Beranda > cerpen > Jerami (3)

Jerami (3)


muji-jeramiAuthor: Suhadi

 

Baca dulu Jerami (1), atau Jerami (2)?

 

Danan melangkah lebih cepat. Ia ingin goreng pisang dan goreng ubi buatan isterinya itu sampai dalam keadaan hangat. Pasti Harti menyukainya. Dari kejauhan, rumah almarhumah ibunya yang juga rumah Hardi dan Harti, adik-adik tirinya itu sudah terlihat. Tampak banyak orang berkerumun di sekitar pekarangan. Muncul banyak tanda tanya di hati suami Pinah itu. Ada apa lagi ini? Apakah Hardi, adik tirinya itu kembali memukuli Harti, hingga babak belur seperti beberapa hari yang lalu? Hardi memang keterlaluan. Serta merta menyesak rasa kasihan Danan pada Harti, bercampur aduk letup amarah pada Hardi. Semoga Harti baik-baik saja, harap Danan. Ia terus melangkah. Suara sandalnya beradu dengan kerikil pekarangan. Menimbulkan bunyi berkerik-kerik kerikil tergilas. Belum sampai di halaman, beberapa tetangga yang melihatnya muncul segera memanggil dan menyambangi.

 

“Danan, cepat! Hardi… Hardi….!”, wajah orang itu tampak tegang. Begitu juga yang lainnya. Sebagian seperti berbisik-bisik. Lelaki tetangganya itu menarik lengan Danan. Ingin menunjukkan sesuatu.

 

“Kenapa? Apa lagi yang dilakukan anak itu..? Memukuli Harti lagi? Keparat Hardi!”, jari-jari tangan Danan mengepal. Amarahnya meledak. Keterlaluan Hardi, ini sudah yang kesekian ia memukuli Harti. Beberapa hari yang lalu Harti babak belur dihajar kakaknya. Harti memang bukan gadis yang terlahir normal. Ia terbelakang mental. Sepertinya pemuda tujuhbelas tahun itu malu dengan kondisi adiknya.

 

“Bukan, Danan. Hardi tewas! Hardi dibunuh orang!”

 

“Apa…?!?!?!” Danan terperangah. Laki-laki itu kaget bukan kepalang. Bagaikan disambar petir di siang bolong.

 

Orang-orang segera menunjukkan halaman belakang. Danan melongo. Mayat Hardi dalam kondisi mengenaskan. Perut robek dengan usus terburai. Belum lagi luka berukuran besar dan menganga di sekujur tubuhnya. Lengannya hampir putus. Bercak-bercak darah di mana-mana. Di atas tanah, di atas daun-daun nangka dan jambu air yang luruh. Sementara tubuh tak bernyawa itu, tertelentang di depan pintu dapur yang sekaligus menjadi lumbung padi itu. Kondisi dan posisi mayat Hardi jelas mengesankan pergulatan dengan malaikat maut. Mata melotot dengan mulut menganga lebar. Tubuhnya dingin kaku. Hardi pasti meregang nyawa dengan penuh kepayahan.

 

Beberapa tetangga menenangkan Danan. Laki-laki itu benar-benar shock. Ia tersandar di dinding rumah bagian dapur. Tapi kemudian segera dapat bangkit karena teringat Harti, adik tirinya yang terbelakang mental itu. Danan dan beberapa orang masuk ke bagian dalam rumah. Cipratan darah dilangkahi mereka dengan perasaan bergidik ngeri. Danan memanggil-manggil adik tirinya.

 

“Harti….. Harti………..”, tak ada sahutan.

 

Orang-orang masuk lebih jauh ke dalam rumah. Semua pintu dan jendela yang masih tertutup kemudian di buka. Cahaya matahari pukul sembilan lewat tiga puluh masuk menerangi semua bagian. Harti tak diketemukan. Saat hati Danan sudah sangat kebat-kebit akan keselamatan Harti, beberapa orang memanggil dan mengatakan bahwa mereka menemukan Harti.

 

“Harti di sini! Dia baik-baik saja sepertinya, Danan”, terdengar suara dari arah dapur yang tadi dilewatinya.

 

Danan bergegas menuju bagian belakang. Menuju dapur yang sekaligus menjadi lumbung padi itu. Mereka menemukan Harti duduk meringkuk di antara karung-karung gabah. Dia duduk bersimpuh dan agak terlindung karung-karung yang tingginya hampir menyentuh atap itu. Danan mencoba menyadarkan Harti yang seperti berada dalam dunianya sendiri. Ia tidak merespon sama sekali terhadap Danan. Tak pernah ia seperti itu pada Danan. Mulutnya monyong berkomat-kamit. Ia seperti mengigau. Danan membenahi rambut Harti yang lurus sebahu tapi acak-acakan. Mata Harti seperti menyiratkan sesuatu. Tapi Danan sama sekali tak menyadarinya. Dan lebih dari itu, ada sesuatu yang aneh dengan mata sipitnya yang seperti orang ras mongoloid itu. Kulit dan bola mata gadis terbelakang mental itu jauh lebih pucat dari biasanya. Pupilnya kecil.

 

***

 

Sementara Danan, Pinah yang datang kemudian, dan beberapa tetangga menenangkan Harti, beberapa warga melaporkan kejadian itu kepada polisi dan kepala desa. Pak Kades dan aparat desa beberapa saat kemudian segera berdatangan. Mereka tiba bersama dua orang polisi. Pakaian seragam memudahkan pekerjaan kedua polisi itu. Orang-orang menggerombol, menonton dari jarak yang agak jauh. Mereka telah diwanti-wanti agar tak menginjak lagi pekarangan sekitar mayat Hardi. Pekarangan belakang dan rumah itu telah dipasangi pita plastik yang berwarna kuning cerah. Terbaca sangat jelas tulisan berwarna hitam di atas pita plastik itu: GARIS POLISI, DILARANG MELINTASI. Dari kedua polisi, seorang yang lebih muda memotret semua hal yang barangkali bisa menjadi petunjuk untuk melacak kasus pembunuhan Hardi. Wajahnya yang simpatik, geraknya yang enerjik, plus aksinya memainkan kamera digital semakin menarik perhatian warga.

 

Seorang lagi, polisi yang lebih tua menanyai beberapa tetangga. Barangkali mengetahui sesuatu ang mencurigakan tadi malam. Tapi tak ada yang mendengar apa-apa. Tak juga terungkap bila Hardi punya masalah dengan seseorang yang punya motif untuk membunuhnya, kecuali Danan. Tapi polisi berperawakan gempal karena kurang olahraga itu tak terlalu menganggap Danan sebagai calon tersangka penting. Instingnya tak mengatakan itu. Ia percaya dengan kata-kata Danan, bahwa ia dan Pinah ada di rumah tadi malam. Mereka tidak keluar rumah sama sekali. Sampai detik ini tak ada seorangpun yang pantas dicurigai sebagai pembunuh Hardi. Walaupun demikian, Pak Darto, polisi berkumis itu tetap mencatatnya di buku kecil yang kemudian dengan segera dimasukkan ke dalam saku bajunya.

 

Junaidi, polisi muda yang cekatan itu baru saja selesai merekam semua petunjuk yang mungkin berguna. Dia telah mengambil banyak gambar. Ia juga melengkapinya dengan deskripsi selengkap-lengkapnya dengan menggunakan perekam suara. Ia merekam suaranya sendiri, yang merupakan hasil inferensi atas apa-apa yang telah diamatinya. Pak Darto kemudian mendekati rekannya itu.

 

“Bagaimana menurutmu?”, Pak Darto bertanya pada Junaidi.

 

“Sadis. Korban dibacok saat berdiri di ambang pintu itu. Lalu jatuh terguling ke tanah. Saat meregang nyawa, sang pembunuhnya terus-menerus menghantamkan senjata tajamnya. Mungkin parang atau golok. Tapi saya kurang yakin. Sungguh sebuah pembunuhan yang sangat kejam. Pasti pelakunya berdarah dingin. O ya, lihat ini, Pak!” Junaidi menunjukkan sebuah kantong plastik kecil. Ia telah memasukkan beberapa helai arang jerami yang banyak bertebaran di sekitar lokasi pembunuhan. Ia menemukannya di halaman dan juga di dalam lumbung dekat pintu.

 

Pak Darto mengamati arang jerami itu. Ia mengamati dengan seksama. Sedikit bingung polisi bertubuh gempal itu, apakah arang jerami itu ada kaitannya dengan pembunuhan Hardi, akhirnya ia bertanya. “Menurutmu ada kaitannya? Aku tak begitu yakin, Jun.”

 

“Kemungkinan ada kaitannya sangat kecil. Tapi, saya banyak menemukannya di TKP. Jadi, tak ada salahnya barangkali kalau saya pungut.”

 

Pak Darto mengangguk, setuju. “Bagus! Kau cepat belajar, Jun. Sudah kau ambil foto-foto di bagian dalam lumbung?”

 

“Sudah, Pak.” Jawab polisi muda itu kemudian dengan mantap.

 

***

 

Muji, salah satu anak lelaki yang bermain di sawah yang baru selesai dipanen itu menghentikan larinya mengejar bola plastik. Dibiarkannya anak-anak lain merebut bola itu dari kelincahan kakinya yang telanjang tanpa sandal. Kakinya  melangkah perlahan di antara jerami. Sisa rumpun-rumpun padi yang telah diarit saat panen beberapa hari yang lalu itu masih berwarna kehijauan. Ia melewati anak-anak perempuan yang bermain ular naga. Anak-anak perempuan itu masih mengitari jerami basah yang terbakar dan mengepulkan asap. Rupanya ada sembilan anak perempuan, tapi kesemuanya tak ada yang memperhatikan Muji. Mereka sepertinya begitu menikmati bau asap jerami. Seperti terbius.

 

Muji berlalu dari teman-temannya. Ia bukan kelelahan. Ia seakan mendengar sesuatu. Ada suara yang sepertinya memanggil-manggil, jauh di dalam batok kepalanya. Menimbulkan getaran-getaran di gendang telinganya. Mata Muji menatap ke suatu arah. Pupil matanya yang kecil sekejap membesar. Warna pucat bola mata tertelan pupil yang melebar. Menjadi hitam legam, seutuhnya. Hingga mata Muji seakan seperti lorong bulat yang sangat gelap pekat. Muji seperti sedang menatap hutan beringin di tepi desa. Ke sana, ………. atau dari sanalah suara yang menggedor-gedor gendang telinganya dari dalam batok kepalanya itu bersumber. Suara panggilan itu makin keras. Ia melangkah. Tak ada pikiran apa-apa di benaknya, kecuali sesegeranya menuju arah suara tersebut. Dan, sepertinya hanya Muji seorang yang mendengar suara-suara ganjil itu. Perlahan tapi pasti, Muji meninggalkan kawan-kawannya. Melangkah menuju hutan beringin di tepi desa. Kulit dan bola matanya yang pucat, pupil yang kecil dan padu latar suasana anak-anak berpenampilan serupa Muji di belakangnya, akan membuat siapa saja yang melihat kejadian itu seperti sedang berada entah di dunia mana.

 

(Bersambung…………Jerami 4)

  1. Desember 12, 2008 pukul 8:26 pm

    Makin asyik dan seru saja cerpennya, nih!!!
    Apa bisa belajar menulis cerpen, kalau bisa nanti ku datangi beklotok ke Danau Panggang dari Bajayau. he..he..hee

    =================
    to syam

    masih belajar, syams.
    kalau bagus ceritanya, alhamdulillah.. ha.ha… (ganal baju!)

    Silakan mampir, syams😀

  2. Desember 12, 2008 pukul 8:54 pm

    duh, makin bikin penasaran. deskripsinya kuat. saya bisa melihat bola mata si anak yang menghitam dan berubah tanpa pupil. saya bisa melihat harti penderita down syndrome yang berubah stupor karena syok atau entah apa. keren sekali!

    idenya dari mana sih, suhu? biasanya tuh si suhu nulis cerita berdasarkan pengalaman (mendekati) nyata. cool!

    mengenai investigasi polisi, saya kurang setuju (halah, pake protes) soal polisi yang masih mengandalkan intuisi dalam mengusut kasus, suhu. hmm… mungkin di beberapa kondisi masih begitu, walaupun rasanya tidak cocok lagi. praduga mustinya ditegakkan berdasarkan motif dan bukti, dan bukan intuisi semata. intuition can be deceiving, can’t it?

    *komen orang yang kebanyakan nonton serial dan baca novel kriminal*:mrgreen:

    ======================
    to marshmallow

    kamu benar, saya memang mau ngangkat salah satu tokoh yang menderita kelainan syndrome down. Ha..ha.. tau aja kamu. Eh, nanti koreksi ya kalau aku salah nulisnya bila ditinjau dari sudut pandang dunia kedokteran.. please, jangan sungkan-sungkan. I love your comments!

  3. Desember 12, 2008 pukul 8:58 pm

    eh, blognya ganti theme, euy! atau saya yang baru ngeh?
    lagian saya udah ketinggalan dua tulisan lain nih kayaknya.

    (kali ini komen orang yang jalan-jalan mulu, jarang ngeblog:mrgreen: )

    ======================
    to marshmallow

    memang baru.
    Jalan-jalan kan memang sudah hobinya mas melo, selain makan-makan dan fotografi tentu saja😉

  4. Desember 13, 2008 pukul 4:33 am

    Wah, mesti baca Jerami #1 dan Jerami #2 dulu ya…
    Baiklah… Baiklah…

    (Eh, theme-nya baru rupanya)
    (Trus itu orang yang di atasku kok jalan-jalan mulu sih! Nggak ada kerjaan ya?
    Hihi).

    ========================
    to DM

    bener mau baca?
    Ini bukan cerita hantu lho..
    saya coba alihkan ke fiksi sain. Coba-coba saja. Bosen juga hantu muluuu..
    themenya baru, mudah-mudahan suka. Masih pingin yang minimalis nih biar mudah loadingnya. Maklum, koneksi di sini pakai gprs dan lemut banget kaya siput.😀
    Marshmallow memang hobinya jalan-jalan kan DM😉

  5. Desember 13, 2008 pukul 9:57 am

    Menunggu Jerami 4 …

    ======================
    to pak ersis warmansyah abbas

    makasih supportnya , pak
    selamat menunggu…….

  6. Desember 13, 2008 pukul 10:54 am

    ceritanya merkyat..seneng bacanya..hehe
    ditunggu kelanjtannya, walopun aQ bc sebelumnya..hik..hik..makasih jg udah mampir ke blogQ…salam kenal

    ==================
    to sarahtidaksendiri

    thanks sarah, salam kenal juga.

  7. Desember 13, 2008 pukul 12:33 pm

    Wahh Marsmallow komentarnya khas dokter….
    Bener nih pak, makin penasaran……

    to bu edratna

    Iya bu, khas marshmallow. Dasar dokter, he..he..
    Kalau penasaran, silakan tunggu kelanjutannya ya, bu

  8. Desember 13, 2008 pukul 6:39 pm

    Pak, Sound effectnya agak dikencengin sedikit biar agak gimana gitu…

    setting cahaya agak soft ditambah asap buatan, trus, spot lamp yang di belakang di shot ke arah Muji.
    🙂 jadi kek syuting beneran

    ======================
    to namaku ananda

    thanks untuk supportnya🙂

  9. Desember 13, 2008 pukul 11:09 pm

    kisahnya makin menarik, pak suhadi, jerima ke-4-nya sudah penasaran ingin saya baca, hehehe …. selubung kematian hardi dalam kisah ini kan belum terungkap juga toh, pak. wah, rupanya pak suhadi mulai makin mengakrabi darah dan kekerasan dalam fiksi, hehehe …. salam krwatif, pak.

    ==================
    to pak sawali tuhusetya

    terimakasih pujiannya pak, mengakrabi darah dan kekerasan… ha..ha.. kebetulan saja ada interest ke ranah ini pak.

  10. Desember 14, 2008 pukul 4:10 am

    apakah ini tetralogi jerami😀 menunggu yg ke 4 saja deh

    ===================
    to mantan kyai

    mantan kyai bisa saja😀 Tunggu aja yah.😉

  11. Desember 14, 2008 pukul 2:46 pm

    Wah, tulisannya Pak Guru IPA tapi nyaingi Guru Bahasa sejenis Pak Sawali. Salutlah. Saya juga pengin seperti ini tapi ndak bisa2.
    Sukses Mas Suhadi…

    =================
    to marsudiyanto

    ah, bapak bisa saja. Ini juga belajar pak. Dulunya saya juga gak pede nampilin tulisan. Saya terinspirasi oleh pak sawali. Belajar nulis juga..😉

  12. Desember 16, 2008 pukul 9:12 am

    wahh di tunggu sambunganya

    =================
    to zoel

    makasih zoel, tunggu ya, bentar lagi direlease…😉

  13. Desember 16, 2008 pukul 9:26 am

    Salam gabung pak guru,,,,,

    =============
    to prameswari

    wuih, silakan mbak prameswari. Anggap rumah sendiri… Bu dokter yang sering ke penganyam kata ya ini?😀

  14. Desember 16, 2008 pukul 6:36 pm

    Kirain dah ada; belum ya. Ok sabar

    =================
    to pak ersis wa

    sori, agak telat jerami 4nya. tapi sudah tayang kok pak😉

  15. borneojarjua2008
    Desember 16, 2008 pukul 6:42 pm

    Ass.

    Salam untuk sebuah pembuka silaturahmi.

    Baru mau baca … Jerami 4 ditunggu.

    ====================
    to borneojua2008

    waalaikum salam..
    silakan..😀

    Wass.

  16. Desember 16, 2008 pukul 8:53 pm

    Dah edisi 3 rupanya…apa kbr?

    ===================
    to harie

    wah, dah pakai domain baru ya…😀
    iya nih dah jalan 3, eh 4
    Kabar baik mas harie

  1. Desember 12, 2008 pukul 8:05 pm
  2. Desember 17, 2008 pukul 6:41 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: