Beranda > about me > KKG Guru Kelas III di SDN Sarang Burung

KKG Guru Kelas III di SDN Sarang Burung


Author: Suhadi

Sepanjang perjalanan dari sekolah menuju acara Kelompok Kerja Guru Kelas III tingkat SD/MI di SDN Sarang Burung Kecamatan Danau Panggang saya melihat awan keperakan menggantung di langit. Di arah utara, awan hitam berarak pelan. Barangkali mau turun hujan lagi. Semilir angin sejuk menemani perjalanan.

Bersama saya, beriringan Pak Khairil Anwar, seorang Fasilitator Pendidikan untuk Proyek Pilot Pendidikan yang bersasaran daerah tertinggal seperti Kecamatan Danau Panggang. Kami sama-sama mengendarai sepeda motor.

“Kita harus lewat jalan memutar, Pak.” Serunya dari arah belakang saya. “Tidak bisa lewat tanggul. Tanahnya becek dan lengket. Sepeda motor bisa amblas di jalan itu.”

Memang, hujan lebat yang turun tadi malam membuat jalan tanggul menuju Desa Sarang Burung yang panjangnya beberapa kilometer itu menjadi becek dan lengket. Saya sendiri sebenarnya belum pernah lewat jalan tanggul. Ini adalah pengalaman pertama kali ke Desa Sarang Burung.

Desa Sarang Burung seperti beberapa desa terpencil lainnya di Danau Panggang, seringkali berada di tengah-tengah rawa. Penduduknya kebanyakan bermatapencaharian sebagai nelayan air tawar. Jumlah penduduknya juga tidak banyak. Sarang Burung boleh jadi merupakan desa pemekaran dari Desa Telaga Mas, yang letaknya agak lebih dekat ke jalan aspal.

KKG guru kelas III tingkat SD/MI selalu menantang. Sebulan yang lalu saya menjadi narasumber di SDN Longkong. Sekolah ini tak jauh beda dengan SDN Sarang Burung, juga terletak di tengah-tengah rawa. Pengalaman yang tak mungkin terlupa saat itu adalah: saya salah mengambil arah waktu mau pulang. Bukannya menuju jalan besar dan keluar dari Desa Longkong, malahan saya mengarahkan sepeda motor menuju ujung desa yang menurut para penduduk akan menuju Desa Manarap. Ada-ada saja.

“Lalu kita lewat mana, Ril?” Saya memang biasa langsung menyebut nama kepada Pak Khairil Anwar. Saya menanggalkan kata ‘Pak’ di depan namanya. Dia lebih senang dipanggil begitu. Mungkin karena umurnya jauh lebih muda dari saya. Beda sepuluh tahunan.

“Lewat Desa Telaga Mas.”

“Jadi kita lewat titian panjang?” tanya saya lagi.

Khairil mengangguk.

Saya tersenyum kecut.

Asal tahu saja, Desa Telaga Mas dihubungkan dari jalan aspal Alabio-Danau Panggang oleh titian dari kayu ulin yang kondisinya rusak parah. Banyak kayu-kayunya yang telah patah. Khairil sendiri, pernah tercebur bersama sepeda motornya. Walhasil, laptopnya rusak dan hpnya hilang. Terjun bebas ke air rawa yang kedalamannya berkisar dari sedada orang dewasa hingga 2 meteran. Peristiwa itu terjadi sekitar setahun yang silam. Belum lagi masalah mengangkat sepeda motor dari dalam rawa, perlu tenaga beberapa orang penduduk dan peralatan seperti tali atau katrol.

Akhirnya kamipun tiba di depan titian panjang dari kayu ulin selebar 160cm. Tanpa pagar. Saya meminta Khairil yang duluan di depan, soalnya dia lebih sering lewat sini. Saya sendiri, beberapa kali pernah lewat di titian ini. Alhamdulillah belum pernah jatuh. Cuma ya itu, sering nahan napas dan jantung jadi deg-degan. Bikin gugup.

Titian yang bikin spot jantung itu

Titian yang bikin spot jantung itu

Khairil melaju. Namun, hanya beberapa saat saja segera melambat karena banyaknya bagian titian yang rusak. Bahkan saya yang di belakangnya harus ekstra hati-hati. Bagaimana tidak. Titian itu benar-benar bikin spot jantung. Beberapa kali saya turun dari sepeda motor membetulkan letak papan-papan yang hampir jatuh karena lepas tercabut pakunya. Lihat saja contohnya di foto berikut. Mata saya hanya tertuju pada papan-papan lantai titian itu. Bolong dan patah di mana-mana. Kadang-kadang ban sepeda motor hanya berjalan di atas gelagar (kayu balok ukuran 5cm x 5cm) penyangga papan. Papan-papannya sendiri telah patah dan lepas. Perjalanan menjadi terasa lama sekali.

Ternyata yang takut-takut melintasi titian itu tak cuma saya. Beberapa ratus meter di depan, saya melihat iring-iringan para guru kelas III peserta KKG. Ibu-ibu guru terpaksa menuntun sepeda motor. Beberapa yang berboncengan juga harus turun. Perjuangan yang luar biasa untuk sebuah kegiatan KKG? Saya pernah mempertanyakan kepada mereka mengapa KKG kadang-kadang diadakan di tempat yang sulit dijangkau. Jawab mereka, “Agar ada pergantian tempat saja. Guru-guru lain biar tau bagaimana kondisi sekolah-sekolah yang terpencil. Biar sekolah-sekolah yang terpencil itu juga mendapat kesempatan didatangi pihak-pihak terkait semacam pengawas, atau orang-orang Dinas Pendidikan.”

Setelah melewati Desa Telaga Mas, kamipun akhirnya memasuki Desa Sarang Burung. Sebuah desa di atas air. Rumah-rumah panggung berjejer di kanan kiri titian. Anak-anak usia sekolah yang tak bersekolah bermain-main di beranda rumah. Rupanya banyak anak yang putus sekolah atau barangkali memang tak pernah sekolah. Penasaran apakah mereka murid kelas I dan II yang sudah pulang sekolah? Saya tengok jam di hp dalam saku celana, saat itu masih jam sembilan pagi. Saya coba berpikir positif, anak-anak itu tentu anak-anak kelas I dan II yang dipulangkan lebih awal karena ruang kelas mereka dipakai untuk kegiatan KKG nanti.

Halaman sekolah berair dan dipenuhi enceng gondok-mereka tak punya lapangan olahraga

Halaman sekolah berair dan dipenuhi enceng gondok-mereka tak punya lapangan olahraga

Sekolah yang dituju akhirnya terlihat juga di depan mata saya. Ada banyak anak-anak berseragam merah putih. Beberapa guru peserta KKG berbincang-bincang dan hamparan enceng gondok di tengah-tengah halaman sekolah yang berbentuk huruf U.

Setelah menunggu beberapa peserta lain akhirnya acara KKGpun dilaksanakan. Semua berjalan lancar seperti yang diharapkan, kecuali para petugas konsumsi yang terjebak di jalan tanggul yang becek dan lengket. Oleh sebab itu, acara makan siang setelah KKG selesai sedikit agak tertunda.

Sesi diskusi pada KKG di SDN Sarang Burung

Sesi diskusi pada KKG di SDN Sarang Burung

Pada perjalanan pulang gerimis menyirami iring-iringan kami: guru-guru SD/MI kelas III, pengawas TK/SD dari UPT Danau Panggang, kawan-kawan dari Pilot Pendidikan, Tim Teknis Pendidikan yang bersepeda motor di atas titian itu.

Kategori:about me
  1. Maret 20, 2009 pukul 4:36 pm

    Tabik!

    Salut untuk perjuangan kawan2 guru di daerah…

    ==============
    @ taufik79
    thanks.

  2. Maret 20, 2009 pukul 7:00 pm

    tuh jembatan di atas rawa-rawa pak? duh, ngeri juga ya.

    di tempat saya juga ada jembatan dari perpaduan bambu dan kayu, melewati sungai sekitar 200 meter. jembatan yg gak rata, bergelombang, dan ada juga bagian agak miring. ngeri.

    ============
    @ zulmasri
    yup, jembatan di atas rawa. Panjangnya beberapa kilometer. Rusaknya di beberapa bagian. Soal motor atau orang kecebur adalah berita biasa di titian/jembatan itu.

  3. Maret 20, 2009 pukul 7:13 pm

    Hormat dan salut saya buat guru2 yang rela menepuh route seperti itu untuk menghadiri KKG. Semoga titian itu segera diperbaiki ya pak, agar KKG lebih lancar dan lewatnya tidak pake paket dag dig dug der🙂

    =============
    @ 1nd1ra
    semoga in, kabarnya sudah lama rusak begitu, masyarakat sebisanya memperbaiki. Sekarangkan kayu susah didapat dan harganya mahal. Jadi mereka kesulitan melakukannya secara swadaya.

  4. Maret 21, 2009 pukul 6:30 am

    Ngeri jembatannya ya, Pak Suhadi!
    Hati-hati aja dan saya doakan semoga selamat dan sukses sampai ke tempat tujuan…
    Tempat yang menarik dan penuh tantangna nih, kapan-kapan boleh dong saya berkunjung kesana. Yah, anggap studi banding tapi dengan biaya sendiri..he..he..hee

    =============
    @ syamsuddin ideris
    di tunggu kunjungannya….

  5. DV
    Maret 21, 2009 pukul 9:49 am

    Setelah sekian lama akhirnya Pak Suhadi nulis lagi:)
    Welcome back, Pak Guru:)
    Sehat dan sukses selalu…

    ===========
    @ DV
    yes, I am back!
    alhamdulillah, saya dan keluarga sehat. Gimana sydney?

  6. Maret 21, 2009 pukul 4:05 pm

    senangnya suhu muncul lagi…
    betapa sulit perjalanan yang ditempuh; jangankan melakukannya, hanya melihatnya pun saya juga keder. salam hormat saya pada para sejawat yang berlapang hati mengabdi di sana. apalagi sampai harus kehilangan harta benda karena menempuh rutenya. tak adakah pihak yang melongok keadaan itu untuk memperbaiki prasarana transportasinya?

    sudah tepat suhu menahan napas selama berada di atas jembatan, agar tubuh lebih ringan. begitu yang diajarkan oleh guru bela diri saya di padepokan. *dipentung duren*

    ==========
    @marshmallow
    ya gitu deh, sebenarnya saya pernah mengulas ini sebelumnya di posting tentang “rawaku yang terlantar”.
    Yap, sekarang saya mulai bloging lagi. He..he.. kemarin sedikit ngilang (lagi belajar dan mpraktekkan ilmu “musnah dari peredaran”). Dan betul ilmu meringankan tubuh (ginkang) sangat bermanfaat di sini.

  7. Maret 21, 2009 pukul 4:35 pm

    subhanallah

    beginilah perjuangan pahlawan tanpa tanda jasa
    selayaknya kita sebagai bangsa menghargainya
    ===========
    @ achoey
    betul choey, makasih atas pembelaannya terhadap profesi guru di daerah terpencil.

  8. AL
    Maret 21, 2009 pukul 5:22 pm

    Suhuuuuuu!!!! Kemane aje..
    Kan saya uah bilang, tanpa tulisan pun, orang ini, pak Suhadi, sudah menginspirasi…
    Huaaaaaa……

  9. Maret 22, 2009 pukul 5:41 am

    menyeberang leat titian? duh, merepotkan, tapi justru menjadi tantangan yang menarik, pak suhadi.

  10. vizon
    Maret 22, 2009 pukul 12:38 pm

    luar biasa sekali pak…
    tidak pernah surut rasa salut saya pada pejuang pendidikan yg mau berjuang sedemikian rupa di daerah seperti itu…
    orang2 seperti inilah yg selalu saya anggap sebagai ORANG BESAR

  11. Maret 24, 2009 pukul 10:23 am

    astaga!!!
    ngga salah tuh jembatan?

    nyebur ga?

  12. Maret 26, 2009 pukul 1:31 am

    Yah, jembatan kayak gitu, membuatku jadi sedih. Teringat kampung halaman. (Di Alabio masih banyak burung Belibis?)
    Selamat berjuang, Pak Guru.

  13. revsol
    April 23, 2009 pukul 12:57 pm

    pak suhadi, namanya sama ma imam di gampong q.
    mantab perjuangan nya tu, pak suhadi, bila perlu yang gak da jembatan dilewati, asal tunjangan, insentip dll, 2x, he….he

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: