Beranda > cerpen > Al Fakieh (Pada Sebuah Rumah Sakit)

Al Fakieh (Pada Sebuah Rumah Sakit)


Author: Suhadi

Dua bocah kecil kakak  beradik yang hanya selisih umur 2 tahun itu berjingkat-jingkat di balik pintu. Mata mereka menoleh ke setiap sudut rumah sakit, ke arah taman kecil di sekitar tangga menuju lantai dua yang langsung berseberangan dengan laboratorium, ke arah bangku-bangku kecil yang tampak apik di depan kamar-kamar pasien bedah, hingga ke koridor panjang berubin putih yang menuju ruang radiologi dan ruang operasi. Sepi, kelihatannya tidak ada orang sama sekali. Situasi ini membuat keduanya bersitatap dengan sorot yang sama nakalnya. Tidak ada seorangpun yang melihat  mereka, begitulah pasti arti masing-masing gerak bola mata itu. Tak sepersekian detik, keduanya terkikik dan segera berhamburan menuju pintu ruangan yang sedikit terbuka itu, sebuah ruangan yang di bagian atas pintunya itu bertuliskan: KAMAR MAYAT.

Rifki dan Rais, kedua bocah itu sesaat saja telah berkeliaran di antara dua buah meja yang terdapat di salah satu sisi jalan masuk. Rifki—sang kakak, segera melompat ke atas kursi empuk dan berputar-putar sambil bersandar sambil cekikikan. Kegembiraan meluap di hatinya. Kenakalan kanak-kanaknya bersama adiknya Rais memunculkan perasaan gairah dan debar-debar tersendiri.Dan ia sangat menikmati itu. Sementara Rais—sang adik yang berusia 4 tahun itu berusaha menarik-narik lengan kursi yang diduduki Rifki, merengek ingin ikut duduk bersama. Si Rais memang selalu menjadi pengikut yang setia. Bocah itu tak pernah jauh dari kakaknya.

Mereka berdua telah berhari-hari berada di kamar no.15—tempat di mana mama mereka terbaring setelah jantungnya kembali melemah. Ibu mereka menderita penyempitan arteri koronaria. Penyakit jantung koroner, begitu lebih umum disebut orang awam. Keduanya bosan jika harus bermain bersama papa mereka yang lebih banyak melamun dan tak terlalu suka—lagi—berbicara, sejak terakhir mama mereka dirawat di sini. Laki-laki itu lebih suka menggenggam tangan istrinya yang beberapa hari belakangan ini telah semakin sering merasakan nyeri dada.Kakak-adik itu, keduanya seringkali menyelinap ke depan pintu kamar-kamar lain, diajak bercakap-cakap oleh para keluarga pasien rawat inap yang lain, juga dengan para petugas rumah sakit.

Bosan bermain di sekitar kamar no.15, mereka menjelajah kamar-kamar lain, sampai akhirnya masuk ke kamar mayat yang lupa dikunci oleh petugas jaga: Pak Jon, yang sekarang pergi meninggalkan mejanya untuk istirahat makan siang di kafetaria.

Takkan terlihat oleh kedua bocah itu—juga orang-orang di rumah sakit tersebut, seorang pemuda kurus pucat berbaju setelan pasien rumah sakit, sedari tadi telah mengamati mereka dan membuntuti . Heh, dasar bocah-bocah badung! Mereka itu tidak kenal takut atau tak sempat, atau tak bisa  membaca papan kecil nama ruangan di atas pintu yang sedikit terbuka itu? Ah, pasti keduanya tak menyadari bahwa mereka telah memasuki kamar mayat rumah sakit ini. Fakieh tersenyum geli.

“Mereka harus dibikin jera”. Demikian mulutnya berbicara sendiri, walaupun tentu takkan tega ia berbuat demikian.

Puas berlagak seperti seorang dokter di ruang prakteknya, Rifki turun dari kursi. Rais buru-buru mengikutinya. Ruangan tempat kedua meja itu tidak besar. Bahkan dapat dikatakan cukup sempit, hanya berukuran sekitar 5×4 meter, dimana separuhnya tempat telah terpakai untuk menampung dua meja jaga, dua buah kursi, dan sebuah lemari besi plat yang dingin dan sedikit mulai berkarat—tempat menyimpan dokumen-dokumen yang mencatat berbagai keterangan tentang mayat-mayat yang pernah dimasukkan ke dalam ruangan tersebut. Mata Rifki melebar saat menyadari bahwa di bagian belakang ruang itu masih terdapat ruang lain. Mungkinkah ada sesuatu yang lebih menarik di dalam sana?

“Is…….. Rais! Kita lihat ke situ yuk,”ajaknya.

“Hayo.” Buru-buru Rais turun dari kursinya yang masih sedikit berputar. Hampir saja bocah itu terjerembab karena kaki-kaki pendeknya tersangkut kaki meja saat turun. Walaupun sedikit kesulitan, Rais tampaknya bocah yang tangguh. Benturan cukup keras telapak kakinya dengan kaki meja hanya cukup membuatnya meringis—tapi segera tak dihiraukannya karena melihat Rifki telah mendorong pintu kayu berdaun dua itu pelan. Bunyi engsel yang menautkan daun-daun pintu itu dengan tembok beton tebal menimbulkan derit panjang.

Anak-anak ini suka bermain-main sepertinya. Ini sungguh tidak baik. Berkeliaran di rumah sakit tanpa pengawasan akan membahayakan keduanya, pikir Fakieh. Pemuda kurus pucat itu kini telah berdiri di balik pintu. Aku harus mendahului mereka—kata hatinya. Ia melangkah cepat, menembus pintu.

Rifki dan Rais telah melangkah masuk. Mereka kagum melihat ruangan itu begitu lapang. Hampir tak ada apa-apa di ruangan ini kecuali sebuah tempat tidur beroda yang kosong, dua buah lemari yang hampir seluruhnya terbuat dari kaca—kecuali rangkanya yang terbuat dari logam aluminium—berisi berbagai peralatan, dan sebuah meja besar di sudut yang lain juga dengan beberapa macam peralatan di atasnya. Di bagian dinding yang berhadapan dengan pintu mereka masuk tadi tampak beberapa deret laci berukuran besar yang berlekatan langsung dengan dinding. Ada sebuah pintu lagi di ujung deretan laci-laci besar itu—Rifki mendekatinya. Bocah berusia 6 tahun itu mencoba mendorongnya, tapi pintu itu—yang terbuat juga dari semacam plat besi terlalu berat untuknya. Melihat sang kakak tak berhasil mendorong pintu itu, Rais mencoba membantu. Sebenarnya, tak ada tambahan cukup tenaga dari Rais. Jadi, pintu itu tetap bergeming.

“Berat sekali.” Kata Rifki—lebih mirip desisan, tapi terdengar bergema di ruangan dingin itu.

“Iya, belat betul. Lais gak kuat mendolongnya.” Sahut si kecil Rais. Tanpa menanggapi Rais, Rifki kini mulai mengalihkan perhatiannya pada laci-laci besar yang melekat dan menjadi satu bagian rata dengan tembok itu. Bocah itu bergeser. Tangan mungilnya mulai meraba-raba sebuah tarikan laci besar yang terasa sejuk di kulitnya.

Tak bisa dibiarkan lebih lama lagi, aku tau apa isi laci besar itu. Itu adalah jasad Bang Maksum yang tadi siang angkotnya bertabrakan dengan truk batubara. Pemandangan yang terlalu mengerikan buat bocah-bocah itu..” Fakieh, melayang menembus udara dingin ruang itu. Sekarang ia sudah berdiri di belakang Rais. Ia kemudian meraih pundak Rifki dan Rais, bersamaan ketika tangan-tangan mungil Rifki yang terjulur ke atas itu mulai berhasil menarik laci besar tersebut. Meskipun berat tubuh Bang Maksum lebih dari 80 kg—dia berperawakan tinggi besar dan tambun, roda-roda pada alas di mana tubuh kaku berlumuran darah itu membuatnya menjadi mungkin bagi  tenaga anak-anak Rifki untuk menariknya. Kepala yang pecah dengan otak dan darah yang telah mengental menyeruak keluar dari tembok pada laci besar itu bersamaan dengan kekagetan Kedua bocah itu ketika merasakan sentuhan tangan orang dewasa di pundak mereka. Tanpa sempat terpandang pada kepala Bang Maksum yang lebih tinggi dari kepala mereka, kedua bocah itu telah memalingkan wajah ke belakang. Fakieh berdiri di hadapan mereka kini. Pemuda kurus pucat, memakai setelan pasien itu, tersenyum. Ia berusaha agar kedua bocah itu tak ketakutan tertangkap basah. Rifki dan Rais terdiam. Biar bagaimanapun wajah mereka pias. Mereka pasti sadar bahwa merek tak punya hak untuk berada di ruangan ini. Ada rasa bersalah kekanak-kanakan yang polos pada kedua wajah itu.

“Anak-anak, kalian tak boleh masuk ke sini. Kalau kalian terkunci di sini, Bagaimana? Siapa yang tau? Jangan-jangan papa kalian sedang mencari….e..e..…Rifki dan Rais.” Fakieh memperingatkan mereka sambil sedikit membungkuk supaya pandang matanya tak terlalu jauh dari kedua pasang bola mata lincah itu sementara tangan kirinya—yang pergelangan tangannya tampak menempel selembar plester bekas perekat jarum atau selang infus . Rais, bocah kecil itu, mengingat-ingat apakah ia pernah mengental pemuda kurus pucat itu sebelumnya—rasanya tidak. Kedua anak itu menunduk, malu.

“Maafkan kami, Kak.” Sahut Rifki dengan masih menunduk. Ia sama sekali tak berani menatap wajah Fakieh.

“Iya, maafkan kami, Kak.” Kini Rais menimpali.

Fakieh tersenyum lebar. “Tidak apa-apa. Ayo, kakak antar keluar.”

Dengan menggandeng Rais dan Rafki di kanan dan kirinya, Fakieh melangkah keluar. Tiba di ambang pintu, Fakieh segera menyadari bahwa Pak Jon telah kembali dari makan siangnya. Lelaki berkumis tebal itu hanya tinggal beberapa langkah dari belokan koridor di depan ruang radiologi. Fakieh bisa dan telah biasa mendengar langkah-langkah sepatu kulitnya yang berhak keras dan tebal.

“Anak-anak, sekarang segeralah ke kamar mama kalian di rawat. Ingat, jangan menyelinap kemana-mana lagi, ya.” Telunjuk Fakieh mengacung mengingatkan keduanya.

“Baik, Bang.” Sahut sang kakak—Rifki. Keduanya segera berlarian kecil menuju koridor dan segera berpapasan dengan Pak Jon.  Melihat kedua bocah kecil itu, secara otomatis mata Pak Jon langsung menyorot ke arah pintu kamar mayat yang menjadi tanggung jawabnya. Pintunya sedikit terbuka. Tangannya meraba kunpulan kunci dalam saku celana linennya yang berwarna putih. Ia sadar, ia telah lupa mengunci pintu itu saat tadi meninggalkannya untuk makan siang. Bersamaan dengan kesadarannya akan keteledorannya, ia terkesiap mendengar pintu yang tadi setengah terbuka itu terhempas, menutup. Pak Jon bergegas, sampai di depan pintu ia segera masuk, ia melihat-lihat seluruh ruangan—yakin tak ada Siapa-siapa di sana, bahkan semilir angin yang dapat menggoyangkan anak rambut di pelipisnya pun tak ada. Bulu kuduknya otomatis menegang.

Kini Fakieh sudah berada di antara kerumunan orang-orang yang antri di depan loket pengambilan obat: APOTEK. Ada beberapa buah loket—tepatnya 3 buah. Salah satu merupakan loket yang paling ramai. Loket paling ramai ini ternyata melayani berbagai macam pasien yang rawat inap sampai yang rawat jalan, dari yang memiliki asuransi kesehatan macam Askes hingga Kartu Sehat untuk rakyat miskin.  Loket yang paling sepi adalah loket di mana orang-orang—sedikit orang—yang berdiri di depannya, sebentar saja di sana dan segera menerima bungkusan obat-obatan lalu harus  menukarnya dengan segepok uang ratusan ribu yang berwarna merah. Orang-orang yang sedang antri mengambil obat sering berbisik-bisik begini: “Itu loket untuk obat paten.”

Setelah dari kamar mayat mengatasi bocah-bocah nakal yang menyelinap tadi Fakieh segera bergegas ke sini. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Ia selalu bisa merasakan bila telah, atau akan terjadi sesuatu yang salah. Untungnya kesalahan-kesalahan di rumah sakit ini tak selalu terjadi setiap hari, jadi kadang-kadang ia bisa bersantai. Ia sudah berada di antara kerumunan orang-orang itu.

“Huh, ini kesalahan yang cukup fatal dari petugas apotek: Pak Ihsan,” gerutunya sendiri, tapi tak seorangpun dari kerumunan orang itu yang mendengarnya.

Fakieh mengamati seorang pemuda berusia tujuhbelas tahunan tergesa-gesa berjalan di sepanjang koridor setelah menerima bungkusan obat-obatan dengan label Nyonya  Nor Asiah yang berisi alat-alat suntik, beberapa ampul infus, termasuk di dalamnya beberapa botol obat injeksi  intravena yang akan digunakan lewat selang infus. Dia tidak membaca nama yang tertera di bungkusan itu.  Kasian perempuan itu yang sedang terinfeksi Salmonella typosa stadium 3 itu. Obat-obatnya telah tertukar dengan obat-obat Nyonya  Nor Aisyah yang menderita tetanus akibat terinjak paku karatan plus diabetes yang mulai mengganas.

Cuaca siang yang panas dan gerah, perut Pak Ihsan yang keroncongan, banyaknya orang yang harus dilayani, sementara waktu istirahat makan siang akan segera habis membuatnya bekerja lebih cepat dari biasanya. Kesalahan tak disengaja ini ini juga disebabkan nama pasien yang mirip, tulisan tangan yang jelek dan asal-asalan pada kertas resep di bagian kolom identitas pasien. Salah Siapa ini bila bungkusan-bungkusan obat yang diserahkan Pak Ihsan keliru orang?

Pak Ihsan telah selesai memasukkan obat-obatan untuk resep Nyonya Nor Asiah ke dalam kantong plastik. Ia segera berseru meneriakkan nama pasien yang sebenarnya keliru. “NOR AISYAH!” Suaranya serak, karena tenggorokannya telah kering. Ia telah melayani orang-orang ini sejak jam 9 tadi.

Seorang laki-laki separuh baya beranjak dari bangku panjang yang dijejali pantat-pantat penat lainnya. Ia bertanya dengan suara tercekat ragu—ia seorang lugu dari desa terpencil di ujung wilayah tersebut—ia bukan seorang yang dengan mudah menyuarakan kejanggalan yang dirasakannya pada saat itu. Ia merasa Pak Ihsan salah menyebut nama istri tercintanya, akhirnya dengan ragu mulutnya membuka bertanya, “untuk Nyonya NOR AISYAH-kah?”,sembari  tangannya gemetar menyambut bungkusan yang keluar dari celah kaca itu.

“Ya, resep untuk Nyonya NOR AISYAH.”

“Fuih! Salah Pak Ihsan, jangan sampai kejadian seperti yang saya alami setahun yang lalu terulang lagi! Kalian telah membunuhku tanpa sengaja! Jangan terulang lagi pada kedua perempuan itu!  Suami Nyonya NOR AISYAH tak bisa menulis-membaca! Beliau buta huruf!” Fakieh setengah menjerit, tapi tak ada seorangpun yang mempedulikannya, karena memang tak ada orang yang bisa mendengarnya.

Laki-laki separuh baya itu berpaling sembari  memandangi bungkusan obat. Ia menatap nanar huruf-huruf yang ditulis dengan spidol hitam di bungkus plastik besar itu. Ia menggerutu. Ia toh tak bisa membaca! Laki-laki itu dengan langkah berat mulai beranjak dari depan loket. Ia benar-benar merasa ada yang salah, tapi tak tahu apa itu.

Fakieh bergegas ke arahnya. Ia menyenggol dengan sengaja siku laki-laki itu hingga bungkusan di tangannya jatuh. Botol-botol obat dari kaca beradu dengan ubin putih yang keras. Satu atau dua—barangkali—pecah berderai. Suami Nyonya Nor Aisyah itu merasa ada orang yang menyenggolnya, tapi saat ia mencari di sekelilingnya, sama sekali tak ada orang yang patut dicurigai: semua berdiri atau duduk pada jarak yang mustahil bisa menyenggolnya. Semua memandang lelaki itu, juga Pak Ihsan si petugas apotek. Dengan gemetar lelaki separuh baya itu memungut  bungkusan plastik yang sebagian isinya telah pecah itu. Ia merasa apa yang digenggamnya justru bisa membahayakan istrinya. Lelaki itu bangkit dari posisi jongkoknya dan berpaling pada Pak Ihsan.

“Maa….af,aa ada yang pe…pe..cah, saya tak sengaja menjatuhkannya.”

“Hati-hati dongPak! Obat-obatan mahal.” Pak Ihsan memberi penekanan pada kata ‘mahal’, hingga kata itu terasa menyengat di telinga laki-laki paruh baya itu. Kulit mukanya memerah, tapi ia memang telah menjatuhkannya. Ia menahan sabar dan memandang Pak Ihsan dengan pandangan minta seribu maaf.

“Ya, sudah sini!” Pak Ihsan meraih bungkusan yang disodorkan suami Nyonya Nor Aisyah lewat celah loket. Saat menggenggam ujung bungkusan plastik itu, seseorang menyenggol sikunya. Kini ia yang menjatuhkan bungkusan itu persis di atas kotak berisi tumpukan catatan tanda terima yang sudah ditandatangani para keluarga pasien yang mengambil obat-obatan tersebut. Ia menoleh ke belakangnya, tak ada siapa-siapa dalam pandangannya—sebenarnya ada Fakieh di sebelahnya kini. Ia yakin sekali, tadi seseorang telah menyentil ujung sikunya sehingga membuatnya kaget dan menjatuhkan bungkusan obat-obatan dari tangan lelaki separuh baya yang kini berdiri keheranan di depan loketnya. Sekali lagi Pak Ihsan menoleh ke sekelilingnya, tak ada sesiapa. Yang ada juga Si Asrul dan Aliyah, sejawatnya di ruang lain di bagian dalam apotek itu, tapi mereka sedang sibuk mencari dan memasukkan obat-obatan ke dalam bungkus-bungkus plastik untuk pasien yang lain, dan mereka terlalu jauh untuk menyenggolnya.

Pak Ihsan mengambil bungkusan itu. Fakiehpun dengan serta merta mengangkat tanda terima obat-obatan Nyonya Nor Aisyah sebelumnya yang tadi telah ditandatangani oleh putera Nyonya Nor Asiah, pemuda tujuh belasan itu. Fakieh melepaskan kertas berwarna kuning itu hingga melayang-layang. Mata Pak Ihsan terpukau oleh kejadian aneh itu: Kertas itu terangkat ke udara lalu melayang-layang turun hingga ke dekat ujung sepatunya di atas lantai. Matanya segera tertumbuk pada kolom identitas tanda terima obat itu: NYONYA NOR AISYAH.  Lalu ia memandang tanda terima obat di atas meja loketnya yang tadi baru saja ditandatangani—atau lebih tepatnya sekedar dicoret dengan tanda centang—oleh suami Nyonya Nor Aisyah, sebuah tanda terima untuk obat NYONYA NOR ASIAH. Subhanallah, obatnya tertukar! Pak Ihsan tak habis pikir bagaimana kejadian aneh dihadapannya: lelaki separuh baya itu menjatuhkan bungkusan obat, lalu ia selanjutnya juga menjatuhkannya, kemudian saat ia meraih bungkusan obat yang jatuh itu sehelai kertas—tanda terima obat-obatan itu—melayang naik ke udara dan jatuh di dekat  ujung sepatunya, hingga akhirnya ia menyadari bahwa ia telah salah memberikan bungkusan obat kepada kedua pasien yang mempunyai kemiripan nama tersebut.

Dengan buru-buru Pak Ihsan meminta suami Nyonya Nor Aisyah menunggu, lalu ia segera berlari menuju kamar tempat Nyonya Nor Asiah dirawat untuk mengambil obat yang keliru diberikannya itu. Laki-laki separuh baya itu, menarik napas lega, nalurinya ternyata benar: tadiia telah menerima obat yang salah.

Fakieh tersenyum dan segera menjauh dari kerumunan itu. Gerahnya koridor sempit yang dipenuhi para pengambil obat itu tak dirasakannya. Ia harus bergerak ke bagian lain rumah sakit itu dengan menembus tembok.  Seorang pasien baru masuk melalui gerbang Unit Gawat Darurat, sementara seorang perawat yang harusnya berjaga di meja penerimaan tertidur dalam posisi tersandar di kursinya. Ia takut perawat lelaki yang kelelahan itu membahayakan pasien baru tersebut. Ia akan menjaga pasien baru itu, dengan cara-caranya sendiri. Ia telah bersumpah untuk itu di sekitar penghujung ajalnya setahun lalu.

(Alabio, 8 September 2009 )

  1. September 8, 2009 pukul 6:39 pm

    suhuuuuu!!! it’s been ages…
    lama banget blog ini dianggurin sama pemiliknya.
    wah, cerpen ini mengobati rasa rindu pada tulisan-tulisan suhu.
    apa kabar, sobat?
    terinspirasi oleh apa nih ceritanya? keren. bakal jadi serial nih sepertinya.

    oke, jangan pernah lagi lama-lama menghilang, ya?

    ================
    @ marshmallow

    Iya, 4 bulanan gak aktif nulis blog, he..he..
    Rindu? makasih…
    Sebenarnya terinspirasi dari The Lovely Bones (Tulang-Tulang yang Cantik) karya Alice Sebold, sebuah kisah tentang hantu yang gak menyeramkan-arwah seorang Susie Salmon.
    Rumah sakit-nya terinspirasi dari kamu saja, he…he…

  2. September 8, 2009 pukul 6:47 pm

    adooh… rada horor ne….
    tapi bagus.. high quality….
    saya tunggu kelanjutannya lagi..
    salam kenal pak.

    ===============
    @ aurora

    rada horor? Gak niat bikin horor sebenarnya he..he..
    but, thanks.

  3. DV
    September 9, 2009 pukul 5:56 am

    Wah, Pak Guru mulai menulis lagi!
    Ayo, jangan pernah berhenti menulis lagi ya! :))

    Selamat berpuasa!
    ========================
    @ DV

    Insya Allah, thanks dude!

  4. September 9, 2009 pukul 11:42 am

    Ohoho… sebuah permulaan kembali yang aduhai Pak Su…
    Ide ceritanya mantap dan mampu memberi peringatan berharga bagi banyak pihak… Ditunggu kelanjutannya ya😀

  5. suhadinet
    September 9, 2009 pukul 12:17 pm

    @ Vizon

    Makasih Uda

  6. September 9, 2009 pukul 10:16 pm

    Pembuka yang langsung LUAR BIASA….ini yang saya tunggu tunggu dari SUHU….lagi suhu, lagi, lagi, jangan berenti………kangen kami belum sirna sepenuhnya…..

  7. April 5, 2010 pukul 8:54 pm

    Numpang mampir dan baca2. visit back ok! 13:54

    =========
    @beinstore
    ok, insyaAllah

  8. April 7, 2010 pukul 8:57 pm

    Hallo kawan, kabar baik kan? kunjung balik ok.. 13:57

    =========
    @beINSTORE
    alhamdulillah. InsyaAllah……

  9. November 11, 2011 pukul 11:55 pm

    Ok bgusss bget cerpenya

  10. Desember 4, 2011 pukul 12:32 pm

    mau niruin twist ending ala six sense gitu ya?
    http://cerpenusang.wordpress.com/

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: