Beranda > cerpen > Jerami (1)

Jerami (1)


jerami-monster2Author: Suhadi

 

“Braaakkkk…kkk!!!!!”. Pintu dari kayu yang kokoh itu terkuak dengan lebar. Lalu bergetar. Pintu itu seakan terlepas dari sepasang engsel dan bingkainya karena didobrak dengan sangat keras.  Hempasannya menggetarkan seluruh bagian dinding rumah besar yang terbuat dari papan. Hardi, pemuda berusia tujuhbelas tahun itu menggigil ketakutan. Giginya gemeletuk. Lututnya terasa lemas. Perlahan-lahan ia menyeret tubuhnya beringsut mundur ke belakang. Beberapa langkah. Terasa berat sekali. Ia mundur hingga punggungnya yang penuh berotot dan kekar itu menyentuh dinding. Tangannya meraba-raba benda yang ada di sekitar tempatnya berdiri. Banyak sekali alat-alat pertanian di tempat itu. Ada sekop, cangkul, linggis, garu, parang, hingga mata bajak mesin traktor. Ia berusaha menemukan salah satu di antaranya. Tangannya berhasil menyenggol sesuatu. Ia merobohkan beberapa kaleng pestisida yang disusun di atas sebuah bangku panjang. Suara kaleng berjatuhan itu membuat Hardi semakin takut. Sial, rutuknya dalam hati. Hardi meraba-raba lagi dengan lebih hati-hati. Kini tangannya menyentuh sesuatu. Cangkul. Hati Hardi masygul. Ragu, apakah benda yang dipegangnya itu merupakan alat yang dapat melindunginya dari sesuatu yang sedang mengejarnya. Tapi tak ada pilihan lain. Terlalu gelap di ruangan itu. Ia tak bisa melihat apa-apa dalam kekalutannya.

 

Ia telah meraih gagang cangkul yang disandarkan di sudut dapur yang sekaligus menjadi lumbung padi itu. Matanya nanar memandang ke arah pintu yang terbuka. Sekitar tubuhnya gelap. Tak ada penerangan dari bagian dalam ruangan yang cukup luas itu. Mudah-mudahan makhluk itu tak melihatnya. Tak menemukannya. Ia berdoa dalam hati. Sangat jarang Hardi berdoa. Mudah-mudahan kali ini dikabulkan Tuhan.

 

Cahaya bulan sepotong membuat agak terang keadaan di luar. Bayangan pohon-pohon nangka dan jambu air di halaman belakang itu tampak cukup jelas. Pun demikian bila seandainya makhluk mengerikan yang sedang memburunya itu bila muncul di depan pintu, pasti akan terlihat. Walaupun mungkin tidak begitu jelas. Ia bisa memperkirakan bentuk siluetnya di ambang pintu yang terkuak lebar. Mata Hardi nanar. Ia takut sekali.

 

“Wussssss!!!!!” hembusan angin menebarkan arang dan abu sisa jerami yang terbakar. Baunya yang khas dengan seketika mengingatkan Hardi pada kejadian beberapa minggu yang lalu. Saat itu akhir musim panen padi tengah berlangsung di perkampungan yang sepi ini. Ada sebuah tragedi terjadi di pinggir desa. Tragedi yang hanya diketahui terjadinya oleh segelintir warga. Rasa takut Hardi sudah sampai di ubun-ubun. Napasnya tercekat di tenggorokan.

 

Beberapa saat Hardi menunggu. Tak ada apa-apa lagi, kecuali derit engsel daun pintu yang sedikit bergerak ketika dihembus angin barusan. Ia menarik napas. Kemudian dengan langkah kaki yang serasa tak menginjak tanah, Hardi maju mendekati pintu kayu yang terbuka lebar itu. Ia mengendap-endap. Ia membesarkan nyali. Toh ia tak punya pilihan. Sosok mengerikan itu tahu ia ada di dalam lumbung yang menjadi satu bagian dengan ruang dapur ini. Cuma masalah waktu bagi sosok yang mengejarnya itu. Hardi menguatkan hati. Memberanikan diri. Cangkul diangkat tinggi siap dipukulkan bila seandainya makhluk mengerikan itu muncul di depannya.

 

Kini Hardi sudah tiba di depan pintu yang menghadap langsung ke pekarangan belakang. Tak ada siapa-siapa, juga makhluk mengerikan yang memburunya tadi. Tapi, tiba-tiba hidungnya kembali membaui jerami yang terbakar. Sengak sekali bau itu. Memenuhi rongga hidungnya. Sepertinya dekat sekali. Hardi memandang ke sekeliling pekarangan, tak ada siapa-siapa. Saat ia ingin berpaling masuk ke dalam lumbung, sesosok bayangan berwarna hitam legam yang tinggi besar mengangkat sesuatu yang berkilat-kilat terkena pantulan sinar bulan. Hardi melotot. Ia kaget bukan kepalang.

 

“Akh….khhh….hhhhh!!!!!!!!” Darah muncrat dan mengalir dari tubuh Hardi yang ambruk. Tubuh yang berkelonjotan itu kemudian bergulingan jatuh ke pekarangan belakang. Warna merah menciprati tanah. Hardi meregang nyawa. Ususnya terburai keluar dari perutnya yang sobek sangat lebar. Tapi sosok mengerikan di bawah sinar bulan redup itu belum berhenti. Berkali-kali ia mengayunkan tajak, alat khusus pembabat rumput pada sawah berair.  Kilatan-kilatan mata tajam tajak silih berganti dengan suara daging tubuh Hardi yang robek.

 

Di dalam gelap ruang lumbung , dari balik tumpukan karung-karung berisi gabah, sepasang mata dengan tatap tak berkejap mengamati setiap adegan itu. Tubuhnya yang sedikit ringkih hampir tak bergeming menyaksikan peristiwa tadi.

 

Akhirnya, sosok mengerikan yang mengayun-ayunkan tajak itu berhenti. Ia menyeringai dengan nada teramat ganjil. Kemudian segera berlalu dari mayat Hardi yang bersimbah darah. Lenyap ditelan kegelapan.

 

Angin kembali berhembus, “Wuussss….ssss! Wuss….ssss!!!”. Beberapa helai arang jerami yang hitam bertebaran. Baunya begitu jelas menusuk hidung. Beberapa tersangkut di tubuh dan menempel di lengketnya darah Hardi yang mulai mengental-beku. Beberapa lagi bergabung bersama daun-daun nangka dan jambu air kering yang berserak di pekarangan. Sedikit sisanya terbawa masuk ke dalam bagian belakang rumah yang sekaligus lumbung itu. Hingga sepi menyergap malam yang larut, pemilik tubuh ringkih dan sepasang mata saksi peristiwa pembunuhan Hardi tadi tetap tak bergeming di tempatnya. Mulutnya monyong komat-kamit, tak keruan apa yang diucapkannya.

 

Beberapa puluh meter dari tempat kejadian, di sekitar pekarangan belakang, di bawah rerimbunan pohon beringin di tepi jalan desa, seekor tikus tergesa melompat masuk ke dalam lubang-lubang pada akar-akarnya yang saling berkait. Kelelawar menjatuhkan jambu air di dalam genangan sisa air hujan semalam. Suaranya mengecipak. Membuat sepasang cicak yang sedang berkejaran di pokok nangka kaget. Burung kukulai, sejenis burung hantu berukuran kecil yang dipercaya sebagai penghubung dunia kita dengan alam arwah berbunyi. Suaranya sengau dan rendah nadanya. Merindingkan bulu kuduk. Mungkin memberi tanda pada semesta bahwa roh Hardi sudah terpisah dari jasadnya.

 

Bersambung………Jerami (2)

 

 

 

 

 

 

  1. November 22, 2008 pukul 10:26 pm

    horeeeee….!!! ada fiksi baruuu…
    makan-makaaaann… (lho?)
    *emang dasar sedang lapar*

    *baca dulu*

  2. November 22, 2008 pukul 10:42 pm

    duh, ceritanya horor, khas suhu! keren!
    deskripsinya jelas, seolah-olah tergambar di depan mata. tapi teteup, serem dan violent. jadi bertanya-tanya, monster apakah makhluk sadis itu? siapa pemilik mata dan tubuh ringkih yang bersembunyi di lumbung? dan tragedi apa yang belakangan menghantui warga? wah, ini masih pengantar. sabar, marshmallow!

    mungkin sedikit kesilapan pengetikan saja, seperti penggunaan akronim “dll” dalam sebuah fiksi yang rasanya kurang lazim, atau pengulangan “pohon pokok nangka” di paragraf terakhir. (ah, marshmallow cerewet!)

    gak sabar nunggu kelanjutannya, tapi saya bakal being away selama 4-5 hari ke depan, jadi ntar saya rapel setelah balik.

    seneng banget bisa baca fiksi suhu lagi!

    ==================
    bener ni gak sabar…

  3. November 22, 2008 pukul 11:26 pm

    Agak ganas dan bagus … saya jadi curiga nich, jangan-jangan yang beginian jadi karekater karya Mas Suhadi nantinya. Siiip.

    ==============
    ganas ya pak, he..he..

  4. November 23, 2008 pukul 12:31 am

    Jadi inget cerita ketika nonton film horor dengan sang keponakan. Ngga’ kesampaian nonton akhirnya “meledak” disini.
    Ikutan pakai istilah Abah Ersis. Siiip

    bersambung…

    =============
    gak berlebihan ini kan pujiannya? but, thanks

  5. November 23, 2008 pukul 9:34 am

    HOREEEEEEEEEEE ada yang baru…..saya suka yang begini pak..janganlama-lama lanjutinnya ya…asal jangan endingnya HARDI bermimpi aja….jadi penasaran banget pak…apalagi pake bahasa TAJAK segala…ingat kampuan nan jauh dimato…..cepat pak lanjutin

    ===============
    sabar ya moe… he..he…

  6. November 24, 2008 pukul 8:27 am

    seheboh arungi jerami yak … hehehehe

  7. November 24, 2008 pukul 8:48 am

    wah thriller ni, mantabh! bikin hati ikut tegang. ditunggu sambungannya, eh.. jadi cerbung dong pak?

    ===========
    yap, cerbung. kalau bisa panjang sepanjang-panjangnya. Kali aja bisa jadi novel.

  8. November 24, 2008 pukul 8:49 am

    @ marshmallow
Thanks, sarannya diterima. Nanti saya perbaiki. Being away? Kemana?

  9. November 24, 2008 pukul 11:41 am

    mistis dan berisi teror mental. pertahankan sbg ciri khas pak suhadi.

    — bersambung

    =================
    thanks. rencananya begitu, dan juga akan dimix dengan sciencefiction.

  10. November 24, 2008 pukul 12:15 pm

    top banget ceritanya…..salut pak…(*hehehehe) salam kenal dech….

    ============
    salam kenal juga. thanks.

  11. November 24, 2008 pukul 1:40 pm

    cerpennya ok juga nih. kapan lanjutannya.. ?

    ===============
    makasih. tunggu aja ya…

  12. November 26, 2008 pukul 3:39 pm

    wahhhh pengantarnya bikin bergidik…….penasaran nih sama sosok2 yang digambarkan dengan cukup detail dalam cerita pak suhadi

  13. November 29, 2008 pukul 1:46 pm

    seru, seru….
    kapan kelanjutannya

  14. gloriousmorning
    Desember 3, 2008 pukul 5:17 pm

    saya terbawa masuk kedalamnya, hehe

  15. Februari 7, 2009 pukul 9:32 am

    Gimana kalu cerpennya dimasukkan di harian b.post ?

  16. April 6, 2009 pukul 6:18 pm

    Luar biasa…Ketegangan yang saya rasakan tetap terasa meskipun sudah selesai membaca. Imaginasi saya jadi berkembang liar. Pilihan kata-katanya Top….

  17. haslina
    Agustus 12, 2009 pukul 3:55 pm

    assalamualaikum……..

  1. Desember 5, 2008 pukul 7:20 am
  2. Desember 12, 2008 pukul 8:03 pm
  3. Desember 17, 2008 pukul 6:36 am
  4. Desember 24, 2008 pukul 3:12 pm
  5. Januari 9, 2009 pukul 8:22 am
  6. Januari 24, 2009 pukul 8:56 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: