Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Motivasi Belajar—Jangan Memberikan Stigma Jelek Kepada Siswa

Motivasi Belajar—Jangan Memberikan Stigma Jelek Kepada Siswa


Author: Suhadi

 

Banyak guru tanpa sadar telah memberikan stigma jelek kepada sebagian siswa di kelas mereka. Memberikan stigma jelek sering dilakukan guru baik secara verbal maupun nonverbal. Stigma jelek secara verbal yang dilakukan oleh guru terhadap siswa tentu bisa ditangkap langsung oleh telinga siswa yang bersangkutan. Ini sangat-sangat tidak baik. Siswa yang disebut sebagai ‘pemalas’, ‘pengacau’, ‘tidak pintar’, ‘nakal’, ‘selalu memerlukan remidi’, ‘lambat paham’ atau cap-cap negatif lainnya akan membetuk citra diri seperti yang diberikan oleh guru. Stigma yang diberikan akan merusak motivasi belajar yang mungkin mereka miliki sebelumnya.Bila stigma negatif ini melekat pada siswa dan juga dianggap betul demikian adanya oleh teman-temannya, maka akan susah sekali untuk menghapusnya. Bisa saja motivasi belajar akan lenyap sama sekali. Mereka akan membenci guru yang bersangkutan.

 

Kadang-kadang guru juga memberikan stigma jelek kepada siswa secara nonverbal. Walaupun tidak sampai terlontar dari mulut guru saat pembelajaran di kelas, ini tetap tidak baik. Secara tidak sadar, bisa jadi oleh karena kesal atau marah, guru akan mengekspresikan stigma jelek tersebut lewat gerak-gerik, mimik, dan nada suaranya. Beberapa siswa yang peka akan merasakan itu dengan baik dan selanjutnya juga akan membentuk pencitraan negatif terhadap diri mereka seperti halnya pemberian stigma jelek secara verbal. Ujung-ujungnya juga sama, melemahkan bahkan memupus motivasi belajar mereka terhadap pembelajaran.

 

Setiap guru yang memahami pedagogik seharusnya sudah memaklumi bahwa setiap anak membawa potensinya masing-masing. Tidak ada siswa yang mempunyai potensi yang sama. Mereka adalah pribadi-pribadi yang unik. Masing-masing punya kelebihan, dan tentu juga punya kekurangan. Sebaiknya, yang dilakukan oleh guru adalah memberikan umpan balik positif (positive feedback) agar siswa dapat meyakini bahwa mereka akan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan setelah akhir kegiatan belajar. Guru harus berfokus pada kemampuan siswa, bukan pada ketidakmampuannya. Dengan demikian, guru dapat menunjukkan bahwa mereka mampu mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan tugas dengan standar yang tinggi, tetapi tetap dalam jangkauan kemampuan seluruh siswa di dalam kelas. Berikan tugas belajar yang lebih mudah di awal pembelajaran, baru kemudian ditingkatkan ke tugas belajar dengan taraf kesulitan yang lebih tinggi.

 

Ingatlah, kesuksesan bukanlah jaminan dalam sebuah pembelajaran. Kegagalan adalah hal yang lumrah. Ajari siswa untuk memperbaikinya dan membantu mereka dengan tidak memberikan stigma jelek kepada mereka.

  1. November 21, 2008 pukul 9:42 pm

    Kegagalan guru/pendidik dalam mengontrol emosi sesaat sangatlah mempengaruhi jiwa anak (paedagogik),bagaimana kalo hal ini terjadi pada siswa “gedhe” (andragogi) bisa2 masalah yang disulut di dalam kelas melebar dijalanan.

    Posisi tawar siswa yang “kalah” dibanding guru menyebabkan anak hanya bisa nrimo, guru “mencemooh” dengan kata2 inrasional dihadapan teman sekelas merupakan tindak pidana paling sederhana.

    sudah saatnya siswa menjadi “guru”, dan guru menjadi siswa. dengan demikian keduanya saling memahami, berinteraksi secara cerdas di lingkungan belajar.

  2. November 22, 2008 pukul 2:17 pm

    memang bener, pak suhadi, pemberian stigma kepada anak, sangat tidak bagus bagi perkembangan jiwa si anak. namun, seringkali guru tdk dengan sadar melakukannya, baik dengan cara verbal maupun nonverbal. butuh kesabaran tingkat tinggi utk menghadapi anak2 pada masa sekarang.

  3. taliguci
    November 22, 2008 pukul 8:02 pm

    wah, terima kasih pak.. sangat bermanfaat buat mendidik si kecil

  4. rizal619
    November 22, 2008 pukul 8:24 pm

    saya setuju dengan pendapat bapak. Pemberian stigma memang bisa merusak motivasi siswa dalam belajar dan malah akan membuat siswa berontak melawan guru. Hendaknya ini menjadi perhatian bagi guru-guru kita.

  5. November 22, 2008 pukul 10:52 pm

    …Guru harus berfokus pada kemampuan siswa, bukan pada ketidakmampuannya…

    saya sangat setuju dengan pernyataan itu. bukan hanya guru, dalam bersosialisasi pun kita hendaknya lebih fokus kepada kekuatan daripada kelemahan orang lain.

    olok-olok bisa memotivasi, namun lebih sering menjatuhkan mental anak didik. setuju dengan mas namakuananda, posisi tawar anak didik yang lemah jangan sampai membuat guru merasa di atas angin, bisa berlaku sekenanya, termasuk dalam hal menghakimi dengan label dan stigma.

    nice posting, suhu!

  6. November 23, 2008 pukul 11:58 am

    rumah yang sejuk, sarat dengan informasi bermanfaat. yanmg komen pun juga saling menambah. wuih enak pokoknya disini, sampai sering kelupaan ninggalkan tanda tangan

  7. November 23, 2008 pukul 8:18 pm

    Pak Suhadi,

    Entah kenapa, dulu saya selalu merasa, “Kenapa ya, dosen-dosen itu kok kayaknya seneng banget kalau mahasiswa-mahasiswinya mengerutkan dahi dan bingung sekali bagaimana musti mengisi jawaban soal ujian yang mereka buat…?”

    Tapi mana ada sih, guru yang nggak ingin melihat anak-anak didiknya sukses? Dan bangga kalau anak-anak didiknya gagal?

    Saya rasa, itu cuman perasaan saya aja, ya, Pak..
    Mungkin inilah yang disebut misskomunikasi sehingga apa yang ingin disampaikan pendidik tidak sampai ke anak didiknya…

    Soal stigma itu..
    Wah bener banget, Pak. Memberikan label itu malah akan berakibat buruk. Belum tentu kritikan yang terlalu tajam seperti itu bisa melecut sang anak didik untuk berubah…

  8. firdaus
    November 25, 2008 pukul 7:02 pm

    terima kasih atas sharingnya…semoga Allah membalas amal kebaikan bapak.

  9. November 25, 2008 pukul 11:05 pm

    Mudah-mudahan itu hanya terjadi pada guru-guru zaman abad “pertengahan” yang terbiasa men-judge siswa dengan pandangan-pandangan yang membuat ia terpaksa mesti menerimanya…

  10. aep
    September 2, 2009 pukul 7:52 am

    nah apabila itu hanya dilakukan oleh guru..tapi apakah dampaknya akan lebih parah apabila masyarakat yang menilai dn memberikan stigma jelek pada siswa-siswanya…???karena stigama itu sedikit2 mulai terhapus dan mungkin sedikit2 bisa ditangani karena hanya bagian kecil hanya guru dan murid..apabila itu dilakukan masyarakat????

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: