Beranda > cerpen > Jerami (6)

Jerami (6)


Author: Suhadi

 

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), Jerami (3), Jerami (4), atau Jerami (5)?

 

Danan menghela napas. Sedikit ragu-ragu, lelaki setengah baya itu mulai menceritakan tragedi di tepi desa, yang hanya diketahui segelintir orang.

 

***

 

Sepuluh hari yang lau, di pinggiran Desa Sisir Punduk, di ambang batas Hutan Beringin:

 

pinah-dan-dananDanan senang sekali, demikian pula isterinya Pinah. Hari itu cuaca sangat bangus. Cerah. Tak ada seorangpun dari mereka yang menduga bahwa di hari itu akan terjadi sesuatu yang merupakan pangkal banyak kejadian ganjil di Desa Sisir Punduk beberapa hari kemudian.

 

Kicau burung-burung penyanyi menyemangati iring-iringan mereka. Bersama mereka ikut Harti, Dayat, Kustam, dan Acin. Keenam orang itu sedang menuju hamparan luas padi yang sedang menguning. Mereka akan menuai padi. Memang tidak biasanya Hardi mau bergabung membantu pekerjaan di sawah. Biasanya hanya Danan dan Pinah yang mengurusi sawah-sawah peninggalan mendiang orang tua mereka.

 

Hari itu Harti juga diajak karena lebih mudah membawanya ikut serta daripada meninggalkan gadis terbelakang mental itu di rumah sendirian. Dayat dan Kustam masih terhitung sepupu Danan. Sedangkan Acin, pemuda yang juga terbelakang mental itu ikut membantu karena ia memang biasa diajak Danan. Acin, pemuda bermata sipit berambut lurus tegak seperti lidi itu sudah ikut memelihara padi di sawah milik peninggalan almarhum ibu Danan di pinggir Hutan Beringin. Kebetulan, Acin memang tinggal di sekitar situ.

 

Acin adalah pemuda penderita down syndrome sebagaimana Harti, adik tiri Danan. Walaupun demikian, bujang yang senang keluar-masuk Hutan Beringin, lalu bercerita tentang makhluk-makhluk halus penunggunya ini cukup dapat diandalkan tenaganya. Acin sangat lihai menggunakan tajak, alat khusus serupa parang yang bertangkai panjang, berbentuk huruf L, biasa dipakai penduduk untuk menyiangi rumput di sawah yang berair. Tenaganya yang kuat juga bisa diandalkan untuk mengangkut karung-karung gabah yang selesai dirontok oleh mesin perontok milik Dayat dan Kustam. Saat bulir-bulir padi mulai menguning, Acin juga diberi tugas oleh Danan untuk menghalau burung-burung pipit dan gelatik, hama pemakan biji padi.

 

Acin punya pembawaan ceria. Pemuda itu, dengan mata sipitnya yang seperti lubang celengan, tersenyum-senyum. Membuat kulit di sudut-sudut matanya berkerut-kerut. Bahkan, kadang-kadang pemuda itu tertawa-tawa kecil sendiri. Memamerkan gigi-giginya yang kuning, jarang, dan kecil-kecil. Bagi Acin, bekerja dengan Danan sangat menyenangkan. Kakak tiri Harti itu selalu baik padanya. Kalau memberi upah sebagai imbalan tenaganya, selalu berlebih. Berbeda dengan penduduk lainnya yang seringkali hanya memanfaatkan tenaganya tanpa memberikan imbalan yang memadai. Banyak orang lebih suka memanfaatkan sisi lemah Acin: daya pikirnya yang amat rendah.

 

Satu hal yang tak disadari oleh orang lain, selain akan mendapat uang yang layak, Acin juga dapat dengan leluasa menggoda Harti, bila ia bekerja dengan Danan. Sebagai lelaki yang beranjak bujang, Acin yang bertubuh tinggi besar itu, walaupun terbelakang mental rupanya juga diserang rasa “jatuh cinta”. Acin jatuh cinta pada Harti! Entah kenapa, ia merasa gadis pujaannya itu juga menaruh hati padanya. Jadilah, kedua insan terbelakang mental itu saling curi-curi pandang sambil tersenyum-senyum berbalasan. Cinta rupanya memang benar-benar bersifat universal. Selain tak memandang harta, tahta, rupa, usia, ternyata juga tak memandang daya pikir mereka yang lemah.

 

Sawah peninggalan almarhum ibu Danan di tepi desa itu memang sangat luas. Setengah harian Danan, Pinah, dan Hardi bekerja mengarit rumpun-rumpun padi. Mereka mengumpulkannya di atas tikar yang lebar. Sementara itu Kustam dan Dayat melanjutkan pekerjaan mereka dengan melepaskan bulir-bulir kuning bernas itu dengan mesin perontok. Dan, tragedi itupun bermulalah.

 

Saat matahari tengah terik bersinar, Danan, Pinah, Hardi dan Acin beristirahat di dekat Dayat dan Kustam yang sedang bekerja. Mereka duduk saling berhadap-hadapan. Sambil menguyah singkong rebus, Acin yang duduk bersisian dengan Harti, menjawil lengan gadis itu. Harti yang dijawil, tertawa-tawa. Senang. Siapa sangka, Hardi, melihat kelakuan Acin. Hardi berang. Pemuda itu bangkit berdiri dan mendorong Acin. Singkong di tangan Acin jatuh ke tanah. Wajah Acin menunjukkan kebingungan bersemu ketakutan.

 

“Sudah, Hardi! Apa-apaan kamu?”, Danan menegur Hardi.

 

“Kamu tidak liat?, Si Goblok ini menjawil-jawil Harti” Hardi melotot pada Danan, kakak tirinya.

 

“Sudahlah.” Danan memegangi lengan Hardi.

 

Merah muka Hardi. Marah. Ia menepiskan lengan Danan.

 

“Sudah-sudah apaan! Bikin malu saja! Dua-duanya! Dasar, bego kau Harti!”, Hardi mendorong jidat Harti. Lalu, sesaat saja ia telah menendang Acin.

 

Pemuda terbelakang mental itu terjengkang. Hardi tak memedulikannya. Ia terus menendangi tubuh bongsor Acin.

 

Danan mencoba melerai, tapi tak sanggup memegangi Hardi yang bertubuh tegap, kokoh, besar, dan kekar. Pemuda itu, entah dirasuki apa, segera menghunus arit yang tadi dipakai untuk memotong batang-batang padi. Dayat dan Kustam yang melihat kejadian itu segera memegangi Hardi. Tapi Hardi sungguh bertenaga besar. Kedua sepupu Hardi itu juga akhirnya juga ikut terjengkang.

 

Arit tajam yang ada di tangan Hardi membuat Danan, Dayat, dan Kustam harus berhati-hati. Agak ngeri juga ketiganya membayangkan bila tubuh mereka tersabet benda itu. Pinah berteriak-teriak. Perempuan itu meminta Hardi untuk berhenti. Sayang, pemuda itu sepertinya sudah kalap.

 

Sebenarnya rasa malu memiliki adik yang terbelakang mental seperti Harti sudah mengendap lama di dada pemuda itu. Sebelum ini, Harti sudah beberapa kali dipukuli Hardi, bahkan tanpa sebab yang jelas. Dan, kelakuan Acin dan Harti yang agaknya menyimpan rasa saling suka itu menambah kebencian dan rasa malu Hardi. Jawilan Acin di lengan Harti yang berbalas ekspresi senang di wajah Harti rupanya telah cukup kuat memantik amarah Hardi. Ia muntab.

 

Hardi mencecar Acin dengan aritnya. Dalam kebingungannya, pemuda bertubuh bongsor itu mencoba melindungi diri. Ia menghalangi cecaran arit Hardi dengan tangannya. Lengannya berdarah-darah terkena sabetan arit, tapi Hardi tetap tak perduli. Ia terus membabat ke kiri dan ke kanan. Kini beberapa bagian tubuh Acin sudah luka-luka. Danan, Dayat, dan Kustam bersiap-siap menelikung Hardi dari belakang. Mereka harus segera meringkus Hardi. Kalau tidak, nyawa Acin berada dalam bahaya.

 

***

 

Tapi tiba-tiba dari angkasa, meluncur dengan kecepatan luar biasa sebuah buah benda berasap ke arah mereka. Benda aneh itu mendesing. Suaranya memekakkan telinga. Semua orang yang ada di tempat itu terpaku. Takjub. Otomatis tendangan dan sabetan arit Hardi terhenti. Walaupun demikian, Acin telah berlumuran darah.

 

Sebelum mencapai batas ketinggian sekitar lima meter dari atas permukaan tanah. Benda itu tiba-tiba berhenti. Diam. Suara desingannya juga berhenti tiba-tiba. Tak ada lagi asap yang tadi tampak membentuk ekor dari benda bulat itu. Sekarang, bentuknya telah menjadi jelas. Benda bulat hitam mengilap. Kini benda aneh itu melayang di udara.

 

Tak berselang lima menit, benda itu mengeluarkan cahaya yang amat benderang. Sangat menyilaukan mata. Sesilau kalau memandang matahari terik waktu tepat tengah hari. Suara desingan yang tadi terhenti kembali terdengar. Pelan, lalu semakin keras dan menyakitkan telinga. Hardi, Dayat, Kustam, segera berlari menjauh. Danan dan Pinah yang menyadari Hardi, Dayat, dan Kustam yang lari, segera menarik tangan Harti dan Pinah yang ternganga-nganga. Ikut melarikan diri. Ratusan meter mereka berlari. Lalu, mereka bersembunyi di balik rerimbun semak, mengamati dengan mulut ternganga-nganga benda bulat yang aneh itu.

 

Kini hanya Acin yang berada dekat dengan benda bulat itu. Tubuhnya berlumuran darah. Ia mengerang kesakitan. Walaupun demikian, kekaguman Acin pada benda yang mendesing dan bercahaya terang-benderang itu membuatnya terpaku di mana ia terbaring. Acin kemudian merasakan getaran aneh, semacam radiasi dari gelombang cahaya yang keluar dari benda bulat itu menguatkan tubuhnya. Sungguh ajaib, kini Acin dapat bangkit perlahan. Luka-luka bekas sabetan arit Hardi yang semula masih mengucurkan darah mulai mengering. Luka-luka Acin menutup. Sembuh! Tanpa bekas sama sekali.

 

Acin telah benar-benar sembuh. Bahkan jauh lebih bugar dari sebelum dipukuli dan dilukai oleh Hardi. Tak pernah Acin merasa lebih bugar dari saat itu, baik secara fisik maupun secara mental!

 

Bersambung …………………….. Jerami (7)

  1. Januari 9, 2009 pukul 12:28 pm

    hah? aduuuuhhh… kok pending lagiii…
    sumpah, saya gak sabar nunggu kelanjutannya nih.
    oh, acin! ai lop yuuu…
    (lah, malah saya yang berubah eror?)

    suhu, cerita ini adalah the x-files versi indonesia.

  2. Januari 9, 2009 pukul 6:17 pm

    Yaaa…..masih menunggu lagi….padahal udah makin deg2an dan penasaran
    (Duhh Acin ternyata sakti ya)

  3. Januari 9, 2009 pukul 8:06 pm

    Wah … jadi makin penasaran aja tu. ersis_wa@yahoo.com

  4. taliguci
    Januari 9, 2009 pukul 8:08 pm

    wealaaah.. to be continued..
    sedihnya, hiks-hiks-hiks..

  5. Januari 10, 2009 pukul 8:00 am

    Yah. kukira hari ni (pada jerami(6)) Acin akan mati. Ternyata ada suprise buat pembaca akan kehadiran benda misterius. Tapi ternyata harus nunggu kelanjutannya di jerami(7)………

  6. Januari 10, 2009 pukul 2:38 pm

    Bersambung Pulang…Benda apakah yang memandarkan sinar itu ? Tunggu jawabannya di Jerami 7… !

  7. rizal619
    Januari 10, 2009 pukul 3:57 pm

    wow..novelnya menarik banget..saya tunggu dech sambungannya.

  8. Januari 10, 2009 pukul 4:59 pm

    Amiin atas doa restu Bapak. Pak Suhadi juga guru SMP saya, karena Denaya bakal sering visit ke blog Bapak, untuk berguru mecahin soal-soal tentunya.

    Salam kenal pula dari papa Rohedi. Beliau titip link ini ke Pak Suhadi,

    http://rohedi.com/content/view/12/26/

    Mudah-mudahan kelak formula polinomial orde tinggi itu kelak bisa ngeringankan kerja Pak tani dan bu tani di seluruh Tanah Air Indonesia.

    Ini dulu Bapak. Maaf, Denaya pinjem alamat websitenya papa Rohedi, sekalian promosi.

  9. Januari 10, 2009 pukul 5:13 pm

    ??!!!!! namapang foto aja🙂

  10. Januari 11, 2009 pukul 4:37 am

    Sampai episode brp pak suhadi? 20 atau 25 ya. setelah itu jadikan novel. pasti asyik. nasib acin diolah sedemikian rupa, tapi jangan terkesan spt sinetron. ok

  11. Januari 11, 2009 pukul 7:08 am

    you’ll be able to find any point of interest on a site and then call it direct from your site… good job frenzz😉 lam hangat dan kenal yah..

  12. Januari 11, 2009 pukul 7:22 am

    Waduh jerami ke 7 ini seperti apa ya ceritanya😀

  13. Januari 11, 2009 pukul 10:09 am

    Ass.

    flash back tokoh Hardi pada jerami (1) yang telah terbunuh, seakan di jerami (6) ingin dieksplorasi kembali karekaternya, tapi juga diiringi dengan karakter acin yang masih menunggu kelanjutannya.

    Tokoh hardi memang masih bisa dimunculkan untuk memberi warna dalam cerita, namun tokoh yang sudah “dibunuh” pada awal cerita jika mau dihidupkan kembali setidaknya sangat penting untuk tokoh yang masih “dihidupkan”.

    Masih-masing jerami (1 – 6) masih belum terlalu disembunyikan, beberapa tokohnya begitu “pelit” tampil sebagai tokoh yang penting dalam setiap jerami.

    Menarik … tapi terkesan setiap jerami tidak menceritakan suatu peristiwa, lebih menonjolkan teka-teki.

    Untuk jerami terakhir ini … masih mampu mengusik rasa penasaran … tunggu berikutnya.

  14. Januari 12, 2009 pukul 10:15 pm

    Menunggu kelanjutan … jangan keputus gini dong mas🙂

  15. Januari 13, 2009 pukul 3:02 pm

    Wah, saya belum pernah mengikuti cerita jerami ini, saya baca-baca dulu mulai dari yang seri 1…

  16. Januari 13, 2009 pukul 5:54 pm

    Semakin mantabs saja nih pak Suhadi, lama ndak nengok ke sini

  17. Januari 13, 2009 pukul 6:59 pm

    salut akan semangatnya, semoga dalam berbagi ikhlas sampai hati, sehingga akan mendapatkan berkah dari apa yang Anda share,trims

    salam
    M. Al’ Amin
    msgr: mohamin2070

  18. Rizal
    Januari 14, 2009 pukul 9:52 pm

    Jadi semakin semangat mau bikin novel tapi ternyata susah juga ya…

  19. Walah agus agus
    Januari 15, 2009 pukul 10:04 am

    Sorry baru sempat mbuka hari ini, sukses selalu buat you,kapan kita ketemulagi,tentunya lomba lagi dong,he he

  20. bayusmart
    Januari 16, 2009 pukul 3:54 pm

    terimakasih pak. lagi usaha untuk lebih rajin posting walau terkendala waktu (maklum pelajar, dan akan menghadapi medan perang bernama UN he he he)
    kalau boleh nanya, gimana pak cara bikin biar kotak untuk coment jadi sederhana kayak punya bapak? kalau punya saya kayaknya ribet karena harus masukkan email dan website. Sama gimana bikin profil kita bisa terlihat dibagian sebelah kanan blog? Terutama masalah gambarnya, apakah harus upload foto dulu di flikr atau bisa langsung di copy paste dari komputer kita ?

    http://bayusmart.wordpress.com

  21. Januari 17, 2009 pukul 8:31 am

    Hey mahasiswa dan pelajar… Ini ada lomba nge-Blog buat kamu.

    Mau langsung daftar, klik infonya di http://awym.wordpress.com/

    Semua info detailnya bisa kamu dapetin di http://fkip-unlam.co.cc

    OK!!

  22. Januari 17, 2009 pukul 3:44 pm

    Pak Suhadi pintar main teka-teki. Bikin penasaran.

  23. Januari 17, 2009 pukul 4:04 pm

    Wadaw! Sudah dibelai-balin, malah masih bersambung.
    Hhh… geregetan!

  24. Januari 20, 2009 pukul 8:16 am

    Benda dari angkasa..? Apaan ya.., komet ato malah UFO ya.. ah jadi penasaran.., d tunggu kelanjutannya.

  25. Januari 20, 2009 pukul 5:41 pm

    weee kok bersambung?😕

  26. Januari 20, 2009 pukul 11:28 pm

    Rasanya ngak sabar menunggu

  27. Januari 21, 2009 pukul 2:38 pm

    Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) MAN 2 Model Banjarmasin ke-11 tanggal 20 Pebruari 2009, MAN 2 Model Banjarmasin mencoba menggali kreatifitas guru yang masih terpendam. Banyak potensi yang belum tersalurkan khususnya bidang tulis menulis dan jurnalistik.

    Lihat link: http://manda-bjm.blogspot.com/

  28. Januari 22, 2009 pukul 1:03 am

    Tak kirain dah muncul jerami 7 nya. Dah penasaran ne..

  29. Januari 22, 2009 pukul 9:58 am

    we want more!
    we want more!
    we want more!

  30. jhon fs. pane
    Januari 23, 2009 pukul 8:33 pm

    wah..gak nyangka pintar nulis fiksi juga..ditunggu terus karyanya dengan kualitas yang semakin oke ya, waduh masih ingat juga nama lengkapku, trims.

  31. Januari 24, 2009 pukul 11:09 am

    Ass.

    Ikuti seminar motivasi kepenulisan bersama Ersis Warmansyah Abbas dan Penulis-penulis Banua. Terbuka untuk mahasiswa dan umum!

    Infonya klik:

    http://www.taufik79.wordpress.com
    http://www.manda-bjm.blogspot.com

  32. Januari 24, 2009 pukul 11:10 am

    Pemeran jerami lagi pada istirahat ya pak, hehehee.. Salam.

  33. hatmiati
    Januari 30, 2009 pukul 9:46 am

    di…kapan jerami 7 nya…penasaran…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: