Beranda > bahan bacaan > Pemodelan oleh Guru

Pemodelan oleh Guru


Author: Suhadi

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. (sebuah pepatah dalam buku usang Bahasa Indonesia tingkat SD)

Ilustrasi I:
“Bu Sari ‘kan mengajar di kelas VIIA juga, di kelas itu saya salut dengan anak yang bernama Daniel,” kata Bu Wida. “Dia anak yang cerdas dengan tingkah laku yang sopan dan menyenangkan. Bukankah demikian, Bu Sari?”
“Betul, Bu Wida. Dia anak yang sangat cerdas dengan kepribadian yang sangat menyenangkan. Sebenarnya itu tidak terlalu mengherankan buat saya. Saya kenal baik dengan kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya juga merupakan orang-orang cerdas dengan kepribadian yang sangat menyenangkan. Tentunya, Daniel memperoleh sifat-sifat demikian dari keduanya,” jawab Bu Sari.

Ilustrasi II:
“Huh, dasar anak-anak. Apa Pak Baderi perhatikan akhir-akhir ini? Banyak anak-anak putra memakai jelly wetlook pada rambut mereka. Meniru gaya rambut anak-anak band di TV,” kata Bu Arfiyanti seusai keluar kelas pagi itu.

Ilustrasi III:
Di sebuah koridor menuju ruang kelas tampak Dian dan Rahma berjalan menuju kelas mereka.
“Sebaiknya kita bergegas, Rahma. Sebentar lagi bel tanda masuk akan berbunyi. Berikutnya ‘kan pelajaran Matematikanya Pak Heri. Kamu tau ‘kan gimana Pak Heri?” kata Dian setengah menarik lengan Rahma yang masih asyik menikmati sekotak softdrink.
“Ya iyalah, Dian,” jawab Rahma. “Beliau selalu menganggap semua materi pelajaran matematika itu penting. Saa..aaangaaat penting!”
“Apakah PRmu sudah dikerjakan?”
“Becanda, kamu?” jawab Rahma lagi. “Berani tak mengerjakan PR matematika, mati kamu!”
“Yup, betul. Tak ada yang pernah berani main-main dengan Pak Heri.”
“Eh, kemarin aku ‘kan gak ngerti tentang persamaan kuadrat yang dijelaskan beliau pada pertemuan Jumat lalu. Hari Sabtu berikutnya aku temui beliau. Beliau baik banget! Beliau jelasin hal-hal yang masih belum kumengerti. Beliau benar-benar ingin kita bisa.”

Modelling atau pemodelan adalah peniruan secara langsung suatu tingkah laku hasil pengamatan terhadap seorang model/panutan. Pemodelan adalah hal yang sangat lumrah kita lakukan. Barangkali, model rambut kita saat ini adalah model rambut yang kita tiru dari seorang penyanyi dangdut terkenal, atau dari seorang ibu negara, bahkan pemain bola. Model baju yang kita kenakan bisa jadi kita tiru dari seorang tokoh dalam sebuah tayangan sinetron yang sedang booming. Begitu pula dengan siswa kita di sekolah, mereka meniru berbagai tingkah laku dan gaya dari ekspresi jutaan pemodelan yang berjam-jam mereka tonton lewat layar kaca. Ilustrasi I dan ilustrasi II menunjukkan bahwa sebenarnya proses belajar seorang anak/siswa terbanyak dilakukan melalui pengamatan dan peniruan tingkah laku orang lain yang telah mereka amati.

Sebenarnya, telah begitu banyak pula hasil penelitian yang menyebutkan bahwa guru adalah sumber pemodelan yang sangat luar biasa kuat bagi diri siswa. Guru betul-betul panutan dan teladan (baik dalam artian positif maupun negatif). Banyak laporan penelitian dan literatur yang menyebut hal ini (Good and Brophy, 1991). Hanya saja sayangnya proses yang terjadi dan efek yang dihasilkan seringkali berada di luar kendali guru. Guru tak menyadari hal ini. Guru sering tak sadar setiap tindakan dan tingkah lakunya akan menjadi sumber pemodelan dan selalu berada dalam pengamatan siswa-siswanya. Guru juga sering tak sadar dampak yang akan ditimbulkan dari pemodelan tindakan dan tingkah laku yang tak disadarinya itu. Akibatnya, seringkali tindakan dan tingkah laku guru justru menginspirasi siswa, atau bahkan memaksa siswa untuk bertindak kontraproduktif dengan tugas mereka: belajar.

Pemodelan pada hakikatnya bukan dalam bentuk kata-kata (klaim) dari seorang guru. Pemodelan lebih berwujud tindakan dan tingkah laku, walaupun dapat dipertegas dengan kata-kata. Dalam pengertian lain: kata-kata, tindakan, dan tingkah laku guru sebagai seorang model harus konsisten. Menurut Bryan and Welbeck, 1970, bila guru inkonsisten antara kata-kata dengan apa yang mereka lakukan, maka siswa cenderung akan meniru tingkah laku. Bukan kata-kata guru.

Pada ilustrasi III yang diberikan kita bisa melihat bagaimana pendapat Dian dan Rahma, bahwa Pak Heri menganggap materi pelajaran matematika sangat penting, sebagai hasil pemodelan yang dilakukan beliau. Apa yang ditangkap oleh Dian dan Rahma dari Pak Heri bukan berasal dari kata-kata Pak Heri, tetapi semua itu adalah muara dari tindakan-tindakan dan tingkah laku yang dimodelkan oleh Pak Heri terhadap siswa-siswanya. Jadi, sebagai guru adalah benar dan baik jika kita selalu memikirkan terlebih dahulu setiap tindakan dan tingkah laku sehingga membentuk suatu pemodelan yang berdampak positif bagi semua siswa, bahkan mungkin semua komponen sekolah dan orang-orang lain di sekitar kita.

  1. Siti Fatimah Ahmad
    Mei 12, 2009 pukul 7:55 pm

    Guru sememangnya manusia hebat. Mereka sanggup berkorban masa, tenaga dan wang untuk menjadikan pelajarnya lebih pandai dari mereka. Guru model dalam pelbagai bidang. Namun sayang, hanya kerana nila setitik, susu sebelanga turut tercemar. Begitulah adat dunia, jika ada guru yang bukan sebenar guru membuat olah, pasti semua guru lain akan mendapat padahnya juga. Oleh itu, para guru harus ingat tugas guru bukan semudah yang disangka. Banyak amanah yang harus dipikul. Salam hormat. maaf lama juga tidak berkunjung ke sini.

    =================
    @ Siti Fatimah Ahmad

    Betul, Bu. Mudah-mudahan kita bisa selalu insyaf akan hal itu. Bahwa apa-apa yang kita lakukan akan menjadi contoh tauladan dan akan membentuk pribadi anak didik kita.🙂

  2. Mei 12, 2009 pukul 8:09 pm

    suhu sekalinya posting langsung tiga! weh!

    tak dapat dipungkiri, pemodelan memang metode belajar yang paling efektif dalam membentuk perilaku. memahami hal ini berarti menyadari bahwa para pendidik perlu untuk senantiasa menunjukkan perilaku yang semestinya, sebagaimana yang mereka ingin dilakukan pula oleh siswa. (sekaligus mengingatkan diri saya sendiri)

    bagaimana rasanya bertugas di tempat baru, suhu?

    ================
    @ marshmallow

    demikianlah kata banyak literatur yang kita temui dalam psikologi pendidikan tentang pemodelan, Bu.

    tempat tugas baru? Alhamdulillah, sudah bisa beradaptasi dan mengikut irama di sini.

  3. Mei 13, 2009 pukul 4:33 pm

    Lawas kada kesini nah…salam aja lah…

  4. vizon
    Mei 15, 2009 pukul 9:08 am

    karena itulah, maka dalam berbagai kesempatan, saya berpesan pada mahasiswa jurusan keguruan untuk memikirkan benar pilihan profesi mereka. karena, menjadi guru tidak sama dg menjadi mekanik. guru nyaris tidak boleh salah, karena bila dia tersalah dalam mendidik, akan berakibat rusaknya generasi. beda halnya dg mekanik yg bila tersalah dalam pekerjaannya, akan bisa mengganti barang yg dirusaknya; dg uang atau dg barang yg sama. sementara, generasi yg rusak, apakah bisa digantikan? tentu tidak!

    saya sangat setuju dg kutipan jadul itu pak: “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. itu selalu menjadi “pengingat” saya setiap waktu…

    salam🙂

  5. Mei 15, 2009 pukul 5:01 pm

    menjadi model yang baik memang susah, lebih baik berlari…, dan biar orang-orang mengejar kita. (nyambung gak sih. hehe.)
    salam

  6. Mei 16, 2009 pukul 8:29 am

    Disadari, jika guru akan senang pada anak yang pintar dan sopan santun.
    Namun kondisi sekarang, yang lebih transparan, membuat anak-anak lebih bebas meniru dan memilih model panutannya. Diharapkan para Guru dapat menerima semua siswa dengan berbagai karakternya, dan tak terpukau pada aturan yang standar saja.

    Ayah saya guru, tapi ayah sering membela anak bandel yang tak disukai guru2…dan kebetulan anak tsb makin bertingkah terhadap guru yang dia rasa tak menyukainya. Beberapa tahun kemudian, ternyata anak yang bandel ini jauh lebih berhasil dan menjadi anak santun, serta panutan dalam kepemimpinannya.

    Saya rindu pada ayah, jika membaca cerita tentang murid seperti ini.

  7. Juni 30, 2009 pukul 11:13 pm

    Salam pak. Betul ! seorang guru memang harus bisa menjadi “model” bagi anak didiknya. namun perlu pula disadari bahwa motivasi belajar siswa juga sangat dipengaruhi oleh “model-model” lain yang ada di lingkungannya…mulai dari teman hingga orang tuanya. jadi motivasi siswa akan meluap (baca : bersemangat) jika semua model yang dilihatnya mempunyai kesamaan dalam menanggapi dan mengartikan makna belajar.

  8. Tarto
    Oktober 21, 2009 pukul 7:38 am

    Ini sesuai dengan apa yg dc0nt0hkan ole rasulullah. Pd diri Beliau benar2 uswatun khasanah (m0del yg baik)dari sgala prilaku, kpribadian, bahkan dalam kepemimpinanya.

  9. putri
    Desember 21, 2009 pukul 6:02 pm

    baru aja bacanya, pemodelan oleh Guru, hari kamis tgl 17 Desember 2009 kami mendapat pelajaran yang berharga bagaimana menjadi seorang guru yang harus mengerti keadaan atau kondisi siswa tanpa harus memarahinya kalau dia membuat suatu kesalahan, ternyata jadi orang sabar itu susah, saya harus banyak belajar

  10. Februari 7, 2010 pukul 7:42 pm

    guru seperti teko.apa yang di keluarkan teko tidak akan berubah.kalo teko berisi kopi akan keluar kopi,kalo berisi susu akan keluar susu.teko akan mengeluarkan sesuai dengan isinya.begitu juga guru.kalau isinya baik akan keluar yang baik but sebaliknya kalo isinya buruk juga keluar yang buruk.

  11. April 20, 2010 pukul 10:57 am

    Model? Kosa kata Banjar mengenal “mudil”. urang banjar pahuluan baucap, “kalakuan ikam tu pina mudil”, maksudnya “kalakuan inya pina pambalainnya atau malalain…”

    ================
    @ wajidi

    Ya, dalam kosa kata banjar milik kita “mudil” tidak sama dengan kata “model” dalam tulisan ini. Pemodelan di sini lebih berat ke arti “percontohan” atau “sesuatu untuk ditiru”. Halah! saya bukan ahli bahasa…😉

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: