Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Motivasi Belajar—Sensitif dan Tanggap Terhadap Siswa yang Membutuhkan Bantuan

Motivasi Belajar—Sensitif dan Tanggap Terhadap Siswa yang Membutuhkan Bantuan


Author : Suhadi

 

Guru merupakan sosok yang seharusnya pandai membaca keadaan di kelasnya saat pembelajaran sedang berlangsung. Guru yang baik akan bersifat sensitif terhadap kebutuhan siswa. Sangat mudah baginya untuk mengenali dan mengetahui apabila ada siswa yang memerlukan bantuan dalam kegiatan belajar mengajar.

 

Memang, sebagian siswa dengan gamblangnya dapat mengajukan pertanyaan atau meminta bantuan guru. Siswa-siswa demikian mempunyai keterampilan komunikasi yang baik. Mereka tidak pemalu, berani bertanya, dan terbuka dalam mengemukakan pendapat. Terhadap siswa yang seperti ini tidaklah terlalu menyulitkan guru untuk mengetahui apabila mereka memerlukan bantuan. Tetapi, terhadap siswa yang pemalu, pendiam, dan tidak terbiasa berkomunikasi dengan guru melalui pertanyaan-pertanyaan atau pengungkapan pendapat, guru haruslah peka. Guru harus bisa mengenali siswa yang membutuhkan bantuan dari gerak-gerik, atau mimik yang terekspresikan oleh mereka. Memang ini bukan perkara yang mudah. Tapi, setiap guru perlu mencatat bahwa ini adalah salah satu keterampilan yang harus dimilikinya.

 

Cara termudah bagi guru untuk mengecek siswa yang membutuhkan bantuan dengan melontarkan pertanyaan terhadap siswa yang diduga memerlukan bantuan. Guru dapat pula berkeliling ke meja-meja siswa untuk mengamati kertas kerja atau buku catatan mereka. Kertas kerja dan catatan mereka dapat menunjukkan kepada guru apakah mereka membutuhkan bantuan atau tidak.

 

Jangan sekalipun mengabaikan siswa yang memerlukan bantuan. Tugas guru sebenarnya justru membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Bukan hanya menikmati mengajar siswa yang mudah menerima pembelajaran, tapi juga siswa yang sulit dan lamban belajar. Bila guru tidak sensitif dan tidak tanggap, serta sering mengabaikan siswa-siswa yang memerlukan bantuan, mereka akan kehilangan motivasi belajar. Mereka akhirnya tidak lagi memusatkan perhatian mereka pada pembelajaran yang berlangsung, karena mereka merasa apa yang diupayakannya sia-sia saja. Guru akan dianggap cuek terhadap mereka dan perilaku menyimpang seperti membuat ulah di kelas akan terjadi pada siswa-siswa tersebut.

  1. November 24, 2008 pukul 10:42 pm

    halu urang banjar..
    salam ni urang surabaya handak betamu.. hehehehe..
    kakak saia fayza anak banjar yang nyasar dan netap di surabaya.. saia lhat2 yak (saia tertarik pendidikan juga)

    =============
    to fayza

    silakan fayza. saya dulu pernah 2 tahun di surabaya. di ketintang barat.

  2. November 24, 2008 pukul 11:50 pm

    Saya berasal dari keluarga guru, ayah, Ibu, kakak dan juga om, tante semuanya guru. Tetapi saya tidak pernah tahu bagaimana keluarga saya mengajar. Semoga mereka juga menjadi guru yang baik.

    Seorang guru di SMP dimana saya dulu belajar, beliau telah menghancurkan kepercayaan diri saya yang selama di SD selalu membuat saya menjadi anak berprestasi. Hanya karena saya tidak bisa menjawab satu pertanyaan jurusan tiga angka, Beliau mempermalukan saya didepan kelas dengan mengatakan DANEM yang saya miliki adalah palsu.

    Sejak hari itu saya menjadi anak yang tidak PD lagi bahkan untuk kembali memunculkan kepercayaan diri saya, saya harus berjuang keras dan semua kembali normal ketika saya duduk di bangku kuliah. Saya selalu berpesan kepada semua saudara saya jangan pernah mempermalukan murid didepan kelasnya. Demikian saya selalu berpesan kepada kakak laki-laki saya yang juga seorang guru.

    Maaf mas Suhadi saya jadi Curhat, saya hanya ingin berbagi pengalaman ketika saya menjadi seorang siswa yang minder. Untungnya saya masih mampu untuk bangkit lagi walaupun dengan susah payah. Bagaimana jika siswa itu tidak bisa bangkit. Selamat bertugas dan Sukses selalau untuk mas Suhadi. Thanks

    ===============
    to mbak yulism

    begitulah mbak, seorang guru bisa meletupkan motivasi yang sangat kuat dalam diri seorang siswa, tetapi bisa juga mematahkan motivasinya bahkan untuk bertahun-tahun harus ditanggung oleh siswa tersebut. Semoga guru-guru kita semakin menyadari pentingnya memahami psikologi anak didik.

  3. November 25, 2008 pukul 1:02 am

    sungguh, bukan hal yang mudah utk membangkitkan motivasi anak2, pak suhadi. butuh pendekatan yang bervariasi. saya sendiri seringkali kehabisan cara utk memotivasi mereka. salah satu hal yang masih belum menjadi budaya di kalangan anak2 adalah budaya bertanya. padahal dari bertanya inilah pemikiran siswa akan terus terasah.

    =====================
    to pak sawali

    betyul sekali pak sawali, makanya saya mencoba menulis serial motivasi ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Budaya bertanya sangat banyak kaitannya dengan situasi kelas, perilaku guru yang mendorong siswa untuk bertanya, dan pembiasaan.

  4. November 25, 2008 pukul 5:47 am

    Tapi Pak Suhadi, bukankah lebih penting untuk membangkitkan motivasi bagi para siswa, terutama yang tak terbiasa untuk bertanya itu menjadi lebih aktif ?

    Anda punya rumus untuk itu ?

    ==============
    to DV

    Membangkitkan motivasi sama pentingnya dengan menjaga motivasi yang telah terbentuk. Bertanya memang kebiasaan yang belum banyak dimiliki oleh siswa kita. Nanti saya coba menulis tentang ini. Thanks untuk apresiasinya mas DV.

  5. November 25, 2008 pukul 5:48 am

    Kendala utama anak dalam bertanya (menurut saya) rasa malu. Apalagi anak-anak di daerah pedalaman atau daerah terpencil mereka pemalu dan polos. Terkadang semua anak diam tidak ada mengajukan pertanyaan, nah, saat itu memang guru harus aktif mencari umpan balik dari siswa.

    =================
    to pak syam

    betul, rasa malu. Dan rasa malu itu harus kita cari akarnya, apakah karenba belum biasa bertanya atau karena suasana kelas yang tak mendukung? Misalnya, kalau bertanya itu dianggap tidak bisa, bodoh? atau apa? atau barangkali karena takut?

  6. November 25, 2008 pukul 10:11 am

    Adalah betul, tidak melulu pada kondisi siswa, tapi terpulang pada guru juga. Kalau gurunya pandai memberi stimulus, siswa yang terangsang pasti bakal aktif.

    Eh, selamat hari guru…🙂
    Cerah selalu!

  7. November 25, 2008 pukul 5:14 pm

    Pernah ditegur karena tidak mengajukan petanyaan oleh guru kelas. Aneh khan guru semacam ini.
    Tapi beliau punya alasan lain,”kenapa kamu tidak bertanya padahal teman kamu banyak yang mengajukan pertanyaan?”

    Ibu, maaf, bukannya saya tidak mau bertanya, semua materi yang ibu terangkan sudah saya pelajari dan mungkin pertanyaan jawaban saya akan membuang waktu pelajaran dikelas,”Ngeles dikit ceritanya. hi..hi…hi… (Bandel)

    Saya inget bener sampai sekarang, karena Ibu guru telah memberikan perhatian walau aku sering cerewet di kelas.

  8. November 25, 2008 pukul 5:43 pm

    karakter dari sekian banyak siswa harus dulu di ketahui. sekarang kan banyak guru yng egois juga mas

  9. November 26, 2008 pukul 10:37 am

    Guru idola selalu menunjukkan sikap hangat saat berkomunikasi, membuat anak-anak nyaman belajar. Ia dipercaya anak-anak dan menjadi sandaran para siswa ketika menghadapi masalah.

    Sosok Ibu Muslimah, guru SD Muhammadiyah Belitong, melalui film maupun novel Laskar Pelangi, ibarat embun penyejuk. Harapan yang kembali bangkit ketika dunia pendidikan Indonesia mengalami krisis figur guru yang pantas digugu dan ditiru.

  10. November 26, 2008 pukul 3:53 pm

    Kita tidak bisa mengharapkan semua siswa untuk dapat ‘berbicara’ walapun harus selalu diusahakan. Siswa yang tidak pernah atau jarang bertanya tidak bisa selalu dikatagorikan passive, karena sebagai guru harus diingat bahwa setiap siswa punya learning style yang berbeda dan sebagai guru kita harus bisa mengakomodir keberagaman tersebut. Idealnya memang guru harus mengenal siswanya jadi paham mana yg butuh more attention tanpa membuat mereka merasa ‘special’ … another inspiring article from Mr. Suhadi🙂

  11. November 27, 2008 pukul 8:38 am

    ketinggalan banyak informasi setelah beberapa hari pergi nih.
    artikel yang bagus, suhu. memang pelajar tidak semuanya ekspresif akan kebutuhannya, sehingga pendidiklah yang harus proaktif dan menjemput bola untuk mengetahui kebutuhan siswanya.

    sayangnya dalam kurikulum SKS, agak sulit meluangkan waktu untuk ini kalau mahasiswanya sendiri tidak aktif mencari tau. mungkin salah satu keuntungan metode PBL adalah pendidik langsung dapat tanggap terhadap mahasiswa yang bermasalah. walaupun aktivitas verbal si pelajar dalam berdiskusi tidak melulu berarti si pelajar bebas masalah toh?

    (lha, kok jadi pelajar besar ya bahasan saya? doh! sori deh suhu, soalnya ingin mentransfer ilmunya ke konteks saya biar bisa saya gunakan juga)

  12. November 27, 2008 pukul 6:05 pm

    Jadi inget guru fisika…. Beliau punya kebiasaan ninggalin catetan dibuku hasil ulangan kita kalau nilai fisika kita anjlok. Biasanya tulisannya seperti ini : Baca ulang dan simak bab bersangkutan bila masih bingung dan mengalami kesulitan, silahkan datang ke ruang bapak pada jam istirahat biar bapak bantu….
    Beliau punya kebiasaan, kalau saat ngajar ada diantara murid “menlongo” aja, biasanya dia ajukan pertanyaan bagi semua murid tentunya dan jawabannya harus dikumpulkan.. Mungkin dengan begitu ia bisa memastikan bhw si A atu si B benar belum mengerti ttg materi yang sedang dibahas…

  13. agusampurno
    November 28, 2008 pukul 1:26 pm

    Ini dia artikel nya guru kreatif.
    Thanks Pak Suhadi.

  14. November 28, 2008 pukul 6:27 pm

    Jadi teringat guru biologi waktu SMU, datang ke kelas, kasih buku ke seorang murid kesayangan, lalu murid tersebut menyalin tulisan dalam buku ke papan tulis, sementara murid lain menyalin yang ada di papan tulis kedalam buku catatan masing-masing.
    Sang guru kalau tidak tidur di mejanya, ya kadang gak jelas pergi kemana.
    Mudah-mudahan, saat ini sudah gak ada lagi guru-guru seperti itu…🙂

  15. November 29, 2008 pukul 1:19 am

    wahhh artikel yang menarik pak. tapi saya sangsi juga. apakah sudah banyak guru2 tahu akan hal ini?
    seandainya semua guru2 punya blog dan baca blog bapak pasti seru tuh.
    oh ya selamat hari guru pak. maaf telat

  16. November 29, 2008 pukul 2:52 pm

    selamat sore…
    terimakasih atas kunjungan + comment nya.
    iya kang, kalau kerjanya di komputer emang susah untuk nagggulangi nya…
    tapi sebisa-bisa kita, bagaimana cara untuk menjaga diri dan menjaga kesehatan nya…ok kang.
    good luck…. buat akang,.

  17. November 29, 2008 pukul 3:45 pm

    Yaacchh,,, bermanfaat sekali artikelnya bagi guru… Semoga pada praktiknya dapat diterapkan, bukan hanya sekedar teori saja…

    Salam hangat pak…

  18. taliguci
    November 29, 2008 pukul 9:14 pm

    sedihnya, cuman nggak semua guru berpandangan seperti pak suhadi😦

  19. November 30, 2008 pukul 7:58 pm

    memotivasi, kalimat simpel tapi penuh tantangan, begitu kan pak ?
    salut untuk pian..

  20. Desember 1, 2008 pukul 6:26 pm

    Kalau pengalaman saya, dulu ketika mengajar di sekolah swasta dengan status menengah ke atas, motivasi dan tingkat persaingan antar mereka justru sangat tinggi. Sebaliknya, ketika saya mengajar di sekolah negeri yang biasa saja, saya kesulitan sangat menumbuhkan motivasi pada anak. Satu dua mungkin ada tapi jadinya minoritas. Tentu gambaran di atas bukan bermaksud men-generalisasi. Kebetulan saja itu yang saya alami.

  21. Desember 2, 2008 pukul 7:56 pm

    Pak, saya bangga pada Bapak
    Beruntung Indonesia memiliki guru dengan jiwa seindah Bapak

    Pak, aku senang bisa kembali menyapamu🙂

  22. basori
    Desember 5, 2008 pukul 1:10 pm

    Semoga tulisan bapak menjadi inspirasi bagi semua guru di Indonesia??? Selamat menulis terus

  23. Maret 30, 2010 pukul 1:52 am

    ma kasih artikelnya.
    bagus banget..

    =========
    @khairul anam

    makasih atas pujiannya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: