Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Motivasi Belajar—Buat Siswa Tertantang

Motivasi Belajar—Buat Siswa Tertantang


Author : Suhadi

 

Kalau sudah tertantang, rasanya panas di dada. Harus bisa! Harus berhasil! Harus dapat skor tertinggi! Harus menang! Harus menguasi keterampilan itu! Harus…….! Timbul semangat baru untuk berupaya belajar lebih keras. Pernahkah guru Anda waktu di sekolah dulu membuat Anda merasa tertantang?

 

Begitulah, akan bergejolak rasa di dada setiap siswa yang merasa tertantang oleh pembelajaran seorang guru yang pandai melibatkan emosi siswa. Guru harus cerdas membuat seluruh siswanya merasa tertantang. Guru harus pandai memunculkan “rasa gatal”, “rasa tergelitik”, “rasa penasaran”, dan memicu siswa untuk berusaha berpikir kembali, mengutak-atik materi ajar dan tugas belajar dengan cara baru.

 

Berbagai langkah dapat dilakukan guru untuk membuat mereka merasa tertantang untuk bisa, tertantang untuk berhasil, tertantang untuk mendapat skor tertinggi, tertantang untuk menguasai suatu keterampilan, tertantang untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh guru. Misalnya, guru dapat menyodorkan isu-isu yang bersifat kontroversi. Bisa juga dilakukan dengan membuat argumen-argumen yang berlawanan dengan teori yang diakui, tetapi argumen-argumen yang dibuat oleh guru tersebut harus tampak logis di mata siswa. Sebaga bumbu, guru juga memberikan pertanyaan-pertanyaan pertanyaan-pertanyaan pengarah, dan atau pertanyaan-pertanyaan penguji. Dengan cara ini, secara serta merta siswa biasanya akan tertantang untuk menyanggah argumen guru, dan atau mempertahankan teori yang menurut mereka benar.

 

Cara ini bisa saja membuat siswa menjadi ragu sesaat, dan akhirnya mereka akan mencoba mengkaji ulang. Proses kaji ulang ini sangat baik dan penting dalam pembelajaran yang konstruktif bagi proses berpikir siswa. Sebuah konsep, prinsip, teori, atau hukum akhirnya akan dielaborasi secara mendalam oleh siswa. Akan ada tahap ketidakseimbangan (disekuilibrum) menuju tahap keseimbangan (ekuilibrum), sesuai dengan prinsip konstruktivisme sebuah pembelajaran. Umpan berupa isu yang bersifat kontroversi, argumen-argumen yang sekilas tampak logis tapi bertentangan dengan teori akan melatih keterampilan dan kemampuan berpikir kritis siswa. Terpenting, berlangsung secara alamiah tanpa paksaan karena siswa merasa tertantang dan muncul dari dalam diri mereka sendiri.

 

Cara lain yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan memberikan tugas dengan sedikit divariasi dari versi sebelumnya yang telah siswa kuasai. Tugas atau keterampilan diberikan pada level sedikit lebih tinggi tingkat kesulitan atau kerumitannya. Tugas dan keterampilan di sini dapat berupa aktivitas fisik maupun aktivitas mental, ataupun variasi keduanya. Bisa juga dengan mengaitkan tugas tersebut dengan tugas atau keterampilan lama (dari materi ajar sebelumnya: bulan lalu, semester lalu, tahun lalu) yang telah mereka kuasai. Kemudian beri kesempatan kepada siswa untuk “mempertontonkan” hasil upaya belajarnya dalam bentuk “cara mudah”, atau “hasil pemikiran kreatif” mereka kepada seluruh kelas.

 

Pemberian kata-kata penyemangat, dan atau pemberian nilai tambahan pada siswa yang berhasil menyelesaikan suatu tugas atau soal latihan tertentu dengan cepat dan tepat juga dapat memicu munculnya rasa tertantang dalam diri siswa. Walaupun demikian, cara-cara seperti yang disebutkan terakhir ini sebaiknya tidak terlalu sering dilakukan. Cara yang terakhir ini hanya sebagai variasi lain dalam pembelajaran untuk membuat siswa membuat merasa tertantang terhadap pembelajaran yang dilangsungkan oleh guru.

About these ads
  1. Desember 9, 2008 pukul 9:22 pm | #1

    apa contohnya kata-kata penyemangt itu pak ?

    ================
    to imoe

    yah, imoe… kamu paling bisa deh.
    sebagai orang yang dekat dengan anak-anak bermasalah, atau dihadapkan pada masalah, kamu pasti sangat mengerti soal ini.

    Btw, dalam pembelajaran di kelas, bolehlah saya beri sedikit contoh:
    “Andi, kamu sebenarnya anak yang pintar…..saya yakin kamu pasti dalam tempo 2 menit bisa mengerjakan soal ini. Coba saja..”

  2. Desember 9, 2008 pukul 11:42 pm | #2

    nah, ini dia yang sebenarnya paling dibutuhkan siswa pak.
    dikala siswa bosan atau jenuh. mereka butuh tantangan agar semangat lagi

    ====================
    to catra

    yup cat, semua orang, pada hakikatnya perlu tantangan agar bersemangat. :D

  3. Desember 10, 2008 pukul 6:52 am | #3

    Ada beberapa Guru yang bisa jadi motivator siswa, dan bagi Guru seperti ini, materi pelajaranannya akan lebih mudah dicerna oleh siswa….

    ==============
    to bu edratna

    betul, bu.
    tapi, karena ini adalah keterampilan, jadi semua guru sebenarnya bisa melatihkannya. Asal mau belajar dan berusaha.

  4. heri
    Desember 10, 2008 pukul 11:18 am | #4

    mampir dulu pak :)

    ===============
    to heri

    monggo, please sit down..
    mau minum, ambil ndiri.. :mrgreen:

  5. Desember 10, 2008 pukul 1:55 pm | #5

    Benar nih, Bang Suhadi! Siswa khususnya di daerah terpencil harus lebih “ditantang” dalam belajar. Keterbatasan sarana dan prasarana kadang membuat mereka minder dan kecil hati. Belum lagi masalah kehadiran guru yang kurang maksimal karena jauhnya domisili.

    Teknik pembelajaran dengan menantant siswa untuk berpikir sepertinya perlu banyaka dibahas dalam penataran, workshop, PPL, kuliah para calon guru.

    BTW: Template baru, nih..lebih kinclong dan fresh…

    =========================
    to syams

    betul, syams.
    Harusnya pelatihan lebih banyak ke arah itu ya..

    template baru: betul. Tapi masih tetap yang minimalis, soalnya akses internet dengan gprs di sini lemut sekali. Jadi gak berat diloading.

  6. Desember 10, 2008 pukul 1:57 pm | #6

    Maaf, sekali lagi mau comment!

    Trims telah memasukan blog saya dalam daftar “Blogger Keren”. Setelah lama ditunggu-tunggu akhirnya datang juga!.

    Gimana kabar blogger HSU / Amuntai. Siapa tahu Bang Suhadi mau ikut acara kopi darat dengan komunitas blogger pahuluan, kami tunggu di kandangan, lah! Atau suatu saat nanti kami adakan acara kopi darat dan roadshow ke Amuntai.

    ===============
    to syams

    kopdar? mau.. kapan?
    roadshow ke amuntai, boleh juga tuh! di amuntai saya tak kenal banyak blogger. Ada sih satu dua, tapi gak terlalu aktif.

  7. ladangkata
    Desember 10, 2008 pukul 4:01 pm | #7

    pak mohon pencerahan…
    di dalam kelas, ketika melontarkan issue yang kontroversi untuk memancing motivasi siswa, apakah sang guru sebagai motivator boleh mengungkapkan opininya sendiri? dan itu berarti membenarkan atau menyalahkan pendapat siswa?

    terima kasih pak…

    ===============
    to ladangkata

    menurut saya ini tergantung hal yang sedang didiskusikan. Ada hal-hal tertentu yang memungkinkan terdapat banyak jawaban suatu permasalahan. Misalnya tentang nilai rasa dan keindahan sebuah puisi, atau pemecahan suatu masalah (kan ada banyak alternatif biasanya). Jadi semua boleh berpendapat.

    Guru boleh saja menyalahkan siswa, yang memang salah. Tapi tentu dengan cara yang bijak, yang tak mengakibatkan siswa jadi takut untuk berpendapat di kemudian waktu.

  8. Desember 10, 2008 pukul 4:02 pm | #8

    Bagusnya para guru ikut mbaca ini ….. Diatas untuk di sekolah.. Kalo di rumah, apa yang dapat dilakukan tepatnya agar siswa/siswi termotivasi untuk itu pak?…. Mungkin ada cara2 yang lebih “innovative ???

    ====================
    to rita

    banyak, bu. Salah satu yang sangat penting adalah perhatian orang tua terhadap proses dan hasil belajar putera-puterinya. Di rumah, kan orang tua bisa menanyakan apakah ada tugas atau pr dari sekolah. Trus diskusi tentang materi pelajaran, tentang guru, dsb.
    Saya yakin, ibu rita orang tua yang baik dalam hal ini.

  9. Desember 10, 2008 pukul 6:28 pm | #9

    Ya pak Suhadi, teruskan usaha yang baik ini, pasti akan berbuah dengan baik dan dahsyat…

    ====================
    to andi sugiarto

    wah, makasih pak andi untuk supportnya.

  10. Desember 10, 2008 pukul 8:23 pm | #10

    pendekatan yang bagus juga nih, pak suhadi. memang bukan hal yang mudha utk membangkitkan motivasi siswa pada masa sekarang ini. tantangan anak2 di tengah masyarakat sekitar begitu luas dan kompleks. dalam kondisi seperti ini memang benar apa yang disampaikan pak suhadi. berikan tantangan yang memotivasi mereka utk tampil percaya diri.

    ==================
    to pak sawali tuhusetya

    yup, bener pak. Mari berjuang memotivasi siswa kita. Mudah-mudahan pendidikan di negeri ini bisa semakin maju.

  11. Desember 10, 2008 pukul 9:24 pm | #11

    Saya suka buanget ama guru yang “nyleneh” itu, pernyataan2 (bukan pertanyaan) jebakan dan sedikit menepi di bahu jalan cukup enak untuk sekedar melepas ketegangan, sekali-kali bolehlah di jalur cepat, tapi awas, tidak semua anak suka di jalur ini

    dan memang benar, pertanyaan2 yang sering saya ajukan dalam uji kopentensi siswa SMK cenderung induktif. Biar siswa tambah keringetan, just kidding :-)

    ===============
    tapi nyleneh di sini dalam arti positif kan? ;)

  12. Desember 10, 2008 pukul 9:40 pm | #12

    wah bener bangets… secara saya juga pengajar, cuma kalau dipanggil kakak guru..

    memang uniq dan seru mengajar itu, kita tau perkembangan anak hingga perubahan mereka juga kita bisa tau.

    selain pendekatan secara phikolog itu perlu hingga kita tau sela orang yang kita ajar tersebut. kata-kata membangkitkan memang sangat perlu dan akan membangun semangat orang yang diajar…

    ok deh pak guru….. selamat mengajar en posting terus tulisan berharga pak guru yaaa…..

    salam
    dj martha

    =================
    thanks, dj martha

  13. Desember 11, 2008 pukul 12:39 pm | #13

    setuju Pak, motivasi terkadang memang diperlukan, ada anak yang pinter tapi karena kurang motivasi jadi minder

    http://hmcahyo.wordpress.com/2008/12/11/ibsn%e2%80%99s-first-e-book-beta-version-mohon-masukan/

    ================
    yup, bener sekali pak. Rasa percaya diri adalah salah satu faktor penting juga.

  14. Desember 11, 2008 pukul 6:31 pm | #14

    semoga pak suhadi termasuk guru yang mampu memotipasi … berjuang :D

    =============
    amin-amin amin………… ;)

  15. Desember 12, 2008 pukul 9:21 pm | #15

    saya tertarik menyimak komentar pak syams soal keterbatasan sarana dan fasilitas belajar di daerah-daerah tertentu. keterbatasan membuat pendidik musti lebih kreatif untuk merangsang motivasi belajar siswa, sehingga tak heran bila guru-guru di daerah terpencil jadi lebih ahli bereksperimen dan berkreasi dengan metode mengajar, tanpa mengecilkan kemampuan guru-guru di sekolah yang lengkap fasilitas.

    menantang keingintahuan dan semangat siswa memang bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti contoh-contoh di atas. tinggal bagaimana menerapkannya. usaha lebih mungkin bakal diperlukan di kelas yang melempem, yang afdar alias afeknya datar saja biar ditantang bagaimana pun. suhu punya pengalaman dengan passive class yang bisa dibagi, berikut trouble shooting-nya?

    ======================
    to marshmallow

    menyenangkan diskusi tentang pembelajaran di kelas dengan kamu.
    Kelas pasif dan trouble shootingnya? Wew, nanti saya coba nulis ya..

  16. Desember 14, 2008 pukul 4:33 pm | #16

    Makasih atas tanggapan dan “anggapannya” pak guru :D

    =================
    to rita

    sama-sama bu, wah, dari postingan-postingan ibu, saya tau ibu orang tua yang baik :D

  17. Desember 21, 2008 pukul 10:43 pm | #17

    bagus sekli tulisan ini. Bagaiamana memotivasi siswa dalam belajar.
    Kunjungi : http://wijayalabs.wordpress.com

  18. Februari 1, 2009 pukul 7:42 pm | #18

    Bisa jadi pencerahan bagi saya dalam proses pembelajaran di daerah pinggiran

  19. Erna Yulida
    Februari 7, 2009 pukul 3:41 pm | #19

    Pak, tanya..
    Gimana caranya memotivasi temen yang g mau dimotivasi?
    Dalam sudut pandang siswa?
    Thanks pak.

  20. Atmah
    Juni 18, 2009 pukul 11:20 pm | #20

    Wah, hebat! Lanjutkan……..
    Sekarang aku semakin yakin bahwa jika ada masalah dalam hasil belajar anak, pasti ada masalah proses belajarnya. Selama ini yang ku dengar, guru merasa sudah melakukan segalanya untuk anak, jadi jika hasil belajar anak jelek itu karena anaknya saja yang malas belajar. Tapi…….. kalau aku rasa, sering tuh guru sudah selesai mengajar tapi siswanya belum juga belajar. Anaknya tidak memiliki motivasi, itu alasannya.Bukannya lebih tepat gurunya yang belum dapat memotivasi siswa?????

  1. Desember 19, 2008 pukul 3:56 pm | #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: