Beranda > cerpen > Jerami (4)

Jerami (4)


hutan-beringin-jeramiAuthor: Suhadi

 

Baca dulu Jerami (1), Jerami (2), atau Jerami (3)?

 

Hutan Beringin memang sesuai dengan namanya. Di hutan itu, walaupun tak semua vegetasi penyusunnya adalah beringin, pohon yang berukuran besar dengan akarnya yang menggantung dan bersilang-kait itu cukup mendominasi. Hutan Beringin di tepi desa itu bukan tempat yang biasa dikunjungi orang. Dari generasi ke generasi masyarakat Desa Sisir Punduk dan sekitarnya, telah sering terulas cerita tentang angkernya tempat tersebut. Sebagian besar penduduk percaya akan cerita-cerita yang berhembus. Sebagian lagi mungkin tidak. Tapi yang jelas, hutan itu dipenuhi aneka satwa liar yang berbahaya. Terutama ular tadung, sejenis kobra berbisa yang seluruh sisik tubuhnya berwarna hitam mengkilap. Populasi ular ini tentu sangat banyak, karena seringkali ular-ular itu muncul di tepi hutan yang berbatasan dengan sawah dan ladang penduduk. Jadi, baik orang-orang yang percaya maupun yang tak percaya akan keangkeran Hutan Beringin, takkan mau masuk ke dalam sana.

 

Hanya dua orang manusia yang diketahui suka atau mau memasuki Hutan Beringin. Manusia pertama adalah Acin, pemuda terbelakang mental, berambut lurus seperti lidi, bertubuh bongsor, dan bermata sipit. Penampilannya khas. Baju kumal dan bau karena tak terurus. Itulah kesan pertama yang bisa ditangkap oleh mata bila kita berpapasan dengannya. Lalu, pemuda itu akan dengan mudah memberi senyum untuk memamerkan gigi-giginya yang kuning dan jarang. Acin hidup sebatang kara. Makannya dari belas kasihan penduduk. Kalau tak ada yang memberinya makan, maka ia akan mengambil singkong di tegalan penduduk. Atau, mengambil pisang. Pemuda ini punya gubuk reyot bekas peninggalan ayahnya yang telah meninggal hampir tujuh tahun yang lalu, saat Acin masih berusia tigabelas tahun. Letak gubuk itu di tepi hutan beringin. Penduduk yakin, pemuda dua puluh tahunan itu berani masuk ke Hutan Beringin tak hanya karena bloon, tapi juga karena ia memiliki gampiran makhluk halus. Demit, setan, atau barangkali jin penunggu hutan beringin adalah saudara kembarnya saat dilahirkan. Gampiran Acin.

 

Seringkali anak-anak, bahkan orang tua mendengarkan cerita Acin tentang suasana di dalam hutan itu. Cerita tentang berbagai makhluk halus yang ditemui Acin di sana. Acin bercerita tentang kera berukuran besar. Kata Acin, kera itu bertaring panjang dan tinggi badannya dua kali orang dewasa. Ada juga ular tadung  berkepala dua, yang diyakini Acin sebagai raja dari seluruh ular tadung penghuni Hutan Beringin, bahkan raja bagi semua hewan lainnya. Tak jarang mereka terbengong-bengong, terkagum-kagum mendengar cerita Acin tentang berbagai hantu atau makhluk halus di dalam hutan tersebut. Kalau sudah begini, bagi orang yang pertama melihat pemandangan itu akan mengira bahwa para pendengar Acin-lah yang bloon. Para pendengar Acin-lah yang terkebelakang mental, bukan Si Acin-nya.

 

Acin, walaupun demikian terbelakang mentalnya, adalah pemuda yang rajin bekerja. Ia terampil menggunakan tajak. Tajak adalah alat penebas rumput di sawah berair yang sebenarnya adalah modifikasi dari parang dengan tangkai panjang membentuk seperti huruf L sehingga memungkinkan penggunanya dapat menebas rumput dengan posisi berdiri tegak, tak perlu berjongkok. Sering Acin diminta membersihkan rumput di sawah pada musim-musim menanam padi. Dari upah sekedarnya yang diberikan, dan kadang diakal-akali penduduk yang kelewat tega memanfaatkan kekurangannya, Acin bisa membeli makanan dan kebutuhan lainnya. Sekali waktu, ia mendapatkan upah berupa selembar atau dua lembar baju buruk yang lebih pantas dipakaikan pada orang-orangan sawah.

 

Orang kedua yang sering keluar-masuk Hutan Beringin adalah Mak Antung. Wanita berusia hampir delapan puluh tahun ini adalah seorang peramal, juga dukun segala jenis penyakit. Dalam keseharian penduduk Desa Sisir Punduk yang jauh dari kota, profesi seperti yang dijalani Mak Antung masih sangat dibutuhkan. Setiap hari ada saja pasiennya. Dari orang yang minta air untuk pilungsur melancarkan proses melahirkan, sampai minta dimandikan kembang agar mudah mendapat jodoh. Kadangkala, kalau ada orang kesurupan atau kerasukan jin, Mak Antung juga yang dipanggil. Profesi dokter atau paramedis lainnya masih jauh kalah populer dibanding profesi Mak Antung. Selain karena para dokter dan paramedis tak pernah betah tinggal lama di Desa Sisir Punduk yang terpencil, para penduduk juga takut dengan suatu alat runcing yang sering dipakai mereka untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Suatu alat yang disebut: suntikan.

 

Air jampi-jampi, mantera, dan petuah berupa ramalan adalah hal-hal yang sangat berharga bagi penduduk. Mereka telah menyejajarkan Mak Antung pada posisi setingkat aparat desa, walaupun bukan secara formal. Pengaruhnya bahkan mungkin lebih besar dari para aparat itu. Dalam menjalankan pekerjaannya sebagai dukun dan peramal, perempuan tua yang masih tangkas dan kuat berjalan jauh ini sering harus keluar-masuk Hutan Beringin. Kalau pergi ke hutan beringin, ia akan membawa sebilah parang. Tujuannya adalah untuk mengambil sepotong akar beringin. Ia akan menggunakan potongan akar beringin sebesar lengan yang panjangnya dua jengkal untuk diajak berbicara. Ia akan memperlakukan akar beringin itu seperti makhluk halus. Perempuan yang suka menyirih itu akan memakaikan kain kuning pada potongan akar, memberinya minuman air kelapa hijau yang masih muda, memberinya makan berupa bubur putih dan bubur merah. Tapi tentu saja makan dan minumnya akar beringin itu tak seperti manusia. Kata Mak Antung, manusia biasa takkan bisa melihat bagaimana potongan akar itu makan atau minum. Bila akar beringin itu mengering, maka Mak Antung akan memerlukan akar beringin yang baru. Akar beringin yang basah mengandung roh, demikian kata Mak Antung. Roh akan menguap bersama getah beringin yang mengering. Dukun itu percaya sepenuh hati, bila pohon beringin bukanlah tumbuhan. Dia percaya pohon beringin adalah penjelmaan makhluk halus. Itu tergambar dari perilaku tumbuhan tersebut yang suka mencekik pohon inangnya hingga mati, bila tajuk tumbuhan itu telah cukup tinggi menentang matahari dan akar-akarnya telah kuat mencengkeram bumi.

 

***

 

Dari kejauhan, hutan beringin itu tampak demikian sepi. Muji terus melangkahkan kakinya. Pandangannya yang kosong terus mengarah pada hutan itu. Kulitnya pucat dan bola matanya menghitam tertelan pupilnya. Suara-suara yang menggedor-gedor gendang telinga bocah itu semakin kencang. Tak ada sepatahpun bahasa dari suara-suara itu yang dipahami Muji. Apa yang dirasakan anak berusia delapan tahun itu adalah segera masuk ke dalam Hutan Beringin, menemui sesuatu yang kini sedang menunggunya. Ia semakin mendekati Hutan Beringin. Semak belukar semakin lebat. Kawan-kawannya yang bermain bola dan ular naga sembari menghirup asap jerami semakin jauh di belakang. Hanya suara-suara teriakan dan dendang nyanyian dolanan mereka yang terdengar samar.

 

Muji kini telah benar-benar memasuki Hutan Beringin. Pada kondisi sadar, anak laki-laki ini pasti takkan berani masuk. Sesuatu, suara-suara itu telah menuntunnya menuju tempat yang sangat ditakuti orang-orang Desa Sisir Punduk. Akar-akar beringin yang menggantung menjulur di sana-sini. Batang-batang pohon besar ditumbuhi lumut hijau karena lembab dan teduh. Beberapa pohon inang beringin yang telah tercekik oleh batang-batang dan akar tumbuhan bergetah itu mati dan melapuk. Meninggalkan rongga-rongga besar dan gelap di pokok-pokok beringin. Di dalamnya, aneka satwa seperti tikus, kalong, biawak, musang, dan ular tadung mungkin bersembunyi. Sesekali hewan-hewan ini keluar, menyergap mangsa saat lapar datang. Angin nyaris tak berhembus. Suasana sepi. Hanya gemerisik buah-buah beringin yang mungil dan  berwarna merah jatuh menimpa lantai hutan yang menemani langkah Muji dalam ketidaksadarannya. Sehelai daun beringin kuning pucat jatuh.

 

Anak lelaki itu semakin jauh berjalan. Hutan semakin lebat. Sisa-sisa pohon lapuk yang tumbang berserak di beberapa bagian. Tanpa Muji sadari, ia telah mulai menjejak lantai hutan yang basah oleh lendir bening yang berwarna kekuningan. Muji terus saja melangkah, dan lendir itu semakin tebal. Kini, ia tiba di tempat mana semua bagian pohon-pohon beringin dipenuhi lendir itu. Bahkan, begitu banyaknya lendir bening kekuningan itu, kaki Muji tenggelam hingga batas lututnya. Hampir menyentuh ujung celana pendeknya yang berwarna hijau. Muji berdiam…atau barangkali terdiam. Suara-suara di dalam batok kepalanya, yang menggedor-gedor gendang telinganya itu seperti memintanya untuk diam. Tiba-tiba, suatu keanehan terjadi. Lendir yang tebal itu bergerak. Merambat pelan. Merambat naik lewat kaki Muji. Muji, kini dalam sedikit kesadarannya yang tersisa mencoba berteriak keras.

 

“Aduuuhhhhhhhh……….!!!!!! Sakiiiiiiitttttttttttt…………………!!!!!!!!!!!!!!!! Sakitttt………!!!!! Aduuhhh…!!!”

 

Anak itu mengalami rasa sakit yang luar biasa. Sesuatu seperti memasuki sel-sel tubuhnya. Meresap dikulitnya. Entah apa yang dilakukan oleh lendir tebal itu. Muji meronta, tapi tak berdaya. Sebagian besar pikirannya telah dikuasai suara-suara itu. Ia mencoba meronta tapi semakin lemah. Muji terduduk jatuh. Semakin ia mencoba bangkit, semakin cepat lendir bening kekuningan itu menyergapnya. Ia seperti seekor burung kecil yang terkena pulut getah nangka. Muji jatuh terjerembab. Tenggelam dalam lautan lendir. Beberapa saat kemudian, kepalanya mencoba menyembul dari lautan lendir yang melingkupinya. Mulutnya menganga. Muji megap-megap. Ia mungkin sedang mencoba untuk berteriak. Mungkin juga mencoba menarik napas-napas terakhirnya. Hingga akhirnya kepala anak lelaki itu lenyap terhisap.

 

Beberapa helai daun beringin yang berwarna kuning pucat kembali jatuh. Menari-nari di udara. Jatuh di atas lendir yang menutupi tanah. Lalu, Hutan Beringin kembali senyap seperti semula.

 

Bersambung………………….. Jerami (5)

  1. Desember 17, 2008 pukul 7:45 am

    Nah, iya am…saurang jadi takutan pas membaca.
    Ceritanya cukup seram, nih…jangan membaca pas tengah malam ya. Cerpen ini hasil imajinasi atau pengalaman Bang Suhadi sendiri.

    Hebat juga Acin dan Mak Antung yang berani memasuki hutan beringin angker ini. Kalau saya sih, udah lari pontang-panting mendengar suara-suara aneh didalamnya.

    ===================
    to syams ideris

    wah, syam….bisa banar maambung… cagat kerah baju nah😉
    Mak Antung dan Acin bernai karena sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka barangkali. Ini murni imajinasi, mudah-mudahan bisa mengarahkannya ke science fiction nantinya..

  2. Desember 17, 2008 pukul 8:29 pm

    Download Gratis Adobe Photoshop CS3 Extended Portable Edition…
    Click Nama saya Untuk Download …

  3. Desember 17, 2008 pukul 8:43 pm

    Membaca cerpen Suhadi kayak kita mengalami sendiri. Ih…serem

    ================
    to alris
    thanks, bro! mudah-mudahan bisa menikmati..

  4. Desember 18, 2008 pukul 10:59 am

    wah, udah rilis jerami 4, pas saya mau keluar pula.
    terpaksa musti sabar nunggu pulang ntar malam deh.
    mau komen soal ilustrasinya, suhu. foto anak-anak itu obyeknya siapa? keren loh fiksi pake ilustrasi. boljug nih, suhu.

    oke, deh, sampai ntar malam, jerami 4!
    berangkat doloo….

    ==================
    to marshmallow

    makasih pujiannya. itu foto-foto keponakan saya:mrgreen:
    boljug = boleh juga?
    Saya tambahin ilustrasi seadanya dan sebisanya saja, soalnya terasa hambar juga tanpa ilustrasi

  5. Desember 18, 2008 pukul 10:57 pm

    kasihan muji.
    duh, ini cerita mesti jadi novel deh, suhu.
    biarkan saja intriknya berkembang hingga jadi prosa yang panjang, setelah itu bukukan! wah, pasti bakal bagus banget!
    cerita genre horor memang musti kuat deskripsinya, seperti cerbung jerami ini.
    ditunggu kelanjutannya, suhu.

    ===========================
    to marshmallow

    I’ll try, maam..
    Tak usah kasihan dengan Muji, ia hanya salah satu karakter yang muncul, lalu kemudian hilang tertelan lendir misterius itu. Seperti Hardi. Mungkin Muji anak yang baik, tapi, sekali lagi ini cuma sebuah karakter fiktif.
    Thans untuk supportnya.

  6. Desember 19, 2008 pukul 12:07 am

    Ass.

    Hingga Jerami (4) sudah 2 korban terbunuh. Tokoh Muji bisa saja tidak mati, tapi menghilang bersama sesuatu yang berlendir, atau memang benar-benar tewas.

    Pembunuhan pertama dengan cara konvensional, tapi pelakunya yang belum begitu jelas. Kematian kedua, cara yang aneh dan tidak biasa, entah nanti jika ditemukan jasadnya.

    Alur yang lebar dalam bercerita, banyak karakter … ditunggu kelanjutannya.

    Wass.

    =====================
    to HE.Benyamine

    Silakan menduga dan berhipotesis
    Alur, dan juga konflik-intrik akan saya coba buat sedikit rumit, supaya seperti cerita-cerita panjang dan bersambung dalam film/cerita serial biasanya. Maafkan jika harus mengikuti cerita yang berbelit dan harus merangkai setiap potongan untuk berhipotesis. Sedikit menguras otak. Maklum, baru coba belajar bikin yang seperti ini. Saya tidak tau nanti apakah hasil akhirnya akan mengecewakan, atau bisa memuaskan pembaca. Wass…

  7. Desember 19, 2008 pukul 1:52 am

    ketika Indera keenam berbicara, terkadang kita harus jungkir balik untuk memahaminya
    Si Acin dan Mak antung, mungkin mereka sudah melebur dengan alam,

    seperti Pak marshmallow, cerbung ber-image keren juga, mungkin bisa dijadikan trade-mark untuk cerita Bapak.

    =======================
    to namakuananda

    Yap, maafken jika harus membuat sohibku ini harus membuat dugaan-dugaan di dalam benak. Barangkali, Mak Antung dan Acin sudah melebur dengan alam…. just wait….apakah benar demikian?

    Cerbung berimage menjadi trade mark saya… ah, saya akan usahakan deh😉

  8. Desember 19, 2008 pukul 1:35 pm

    Sudah membaca Harimau-Harimau karya Mochtar Lubis kan Pak? Agaknya Pak Suhadi punya bakat dan napas panjang dalam merangkai cerita: misteri, berdarah-darah, dan penuh eksistensial.

    maju terus pak Suhadi….

  9. Desember 20, 2008 pukul 8:38 am

    Waduhh makin penasaran pak…..jadi ingat di Kalimantan ada tanaman yang bisa memakan (menghisap orang)…benarkah? Mirip kantong semar, yang menghisap serangga?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: