…
    terima kasih review bukunya pak, bisa masuk dalam daftar saya ini….

  3. September 9, 2009 pukul 9:01 pm

    wadaw! reviunya menggugah, bikin saya penasaran banget, suhu!
    padahal saat ini masih berusaha menyelesaikan buku-buku yang antri dibaca, padahal udah lama dibeli.

    cerita-cerita dengan sentuhan nilai-nilai kearifan lokal dan budaya memang lebih menarik untuk dibaca ya, suhu? ada eksotisme tertentu. buktinya, banyak di antara buku-buku yang mengusung nilai-nilai budaya menjadi bestseller atau pemenang penghargaan-penghargaan buku setelah dipasarkan.

  4. September 9, 2009 pukul 9:06 pm

    suhu udah baca karya-karya khaled hossaini (“the kite runner” dan “a thousand splendid suns”)? bagaimana kira-kira perbandingannya? saya suka banget kedua novel itu, sangat menggugah. dan anehnya, banyak penulis-penulis yang karya pertamanya adalah yang terbaik dibandingkan karya-karyanya setelahnya. paulo coelho juga sepertinya demikian; “the alchemist” masih yang terbaik dari keseluruhan karyanya hingga saat ini.

  5. September 10, 2009 pukul 8:45 am

    bagus resensinya, kalau tidak keberatan saya mau terbitkan di halaman sastra radar nanti…

  6. September 10, 2009 pukul 4:28 pm

    @ randualamsyah
    if you realy mean it pal.. do it.

  7. September 11, 2009 pukul 3:43 pm

    hal, pak suhadi, lama ndak nongol, lagio sibuk, ya? hehe …. tapi saat mosting kembali, poask suhadi mereview sebuah novel karya Qaisra Shahraz. hmmm … mantab, pak, sukses selalu buat p[ak suhadi.

  8. September 12, 2009 pukul 8:03 am

    Wah,orang amuntai ya?salam kenal pak guru…aku muridmu nak smp di tanjung! Hehe.. Mampir balik n komen ok!

  9. September 15, 2009 pukul 11:32 am

    wah review yang mantap hehehe gima na kabarnya pak lama nggak saling silaturahmi

  10. September 15, 2009 pukul 11:18 pm

    Guru IPA yang suka sastra.. ini sih Guru KAYA namanya, boleh ikut belajar disini ya .. sukses terus, pa n salam kenal juga.

  11. September 28, 2009 pukul 7:02 pm

    saya jadi penasaran nih pak, tar cari ah bukunya kalau dah ada waktu luang. Mohon maaf lahir & batin ya pak ^_^

  12. @rif
    Oktober 1, 2009 pukul 9:29 pm

    pak sya ksh sarannya donk, perbandingan novel ap yng bgs antra, novel dalam negeri dan luar negeri.. sya tunggu secepatan???

  13. Siti Fatimah Ahmad
    Oktober 3, 2009 pukul 6:39 am

    Assalaamu’alaikum

    Lama tidak berziarah ke laman sahabat guru. Kita selalu menilai kandungan buku melalui kulit luarnya sebelum mebaca kandungan isinya. Ternyata itu bakal mengelirukan dan menjebak kita sama ada mahu meneruskan bacaan atau tidak.Oleh itu, untuk menjadi pembaca yang baik, bukan melihat kepada kulitnya tetapi meneliti dan menghayati apa yang disampaikan oleh penulisnya.

  14. akhlaqul karimah
    Oktober 7, 2009 pukul 11:25 am

    assalamualaikum
    perkenalkan pak saya mahasiswa semester 7 insya Allah calon guru juga. sekilas namun melekat apa yang bapak coba ceritakan dalam novel perempuan suci ini. Bagus sekali pak,,
    bpk mohon bimbingannya, saya sangat ingin belajar menjadi guru yang sangat bermanfaat dan menjadikan generasinya menjadi lebih baik.

  15. Desember 22, 2009 pukul 1:54 am

    reviewnya bagus.. jadi pingin baca

  16. meisa
    Maret 17, 2010 pukul 1:15 pm

    saya sudah baca perempuan terluka, sequel dari perempuan suci……..dua2nya sama bagusnya……..

    =========
    @ meisa
    thanks infonya😉

  17. April 7, 2010 pukul 8:56 pm

    Menarik posting2 anda. kunjungi aku juga ya 13:56

  18. oenas..
    Juni 26, 2010 pukul 10:23 am

    setuju..
    Permainan kata dari Qaisra Shahraz memang menggugah jiwa.
    Saya membaca ‘Perempuan Suci’ di awaL tahun 2009, namun pesona aLunan kata yang terjalin di setiap haLamannya seolah belum beranjak pergi dari pikiran aku.
    Tapi jangan Lupa,,
    Dibalik setiap kata memesona yang diLontarkan oleh Qaisra, ada yang berperan di baLiknya, yaitu penerjemah.
    Kita tidak akan bisa menikmati indahnya cerita yang terkandung dalam Perempuan Suci apabila makna yg terkandung tak disajikan melalui susunan kata yg tak kalah indahnya.

  19. teawea
    Juli 13, 2012 pukul 3:30 pm

    saya sdh baca yg perempuan terluka tapi malah belum baca yg perempuan suci, tpi saya sdh jatuh cinta dengan novel karya Qaisra Shahraz sampai saya rela tiap jam makan saya terlewat hanya utk membaca novel perempuan terluka ini, saya membaca x seperti melihat adegan tiap2 adegan tokoh yg memerankan, terasa sangat real

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: