Beranda > Uncategorized > “Umur Kada Babau”

“Umur Kada Babau”


tear1Umur kada babau” (umur tidak berbau), begitulah pepatah Urang Banjar untuk menyatakan bahwa nyawa seorang manusia bisa terlepas dari raga kapan saja, di mana saja, dan dengan cara entah bagaimana. Tak dapat di duga. Ajal dapat menjemput dengan sangat tiba-tiba, tanpa tanda-tanda.

 

***

 

Beberapa hari yang lalu, saya dikejutkan oleh berita kematian yang dikumandangkan lewat pengeras suara masjid dekat tempat tinggal saya. Rasanya hampir tak percaya, seorang yang masih muda berusia 26 tahun, kuat, gagah, tak penyakitan, punya karir bagus di kepolisian: meninggal dunia.

 

Secara langsung saya tak mengenalnya. Tapi saya segera insyaf, dari berita kematian itu jelas sekali bahwa almarhum adalah suami dari adik sahabat saya. Sebagai sahabat kental kakaknya, saya kenal baik dengan adiknya (istri almarhum). Sewaktu masih sama-sama kuliah di Banjarmasin, sekitar sepuluh tahun yang lalu saya dan teman-teman sering menginap di rumah mereka di Belitung Darat. Hanya saja, setelah kami masing-masing bekerja, agak jarang saling berkunjung.

 

Sungguh sebuah kejadian yang memilukan bagi keluarga yang ditinggalkan. Saat saya mengunjungi rumah duka, terlihat istri almarhum sangat shock. Sementara sahabat saya, dengan menggendong putri almarhum yang baru berusia dua tahun menceritakan pasal kematian adik iparnya itu. Sembari menenangkan gadis kecil cantik yang sedang menangis mencari ayahandanya itu di antara tetamu. Barangkali gadis kecil itu menyangka salah satu dari mereka adalah ayahnya—karena banyak anggota polisi berseragam, yang mungkin terlihat seperti ayahandanya. Para sejawat almarhum yang melayat itu juga sedang mempersiapkan upacara militer sebagai tanda penghormatan terakhir sebagai anggota anggota kepolisian yang berprestasi. Sambil bertutur, sahabat saya itu tak dapat membendung air matanya.

 

“Kami sekeluarga tak menyangka. Adik saya (maksudnya istri almarhum) sedang dinas malam di rumah sakit di Amuntai ketika kabar itu datang. (istri almarhum seorang bidan). Saya mendapat telepon lebih kurang jam 12.30 malam, mengabarkan bahwa suami adik saya dilarikan ke rumah sakit. Saat itu ia (almarhum) sedang di Banjarmasin, menginap di rumah orang tuanya di Kelayan. Tiba-tiba dalam tidurnya ia seperti orang mengigau, kesakitan. Sayang, sampai di rumah sakit nyawanya tidak tertolong. Sungguh, bukan hal yang mudah bagi saya mendengar kabar itu. Apa lagi menyampaikan pada istrinya (adik sahabat saya) yang sedang bekerja di tempat dinasnya.”

 

Mendengar kisah itu, saya hanya dapat menarik napas panjang. Kasihan.

 

“Almarhum sama sekali tak punya sejarah catatan penyakit. Apalagi penyakit jantung seperti yang dilaporkan oleh rumah sakit, di mana almarhum dilarikan.”  Sambungnya.

 

Lagi-lagi saya menghela napas panjang.

 

***

 

Ajal, Allah-lah pemegang rahasianya. Umur kada babau.

 

Sungguh, hari itu saya benar-benar dibukakan mata, bahwa tubuh yang sehat, kuat, bukan jaminan masih berumur panjang.

 

Ya… Allah, ampunkan dosa-dosa almarhum. Tabahkan keluarganya yang ditinggalkan. Limpahi putri mereka yang masih sangat kecil, yang harus kehilangan perlindungan dan kasih sayang ayahandanya itu dengan perlindungan dan kasih sayangMu….

Amin Ya Rabbal tearAlamin.

Kategori:Uncategorized
  1. Januari 3, 2009 pukul 9:51 pm

    Benar sekali bang Suhadi,
    Umur kada babau…
    Aneh pang lah, kdd bepenyakitan maka garing sampai meninggal di rumah sakit.

    Innalillhi wainailahi rajiun..
    Semoga keluarga yang ditinggalkan dapat tabah menerima cobaan ini.
    Amien.

  2. guswan76
    Januari 4, 2009 pukul 5:12 am

    Ya Allah sungguh janjiMu nyata (bahwa setiap yang hidup pasti akan menemui ajalnya). Ampunilah kami dan semoga kami selalu berada dijalanMu.

  3. Januari 4, 2009 pukul 7:34 am

    umur memang nggak bau pak suhadi. kita yang bau😀

  4. Januari 4, 2009 pukul 8:00 am

    pas sekali judulnya, suhu: umur kada babau.

    semua yang datang dari Allah mutlak akan kembali kepadanya.
    ajal adalah niscaya, caranya saja yang beda-beda skenario.
    tulisan ini mengingatkan saya juga. terima kasih telah membaginya di sini, suhu.

    insya Allah almarhum dimudahkan urusannya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan.

  5. Januari 4, 2009 pukul 12:24 pm

    Salam
    Hiks ikut berduka cita, semoga yang ditinggalkan tetap tabah..Amin..

  6. Januari 4, 2009 pukul 1:58 pm

    Ina Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun….

  7. Januari 4, 2009 pukul 2:44 pm

    tak ada yang sanggup menerka
    kapan ajal tiba
    tak ada yang sanggup menimbang
    kapan ajal datang

  8. Januari 4, 2009 pukul 6:55 pm

    Maka berbuat baiklah di muka bumi, karena bukan tidak mungkin setelah ini adalah KITA…

  9. Januari 4, 2009 pukul 10:36 pm

    Innalilahiwainnailaihirajiun. Moga amalannya dilipatgandakan Allah SWT Amin. Tulisan Sampeyan mengingatkan kita semua.

  10. Januari 5, 2009 pukul 2:36 am

    Hanya teringat kepada pepatah ini: never too young to die.
    Semuanya sudah diatur. Jadi masih pantaskah angkuh terhadap kemudaan dan kesehatan?

  11. DV
    Januari 5, 2009 pukul 6:06 am

    Semua memang sudah tercatat Pak Suhadi… semua tinggal tunggu waktu maka mari kita mengisi waktu sebaik mungkin..

    Salam duka bagi keluarganya…

  12. Januari 5, 2009 pukul 8:12 am

    Innalillahi winaillahi rojiun…
    semoga amal ibadahnya di terima disisi-Nya Amien..

  13. Januari 5, 2009 pukul 9:11 am

    Setiap saat kepada kita diberikan contoh dan peringatan seperti ini. Mestinya kita berterima kasih karena mungkin masih ada kesempatan untuk mempersiapkan bekal menuju… kematian. Semoga amal dan ibadah beliau diterima olehNya. Amin.

  14. Januari 5, 2009 pukul 9:18 am

    kematian…, betapa begitu dekat.

    semoga yg ditinggalkan bisa tabah, dan alm diterima di sìsì-Nya

  15. Januari 5, 2009 pukul 9:53 am

    Kullu nafsindza iqotul maut (Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian)

  16. Januari 5, 2009 pukul 1:53 pm

    never too young to die😀

  17. Januari 5, 2009 pukul 2:53 pm

    Salam kebaikan dari jauh. Dari Allah kita datang, KepadaNya jua kita kembali. Bertemu dan berpisah adat manusia biasa. Hilang di mata namun dihati jangan lupa. Maka iringilah setiap pemergian itu dengan doa buat peringatan kita, juga belas ihsan buat mereka yang berada di alam sana. Akan tiba juga masa kita menghadap Tuhan Rabbul Jalil. Cuma bila, di mana, kenapa dan bagaimana sahaja yang akan membezakannya.

  18. AL
    Januari 5, 2009 pukul 3:58 pm

    Innalilahiwainnailaihirajiun.
    Turut berdukacita suhu..

  19. Januari 5, 2009 pukul 7:30 pm

    ungkapan itu memang berlaku universal, pak. kalau memang Tuhan sudah berkehendak, apa pun bisa terjadi. kalau malaikat maut telah datang, tak seorang pun sanggup menolak fitrah hidupnya. ikut berduka cita, pak, semoga dterima semua amal baiknya, diampuni segala dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

  20. Januari 5, 2009 pukul 11:40 pm

    Innalilahiwainnailaihirajiun.
    kita semua Tidak ada yang tau skenario-Nya, Insya Allah amal kebaikannya di terima disisi-Nya.
    dan diberi ketabahan untuk keluarga yang ditinggalkan.

  21. Jaz
    Januari 6, 2009 pukul 7:22 am

    Tuut berduka cita mas…, semoga kita semua ingat selalu bahwa segalanya memang di tangan Allah….

  22. Januari 7, 2009 pukul 7:03 am

    Kematian kadang memang menjemput tanpa tanda-tanda sebelumnya. Dan pada umumnya keluarga lebih siap jika didahului sakit, dan akan kaget jika meninggal mendadak karena sakit jantung.

    Bagi almarhum, mungkin cara meninggalnya lebih mudah, tak terlalu kesakitan, dibanding jika melalui sakit yang lama.
    Kita memang tak pernah tahu rahasia Allah yang satu ini, dan kita mesti siap kapanpun kita akan dipanggil Nya.
    Semoga keluarga almarhum diberi kekuatan dan ketabahan.

    Innalillahi wa inna illaihi rojiun.

  23. Januari 7, 2009 pukul 9:28 pm

    Hal yang sama aku alami, salah satu sahabatku meninggal dunia sebulan yang lalu akibat konflikasi. Ketika itu terjadi istrinya lagi berada di Propinsi dan aku sendiri lagi di Medan, so baik aku maupun istri sahabatku tak sempat melihat jenazah utk terakhir kalinya kecuali segunduk tanah yang masih merah. Usia memang tidak pernah jadi patokan batas hidup ini, karena kematian adalah janji yang harus ditepati.

  24. Januari 7, 2009 pukul 9:34 pm

    Jadi ingat kejadian adikku juga, dalam usia muda dan sehat wal afiat tp dgn sekita tewas akibat kecelakaan. Jika tiba waktunya, tiada yg dpt menghindarinya.

  25. Januari 8, 2009 pukul 10:58 am

    Maaf baru kali ini saya kembali meniggalkan jhejak ke blog mas…

  26. taliguci
    Januari 8, 2009 pukul 7:51 pm

    betul pak.. kematian telah ditetapkan, dan kitalah yang mendatanginya..

  27. Januari 9, 2009 pukul 12:35 am

    Innalillhi wainailahi rajiun..
    Tidak ada yang tahu kapan maut itu datang menjemput.

  28. Januari 14, 2009 pukul 1:12 pm

    indeed…. no one knows when he/she will die…
    so we have to prepare for it all…

  29. zayed n
    Januari 14, 2009 pukul 5:23 pm

    bujur pa ae…
    kunjungi blog ulun juga ya. mohon kritiknya dari sang ahli menulis.

  30. Januari 17, 2009 pukul 7:07 am

    kalau sudah KuasaNYA, apapun akan kembali padanya ya Pak Suhadi. tinggal kita yang masih hidup, bagaimana mempersiapkan diri.

  31. Maret 5, 2009 pukul 9:11 pm

    oke ..,., sipppppppppp

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: