Beranda > Uncategorized > Menelaah Potret Guru Kita (Sebuah Catatan Kecil untuk Menyambut Hari Guru)

Menelaah Potret Guru Kita (Sebuah Catatan Kecil untuk Menyambut Hari Guru)


Author: Suhadi

 

Terpujilah wahai engkau Ibu-Bapak Guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

S’bagai prasasti t’rima kasihku ‘tuk pengabdianmu

Engkau bagai pelita dalam kegelapan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa…

(Lagu: Hymne Guru)

 

Pada tanggal 25 Nopember kita kembali memperingati Hari Guru sekaligus Hari PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Tentulah sangat elok, bila momentum Hari Guru ini dijadikan sebagai tonggak untuk kembali menelaah potret guru-guru kita. Barangkali sebagian dari kita akan bertanya, apa gunanya? Guru adalah komponen penting dalam sebuah sistem pendidikan. Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Walaupun banyak faktor yang mempengaruhi kemajuan pendidikan sebuah bangsa, namun tak dapat ditolak kenyataan bahwa guru-lah faktor terpenting. Guru adalah aktor utama yang langsung bersentuhan dengan subyek pendidikan: siswa. Merekalah para pelecut kecerdasan siswa. Tak akan banyak siswa cerdas yang dihasilkan institusi pendidikan, bila guru-guru yang setiap hari membimbing proses belajar mereka tidak memiliki kualitas yang memadai.

 

Syair lagu Hymne Guru di atas adalah gambaran betapa mulianya profesi guru. Tapi masih ingatkah Anda siapa penciptanya? Mudah-mudahan masih ingat, karena penciptanya adalah seorang guru yang nasibnya barangkali jauh lebih jelek dari Anda (bila Anda seorang guru) saat ini. Sekedar berbagi informasi saja, pencipta lagu tersebut bernama Sartono, seorang guru kesenian yang berasal dari Madiun yang tinggal di sebuah rumah kecil berdinding tripleks. Hymne Guru adalah lagu yang selalu dikumandangkan pada setiap peringatan Hari Guru atau Hari PGRI yang jatuh pada setiap tanggal 25 Nopember. Sartono memenangi Lomba Cipta Lagu Guru pada tahun 1980 dengan lagu tersebut setelah berhasil menyisihkan sekitar 300 peserta lainnya. Saat itu depdikbud (kini depdiknas) masih dipimpin oleh Mendikbud Daoed Joesoef. Hingga akhir masa tugasnya, Sartono hanya seorang guru tidak tetap (GTT) tanpa tunjangan pensiun di hari tua. Pun tahukah Anda? Ternyata, hadiah sebagi Juara I penulisan lagu tersebut disunat oleh oknum yang tak diketahuinya, hingga nominal yang seharusnya diterima sebanyak Rp. 1.000.000,- sampai ke tangan beliau hanya tinggal Rp. 750.000,- (Sumber: http://www.gatra.com).

 

Berbagai permasalahan tentang guru di Indonesia masih bagai benang kusut yang sukar dicari cara untuk menguraikannya. Sepenggal ilustrasi tentang pencipta lagu Hymne Guru di atas mungkin cukup bagus untuk mendedahkan potret seorang guru yang punya prestasi tapi belum mendapatkan penghargaan selayaknya dari birokrasi. Bukankah seharusnya salah satu peran birokrasi bagi dunia pendidikan kita adalah sebagai motivator untuk membangkitkan kecerdasan dan kreativitas guru? Di sisi lain, kita juga melihat banyaknya pemasalahan yang akarnya berpangkal dari guru sendiri. Misalnya, banyaknya guru yang belum kompeten. Banyak sekali guru yang mengajar tidak sesuai bidang kajian ilmu yang dimilikinya, kualifikasi pendidikan yang masih rendah: di mana banyak guru kita di pelosok hanya berpendidikan setingkat SMA bahkan SMP sehingga sama sekali tak memiliki keahlian profesi guru. Mereka sama sekali tidak memiliki kompetensi pedagogik maupun kompetensi akademik sebagai syarat penting yang harus dipunyai oleh seorang pendidik.

 

Saat ini, kebanyakan orang muda beranggapan bahwa profesi guru adalah profesi pilihan urutan kesekian setelah pilihan profesi-profesi lain. Sementara itu rendahnya daya serap angkatan kerja membuat tingginya jumlah penggangguran berijazah. Permasalahan ini seringkali menyebabkan banyak para penganggur yang sama sekali tak punya latar belakang pendidikan guru tersebut akhirnya terpaksa memasuki wilayah profesi ini (guru). Kenyataan bahwa banyak sekolah memang masih kekurangan guru, membuat para penganggur dari bidang-bidang lain yang jelas-jelas tidak kompeten ini dapat ikut memasuki area bidang pendidikan. Mereka akhirnya ikut menambah buruk wajah dunia pendidikan Indonesia.

 

Rendahnya gaji guru juga menyulitkan guru bertindak profesional dalam menjalankan tugasnya. Sudah bukan hal yang aneh lagi bila banyak guru harus merelakan waktu istirahatnya untuk bekerja di sektor informal untuk menambah penghasilan. Menambah gaji sebulan yang tak cukup untuk sebulan. Banyak guru bekerja sambilan sebagai tukang ojek, tukang servis elektronik, pedagang, penjahit, peternak, petani, dan lain-lain. Akibatnya, kegiatan penunjang profesi seperti membaca buku, browsing di internet, mengikuti seminar, mengikuti tambahan pendidikan (kuliah ke jenjang yang lebih tinggi), tidak dapat dilakukan karena ketiadaan waktu dan biaya.

 

Walaupun demikian, akhir-akhir ini, rencana kenaikan gaji guru di tahun depan dan pemberian tunjangan satu kali gaji  bagi guru bersertifikat pendidik dan guru SD daerah terpencil yang telah direalisasikan cukup mampu memberikan angin segar. Bahkan barangkali akan mampu menaikkan pamor profesi guru. Mungkin suatu saat nanti angan-angan ini bisa tercapai, beberapa tahun ke depan, sudah banyak guru-guru tampil rapi-klimis. Jauh dari kesan profil guru seperti yang dinyanyikan Iwan Fals dalam lagunya “Oemar Bakri” yang bikin hati miris. Demikian pula otak para guru, dipenuhi dengan berbagai informasi ter-update dari beragam media yang dibaca seperti surat kabar dan buku, atau internet. Jauh dari kesan profil guru yang gagap teknologi dengan ilmu pengetahuan yang kadaluarsa dan tak bertambah-tambah, itu-itu saja.

 

Pendidikan adalah investasi terpenting suatu bangsa. Oleh karena itu, bagaimanapun nasib guru di beberapa tahun ke depan, harusnya keikhlasan dalam mengemban tugas tetap dikedepankan oleh para guru. Ini tentu saja bukan sesuatu yang gampang. Akan tetapi, mengingat betapa pentingnya peran guru dalam bidang pendidikan sebagai pengawal di garda terdepan kemajuan bangsa dan negara, maka adalah wajar jika para guru tetap menanamkan semangat pantang menyerah kepada berbagai rintangan yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas. Ayo Pak, Bu Guru….. Semangat!!! Selamat Hari Guru.

 

 

 

Kategori:Uncategorized Tag:,
  1. November 18, 2008 pukul 5:20 am

    selamat hari guru.
    masih menunggu hari kyai

  2. November 18, 2008 pukul 5:55 am

    Setiap ingat guru, saya selalu ingat tulisan yang terpampang di dinding SMA saya dulu

    “Hormatilah Guru dan hargailah guru. Ketika kalian jadi murid, mereka tetap menjadi guru, ketika kalian menjadi direktur, mereka tetap menjadi guru!”

    Selamat hari guru, Pak Suhadi!
    Terus maju dan majukan pendidikan Indonesia!

  3. November 18, 2008 pukul 7:42 am

    Sejak amandeen UU, dan kemudian lahir UUGdD, plus sertifikasi, ada bayangan kesejahteraan guru menaik. Gaji guru yang bersertifikat lebih besar dari dosen (lucu juga saya periksa fortofolio mereka, dan gaji mereka lebih besar). Nah, kini bola di tangan guru, mau malas-malas atau jadi kasta paria terus atau bagaimana. Nasib guru dfitangan guru. Renungkan. Jangan pernah jadi guru kolot lagi, guru gagap IT, imtek, dan mengeluh melulu. Berjuanglah …

  4. November 18, 2008 pukul 9:42 am

    Selamat Hari Guru………..
    Semoga para guru di Indonesia semakin meningkat kesejahteraan, kinerja, kompetensi, wawasan dan IMTAQ-nya. Amieeeennnn….

  5. November 18, 2008 pukul 12:57 pm

    trenyuh sekali membaca tulisan ini, begitu komprehensif menyoroti profesi guru dan atribut yang melekat di dalamnya.

    benar bahwa menjawab masalah pendidikan di indonesia layaknya mengurai benang kusut, suhu. namun untunglah beberapa simpul sudah mulai longgar dengan adanya kebijakan pemerintah mengenai kesejahteraan guru yang selama ini merupakan salah satu sumber permasalahan.

    OOT: jadi pak guru suhadi nyambi apa? jadi penulis? hehe!

    selamat hari guru, duhai ibu dan bapak guru yang mulia. namamu akan selalu hidup tanpa tanda jasa.

  6. November 18, 2008 pukul 3:22 pm

    Pak Suhadi, benar apa kata bapak. Saya jadi ingat dengan pepatah almarhum ayah saya. “Kere tapi bermartabat.” Saya akan berkunjung lagi ke sini. Terima kasih Pak. Viva La Guru!

    Salam.

  7. November 18, 2008 pukul 7:22 pm

    Memang masalah klasik guru adl penghasilan yg tidak memadai, tapi karena kita selalu bilang, “Masalah klasik, masalah klasik”, jadinya tidak pernah terselesaikan (paling tidak sampai hari ini). Cuma bilang masalah, masalah namun enggan memberikan solusi. Terutama para penentu kebijakan. Masyarakat? Karena masyarakat sebagian merasa tidak berutang pada dunia pendidikan, ketika menghargai pendidikan, mereka memberikan harga yang paling rendah dibandingkan dg “komoditas” lainnya, seperti sinetron, jabatan wakil rakyat, dll.

    Menjadi guru adalah pilihan. Semoga kian hari pilihan itu merupakan pilihan utama.

    Selamat berulang tahun para guru. Selamat pak Suhadi. Salam hangat.

  8. November 18, 2008 pukul 7:34 pm

    pahlawan tanpa tanda jasa.. yeaaah… pengabdian mereka bukan pada materi.. tapi pada hati…

    love u all teacher

  9. November 18, 2008 pukul 8:19 pm

    Selamat ulang tahun…saya berharap janji pemerintah menaikkan anggaran pendidikan diikuti dengan kenaikan gaji guru. Tanpa guru, saya tak menjadi apa-apa. Dan dikeluarga saya, nyaris semuanya guru…..kecuali saya menyimpang, namun setelah pensiun juga menjadi guru.

  10. November 18, 2008 pukul 10:22 pm

    selamat hari guru pak….

  11. November 18, 2008 pukul 11:28 pm

    dirgahayu guru Indonesia, cq buat sahabatku, pak suhadi. persoalan guru memang rumit dan kompleks. berbagai pujian dan sanjungan digelontorkan, tapi agaknya pujian itu hanya lips service. kenyataannya nasib guru dari tahun ke tahun ndak pernah berubah. harus ada upaya utk mengubah citra diri. dimulai dari diri sendiri. mari, pak, meski kita hanya bisa kontak secara maya, media ini tak kalah interaktifnya dg diskusi di darat, kita berjuang bersama-sama, pak. ajak rekan2 sejawat kita utk melek IT dimulai dg ngeblog, hehehe … selamat berkarya buat bangsa dan salam kreatif!

  12. November 19, 2008 pukul 6:05 am

    Selamat hari guru pak.
    saya dulu paling suka pelajaran IPA
    sampai-sampai sempat punya cita-cita ingin kuliah di jurusan fisika nuklir .. tapi ngga kesampean hehehe ..
    seperti komentar saya di blognya pak sawali .. titip pesan pak untuk rekan-rekan guru, supaya terus menambah porsi pendidikan budi pekerti, atau teladan budi pekerti digiatkan di lingkungan sekolah. Meskipun orangtua memiliki peran utama. Salam

  13. November 19, 2008 pukul 11:38 am

    sayangnya citra guru tercoreng dengan berita2x aib akhir2x ini. sungguh menggenaskan………..hiks

  14. November 19, 2008 pukul 12:26 pm

    saya selalu sendu dan terharu kalo dengerin lagu hymne guru itu pak. kena banget di hati..
    Selamat hari guru

  15. November 20, 2008 pukul 10:02 am

    Deposuit potentes de sede et exaltavat humiles!
    (Dia rendahkan mereka yang berkuasa dan naikkan mereka yang terhinag!)

    Semoa keluarga pak Sartono diangkat derajatnya. Dan oknum yang menyunat hadiah itu, diampuni dosannya (diampuni doang? Enak amat? Terus pertanggung jawaban atas perbuatannya gimana? Hhh!).

  16. eno'
    November 20, 2008 pukul 10:05 am

    sedih rasanya melihat dan mendengar segala problematika yang terjadi di dunia pendidikan. khususnya yang berkaitan dengan pendidiknya alias guru. banyak hal yang harus diperhatikan untuk kemajuan dan kesejahteraan para guru agar nantinya pendidikan kita bisa terus maju. perhatian tersebut sangat diharapkan datangnya dari pemerintah, masyarakat dan guru bersangkutan secara pribadi.

    dirgahayu pahlawanku, bangkit dan majulah terus bersama wangi namamu……………

  17. November 20, 2008 pukul 2:51 pm

    banyak hal yang harus dibenahi pada guru, baik oleh pemerintah maupun oleh guru itu sendiri. rendahnya kemampuan guru di bidang IT merupakan salah satu tantangan yang harus dijawab sendiri oleh sang guru, sehingga pemberdayaan itu bisa terealisasi.

    walau bukan pakar IT, tapi saya masih bisa menyaksikan, betapa masih banyak di antara rekan kita yang belum bisa menyelaraskan keilmuannya dengan tuntutan guru masa kini. mudah-mudahan secara bertahap ini bisa diatasi.

    selamat hari guru….

  18. November 21, 2008 pukul 8:05 am

    Selamat Hari Guru, majulah guru Indonesia.
    Tapi ketika menonton acara TV Indonesia, saya jadi miris disuguhi berita tentang guru yang perilakunya tidak senonoh pada siswanya. Lebih parahnya hal ini terjadi dibanyak daerah, padahal guru seharusnya digugu dan ditiru, jika demikian contohnya bagaimana muridnya nanti. Semoga semua bisa terselesaikan dengan baik, sehingga citra guru tidak ternoda karena perbuatan tidak bertanggungjawab beberapa sosok guru.

  19. November 24, 2008 pukul 2:44 pm

    Anggaran Pendidikan 20% kenapa SPP malah naik?

    ——————————————————————————–

    http://www.lpmpjateng.go.id/blog/?p=582

    JAKARTA – Tahun depan tenaga pendidik benar-benar menjadi anak emas. Berkat lonjakan anggaran pendidikan dalam RAPBN 2009, kesejahteraan guru semakin meningkat. Misalnya, untuk guru PNS golongan II/B tanpa sertifikat profesi dengan masa mengajar 0 tahun bakal memperoleh gaji minimal Rp 2 juta.

    ”Itu untuk menunjukkan komitmen kami terhadap penggunaan anggaran yang besar tersebut,” ujar Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo setelah rapat kerja dengan Komisi X DPR di Jakarta kemarin (10/9).

    Mendiknas melanjutkan, gaji guru PNS golongan IV/E bersertifikat profesi bisa mencapai Rp 6,9 juta. Gaji tersebut, tambahnya, belum termasuk tunjangan fungsional dan tunjangan profesi untuk guru dengan sertifikat. Pemerintah juga memberikan tunjangan fungsional untuk guru tetap non-PNS yang belum sarjana Rp 250 ribu per bulan dan sarjana minimal Rp 300 ribu per bulan.

    Pendapatan 30 ribu guru daerah terpencil juga akan ditingkatkan. Jika sebelumnya guru daerah terpencil yang bersertifikat digaji Rp 2,29 juta pada 2008, tahun depan jumlahnya naik menjadi Rp 5,1 juta. Guru daerah terpencil yang belum bersertifikat yang sebelumnya mendapatkan Rp 2,29 juta bakal ditambah menjadi Rp 3,6 juta tahun depan.
    Bukan hanya guru, gaji dosen juga meningkat seiring dengan naiknya anggaran pendidikan. Jika sebelumnya dosen pegawai negeri sipil golongan III/B tanpa sertifikat profesi dengan masa mengajar 0 tahun mendapatkan Rp 1,8 juta, tahun depan angkanya bertambah menjadi Rp 2,26 juta. Untuk guru besar yang berstatus PNS golongan IV/E bersertifikat, gajinya naik tajam dari Rp 5,1 juta menjadi Rp 13,5 juta.

    ”Peningkatan kesejahteraan guru dan dosen, kata Mendiknas, menempati porsi 27 persen dari anggaran pendidikan,” sebutnya. Kenaikan anggaran pendidikan yang menjadi Rp 224,4 triliun pada RAPBN 2009 juga dimanfaatkan untuk percepatan penuntasan wajib belajar dari tingkat dasar hingga sekolah menengah. Menurut Mendiknas, anggaran pendidikan nanti terserap lebih dari 50 persen untuk program wajib belajar.

    ”Kami gunakan anggaran untuk pendidikan menengah di Depdiknas maupun di Depag. Anggaran untuk pendidikan tinggi juga dinaikkan. Pendidikan nonformal juga kita naikkan, tapi tidak banyak,” tegasnya. Kenaikan anggaran pendidikan digunakan pula untuk peningkatan kesejahteraan peneliti dan perekayasa di luar Depdiknas. Depdiknas menyiapkan anggaran bagi peneliti non-PNS melalui skema yang diatur oleh Ditjen Pendidikan Tinggi.

    http://www.djkn.depkeu.go.id/index.p…20-Persen.html

    http://www.bangkapos.com/berita/6d7b…/November/07/0

    http://diknas.malangkota.go.id/?p=223

    Kenapa sebagian besar dana itu untuk gaji guru bukan untuk murid atau mahasiswanya?………….

    Gaji Guru Bersertifikat Rp 3,5 juta

    edisi: Jum’at, 07 November 2008

    JAKARTA,BANGKA POS–— Komitmen pemerintah untuk meningkatkan anggaran pendidikan akan terlihat setidaknya lewat kenaikan gaji guru bersertifikat menjadi minimal Rp 3,5 juta mulai Januari 2009, demikian dikatakan Indroyono Soesilo, Sekretaris Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Sesmenko Kesra), di Jakarta, Kamis (6/11).

    “Mulai Januari 2009, gaji guru golongan II A akan digaji Rp 2 juta per bulan. Untuk guru golongan II A yang bersertifikat mendapat Rp 3,5 juta, dan profesor yang sudah masuk golongan IV E akan digaji Rp 13,5 juta,” kata Indroyono Soesilo.

    lalu yang beginian:

    PENYELEWENGAN DANA

    http://www.sinarharapan.co.id/berita/0508/20/nas02.html

    Jakarta – Tidak jauh berbeda dari pola penyelewengan penyaluran dana bantuan pendidikan sebelumnya, penyaluran dana bantuan operasional sekolah (BOS) juga diduga memiliki sejumlah titik rawan penyelewengan dana.

    Titik rawan itu adalah manipulasi data jumlah siswa miskin oleh sekolah, manipulasi data jumlah sekolah oleh pemda, dan penyimpangan pemanfaatan dana BOS. Untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya penyelewengan dana BOS, pemerintah perlu memetakan sasaran penerima dana bantuan tersebut. Selain itu, pemerintah perlu menyosialisasikan program BOS pada masyarakat, dan mendorong masyarakat ikut mengawasi pemanfaatan dana BOS.
    Demikian disampaikan Ade Irawan, Sekretaris Koalisi Pendidikan ketika dihubungi SH, Kamis (18/8) di Jakarta. ”Kalau tidak transparan, dan masyarakat juga tidak tahu dengan jelas komponen apa saja yang dibiayai BOS, bukan tidak mungkin sekolah akan menarik pungutan dari orang tua siswa untuk membiayai komponen tertentu yang sebenarnya sudah dibiayai BOS. Itu sering terjadi sebelumnya,” tambahnya.

    Ada banyak hal yang perlu diperbaiki dari sistem pendidikan kita. Saya disini akan mengungkapkan beberapa yang mengganjal hati bagi seorang pendidik yang masih mempunyai nurani.

    Yang saya posting disini tentu bersifat subyektif, dan Demi Tuhan ini hanyalah sebagian kecil dan tidak merepresentasikan seluruh lembaga kependidikan di Indonesia. Tetapi ini benar2 saya alami sendiri di daerah saya. Semoga cepat hal ini dibenahi agar menjadi kemaslahatan kita bersama dan kemajuan Indonesia.

    1. Nilai adalah hasil karangan

    Nilai anak tidak ada yang nilai murni. Hampir semua adalah hasil rekapan dan ‘penyesuaian’ agar sesuai dengan kehendak sekolah dan lembaga pendidikan. Pernah saya mengajar di sebuah SD. Saya adalah guru mata pelajaran. Ketika saya mengirim menyerahkan hasil tes evaluasi siswa ternyata guru walinya bilang “Raportnya sudah jadi kok mas” ternyata nih, pak guru telah ‘mengarang’ sendiri nilai nya itu. Dan tentu pak guru hapal siapa anak yang pandai, siapa yang kurang pandai dan yang sedang. Akan tetapi evaluasi yang telah dikerjakan oleh siswa itu menjadi tidak berguna sama sekali,. Dan terdapat “nilai dengkulan”. Ketika baru mengajar di sebuah SMP saya menyetorkan nilai apa adanya. Tetapi apa yang saya dapat. Saya dimarahi habis-habisan sama wakil kepala sekolah bidang kurikulum karena banyak anak yang nilainya dibawah Standar Ketuntasan Minimal. Saya dipaksa untuk “mendengkul” nilai agar setiap anak setidak2nya tidak dibawah SKM itu, karena bisa membuat malu sekolah. Jadi bila anda dilapori buku rapor oleh anak anda maka itu bukan nilai yang sebenarnya. Bila di rapot nilainya 8 nilai sebenarnya adalah 7 kalo tertulis 7 sebenarnya 6 dan kalo nilai di rapot adalah 6 nilai sebenarnya adalah antara 0-5 karena gak ada nilai raport 0-5 padahal murid2 di sekolah2 biasa nilainya ya sekitar 0-5 terutama pelajaran matematika, ipa, bhs. Inggris.

    2. UAN adalah tipuan

    Mungkin yang lulus lebih banyak dari yang tidak lulus. Tetapi apakah itu memang benar2 mendeskripsikan kualitas pendidikan di Indonesia. Karena fakta di lapangan sungguh berbeda. UAN adalah menyangkut harga diri dan kualitas sekolah. Karena itu sekolah berusaha semaksimal mungkin agar murid2nya lulus. Untuk itu maka para guru kelas berusaha menyusun rencana yang matang. Murid2 yang pandai dikumpulkan dan setiap dari mereka diberi tugas untuk mengajar beberapa siswa. Sehingga dalam kelas ada 20 anak, lalu yang pandai 4 anak, maka setiap anak harus memberi tahukan lembar jawabannya kepada 5 orang anak.
    Pengawas silang pun bila di daerah saya ada hukum tidak tertulis untuk tidak mengawasi UAN dengan ketat. Karena bila terlalu ketat maka sekolah asal pengawas itu akan dibalas ketat oleh guru sekolah itu. Jadi ada hubungan timbal balik. Penah ada seorang guru mengawasi UAN dengan seksama sehingga anak tidak bisa ‘Nyontek atau Tirunan” maka guru tadi dimarahi habis2an sama kepala sekolah di SMP itu.

    3. Sekolah adalah Lahan Basah

    Dengan jumlah anak yang besar adalah menjadi lahan basah para kepala sekolah dan kroni2nya. Uang gedung, Uang seragam, LKS, pengadaan gedung, Pengadaan Laboratorium, dan proyek2 lainnya. Apakah dana yang mereka gunakan dari Dana BOS, SSN, Blok Grant, dan dana2 lain yang pemerintah kucurkan tepat sasaran? Tidak. Dana yang dilaporkan adalah fiktif dan penuh dengan mark up. Jadi jangan heran bila ada gedung sekolah yang roboh sesudah di rehab. Saya sebagai guru kecil di sekolah biasanya dapat uang tutup mulut Rp. 50.000 entah yang lain dapat berapa.

    Tidak heran untuk menjadi kepala sekolah di daerah saya sangat tinggi biayanya. Untuk menjadi kepala sekolah SD 25 juta untuk Jadi penilik sekolah 50 juta. Untuk menjadi kepala SMP/SMA 50 juta ke atas tergantung tingkat kualitas ‘kebasahan’ sekolah itu. Untuk jadi kepala dinas tentu …ratus juta. Tentu itu permainan kepala daerah yang dulu dipilih karena politik uang. Dan semua oknum2 itu saling memakan ke bawah…..dan yang jadi korban adalah anak2 sekolah….dana pemerintah untuk pendidikan.

    4. Sekolah bagaikan lembaga pemeras

    Sedih hati saya ketika melihat anak2 dikejar2 uang SPP dan Uang Gedung. Syarat agar dapat mengikuti ujian mid ataupun semester adalah lunas SPP dan Uang gedung. Pada hari sabtu sebelum senin ujian banyak orang tua siswa yang datang ke sekolah meminta dispensasi. Sungguh bagi saya itu adalah pemandangan ironi karena banyak dari orang tua itu adalah kalangan menengah ke bawah. Yang cari kerja sulit, kena PHK, dll.

    5. Peningkatan Kualitas Guru = kegagalan

    Dalam UU kependidikan Guru sebaiknya adalah S1. Banyak guru2 sekarang adalah lulusan SPG yang sederajat SMA. Mereka didorong untuk sekolah lagi. Hal yang ironi adalah banyak diantara bapak ibu guru ini yang sudah tidak mampu belajar lagi. Tetapi mereka terdorong kuliah dengan iming2 kenaikan golongan dan sertifikasi yang tentu akan menaikkan gaji mereka. Akhirnya banyak yang kuliah di UT yang seminggu masuk 2 x dah nanti jadilah sarjana. Atau ada yang kuliah di universitas. Hal yang aneh di universitas itu 1 SKS buat PNS yang cari penyetaraan lebih mahal dari mahasiswa reguler. Tetapi lebih mudah dalam mencari nilai. Dan tentu jasa pembuatan skripsi menjamur di akhir kuliah mereka. Dari pengalaman rekan guru saya, membuat tertawa. Katanya sebelum ujian sudah dikasih tahu kunci jawaban. Banyak rekan2 bilang kita kuliah tu gak tambah ilmu cuma tambah gaji ……horeee
    Enaknya lagi P dan K kasih tunjangan2 bantuan kuliah……

    6. Anggaran Pendidikan paling utama buat Murid

    Memang dari dulu Guru PNS bergaji sangat kecil dan tidak manusiawi. Akan tetapi sejak Pemerintahan Presiden Abdur Rahman Wahid Guru PNS dan umumnya PNS sudah bergaji di atas rata2 dan UMR. Jadi ada yang janggal bila ada berita anggaran 20% sebagai besar buat gaji guru. Kenapa tidak buat menggratiskan wali murid untuk menyekolahkan anaknya atau menguliahkan mereka. Banyak anak2 kita yang pandai dan berotak cerdas tetapi terganjal kemiskinan orang tua. Coba kita cek berapa biaya masuk Fakultas Kedokteran. Apakah anak seorang buruh pabrik yang cerdas mampu kuliah disana? Apakah mampu ayah anak tadi mewujudkan cita2nya? Banyak anak2 Indonesia berotak Eistein atau Hawkins tetapi akhirnya Cuma jadi kuli bangunan karena ayahnya juga kuli bangunan. Sungguh Ironis.

    7. Gaji guru dah cukup Besar

    Guru PNS sekarang sudah bukan Umar Bakri lagi tapi Bakrie Group. Gaji PNS adalah sekitar 1,5 juta dan untuk golongan IV/A sekitar 2,3 juta lalu dengan anggaran 20% katanya bisa mencapai 3,5 juta. Dan dengan tunjangan sertifikasi 1 x gaji jadi 5 juta (mungkin). Yaaa selamat dech. Semoga menjadi guru yang berkualitas. Tetapi pengalaman di sekolah saya. Yang lolos sertifikasi malah guru yang tidak begitu rajin. Dia main laporan aja yang tertib dan bukti2 fisik yang meyakinkan (yang enak dilihat di atas kertas doang…….). Tetang kualitas mengajar ………jangan tanya ……CTL …..(menyuruh menCATAT diTINGGAL LUNGO )…… guru macam gini malah dikatain berkualitas………

    Banyak temen2 guru PNS yang bilang sebenarnya gaji mereka dah cukup besar…. Seandainya saja Dana itu tidak menaikkan gaji guru sampai 4-5 juta tetapi bagaimana untuk mengangkat guru baru karena faktanya Indonesia kekurangan guru. Dan mungkin saja mereka juga punya anak yang sarjana lulusan FKIP yang Cuma dirumah menganggur.,…. Seandainya saja buat anakku……..

    Bagaimana nasib2 guru2 di sekolah swasta? Apakah hal ini akan menimbulkan kecemburuan sosial…………….

    Ada yang unik juga di sekolah saya. Ada 4 macam guru yang bekerja dengan porsi dan tanggung jawab yang sama tapi dengan gaji dan penghargaan yang berbeda.

    a. Guru WB : biasanya malah para fresh graduate FKIP regular = 75 Ribu/Bulan untuk guru WB SD, 150-300 ribu/bulan untuk guru WB SMP/SMA(tergantung jam)

    b. Guru Kontrak : 800 ribu/bulan

    c. Guru PNS (angkatan baru) : 1,5 Juta-2,5 juta

    d. Guru PNS sertifikasi (angkatan lama) : 3 jt-4 juta

    tentang kualitas dan produktifitas berbanding terbalik. Guru WB baru yang masih muda sering dikasih pekerjaan yang berat2

    8. Pelatihan dan Workshop yang mubadzir
    Akhir2 ini selalu ada pelatihan2 peningkatan kualitas guru dan pendidik seperti: CTL (contextual teaching and learning), DBE USAID, MBS, KBK, dan puluhan pelatihan2 lain yang sebenarnya sangat berguna bagi peningkatan kualitas pendidik dan pendidikan. Tetapi lagi2 model2 pasif,,,,, yang tidak memperdulikan semangat kompetitif yang dipikir yaaaaaa dapet uang transpor dan fasilitas.,……tentang nanti di sekolah ……..KEMBALI SEPERTI YANG DULU model konvensional ..

    9. Mutasi = lari dari tanggung jawab

    Banyak temen2 guru yang ternyata pindahan dari Papua dan pedalaman sumatra. Ternyata mereka merantau ke sana cuma biar dapet SK PNS setelah dapet mutasi ke Jawa lagi..( tentu nyogok) ….kasihan murid2 di luar jawa yang sangat membutuhkan guru, malah ditinggal pergi. Sementara di sini banyak sekolah kelebihan guru. Cuma ngajar 12 jam gaji 2 juta.

    Tentu ketimpangan dan kebusukan2 yang saya ungkapkan diatas hanya di bidang pendidikan. Ada banyak bidang2 lain di Indonesia yang memang sedang sakit sosial. Sekali lagi saya mohon maaf bila tidak berkenan. Saya sendiri guru kontrak yang akan di angkat PNS tahun ini.

    Saran buat Pemerintah:

    Anggaran Pendidikan 20% harus diawasi dengan ketat dan sembuhkan lembaga kependidikan dari oknum2 yang menodai misi suci pendidikan. Jadikan 20% APBN pendidikan benar2 tepat sasaran yaitu keberhasilan para siswa untuk mandiri dan nenempatkan diri di tempat yang tepat. Dan sudah saatnya pemerintah tidak hanya meng anak emaskan PNS, Guru, TNI dan Polri. Tetapi juga para Buruh, Petani, Nelayan, dan Pengusaha kecil dan menengah yang berdiri dengan kaki sendiri. Yang menghidupi diri sendiri dan menambah kemandirian negara. Kembangkan wiraswasta dan kemandirian rakyat.

    Jadikan iklim kompetitif yang mengutamakan kualitas output pada setiap penghargaan terhadap PNS, Guru, TNI dan Polri. Yang berkualitas dan produktif lah yang dapat penghargaan yang tinggi.

  20. Februari 10, 2009 pukul 7:20 pm

    kenapa hanya gaji guru pns aja yang dinaikkan padahal banyak juga guru honor yang mengajar disekola-sekolah tapi gajinya hanya 100 saja perbulan.bukankah guru yang menghonor juga sebagai guru jadi kenapa hanya para pns aja yang diperhatikan sedangkan para guru yang menghonor tidak.

    saya harap pemerintah akan memperhatikan nasib para guru honor.andaikata itu tidak terealisasi alangkah tidak adilnya kebijakkan ini.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: