Beranda > cerpen > Jerami (5)

Jerami (5)


Author: Suhadi

 

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), Jerami (3), atau Jerami (4)?

 

Siang itu cuaca cerah. Danan sedang asyik membersihkan sangkar burung murai batu kesayangannya. Kakak tiri Hardi itu menyikat bersih alas sangkar yang terbuat dari tripleks. Kalau sudah di depan sangkar burung itu, ia bisa betah berlama-lama. Sedari tadi, mungkin sudah setengah jam ia bekerja.

 

Sebuah motor yang dinaiki seorang polisi muda, Junaidi, berhenti tepat di depan rumah Danan. Laki-laki itu menyangkutkan sangkar pada sebuah besi pengait di teras rumahnya yang asri. Lalu bergegas menyalami Junaidi. Ia sudah mengenalnya dengan baik. Pasti polisi itu mau bertanya-tanya soal kasus pembunuhan adiknya, Hardi.

 

“Silakan, Pak. Mari masuk.”

 

“Terima kasih.”

 

Junaidi mengiringi Danan masuk. Keduanya duduk di ruang tamu. Sekilas, Junaidi memandangi seluruh bagian ruangan. Ruang tamu yang bersih. Pasti istri Danan yang bernama Pinah itu sangat cekatan dan rajin. Tak seperti istrinya, pikir Junaidi, sembari tersenyum kecut pada dirinya sendiri. Istrinya terlalu sibuk dengan berbagai macam sampel-sampel jamurnya. Mengamatinya, memotret, membuat deskripsinya, dan kalau memungkinkan, menyimpan spesimennya. Wanita itu terlalu tergila-gila pada jamur. Selain tergila-gila padanya, tentu saja. Rumah dinas mereka tak pernah beres. Berantakan. Mirip kapal pecah.  Astri tak pernah punya cukup waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumahan. Tapi, barangkali bukan karena waktu yang tak cukup. MUngkin, karena Astri bukan wanita yang suka mengerjakan pekerjaan demikian. Tapi, Junaidi sudah terbiasa dengan itu semua. Mata Junaidi yang awas menyelusur setiap sudut. Lalu ia bicara.

 

“Saya ingin menanyakan sesuatu.” Kata Junaidi datar.

 

“Apa saja yang saya bisa, pasti saya bantu, Pak.” Danan tampak bersungguh-sungguh.

 

“Terima kasih. Kita telah bicara sebelumnya. Saya cuma ingin menanyakan ini kembali. Sekali lagi, tolong Pak Danan ingat baik-baik! Adakah Hardi terlibat masalah dengan seseorang?”

 

Danan diam. Dia menggeleng.

 

“Yakin?”

 

Danan sedikit gelagapan. Polisi muda itu menangkap gerakannya. Ia segera menentang pandangannya pada Danan. Danan tertunduk.

 

“Yakin, Pak Danan?”

 

“E… e…aa…”

 

“Tak perlu sembunyikan sesuatu yang tak perlu disembunyikan, Pak Danan.”

 

Kata-kata Junaidi yang kering, membuat gelagapan Danan semakin nyata.

 

“Ayolah bicara, Pak!”

 

Suara Junaidi yang agak keras telah mengundang Pinah. Ia baru tahu kalau Junaidi,  polisi yang beberapa waktu lalu menyelidiki kematian Hardi ada di rumahnya. Tadi ia sibuk menyisir rambut Harti, adik tiri suaminya yang terbelakang mental itu. Kini Pinah dan Harti sudah ada di samping Danan. Sementara itu, Harti, gadis terbelakang mental itu cengar-cengir saja. Tak paham apa yang diperbincangkan. Sesekali Junaidi menatapnya dengan penuh kekecewaan. Saksi kunci pembunahan Hardi itu sungguh tak bisa diharapkan, barangkali.

 

Pinah sangat gugup melihat suaminya yang mendadak gelagapan. Ia memegang bahu suaminya. Mencoba menenangkan Danan. Dasar pesandiwara-pesandiwara jelek! Paduan gerak-gerik Danan dan Pinah telah meyakinkan Junaidi: Pasti ada apa-apanya! Hanya saja, mereka masih berusaha menyembunyikannya.

 

Danan tetap bungkam. Ia menunduk. Sementara Pinah, ujung jari-jari kakinya memainkan kaki meja tamu. Junaidi melihat itu.

 

“Bicaralah, Pak Danan. Anda ingin pembunuhan ini terungkap bukan?”

 

“Tentu saya ingin. Hardi memang adik tiri saya. Dia sering nakal. Pemuda berandal. Tapi dia tetap adik saya. Dan seperti Harti, saya dan Pinah, istri saya, tak ada masalah dengannya. Iya kan, Pinah?” Danan menoleh pada istrinya.

 

Perempuan itu mengangguk. Kikuk.

 

Harti masih cengar-cengir. Tangan kanannya dijatuhkan pada lengan kiri kakak iparnya. Gadis terbelakang mental, penderita down syndrome itu sepertinya senang tinggal bersama kedua tamanang, pasangan yang tak memiliki anak ini.

 

“Kalau begitu bantu saya, Pak Danan. Setiap keterangan yang Bapak berikan sangat berharga untuk penyelidikan kasus ini. Kalau Bapak terus bungkam, saya bisa menganggap Bapak menghalangi-halangi tugas polisi. Itu bisa dituntut di depan pengadilan, Pak. Bahkan, saya bisa beri sedikit gambaran buat Pak dan Bu Pinah. Bapak bisa dijadikan tersangka pembunuh Hardi. Tidak ada orang lain yang bersengketa dengan Hardi. Kecuali Pak Danan sendiri. Mungkin karena harta warisan peninggalan almarhumah ibu Pak Danan. Menurut para tetangga, Pak Danan memang selalu baik pada Hardi, walaupun ia agak berandalan”, kata Junaidi lagi.

 

Danan menunduk lagi. Hatinya ketar-ketir. Pinah, istrinya, menatap lelaki itu dengan wajah pias. Pucat pasi.

 

 

“Kebaikan Anda terhadap Hardi, tetap tak menutup kemungkinan ke arah sana. Kami bisa beranggapan begini: bisa saja itu sekedar kedok Anda. Wajah palsu. Anda punya motif melakukan pembunuhan terhadap Hardi. Perebutan harta warisan. Tanah almarhumah ibu Anda sangat luas. Itu bisa membuat hubungan darah-persaudaraan, menguap tanpa bekas. Anda dikuasai nafsu menguasai. Ingin kaya sendiri. ” Junaidi membeberkan kalimat-kalimat itu dengan sedikit mengintimidasi Danan. Polisi muda yang tatap matanya berkilat-kilat itu tak lagi menggunakan kata Pak untuk menyebut Danan. Ia menyebut Danan dengan sebutan Anda. Junaidi seakan ingin membentang jarak. Membangun tembok. Ia ingin membuat lelaki itu terpojok.

 

Danan semakin gelagapan. Tangannya gemetaran. Namun tetap saja menunduk.

 

“Mungkin istri Anda juga terlibat.” Junaidi mengalihkan pandangannya pada Pinah. Ia telah menguasai Danan. Kini ia juga ingin menguasai Pinah.

 

Perempuan paruh umur itu terperanjat. Mulutnya menganga. Junaidi, polisi itu tersenyum puas. Ia kemudian mengalihkan kembali pandangan pada lelaki yang menunduk di hadapannya.

 

“Atau, bukan tidak mungkin istri Anda otak semua ini, Pak Danan.”  

 

Pinah merasa seperti tak menjejak lantai. Pantatnya tak menduduk di kursi tamu itu. Ia di awang-awang. Belum pernah ia menghayalkan, apalagi  dihadapkan pada keadaan demikian. Tuduhan sebagai otak pembunuhan. Bukan perkara sembarangan. Setelah tersenyum setengah mengejek pada Danan, Polisi itu kembali menatapnya tajam tak bersahabat.

 

“Sesuatu yang sangat masuk akal bukan?” Sambung Junaidi lagi. Ia yakin telah benar-benar meringkus kedua orang desa yang lugu itu. Dan benarlah, Danan mulai mereaksi.

 

“Tidak, Pak! Istri saya sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Sayalah yang ada sangkut pautnya. Saya memang marah dengan Hardi. Tapi bukan saya yang membunuhnya. Terpetik pikiran untuk menyakitinya pun tidak sama sekali. Ia adik saya, Pak. Walaupun adik tiri.” Danan mulai bicara panjang. Lelaki itu memandang istrinya. Ia masygul, seakan minta persetujuan. Sejenak mereka bersitatap. Harti tetap cengar-cengir. Pinah kemudian mengangguk.

 

“Ceitakan apa adanya, Kak. Kejadian di tepi desa sepuluh hari yang lalu. Ceritakan apa yang dilakukan Hardi pada anak malang itu. Ceritakan semuanya. Kakak tidak bersalah. Kakak cuma melerai mereka.” Pinah meminta pada suaminya.

 

Danan mengangguk pada istrinya. Lemah. Ia tak punya pilihan. Kini, lelaki itu sadar, kasus pembunuhan Hardi suka maupun tak suka, tetap akan menyeretnya ke dalam perkara. Padahal orang kampung macam Danan dan PInah paling takut pada masalah seperti ini.

 

“Baiklah, saya akan ceritakan kejadian di pinggiran desa sepuluh hari yang lalu. Tepat seminggu sebelum kematian adik saya itu. Tapi,  tolong Pak Polisi, saya dan istri saya bukan pembunuh. Tolong dicatat itu. Ee… begini, saya tidak tahu apakah ini ada kaitannya dengan pembunuhan Hardi. Hanya ini informasi yang dapat saya berikan.” Kata Danan sambil mencoba menetapkan hati. Ia menarik napas sejenak.

 

Junaidi menegakkan leher, memandang Danan, lalu Pinah. Kemudian segera beralih kembali pada Danan. Matanya berbinar.

 

Bersambung ……………….. Jerami (6)

  1. Desember 24, 2008 pukul 4:40 pm

    Ohhh…bersambung ya…
    Ditunggu nih, happy ending atau sebaiknya buat Danan dan Pinah?
    Siapa sih pembunuh sebenarnya? jadi penasaran.

  2. Desember 25, 2008 pukul 6:49 am

    Ass.

    Tambah seru … tiba-tiba sampai pada kata “bersambung”. Tunggu lagi deh …

    Wass.

  3. Desember 25, 2008 pukul 10:21 am

    dibaca dulu pak…

  4. Desember 25, 2008 pukul 10:22 am

    Yah…masiy bersambung lagi ya….
    dibikin cepet dong …

  5. Desember 25, 2008 pukul 10:54 am

    Salam
    Baik sebelum baca ini saya absen dulu ya dan mau baca jerami2 sebelumnya, met liburan ya Pak Guru🙂

  6. Desember 25, 2008 pukul 5:37 pm

    semakin lama
    semakin berkebang pesat kemampuan menulis sahabatku ini

    aku ingin sepertimu

  7. Desember 25, 2008 pukul 6:24 pm

    wah…bersambung …di tunggu banget lho….

  8. Desember 25, 2008 pukul 10:31 pm

    wallah, akhir2 ini banyak y blogger yg suka bkn postingan bersambung..heheh…pdhl udah bela2in baca, tau2nya pas nyampe bawah..eh..bersambung….hehe

  9. Desember 26, 2008 pukul 12:32 am

    Wow … great

  10. Desember 26, 2008 pukul 10:12 am

    Sip…sip

  11. Desember 26, 2008 pukul 1:16 pm

    yah bersambung lagi…

  12. Desember 26, 2008 pukul 3:27 pm

    Waah…masih bersambung lagi….jangan lama-lama pak…makin penasaran nih…

  13. Desember 27, 2008 pukul 8:03 am

    Ceritanya cepet disambungin ya…………….. tak tunggu

  14. Desember 27, 2008 pukul 8:19 am

    yupp setia menunggu sambungannya

  15. Desember 27, 2008 pukul 4:25 pm

    Met liburan ya Pak

  16. taliguci
    Desember 27, 2008 pukul 8:23 pm

    beli satu dapet lima.. Makasih bonus nya pak, dapat empat,🙂
    tinggal tunggu lanjutannya nih….

  17. nie
    Desember 30, 2008 pukul 2:31 pm

    loh, belom keluar toh part 6 nya…klo uda, bilang2 ya..hehehehe.

  18. Desember 30, 2008 pukul 6:24 pm

    masih bersambung dengan informasi penting pastinya.
    tapi titip pesan saya buat pak junaidi, suhu, jangan lupa rekaman kesaksiannya ya?
    sip, ditunggu kelanjutan ceritanya.
    saya senang membaca deskripsinya yang menggambarkan kondisi di negeri kita saat berlangsung interogasi dan analisa kasus oleh polisi.

  19. Januari 2, 2009 pukul 9:56 am

    Selamat Tahun Baru pak Suhadi…
    Sukses dan sehat selalu

  20. Januari 2, 2009 pukul 9:10 pm

    Mas … emailnya ngak ada tu

  21. Januari 6, 2009 pukul 1:34 am

    Langsung jadikan NOVEL pak Suhadi!

  22. Januari 16, 2009 pukul 9:43 am

    waaaah, jadi penasaran euy pake acara bersambung segala. He..he..ditunggu part selanjutnya…salam kenal….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: