Beranda > Uncategorized > Motivasi Belajar—Gunakan Pendekatan Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Motivasi Belajar—Gunakan Pendekatan Belajar Tuntas (Mastery Learning)


Author: Suhadi

Mengobarkan motivasi belajar dalam diri siswa (motivasi intrinsik) dapat dilakukan oleh seorang guru yang mempunyai kesabaran. Setiap siswa adalah individu yang unik, yang mempunyai tingkat kemampuan, minat, dan bakat yang berbeda-beda, baik dalam hal intensitas maupun arah. Guru yang mempunyai tingkat kesabaran tinggi akan dapat menunjukkan kepada siswa-siswanya bahwa semua orang mampu mempelajari sesuatu (termasuk materi ajar di kelas), walaupun dengan alokasi waktu dan upaya yang berbeda-beda. Pendekatan belajar tuntas (mastery learning) dapat dilaksanakan dan mempunyai efek meningkatkan motivasi belajar intrinsik. Pendekatan ini mengakui dan mengakomodasi semua siswa yang mempunyai berbagai tingkat kemampuan, minat, dan bakat tadi asal diberikan kondisi-kondisi belajar yang sesuai. Adanya alokasi waktu khusus untuk remedial dan pengayaan dalam penerapan KTSP di sekolah-sekolah memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk menuntaskan belajarnya pada suatu kajian.

masing-masing siswa membutuhkan alokasi waktu dan upaya yang berbeda-beda untuk menguasai suatu materi ajar

masing-masing siswa membutuhkan alokasi waktu dan upaya yang berbeda-beda untuk menguasai suatu materi ajar

Pada pembelajaran yang menggunakan pendekatan belajar tuntas (mastery learning), siswa-siswa yang mengalami kesulitan mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan akan mendapatkan pelajaran tambahan (remedial) agar mereka juga bisa sukses melewati kajian itu. Sedangkan bagi siswa yang berhasil tuntas menguasai kajian tersebut dapat diberikan program pengayaan (enrichment). Satu hal penting yang harus diingat dalam penerapan pendekatan belajar ini adalah: Penggunaan komunikasi yang tepat memegang peranan sangat penting. Ini berkaitan dengan upaya agar siswa yang lamban tidak merasa rendah diri, dan siswa yang cepat menguasai suatu kajian tidak menjadi tinggi hati. Juga, kemungkinan efek bahwa mengulang-ulang suatu kajian dan kebutuhan waktu yang banyak untuk menguasai suatu materi ajar bagi siswa yang lamban sebagai sesuatu yang memalukan harus dihindarkan. Efek pendekatan belajar tuntas (mastery learning) justru harus dan dapat diarahkan oleh guru agar menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri siswa. Guru harus dapat meyakinkan bahwa semua siswa bisa menguasai suatu materi ajar, walaupun beberapa memerlukan alokasi waktu yang lebih banyak dan upaya yang lebih keras. Kebutuhan alokasi waktu yang berbeda-beda, dan upaya keras atau mudah yang diperlukan masing-masing siswa adalah suatu hal yang sangat alamiah dan lumrah.

Rasa percaya diri yang besar akan muncul seiring penguasaan-penguasaan siswa lamban terhadap materi ajar. Jika ini dapat dipertahankan dalam setiap pembelajaran yang dilakukan oleh guru, maka motivasi belajar intrinsik akan muncul secara perlahan dan segera memberikan efek balik yang luar biasa bagi siswa lamban tersebut dan bahkan seluruh kelas.

Hal lain yang harus diingat, dalam penggunaan pendekatan belajar tuntas (mastery learning) guru harus lebih sering memberikan umpan balik (feed back) kepada seluruh anggota kelas. Ini akan memberikan informasi kepada siswa tentang kemajuan penguasaan mereka terhadap suatu kajian yang sedang dipelajari, juga titik-titik kelemahan mereka yang masih harus diperbaiki. Kejelasan informasi sedang berada di titik mana kemampuan siswa dibanding penguasaan materi ajar yang harus dituntaskan oleh siswa akan membantu siswa-siswa belajar dengan lebih efektif dan efisien.

  1. DV
    Maret 26, 2009 pukul 6:31 am

    Pak, saya ada pertanyaan, kenapa yang dipakai adalah istilah “belajar tuntas”? Bukankah tidak ada state yang namanya “tuntas” dalam sebuah proses belajar, sesusah dan semudah apapun itu?

  2. Maret 26, 2009 pukul 10:49 am

    Belajar tuntas untuk satu materi
    Terus dan terus
    Karena belajar tiada henti kan Pak
    Sampai akhir hayat🙂

  3. Maret 26, 2009 pukul 11:17 am

    suhu, saya selalu suka artikel-artikel pendidikan yang suhu publikasi di blog ini. memunculkan motivasi intrinsik siswa memang butuh strategi yang jitu. dan mastery learning juga tentunya menjadi sangat sulit diterapkan pada kelas yang sangat heterogen tingkat kemampuan siswanya.

    dalam kondisi ini, pendekatan mastery learning mungkin akan sangat baik bila dipadu dengan strategi peer learning seperti yang pernah suhu tulis juga di sini.

  4. Maret 26, 2009 pukul 11:27 am

    @DV:

    IMHO, yang dimaksud dengan “tuntas” tentunya mampu menguasai bahan ajar (mastering) hingga tercapai tujuan pembelajaran (obyektif) yang telah ditetapkan untuk unit dimaksud. karena setiap unit telah memiliki obyektif tertentu yang “dibatasi” tahap pencapaiannya, mulai dari C1 (mampu mengetahui) hingga C6 (mampu mengevaluasi), sesuai taksonomi Bloom.

    mohon dikoreksi bila keliru.

  5. Maret 26, 2009 pukul 6:07 pm

    sehebat apapun guru berjuang agar siswa termotivasi
    kalau berhasil, siapa yang dapat pujian?
    kalau gagal, siapa yang kena kritik pedas?

    inilah sebabnya guru pun harus terus-menerus dimotivasi
    jangan hanya dituntut untuk memotivasi

    kalau aku sih motivasi ekstrinsik juga boleh
    malah diharapkan, barangkali!

  6. Maret 27, 2009 pukul 9:52 am

    @ DV
    Marshmallow betul, tuntas belajar di sini dalam makna menempuh unit pembelajaran (objectives) yang telah ditentukan oleh guru saat merancang pembelajaran.

    Keliatannya memang kontradiktif dengan prinsip belajar sepanjang hayat (lifelong learning).

    @ Marshmallow
    Kamu betul, Bu. Tapi kalau dipikir-pikir apa yang disampaikan DV betul juga. Keknya orang Indonesia asal banget bikin translate-an dari Mastery Learning, ya.

  7. almuslimsurabaya
    Maret 27, 2009 pukul 2:10 pm

    memang betul itu pak..terkadang jam pembelajaran pun sangat kurang sehingga guru sering mengadakan pengayaan di luar jm..salam kenal pak..

  8. April 7, 2009 pukul 1:52 pm

    tolong dikirimi contoh PTK tingkat TK
    saya tunggu
    trim’s

  9. April 13, 2009 pukul 4:00 pm

    silaturrahmi

  10. April 15, 2009 pukul 8:17 pm

    Belajar tuntas mungkin maksudnya selesai untuk materi yang diajarkan pada saat itu..

  11. ramdani70
    Mei 3, 2009 pukul 3:31 pm

    sehebat apapun guru berjuang agar siswa termotivasi
    kalau berhasil, siapa yang dapat pujian?
    kalau gagal, siapa yang kena kritik pedas?

    inilah sebabnya guru pun harus terus-menerus dimotivasi
    jangan hanya dituntut untuk memotivasi

    kalau aku sih motivasi ekstrinsik juga boleh
    malah diharapkan, barangkali!

    ================
    @ ramdani

    ya wajar pak, karena guru ada di bagian terdepan sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap keberhasilan belajar siswa. Wajar dapat pujian atau kritikan pedas.

  12. ramdani70
    Mei 16, 2009 pukul 3:52 pm

    oooo gitu ya pak…
    semoga dengan metode sepreti ini siswa mampu belajar secara efektif…
    AMIN

  13. Juni 27, 2009 pukul 6:40 pm

    menarik pak artikelnya
    salam kenal

  14. n26
    Juli 20, 2009 pukul 7:41 pm

    slm kenal….
    saya suka dengan artikel2 bpk…
    sy minta masukan dari bapak…,kira2 metode,model,strategi atau pendekatan apa yang paling efektif untuk pelajaran fisika….
    oya, untuk proyek based learning kira2 proyek seperti apa yang tepat untuk materi GLB dan GLBB…soalnya sy sedang meencanakan penelitian buat skripsi…
    terimakasih pak…
    sy tunggu sarannya di email :n26_88@yahoo.co.id

  15. Juli 22, 2009 pukul 11:41 pm

    Yah, banyak artikel menarik disini. Lam kenal!

  16. Agustus 14, 2009 pukul 9:56 pm

    Murid Anda patut bersyukur di ajar oleh guru seperti Anda ….

  17. rusdiman
    November 4, 2009 pukul 2:49 pm

    pak, tolong bantu saya yang sedang galau menemukan buku-buku yang berhubngan dengan TGT yang menjadi judul skripsi saya. buku itu mungkin hal yang langsung berhubungan dengan pelaksanaan TGT di kelas dan kalu bisa juga yang berhubungan dengan pembelajaran membaca dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe TGT.

  18. rusdiman
    November 4, 2009 pukul 2:53 pm

    karya bapak sangat membantu saya untuk keukeuh menetapkan TGT sebagai judul skripsi saya. tapi pak ! saya kesulitan mendapatkan buku yang mengupas masalah TGT. Apalagi jika TGT diterpkan pada pelajaran membaca di kelas kelas tingkat SMP

  19. Dewi Atikoh
    Januari 14, 2010 pukul 11:35 pm

    saya, tertarik dengan pendekatan mastery learning (belajar tuntas) tp ada ga kekurangan-kelebihannya yang lebih spesifik.mohom bantuannya.

  20. TRIYANTO
    Februari 9, 2010 pukul 9:40 am

    maaf pak, memang keinginan mastery learning pasti, tetapi sangat sulit dilaksanakan, karena minat belajar anak sangat kurng sekali, saya mengajar 4 tahun, tapi belum bisa apa-apa untuk mengubah. bahkan teman saya yang mengajar dari pertama ngajar disekolah mengatakan: “tidak mungkin bisa merubah kebiasaan di sini9 mas”. sy sendiri tidak putus asa sampai sekarang, mudah2an nanti bisa terlaksana suatu saat nanti, entah lama ataupun cepat. Thanks.

  21. Ulil Au
    Februari 16, 2010 pukul 8:31 pm

    waaahh,, saya tetarik nih dengan istilah mastery learning,,,
    tp kayax di Indonesia belum bs diterapkan bener2 deh,,,
    pa lagi kl qt baca statement nya John B. Carrol tntg mastery learning itu sendiri…

    makin saya baca dan renungi,kayanya kurang pas untuk iklim pendidikan Indonesia, pa lg ma kelas yg dikelompokkan unggulan & non unggulan

    =============
    @ ulil au

    soal bisa atau tidak diterapkan di Indonesia menurut saya tergantung niat kita. Sekarang kan kurikulum kita menganut pendekatan mastery learning, di mana siswa harus meremidi pembelajarannya yang belum tuntas.

  22. Februari 25, 2010 pukul 4:01 pm

    saya ingin menyusun skripsi dengan menggunakan belajar Tuntas..

    tapi saya bingung, apa itu tidak terlalu luas kajiannya?

    mengingat waktu penelitian saya hanya berkisar 2 blan
    n tolong bantuain saya untuk buat variabel terikatnya, pada pembelajran bahasa indonesia SMP/SMA

    trima kasih ya

    ===============
    @ mr. alisabeth

    terlalu luas? Bikin saja batasan penelitian, misalnya dibatasi pada bab tertentu saja. Cukup kok waktu 2 bulan itu. Yang penting semangat dan jangan putus asa.

  23. Mei 16, 2010 pukul 8:18 pm

    Alhamdulillah, saya senang blog bapak. Tetap posting yang bermanfaat ya Pak.

  24. edy kurniawan
    Mei 20, 2010 pukul 11:21 pm

    mnta tolong buku yang membahas tentang mastery learning judulnya apa ya?dan bisa didapat dimana?

  25. DRA. EFRI YENNI
    Mei 21, 2010 pukul 9:02 am

    INSYAALLAH, UNTUK YANG AKAN DATANG BAPAK BISA MELAHIRKAN POKOK PIKIRAN YANG LEBIH MENARIK LAGI DI BLOG INI.

  26. September 5, 2011 pukul 8:44 pm

    wah rame juga……semangaaaaaaaaaaaaat…..

  27. sartika
    Februari 25, 2012 pukul 6:32 pm

    di papua buku tntang pendekatan matery learning ini sangat susah dicari
    kayaknya blum ada

  28. April 16, 2012 pukul 11:06 am

    Mastery learning memang merupakan metode pembelajaran yang luar biasa. Bayangkan kalau semua materi pelajaran yang disampaikan guru dapat diserap minimal 90 % tentu nilainya bagus-bagus.Bekali juga metode belajar siswa tepat dan efisien.http://hipnofrans.com/?p=44

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: