Beranda > cerpen > Jerami (2)

Jerami (2)


anak-jeramiAuthor: Suhadi

 

Baca dulu Jerami (1)?

 

Pagi hari di Desa Sisir Punduk. Matahari dengan sinarnya yang kuning keemasan telah memandikan seluruh sudut-sudutnya. Bola raksasa itu muncul dari sela-sela Pegunungan Meratus. Seperti keluar begitu saja dari depan layar lebar langit di timur desa. Kampung yang terpencil di daerah aliran Sungai Kali Negara itu mengeliat. Bangun dari tidur pulasnya semalam. Penduduknya kini mulai disibukkan oleh rutinitas seperti memberi makan unggas peliharaan, membelah kayu bakar, menjemur gabah yang baru dipanen, atau sibuk menanak nasi dan menjerang air untuk sarapan di pagi hari.

 

Di sebuah rumah yang asri dan cukup bagus, Pinah, perempuan berumur separuh baya itu memanggil-manggil suaminya. Ia berteriak-teriak hingga urat lehernya menegang. “Kak Danan……………! Kak…………!”

 

Tak ada sahutan.

 

Sembari mengusap keringat yang berlelehan di pelipis dan dahinya karena panas terdiang di perapian tungku masak, perempuan itu bersungut-sungut. Kesal karena yang dipanggil tak menyahut. Diulangnya lagi panggilan itu dengan lebih keras. “Kak…….! Kak Danan…!!!!

 

Tetap tak ada sahutan.

 

Pasti suami Pinah yang pemalas itu masih meringkuk bersarung di dalam kelambu. Diteruskannya saja pekerjaannya. Tapi tetap dengan mulut menggerutu tak tentu dan bibir bersungut-sungut. Pinah membuat teh manis, goreng pisang dan goreng ubi. Setelah menyelesaikan pekerjaan dapur, dengan tangkas ia pergi ke kandang ayam. Memberi makan ternak peliharaan itu dengan dedak dan sisa remah dapur tadi malam. Perempuan berkulit gelap, khas wanita pekerja keras desa itu kini telah menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya Pinah di masa gadisnya adalah kembang desa. Wajahnya molek dan cantik. Bibirnya berbelah tengah. Lalu, rambut ikal mayang dan lesung pipi kecil menyempurnakannya.

 

Pinah memanggil-manggil suaminya kembali. Danan tetap tak menyahut. Pinah mengambil segayung air dari tempat cuci piring. Ia menuju kamar. “Bangun, Kak…! Sudah siang. Matahari sudah tinggi. Nanti habis rejeki kita dimakan burung, dipatuk ayam.” Pinah mencubit bahu lelaki yang meringkuk di dalam kelambu itu. 

 

“Aahhh…………” Danan menepiskan tangan Pinah. “Sebentar lagi, masih mengantuk Kakak.” Danan membalikkan tubuhnya, memunggungi Pinah.

 

“Dasar pemalas…!” Pinah memerciki wajah Danan dengan air dari dalam gayung. Perempuan itu menjentik-jentikkan jemarinya yang telah dicelupkan ke dalam gayung. Terstimulasi oleh sejuknya air percikan itu, Danan menggeliat. Lelaki yang sudah menjadi suaminya puluhan tahun itu membuka mata perlahan dan memandang Pinah. Tersenyum. Pinah makin bersungut-sungut.

 

“Ayo, Kak. Sholat shubuh! Biarpun qada-an. Asal sholat. Mana mungkin Allah sayang dengan kita dan berkenan memberi anak kalau Kakak selalu bangun siang dan malas sholat begini.”

 

“Lah, apa hubungannya, Pinah?” Danan, bangkit dan duduk di tepi ranjang.

 

“Ya, ada pasti. Habis sholat berdoa, Kak! Minta supaya kita selalu dimurahkan rejeki, dikaruniani anak, dan mohon ampun kalau selama ini barangkali kita dianggap belum pantas olehNya memiliki anak.”

 

Kini sudah mulai mereda amarah Pinah. Bagaimanapun, Danan adalah suami yang baik. Hanya saja perkawinan mereka yang telah berpuluh tahun itu belum juga dikaruniai anak. Pernah Pinah menyuruh Danan untuk kawin lagi. Tapi lelaki itu sungguh mulia hatinya. Suaminya itu mengatakan kalau dia tidak akan kawin lagi. Danan tak akan membagi cintanya kepada wanita lain. Ada rasa sedih, bangga, dan kasihan pada diri Pinah terhadap Danan. Sudah hal yang lumrah bagi orang-orang desa macam Pinah, bila sebuah keluarga tak dikaruniai anak, cap mandul, lebih sering direkatkan pada sang isteri. Padahal bisa saja bukan sang isteri yang mandul, tapi sang suami. Ketiadaan keturunan seringkali dijadikan alasan gampang bagi sang suami untuk mencari isteri baru. Lalu begitulah, bagaimanapun pemalasnya suaminya itu akhir-akhir ini Pinah tetap mencintainya. Setiap teringat akan kerelaan suaminya terhadap perkawinan mereka yang belum mendapatkan keturunan itu, selalu dapat meluluhkan rasa kesal Pinah kalau Danan bermalas-malasan.

 

Danan berdiri diiringi tatapan Pinah. Ia kemudian pergi mengambil air wudhu yang sudah terlewat kesiangan untuk shalat shubuh. Barangkali tetangga-tetangga yang melihat akan mengira Danan ingin melaksanakan shalat dhuha. Selesai shalat, ia bergabung dengan Pinah di dapur. Mereka makan goreng pisang dan goreng ubi sembari menyeruput teh manis hangat.

 

“Kak, kalau sudah selesai nanti, antarkan goreng pisang dan goreng ubi itu buat Harti. Kasihan  dia. Kadang-kadang terbersit dipikiranku untuk mengajaknya tinggal di sini saja. Hardi terlalu kasar padanya. Anak itu semakin kurus saja sepeninggal ibu.” Pinah berkata dengan wajah serius. Suaminya menelitinya. Memastikan kata-kata Pinah itu memang tulus.

 

“Benarkah, Pinah? Kau mau kalau Harti dengan segala kekurangannya untuk tinggal di rumah kita?”

 

“Benar, Kak. Sungguh, aku suka.” Pinah menjawab, dan wajahnya benar-benar memancarkan ketulusan. Mau memelihara Harti, adik tiri Danan yang berlainan ayah itu untuk tinggal di rumah mereka.

 

“Terima kasih, Pinah. Kau sungguh baik. Nanti aku jemput Harti. Pasti dia senang sekali. Hardi tentu takkan menghalangi.” Danan mendekati Pinah. Ia kemudian mengecup kening isterinya yang telah dikawininya selama puluhan tahun itu. Tak salah kalau dulu ia memilih Pinah untuk menjadi istri.

 

***

 

Di bagian lain dari Desa Sisir Punduk, di pagi Minggu itu, segerombolan anak-anak sedang bermain-main di bekas sawah yang baru selesai di panen beberapa hari yang lalu. Sekitar tujuh anak laki-laki bermain bola kaki. Bola plastik itu ditendang ke kanan dan ke kiri hamparan sawah. Kalau dilihat dari atas, tampak satu titik kecil bulat, dikejar-kejar oleh tujuh titik lainnya yang berukuran lebih besar. Satu bola dikejar tujuh anak laki-laki. Masing-masing berusaha memasukkan bola plastik pada gawang kecil yang ditandai oleh batang ubi kayu. Tanpa kiper. Jumlah anggota kedua tim juga tak sama. Satu tim terdiri dari tiga anak, sedang tim yang satunya dengan empat anak. Di bagian tepi sawah, anak-anak perempuannya bermain ular naga. Mereka mengelilingi seonggok jerami basah yang mereka bakar. Mereka menikmati bau asapnya. Kesemua anak-anak itu. Sesekali terdengar tawa mereka. Jumlah mereka lebih banyak. Sepuluh barangkali, atau mungkin sembilan. Seperti permainan anak-anak desa lainnya, suasana menunjukkan keakraban dan kebersahajaan. Tetapi, kalau ditilik satu-satu dari tatap mata mereka, ada sesuatu yang aneh pada diri mereka. Bola mata mereka lebih pucat dari anak-anak lainnya. Pupilnya lebih kecil.

 

(Bersambung…………….Jerami 3)

Kategori:cerpen Tag:, ,
  1. Desember 5, 2008 pukul 7:35 pm

    baca dulu ya, suhu?
    udah lama nih ditunggu…

  2. Desember 5, 2008 pukul 7:37 pm

    wah saya harus sabar menunggu episode berikutnya nih wah menarik sekali dan bikin penasaran sambungannya pak
    eh tak lupa salam kangen dan salam hormat pak sukses dan sehat selalu

    ===================
    to genthokelir

    makasih.. sama-sama, salam kangen dan salam hormat, sukses dan sehat selalu..

  3. Desember 5, 2008 pukul 8:07 pm

    *ketakutan*

    serem banget deskripsi terakhir…
    duuhh… sebenarnya saya takut membayangkan paragraf tearkhir, sampe buru-buru ngabisin makanan dulu sebelum menyelesaikan bacanya, takut ada yang bikin gak sanggup nelan makanan. tapi saya gak sabar juga nih nunggu kelanjutannya.

    =================
    to marshmallow

    bisa saja😉

    jangan lama-lama rilis jerami(3) ya, suhu?

  4. Desember 5, 2008 pukul 8:31 pm

    iya niyyy bapak bikin serem aja…..tapi lanjutin ya…..

    =============
    to imoe

    pasti moe………😉

  5. Desember 5, 2008 pukul 9:38 pm

    ada angin berhembus semilir menerpa blogku.
    dan menulis, mas…. eh.. Pak … dan akhirnya aku langsung menuju kesini menemui sahabatku,

    aku akan dan slalu menunggu….
    jerami 3

    ( bersambung…. )

    ======================
    to namaku ananda

    sahabatku yang satu ini memang paling bisa………😀

  6. Desember 6, 2008 pukul 6:15 pm

    Saya tunggu terbitnya kumpulan cerpen atau novelnya pak Suhadi ya.. bagus pak!!

    ===================
    to andi sugiarto

    thanks, pak dokter.

  7. Desember 7, 2008 pukul 9:20 am

    yupp selesai juga baca nya

    =============
    to zoel chaniago

    wah, kepanjangan ya zoel?

  8. Desember 9, 2008 pukul 4:25 pm

    Waduh … beginilah penyakitkanya kalau bersambung, … ngak sabar menunggu tuntasnya

    ==============
    to pak ersis WA

    bener nih, pak?

  9. Norasiah9
    Desember 9, 2008 pukul 7:41 pm

    Satu penulis hebat telah lahir..congrotulation..maaf baru sekarang baca cerpen nya..

    ============
    to norasiah9

    thanks, pujiannya kelewat berat disandang, he..he…

  10. Achiem-Barabai
    Desember 13, 2008 pukul 4:32 pm

    terusin yach….
    salam dari temen2 U di brb

    ====================
    to achiem-barabai

    makasih, bro. pasti dilanjutin. Salam juga buat mereka😉

  11. Desember 14, 2008 pukul 10:12 pm

    Waduh, komenku di Jerami #2 kok nggak adaaa…

    ===============
    to DM

    wah, gak tau yang Mas DM, kok gak ada komennya. Keselip di spam juga gak tu.

  12. Januari 27, 2009 pukul 10:17 am

    Salam kenal, Dari guratan pena maya…Berjayalah sastrawan bumi banjar…

  13. April 6, 2009 pukul 6:32 pm

    Semakin dibaca, semakin ketagihan baca kelanjutannya. Tulisan pak Suhadi sangat kental, seakan-akan tidak ada kata yang tertulis sia-sia, semuanya pilin-memilin menguatkan cerita

  1. Desember 5, 2008 pukul 7:24 am
  2. Desember 16, 2008 pukul 7:29 pm
  3. Desember 17, 2008 pukul 6:40 pm
  4. Januari 9, 2009 pukul 8:42 am
  5. Januari 24, 2009 pukul 9:25 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: