Beranda > bahan bacaan > Motivasi Belajar—Perkecil Kemungkinan Munculnya Perasaan Beruntung (Lucky)

Motivasi Belajar—Perkecil Kemungkinan Munculnya Perasaan Beruntung (Lucky)


Author: Suhadi

 

Mari kita ingat-ingat masa-masa sekolah atau kuliah dulu. Pernahkah kita merasa bahwa nilai yang kita peroleh adalah hasil kemujuran, keberuntungan? Apakah setelah mengikuti setiap tes yang diberikan guru Anda dapat memperkirakan nilai yang akan Anda peroleh? Dapatkah Anda menduga-duga kisaran nilai raport Anda untuk setiap mata pelajaran?

 

Barangkali akan terbersit pertanyaan, mengapa tulisan ini diawali dengan pertanyaan tersebut. Baiklah, di bawah akan kita bahas bahwasanya jika siswa merasa nilai yang mereka peroleh adalah karena faktor keberuntungan, maka akan dapat menurunkan motivasi belajar siswa. Keberuntungan adalah suatu hal yang sama sekali tak ada hubungannya dengan usaha. Tak ada hubungannya dengan kinerja. Tidak ada kaitannya dengan upaya belajar.

 

Munculnya perasaan beruntung pada diri siswa setelah menerima kertas koreksian lembar jawaban ulangan, tugas, atau PR dapat muncul karena soal-soal pada tes, tugas, kuis, atau PR tersebut terlalu sulit untuk dijawab oleh siswa. Keberuntungan dapat muncul pada item soal bentuk objektif seperti: pilihan ganda, benar-salah, sebab-akibat, dan menjodohkan. Pada bentuk-bentuk soal semacam ini, biarpun siswa tidak mengetahui materi yang diujikan, mereka tetap memiliki peluang untuk menjawab benar. Tapi memang demikianlah kelemahan dari soal-soal yang dibuat dengan bentuk demikian. Lalu apakah kita harus meghindari soal bentuk demikian? Tentu saja tidak. Saya lebih ingin mengajak Bapak/Ibu Guru membuat soal yang sesuai dengan tingkat dan kemampuan berpikir siswa. Jangan sampai membuat banyak soal yang terlalu susah sehingga tak terjangkau oleh pemikiran mereka. Soal dibuat dalam proporsi mudah-sedang-susah kurang lebih 25%-50%-25%.

 

Sama dengan soal-soal yang terlalu susah, soal-soal yang terlalu mudah juga dapat memunculkan perasaan lucky (beruntung) pada diri siswa. Siswa yang tak belajarpun bisa dapat nilai bagus. Perasaan mendapat keberuntungan akan melemahkan motivasi belajar siswa. Apalagi bila hal itu sering mereka rasakan.

 

Pemberian nilai yang tidak akuntabel bagi siswa juga sangat melemahkan motivasi belajar. Pastikan bahwa mereka tahu skor yang akan mereka peroleh dalam suatu tes, setiap itemnya. Dengan mengetahui skor setiap item tes, mereka bisa menghitung sendiri nilai yang akan mereka dapatkan. Kegagalan atau keberhasilan yang tak dapat diperkirakan oleh siswa dan berlangsung berulang-ulang sangat berpotensi membuat mereka membenci pelajaran yang kita ampu.

  1. November 24, 2008 pukul 6:39 pm

    hehehhe saya beruntung ya dah lulus😀

    ===========
    kalau lucky yang ini gak masalah zoel😉

  2. November 24, 2008 pukul 11:53 pm

    permisi….. apakah NLP bagus untuk motivasi belajar… sukses untuk GURU INDONESIA

    ==============
    sukses untuk guru indonesia (dua tangan terkepal). NLP? gak ngeh saya…NLP yang mana?

  3. November 25, 2008 pukul 10:17 am

    *Manggut-manggut membaca penuturan untuk bapak ibu guru di atas*

  4. November 25, 2008 pukul 1:58 pm

    uhm.. jadi keberuntungan itu ada atau tidak?

  5. AL
    November 25, 2008 pukul 3:54 pm

    thx suhu, seperti yang selalu saya katakan, selalu ada manfaatnya mampir ke blog ini🙂

  6. November 26, 2008 pukul 3:43 pm

    Tak jarang pemikiran bahwa nilai yang baik adalah hasil ‘keberuntungan’ muncul dari rasa kurang percaya diri siswa. Pada kenyataannnya mereka memang mempunyai kemampuan untuk mengerjakan soal dan mendapat hasil yang baik, sayangnya karena rasa tidak percaya diri…jadilah itu dianggap keberuntungan. Disinilah guru berperan untuk memotivasi siswa dan meredam pemikiran tentang faktor ‘lucky’ ini🙂

  7. November 27, 2008 pukul 8:53 am

    wow, senyawa dengan tulisan saya mengenai imposter syndrome nih. siswa yang terus-menerus merasa beruntung dan malah diakomodasi untuk itu lama-kelamaan bisa terdorong untuk kurang menghargai upayanya sendiri ya, suhu?

    salah satu portofolio saya kemarin adalah membuat soal MCQs yang mengecilkan faktor keberuntungan ini, dan ternyata menarik sekali. saya mengamati bahwa banyak soal MCQs yang mengakomodasi sekali untuk timbulnya repetisi dan memorisasi, serta testwiser atau orang yang pintar mencari jawaban soal tanpa memiliki pengetahuan yang cukup mengenai konten, hanya membaca clues yang mengarahkan.

    setuju bahwa ujian haruslah mampu meminimalisasi faktor keberuntungan dalam prestasi belajar.

  8. Desember 1, 2008 pukul 7:45 pm

    ehmmm…..
    klo dulu seh, saya ngerasanya tuh dah berusaha belajar keras tuh pak…
    trus, ditambah lagi ada ‘dewa keberuntungan’ yang emang demen ama dewi yuhana, he3….
    jadi deh dapet nilai bagus😉

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: