Beranda > cerpen > Jerami (7)

Jerami (7)


monster-hospes-jeramiAuthor: Suhadi

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), Jerami (3), Jerami (4)Jerami (5), atau Jerami (6)?

Benda bulat itu tak lebih besar dari buah kelapa. Sebola kaki. Dalam keadaan melayang di udara dan mengeluarkan cahaya yang amat menyilaukan dan suara berdesing itu, benda aneh itu telah menyembuhkan Acin. Bahkan hingga ke sekecil-kecilnya infeksi nonmutualis—apalagi parasitis. Tak ada inflamasi apapun di tubuh Acin. Tubuh Acin telah siap untuk sebuah misi yang amat penting. Tubuh itu telah siap sebagai sebuah medium bagi sesuatu yang akan membuatnya menjadi suatu makhluk yang benar-benar berbeda. Hospes!

Benda bulat itu semakin nyaring berdesing. Semakin menyilaukan cahayanya. Acin tak sanggup lagi memandanginya. Ia berlutut, menunduk, dan menutup telinga serapat-rapatnya dengan kedua telapak tangan. Saat saraf-sarafnya sampai di limit terendah untuk menahan rasa sakit, benda bulat hitam mengilap itu meledak.

“Dhuarrrrr…rrrr!!!!!!!!!!!!!”

Menakjubkan. Tidak tampak ada serpihan-serpihan. Benda itu total berhamburan dalam bentuk serbuk hitam yang amat halus. Lebih halus dan lebih lembut dari bedak. Warna serbuk yang hitam membuat udara di sekitar tempat itu menjadi berkabut gelap.

Acin mendongakkan kepala. Ia perlahan bangkit dan berdiri. Kedua belah tangannya didedahkan keangkasa. Acin tersenyum. Ia kemudian tertawa-tawa dan menari-nari. Berputar-putar seperti anak-anak sedang mandi hujan di tengah hamparan rumpun-rumpun padi yang baru dipanen. Melompat-lompat di atas jerami sambil menadahkan tangannya ke angkasa. Keajaiban terus berlanjut.

Serbuk-serbuk halus berwarna hitam yang berhamburan di udara itu ternyata mulai berkecambah. Mula-mula terbentuk semacam gelembung-gelembung kecil. Dalam waktu singkat gelembung-gelembung itu terus membesar. Bola-bola ringan dengan selaput yang amat tipis itu telah mencapai diameter sekitar satu meter. Warna-warni dan ratusan jumlahnya. Kini, bola-bola transparan berwarna merah, kuning, hijau, ungu, dan berbagai warna lainnya itu melayang-layang dengan sangat ringannya. Beberapa menyentuh tanah. Beberapa lainnya tersangkut di rumpun-rumpun padi. Sisanya masih melayang-layang di udara.

Acin mengejar salah satu yang melayang-layang dekat dengannya. Pemuda itu meraih bola berwarna kuning. Tak seperti gelembung sabun—yang pecah, saat tersentuh bola gelembung itu mengecil. Materi hidup pembentuk bola kuning transparan itu meresap perlahan ke dalam sel-sel epitel kulitnya. Masuk ke aliran darah arterinya. Menyebar dengan sangat cepatnya bersama setiap hentakan otot-otot jantung pemuda yang tadinya mengidap kelainan genetis keterbelakangan mental itu.

Acin tersenyum. Tapi itu sebenarnya mulut yang tersenyum itu bukan lagi milik kuasa kesadaran dirinya. Bukan hasil proses tanggap rangsang yang dikelola neuron-neuron di susunan sarafnya yang semula terbelakang mental itu. Ia telah dikuasai “sesuatu”. Tak ada perlawanan yang dapat dilakukan oleh jiwa yang terperangkap di tubuh bongsor berambut lurus seperti lidi itu, walaupun ingin. Ada sesuatu yang telah membekap jiwanya. Sesuatu yang punya kekuatan luar biasa telah melumpuhkan jiwa Acin. Tapi, Acin belum mati, walaupun juga tak hidup. Ia benar-benar telah menjadi hospes!

Mulut pemuda itu menyeringai. Pupil matanya membesar, sementara irisnya yang mulanya berwarna hitam menjadi lebih jauh pucat dari biasanya—abu-abu.

Suatu tahapan kehidupan ekstraterresterial sudah di mulai di sebuah desa yang sangat terpencil. Desa Sisir Punduk. Dan, saudara-saudara lain seperjalanan bahan hidup yang telah bersemayam di tubuh bongsor Acin kini telah menetas. Benih kehidupan asing yang semula terkungkung dalam sebuah kendaraan bola hitam mengilap telah mengubah bentuknya menjadi spora-spora yang siap diterbangkan angin bumi ke mana saja—menjadi lebih mudah berekspansi, bahkan hingga ke tempat lain di belahan planet biru ini—Bumi. Kehidupan di dalam tubuh Acin sebagai salah satu daur penting untuk kehidupan koloni baru akan segera dilangsungkan.

Iris mata Acin kembali menghitam, lalu memucat kembali. Beberapa saat kemudian, dengan amat tiba-tiba, pupil matanya yang berwarna hitam membesar, seakan menelan selurus iris mata.

Acin berdiri tegak. Tubuhnya tegap dengan kepala menengadah—tak bergerak. Beberapa saat kemudian, kulitnya yang tadi telah bersih dan bebas dari berbagai infeksi dan inflamasi, seperti membenjut-benjut. Sesuatu yang bergerak-gerak mendesak dari dalam daging-dagingnya. Lalu, benjut-benjut itu membentuk gelembung aneka ukuran yang berikutnya pecah di permukaan kulit. Tak ada darah! Satu, dua,….. tiga…., tujuh, …., sepuluh,….. lima belas,…..dan kemudian tak terhitung gelembung yang pecah. Kulit Acin seperti permukaan bubur kental yang mendidih tanpa asap. Tubuh itu tetap berdiri tegak—hanya kepalanya mendongak, hingga beberapa saat kemudian berteriak dengan gema yang menggetarkan seisi Hutan Beringin.

“Roarrgggghhhh……!!!!!!!!!!!!! Roarrgggghhhh……!!!!!!!!!!!!!”

Kulit Acin berangsur menghitam dan berhenti mendidih. Tampilan Acin tak lagi seperti Acin beberapa saat yang lalu. Sekejap dia dijadikan demikian sehat dan bersih, lalu kemudian Ia segera telah berubah menjadi makhluk bertubuh tinggi besar, dengan kulit legam kasar, berbenjut-benjut. Acin telah berubah menjadi seorang monster. Sosoknya menjadi demikian mengerikan.

Sekali lagi hospes yang tak lagi tampak seperti Acin itu berteriak keras, lalu kemudian segera berlari menerobos semak, hanya beberapa meter di dekat Danan, Pinah, Harti, Kustam, Dayat, dan Hardi yang sedang bersembunyi. Hospes itu berlari kencang, dan entah kenapa masuk ke dalam Hutan Beringin.

Keenam orang itu, kemudian dengan amat takutnya segera meninggalkan sawah yang belum selesai dipanen itu dengan segera. Mereka bungkam. Tak ada yang berani berbicara. Tak tahu apa yang sebenarnya telah menimpa Acin. Kebingungan berbalut rasa takut yang teramat sangat. Tak pernah menemui atau membayangkan akan menyaksikan kejadian yang sedemikian seumur hidup mereka.

***

Di sebuah laboratorium sekolah, Astri mengambil lagi sampel jamur di batang-batang jerami basah yang dikumpulkannya tadi pagi. Dengan sebatang pinset kecil ia mengambil secuil benda mirip abu, lalu meletakkannya di atas sebuah object glass. Memberinya setetes air dengan menggunakan pipet. Lalu menutup preparat itu dengan dengan sebuah cover glass yang terlebih dulu dibersihkannya dengan selembar tisu. Guru bantu biologi yang cantik itu segera meletakkan preparat tersebut di bawah mikroskop. Lalu, mencari bayangannya dengan alat pembesar bayangan tersebut.

“Aneh. Ini benar-benar aneh. Mungkin aku telah menemukan sesuatu yang teramat langka di desa ini” Gumamnya sendiri. Sarjana Sains yang mencoba mengabdikan diri di desa terpencil itu kemudian menggaruk-garuk hidungnya yang tak gatal. Dulu, tiga tahun ia bergelut dengan berbagai spesies jamur di sebuah laboratorium di Universitas Lambung Mangkurat. Menjadi asisten peneliti seorang profesor dari Jepang yang menjalin kerja sama dengan Fakultas Sains. Tapi tak pernah ia menemukan seperti apa yang dilihatnya melalui mikroskop itu. Kehadirannya di Desa Sisir Punduk, semata karena suami yang sangat dicintainya. Ia tahu, bahwa kadang-kadang ia amat frustasi dengan tempat terpencil dan laboratorium sekolah yang teramat sederhana. Hanya rasa cinta yang besar terhadap Briptu Junaidi—suaminya, yang membuatnya bisa bertahan di pelosok kaki Pegunungan Meratus ini. Riset yang dikerjakannya bersama Prof Kamaguchi dan rekan-rekan lainnya dengan sangat terpaksa harus ditinggalkannya. Walaupun demikian, ketertarikannya terhadap spesies-spesies jamur baru yang belum teridentifikasi di jurnal-jurnal ilmiah tetap mendorongnya untuk melakukan riset sederhana dan kecil-kecilan di sekitar lingkungan ia tinggal. Darah peneliti tetap mengalir deras di nadi-nadinya meski ia jauh dari aneka peralatan lab yang memadai untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

Astri memandang gelas-gelas bekas selai yang berjejer rapi di atas rak. Tapi, sebenarnya pikirannya bukan kepada berbagai spesimen jamur di dalam gelas-gelas itu. Astri mengerutkan kening. Ia beralih dari mikroskopnya. Menuju tas yang tadi ditaruhnya di atas meja sebelah. Astri mengeluarkan laptop, menghidupkannya, lalu membuka file-filenya tentang jamur. Dibukanya satu-satu foto dan deskripsi karakteristik jamur yang telah Prof. Kamaguchi, Astri, dan rekan-rekannya identifikasi. Tak ada yang sesuai. Ia telah menemukan spesies baru yang amat aneh. Suatu anomali yang teramat ganjil pada kumpulan massa sel organisme senositik itu!

Bersambung…………………Jerami 8

  1. Januari 25, 2009 pukul 7:55 am

    Mulai kental unsur mistisnya ya, tapi sebagian kosakata ada yang tidak ku mengerti:

    infeksi nonmutualis…
    parasitis…
    inflamasi…
    hospes…
    organisme senositik…

    Waduh, aku kemarin waktu kuliah, Biologi nilainya jeblok yah?..Tapi ada baiknya kalau di bawah cerpen disediakan glosary atau sejenisnya yang menerangkan arti kata tersebut biar pemahaman cerpen pembaca lebih menyeluruh dan utuh.

    OK. Cerita nya semakin bagus nih. Trus berkarya ya, Pak Suhadi.

  2. Januari 25, 2009 pukul 1:47 pm

    dasar harat pian nih…

  3. sudewi2000
    Januari 25, 2009 pukul 2:11 pm

    Lewat aja dulu, baca dari pertama dulul, salam kenal

  4. Januari 25, 2009 pukul 2:36 pm

    Umai ramenya

  5. Januari 25, 2009 pukul 5:01 pm

    Ass.

    Asyik … ada tokoh baru muncul … Astri, ditunggu kelanjutannya, lebih bersentuhan dengan sains ..

  6. Januari 25, 2009 pukul 5:44 pm

    Asyik … asyik … semakin asyik

  7. Januari 25, 2009 pukul 8:08 pm

    nah, kali ini prediksi saya semakin mengena, bahwa cerita ini bakal jadi the x-files versi indonesia.
    ditunggu kelanjutannya, suhu!
    glad to have the series back.

  8. Januari 25, 2009 pukul 10:59 pm

    duh,,, ketinggalan 2 sekuel, baca dulu 6 dan 7 ya pak🙂
    ehmmm…. meninggalkan jejak begitu apik.

  9. Januari 26, 2009 pukul 10:30 am

    Dengan setia menunggu…

  10. yusranfauzinet
    Januari 26, 2009 pukul 11:29 am

    Siiip.!!! semakin seru aja.

  11. Januari 26, 2009 pukul 6:12 pm

    sahabatku dan guruku ini semakin hebat saja

    saya salut🙂

  12. Januari 27, 2009 pukul 12:21 pm

    Ruarrrrrrrrrrr biasa!
    Tambah sukses aja ya pak!
    Nuwun

  13. Januari 27, 2009 pukul 8:25 pm

    wah, kisahnya makin lengkap dan menarik, pak suhadi. para sarjana sudah banyak yang blusukan hingga ke kampung2. akan dibuat samapi berapa seri, pak, kisah ttg jerami ini?

  14. Januari 28, 2009 pukul 4:25 am

    Kisahnya mulai terurai nih…
    Sci-fi?

  15. hatmiati
    Januari 30, 2009 pukul 9:53 am

    Di…jerami ini sampai berapa seri ya… ceritanya tambah asyik.

  16. hatmiati
    Februari 2, 2009 pukul 10:32 am

    Di…pabila ada rencana ke banjarbaru…kaena bila ke sana tukarakan bukunya pak Ersis yang menulis 15 menit tu nah.. makasih yach.

  17. Rizal
    Februari 2, 2009 pukul 10:56 am

    makin seru aja ceritanya…

  18. Februari 12, 2009 pukul 9:43 pm

    wow…hebat, pak Guru yang pinter banget nulisnya.🙂

    Salam Sukses Penuh Berkah dari Surabaya,

    Wuryanano🙂

    Motivational Blog – Support Your Success
    Entrepreneur Campus – Support Your Future

  1. Maret 23, 2009 pukul 10:22 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: