Beranda > cerpen > Jerami 8

Jerami 8


Author: Suhadi

Baca dulu ………….Jerami 7

Di Kota Kecamatan Pandan Barambang, di Kantor Polisi Sektor, tampak beberapa orang petugas sedang melayani pengaduan warga. Kegemparan di Desa Sisir Punduk telah mengawali kejadian ini. Seorang anak berumur delapan tahun, bernama Muji telah menghilang. Muji di duga tersesat masuk ke dalam Hutan Beringin yang angker di tepi desa.

Seorang perempuan berumur empatpuluhan, Bu Hasnah dan seorang lelaki, Pak Jarin duduk di kursi berseberangan meja dengan Pak Darto. Perempuan itu tak berhenti-henti menagisi anaknya, Muji. Sang suami berusaha menenangkannya tapi seakan tak berhasil karena hatinyapun tak kalah gundah.
“Jadi kapan Muji terlihat?” tanya Pak Darto sambil mengetik keyboard komputernya.
“Terakhir mereka bermain bola di tepi desa bersama kawan-kawannya kemarin pagi.”
“Teman-temannya tak ada yang tahu ke mana Muji pergi setelah bermain bola?”
“Tidak ada, Pak. Setelah bermain bola mereka pulang. Tak ada yang memperhatikan apakah Muji juga pulang.”
“Yakin anak itu tersesat di dalam Hutan Beringin? Bukannya bermain di sungai atau tempat lainnya setelah bermain bola?”
“Yakin benar sih tidak Pak, cuma yang jelas anak itu tak pernah berani main ke sungai. Ia tak pandai berenang. Dan sudah beberapa kali anak-anak hilang dan tersesat di Hutan Beringin sebelum ini. Kami juga menemukan sandalnya yang tertinggal di sawah itu.” Seorang penduduk lainnya memberikan masukan.

Pak Darto mengetik lagi di keyboardnya.

“Selain Muji, Si Acin yang tinggal di tepian Hutan Beringin juga menghilang Pak. Ia tak pernah lagi muncul. Mungkin penunggu hutan itu sedang marah dengan penduduk, Pak.” Seru salah seorang penduduk yang ikut mengantar ayah dan ibu Muji melapor.

“Jadi selain Muji, ada juga seorang warga yang menghilang. Warga itu bernama Acin?” Tanya Pak Darto sambil mengelus kumis tebalnya.

“Benar, Pak. Acin itu pemuda yang agak terbelakang mental. Pondoknya tak jauh dari tempat anak-anak bermain bola itu.” Sambung sang pelapor lainnya.

“Baiklah. Laporan Bapak-Bapak saya terima. Kita sebaiknya berkoordinasi dengan kepala desa agar dapat membantu mengerahkan warga untuk mencari Muji di hutan itu. Kita perlu banyak orang. Bapak-Bapak pasti maklum kalau kami tak punya cukup orang di kantor polisi ini untuk melakukan pencarian. Bagaimana?”

“Tentu, Pak. Kami sudah berbicara dengan kepala desa, sekarang beliau memang tidak bisa ikut ke sini karena ada urusan keluarga di Amuntai.”

“Bagus! Tapi kita harus bergerak cepat. Kalau benar anak itu tersesat di sana kita harus segera menolongnya.”

Mendengar itu, semua orang manggut-manggut memaklumi. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan seorang anak sekecil Muji yang hanya berumur delapan tahun di tengah Hutan Beringin yang angker itu. Si perempuan yang merupakan ibu Muji itu semakin terisak. Beberapa saat saja, orang-orang itu segera meninggalkan tempat itu, selain Pak Darto ada dua orang polisi muda lain yang mengikuti mereka itu melakukan pencarian.

***

Di sebuah rumah kecil yang agak terpencil dari rumah-rumah lainnya karena dikelilingi kebun singkong yang amat luas, seorang perempuan yang dikenal dengan nama Mak Antung sedang mencoba mengobati seorang pasien. Pasien itu adalah seorang anak kecil berumur sekitar sepuluh tahun.

Pak Kinal dan Bu Dasin memegangi anak mereka yang bernama Konas. Anak itu meronta dari pegangan ayah ibunya. Ia mencoba menghindar dari semburan air jampi-jampi Mak Antung. Anak itu memandang jijik pada perempuan berumur delapanpuluh tahunan itu. Ia seperti mau muntah membayangkan air yang muncrat dari mulut dengan gusi ompong dengan bibir keriput Mak Antung. Anak kecil itu berteriak-teriak.

“Jangan… Jangan!” Dan ia mulai menangis.

Kedua orang tuanya memeganginya pundak dan tangan Konas dengan kuat.

Setelah menyembur dengan air mantra sebanyak tiga kali, Mak Antung mengambil sepotong kayu. Kayu itu adalah sepotong akar gantung dari pohon beringin yang diambilnya beberapa hari lalu di Hutan Beringin tepi desa. Potongan akar itu bukan akar sembarangan. Setidaknya menurut Mak Antung itu sendiri. Potongan akar itu dipilih dari sekian banyak akar-akar gantung beringin yang banyak bergelantungan di Hutan Beringin. Potongan akar yang dapat dipakai sebagai media komunikasi Mak Antung dengan para penunggu Hutan Beringin yang membantunya mengobati orang-orang yang dibantunya.

Ia mendekatkan potongan kayu sepanjang sehasta dan sebesar pergelangan tangan itu. Mak Alau memejamkan mata, mulutnya komat-kamit.

Konas makin ketakutan.

Pak Kinal dan Bu Dasin saling berpandangan. Mereka mempererat cengkraman pada tubuh Konas. Anak itu meronta tapi tak dihiraukan. Bagi Pak Kinal dan Bu Dasin, tak ada orang lain sehebat Mak Antung yang bisa mengobati anak mereka. Tak juga para petugas kesehatan di puskesmas pembantu.

Beberapa hari ini Konas menderita penyakit yang aneh. Itu terjadi setelah beberapa hari ini ia selalu bermain-main di sawah yang habis dipanen di tepi desa. Ia sepertinya kerasukan atau diganggu makhluk halus penunggu Hutan Beringin. Konas seringkali menatap kedua orang tuanya dengan tatapan kosong yang aneh. Mata dan kulitnya lebih pucat dari biasanya. Selain itu mulutnya seperti komat-komat berbicara dengan bahasa aneh. Lebih dari tiga kali ia mengigau tadi malam dan berjalan tanpa kesadaran di tengah malam. Berjalan menuju arah Hutan Beringin. Untung pada setiap kejadian itu Pak Kinal dan Bu Dasin selalu memergoki Konas sehingga dapat menangkapnya.

Mak Antung masih memejamkan mata. Potongan akar beringin yang dipegangnya bergetar hebat. Lalu perempuan itu seperti memegang seekor hewan yang meronta, ia mencoba memegang potongan akar itu dengan kedua tangannya. Mencengkram. Tampak seakan-akan potongan akar itu ingin meloncat dan melarikan diri dari tangannya. Butiran-butiran peluh sebesar biji jagung keluar dari dahi dan sisi-sisi rambutnya yang putih. Ia kelelahan mengimbangi gerakan-gerakan tak terduga potongan akar. Lalu dalam keadaan terpejam begitu ia berteriak-teriak. Rumah kecil yang terpencil itu menjadi gaduh.

“Ceritakan! Ceritakan kepadaku apa yang sesungguhnya terjadi wahai saudaraku! Jangan takut!”

Konas, Pak Kinal dan Bu Dasin terperanjat bukan kepalang. Tapi keadaan kemudian segera diikuti oleh adegan-adegan seperti adegan sebelumnya: Konas yang meronta-ronta, Pak Kinal dan Bu Dasin yang memegangi putra mereka itu dengan kuat.

“Ceritakan! Jangan takut!” Mak Antung kemudian mengerang-erang. Suaranya serak mirip setan kuburan. Lalu, setelah beberapa saat potongan akar beringin di tangannya berhenti bergerak-gerak dan bergetar. Perempuan itu mengelusnya. Kini rumah kecil itu menjadi senyap. Hanya sesekali mulut Mak Antung mendesis-desis meningkahi suara jengkrik di rumpun bambu samping rumah. Beberapa saat kemudian perempuan tua yang sudut bibirnya memerah karena sirih dan gambir yang biasa dikunyahnya saat bersantai itu menarik nafas panjang. Kemudian perlahan Mak Antung membuka mata.

Sekali lagi ia mengehela nafas panjang. Lalu katanya pada Pak Kinal dan Bu Dasin, “Anak ini dikuasai makhluk dari neraka!”

“Apa……..?!?!” Serempak kedua orang tua Konas terperangah.

“Ya, makhluk dari neraka!”

“Jangan aneh-aneh, Mak! Apa bayarannya kurang?” Sahut Pak Kinal tampak marah.

“Jangan kurang ajar, ya! Apa pernah saya menentukan tarif? Tak dikasih imbalanpun saya tak marah! Saya ikhlas membantu! Jangan buat saya tersinggung, Kinal!” Mak Alau melotot. Biji matanya yang bulat bagai mau meloncat keluar dari ceruknya.

“Maaf Mak, tadi saya kaget. Maksud Mak anak saya sakit apa?” Tanya Pak Kinal seakan berseru karena tak kuasa menahan rasa penasarannya. Ada rasa tak percaya di hati lelaki ini terhadap perempuan dukun itu. Tapi bukankah selama ini Mak Antung selalu baik pada mereka. Wanita dukun itu selalu tulus pada setiap penduduk termasuk keluarganya selama ini.

“Aku tak yakin apa aku akan mampu menyembuhkannya. Tapi kita coba saja nanti. Ini terlalu berat buatku. Saudara-saudaraku di Hutan Beringin juga tak berdaya. Kini tempat tinggal mereka dikuasai makhluk-makhluk ganas itu.”

Konas yang tadi meronta sekarang bisa diam. Ia mulai merengek minta pulang.

“Anak ini belum bisa dibawa pulang. Sebaiknya ia tetap di sini bersamaku. Kalian boleh menginap di sini pula supaya bisa membantuku mengobati anak ini. Kasian dia. Aku tak ingin dia menjadi korban keganasan makhluk dari neraka itu. Jika kalian pulang, makhluk neraka itu akan membawa mereka ke Hutan Beringin dan mengambil nyawanya untuk kehidupan mereka sendiri. Tapi, aku minta kalian bersabar. Tak mudah membebaskan anak ini.”

Konas yang mendengar memahami pembicaraan Mak Antung muncul pikiran di benaknya. Ia dengan sigap berdiri dan meloncat. Lari ke arah pintu depan yang tak terkunci. Namun, saat mencoba membuka grendel pintu, cengkraman jari-jari Pak Kinal di lengannya membuat tak bisa berkutik.

“Kurung dia di kamar itu!” perintah Mak Antung pada Pak Kinal.

Bu Dasin terbengong-bengong sementara suaminya akhirnya menyeret Konas yang menjerit-jerit ingin pulang ke arah kamar yang ditunjuk oleh Mak Antung.

Bersambung ke: Jerami 9

  1. Maret 23, 2009 pukul 3:30 pm

    kian seru ceritanya pak suhadi. seru penuh teka-teki dg latar sosio budaya yg amat kental. sukses!

  2. Maret 23, 2009 pukul 3:56 pm

    cerita yg seru. ini novel, karena panjang juga. dah nyampe bag. 8.

    tapi ini beraaroma mistik hehehe

  3. Maret 23, 2009 pukul 5:56 pm

    wah! sudah mulai terbuka misteri jerami.
    seru, suhu!
    jangan terlalu lama update ceritanya, ya?

  4. Maret 24, 2009 pukul 6:58 am

    Weh, akhirnya mulai tampak.
    Eh iya, jangan terlalu lama sambungannya dong. Yang terakhir itu, jaraknya ke sini panjang amat. Sayang kalau nguap.

    Seru… Seru…

  5. Maret 24, 2009 pukul 6:38 pm

    aneh, saya mengawali komentar dg kata seru, komen berikutnya juga ada kata-kata seru.

  6. racheedus
    Maret 26, 2009 pukul 1:23 am

    Cerita anak yang hilang, ya, Pak Guru? Saya teringat, dulu waktu kecil, pernah bikin gempar orang sekampung karena dianggap hilang. Saya ikut mobil pawai Pemilu sampai ke ujung Kelua, hampir ke perbatasan Alabio.
    Salam badangsanakan, Pak Guru.

  7. taliguci
    Maret 26, 2009 pukul 8:19 am

    duhh. bersambung lagi.. benar-benar mesti sabar..

    jangan lama-lama ya pak, apa mesti dibawain jajan pasar biar cepat ?🙂

  8. Maret 26, 2009 pukul 11:44 am

    @zulmasri:
    gara-gara komentar terakhir da zul, komentar-komentar selanjutnya nggak pake kata s**u lagi. wakakakak!

    saya aja sampe enggan nyebutnya lagi.

  9. Maret 29, 2009 pukul 12:16 pm

    Saya mesti baca lagi yang dulu…jadi agak-agak lupa….

  10. April 6, 2009 pukul 7:05 pm

    Saya tunggu lanjutannya segera pak Suhadi…

  11. copiyan
    April 11, 2010 pukul 11:00 am

    hei… lam knal…

    ===========
    @ copiyan
    salam kenal kembali, Bung

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: