Beranda > cerpen > Seperti Pagi-Pagi Sebelumnya Di Puncak Bukit Ini

Seperti Pagi-Pagi Sebelumnya Di Puncak Bukit Ini


Author: Suhadi

 

Semburat cahaya matahari pagi ini telah menghangatkan tubuhku yang terpapar angin dingin kemarau tadi malam. Menghangatkan kebekuan tubuhku yang mungkin akan mendinginkan ujung-ujung jari kaki dan tanganmu bila menyentuhku. Menguapkan basah tetes-tetes embun di permukaan tubuhku yang coklat kehitaman. Warna sinar matahari yang berkilau kuning keemasan di penjuru timur itu benar-benar indah. Akankah bisa kunikmati pagi ini dengan tenang tanpa terusik oleh isakmu yang sendu pilu itu? Apakah di pagi yang indah berkabut tipis ini aku akan dapat melihat senyummu lagi?

Kicau burung-burung gelatik di ranting-ranting meranggas tanaman semak berduri Mimosaceae menggoyang lembut anak-anak daunnya yang baru saja mulai membuka karena hangatnya sinar kehidupan itu. Ah, burung-burung kecil itu memang nakal. Saling menggoda pasangannya masing-masing dengan lompatan-lompatan ringan dan anggukan-anggukan kecil di antara duri-duri di ranting Mimosaceae. Selalu, aku menjadi iri pada mereka. Begitu bebasnya burung-burung kecil itu mengungkapkan perasaan pada kekasih mereka masing-masing. Tapi, tentu aku hanya dapat menikmati rasa iri itu dalam kesendirianku di puncak bukit ini. Meneriakkan perasaan hatiku pada awan-awan yang berarak, pada semilir angin Pegunungan Meratus, dan pada lembah nun jauh di sana yang tampak menghijau oleh sawah-sawah subur penduduk. Keadaanku saat ini membuatku tak mampu mengungkapkan rasa iba dan kasih sayangku padamu. Ah, sampai kapan aku akan mendengar isak tangismu?

Di antara sisa pohon-pohon Dipterocarpus yang tak begitu besar dan masih dapat bertahan dari kebakaran hutan musim lalu dan penjarah kayu, di jalan setapak penuh Imperata dengan daun-daunnya yang menguning mengharap hujan, kudengar samar-samar langkah kakimu. Ya Tuhan, lindungi kaki yang jenjang dan mulus itu dari runcingnya onak serta duri belukar. Kubisa bayangkan bagaimana langkah-langkah gemulai telapak kaki putih mulus itu di antara hamparan lembut daun-daun dan bunga mungil kuning, Widelia yang tumbuh liar. Ah, suara gemirisik serasah dan kerikil karena langkah kakimu begitu sama. Tak pernah berubah.

Sesaat saja, kau sudah duduk di sisiku. Kulihat wajahmu yang cantik itupun selalu sendu. Sudah dua tahun berlalu sejak kejadian yang membuatmu kehilangan senyum manismu. Hingga kini, waktu belum dapat menyembuhkan luka dan mengembalikan senyum manismu. Andai saja aku dapat membelai rambutmu. Andai saja suaraku bisa didengar olehmu, duhai Pujaanku. Aku ingin sekali menghiburmu. Membebaskanmu segera dari derita karena kehilangan orang yang menjadi cahaya matamu.

Kejadian dua tahun yang lalu, saat bendera-bendera berkibaran di sepanjang jalan-jalan kota hingga ke pelosok-pelosok kampung. Saat baliho-baliho memamerkan senyum-senyum orang-orang bertitel dengan gaya yang dibuat sealim dan sesantun mungkin. Saat orang-orang ramai berkumpul di lapangan-lapangan untuk mendengarkan berbagai orasi. Saat orang-orang berkendaraan di jalan-jalan dan membuat arak-arakan panjang. Kejadian yang sungguh tak pernah kau duga itu kemudian terjadi. Hanya seminggu sebelum hari persandinganmu dengannya.

Kamu menjerit histeris, saat tubuhnya yang berbiru-biru lebam itu terbujur di hadapan. Berlumuran darah pada wajahnya yang memucat dingin. Kamu berteriak-teriak meminta penjelasan pada semua orang tentang apa hal yang telah berlaku pada kekasihmu itu. Kamu tergugu saat mendengar penjelasan orang-orang yang mengantar jasad calon suamimu.

“Dia dipukuli oleh orang-orang sesaat setelah berdebat kusir tentang pilihannya di warung Ma Kacil. Tentang partai yang dipilihnya, Tin!” Kata salah seorang pemuda yang mengantar tubuh tanpa nyawa itu.

“Ya, dan orang-orang yang telah menentukan pilihan partai berbeda, yang merasa panas akan argumen-argumen kekasihmu, merasa terpojok atas pilihan partai mereka akhirnya nekat memukulinya.” Timpal seorang laki-laki lainnya dengan jidat penuh lelehan keringat.

“Mulanya cuma satu orang saja yang memukulnya, Tin. Lalu, yang lain kemudian ikut-ikutan. Kami mencoba melerai dan menyabarkan orang-orang yang memukuli calon suamimu itu, Tin. Sungguh. Tapi kami tak berhasil.” Seorang dengan tubuh gempal bersuara nyaring.

“Dia benar, Tin. Kami sudah berusaha menyelamatkannya dari amuk massa. Tapi tak berhasil. Banyak sekali orang-orang di warung Ma Kacil. Semua sudah menjadi gila karena panji-panji yang diarak itu. Semua sudah kehilangan akal sehatnya, karena tokoh-tokoh besar yang berbicara di mimbar-mimbar itu, Tin. Semua sudah menjadi gila karena selembar kaos oblong murahan dan beberapa lembar rupiah. Fanatisme tanpa dasar yang berlebih-lebihan dan telah menyebabkan kematiannya.” Seorang lelaki setengah baya berkacamata menambahkan.

Kamu berteriak-teriak keras. Tubuhmu terguncang-guncang. Air matamu membanjiri pipi putihmu. Turun mengalir hingga ke dagumu yang bagaikan lebah bergantung itu. Ayah-ibumu mencoba menyabarkanmu. Begitu juga calon mertuamu yang tak kalah shocknya denganmu, mencoba membisikkan kata-kata sabar walaupun mereka sendiri tampak tak tahu apa akan bisa bersabar.

“Sudahlah, Tin. Sudah jadi kehendakNya.” Kata ayahmu.

“Kita hanya manusia, Tin. Serahkan semua kepadaNya. Ikhlaskan!” Sambung ibumu sambil membelai rambut sebahumu yang hitam arang itu.

Kamu tetap saja berteriak-teriak histeris. Kamu paham bahwa manusia memang hanya makhluk yang tak berdaya atas semua kodrat dan iradatNya. Kamu juga paham, bahwa umur sudah ada ketentuannya. Pun penyebab kematian itu sendiri. Hanya saja, yang sangat sulit kamu mengerti adalah, mengapa kekasihmu dan orang-orang yang memukulinya yang menyebabkan kematian calon suamimu itu begitu bodohnya bertegang-tegang urat leher demi partai-partai itu? Mengapa mau saja saling pukul sesama manusia demi kemenangan partai-partai itu? Partai-partai yang para penggedenya seringkali lupa dengan para konstituennya. Sekarang, setelah semua menjadi begini, apa yang dapat diberikan partai-partai itu?

Kini kau telah sampai di tempat di mana kamu biasa duduk. Tempat duduk yang selalu kau datangi hampir setiap hari, setelah kematiannya dua tahun yang lalu. Tempat ini memang tempat yang sangat penuh memori untukmu. Kau biasa memadu kasih dengannya di tempat ini sembari memandangi hamparan sawah ladang di lembah nun di bawah sana. Heh, dulu aku senyum-senyum saja melihat kebahagiaan kalian berdua. Tak ada perasaan apa-apa dariku untukmu. Tapi kini, sejak kau mulai mendaki bukit ini seorang diri, termenung, menitikkan air mata, lalu kemudian untuk beberapa saat terisak di dua tahun yang lalu, aku mulai menaruh iba padamu. Rasa iba yang berlanjut menjadi perasaan cinta.

Jemari lentikmu mencerabut bunga-bunga rumput-rumput Cyperus di sekitar kakimu. Berirama dan sedap ditatap. Hhhmm, aku sungguh bisa memaklumi itu. Kalian telah mengukir beribu janji manis di puncak bukit ini. Aku telah menjadi saksi janji-janji kalian, bersama-sama awan seputih kapas yang berarak saat menyentuh punggung-punggung Pegunungan Meratus itu. Tin, apalah dayaku….

Kupandangi wajahmu yang kuyu. Semburat kuning emas cahaya matahari pagi dari penjuru timur itu menjadikan wajahmu menjadi lebih berseri. Cantik. Kadang aku seringkali berpikir: pastilah kamu cantik sekali, mungkin lebih cantik dari semua wanita-wanita cantik yang pernah terlahir di dunia ini bila saja wajah tirusmu itu memancarkan kebahagiaan. Tentu saja! Dalam suasana hati penuh duka ini saja, wajahmu demikian cantiknya! Andai aku bisa memelukmu. Kan kubiarkan kau bersandar di tubuhku dan melepaskan semua bebanmu. Seperti pagi-pagi sebelumnya di puncak bukit ini, kamu mengakhiri tetesan air mata dengan isakan tertahan. Lalu menarik napas panjang untuk kemudian bangkit berdiri dan berjalan pulang.

Tin, andai aku bukan sebongkah batu karang di puncak bukit ini, kan kuraih jemarimu itu. Kuanyam dan ikatkan bunga-bunga rumput Cyperus itu untuk menjadi cincin tanda cintaku padamu. Tin, ingin kuteriakkan pada awan-awan seputih kapas yang sedang berarak dan menyentuh punggung Meratus itu bahwa aku sungguh ingin menjadi pengganti kekasihmu yang dulu. Andai aku bisa….

 

Danau Panggang, 27 Oktober 2008

  1. Oktober 27, 2008 pukul 8:21 pm

    hmmmm tak bisa berkata-kata saya dengan kisah ini. Sunguh tulus, menyentuh, penuh perlawanan tapi juga ikhlas…apalagi pak suhu berhasil mendeskripsikan dengan jelas…serasa berada di sana……..

    Hebat suhu…plok plok plok…saya harus belajar niy dari suhu hehehe
    ================
    yang bener moe?

  2. Oktober 28, 2008 pukul 2:26 am

    narasinya mengalir dan enak dibaca, pak suhadi. deskripsi alamnya menyatu dengan karakter tokoh sehingga cerita ini jadi terasa lebih utuh. semoga makin kreatif dalam mengeksplorasi beragam topik dalam fiksi, pak. salam kreatif!

  3. Oktober 28, 2008 pukul 4:11 am

    senangnya bisa membaca cerpen karya suhu lagi.
    karya suhu selalu menggugah, kali ini pencerita ternyata adalah sebongkah batu (bukan malin kundang kan, suhu?).

    pesannya sarat, walau hanya berupa cerita pendek, mulai dari ketulusan cinta, hingga kebodohan orang-orang yang fanatik hingga gelap mata untuk sesuatu yang absurd.

    mantap!

    (suhu, karena si tin begitu cantiknya, mas melo jadi naksir tuh. hihi!)

  4. Oktober 28, 2008 pukul 6:04 am

    Cerpen yang enak di baca. Pak Suhadi tidak hanya piawai meramu cerita berlatar daerah rawa tapi juga piawai membuat cerpen berlatar perbukitan. Salut dan saya akan terus belajar menulis salah satunya dari blog Pak Suhadi.

    Malang juga ya nasib calon suami “Tin”. Jadi korban fanatisme dan euforia sesaat. Padahal para wong cilik ini hanya diperlukan menjelang pemilihan. Setelah PEMILU sesesai, nasib mereka kembali tenggelam di panggung sejarah yang kelam. Kasihan, mereka tidak sadar telah jadi korban gombalisasi. Hiks..

  5. Oktober 28, 2008 pukul 9:28 am

    Cerita yang menyentuh, dan kemungkinan juga terjadi di dunia nyata. Betapa orang-orang berantem hanya karena pilihan yang berbeda…padahal tokoh yang diusungnya kadang mengenalnya pun tidak…

  6. AL
    Oktober 28, 2008 pukul 9:58 am

    Kalau baca cerpennya pak Suhadi, kayak dibawa ke suasananya.. Asik pak… Bisa dinikmati.
    Keren!

  7. Oktober 28, 2008 pukul 10:50 am

    pak, saya baca cerpennya kapan2 aja yak, sekarang mah cm pingin ngasih undangan KONDANGAN rumah baru saya di thedion.com, hehe
    anw, menikmati cerpennya pak suhadi butuh moment yg pas biar bisa ngena, soale cerpennya mantabh!

  8. Oktober 28, 2008 pukul 11:57 am

    wow dah keluar lagi cerpen nya😀

  9. Oktober 29, 2008 pukul 4:58 am

    kisah sederhana, tapi diramu sedemikian rupa menjadi menarik. kisah kebanyakan rakyat kecil yg sering jadi objek sekaligus tumbal.

    ok, sukses pak suhadi

  10. Oktober 29, 2008 pukul 8:28 am

    Wah, Pak Suhadi…
    Lama tak kemari dan Anda tetap bahkan semakin rajin menulis cerpen.

    Salut! Salam dari jauh!

  11. Oktober 29, 2008 pukul 10:25 am

    Pak, cerpennya begitu romantis
    Membuat geliatku akan harapan cinta kembali ada

    Pak, Anda semakin bisa, semakin tak biasa

  12. Oktober 29, 2008 pukul 3:15 pm

    deskripsi yang mantab. bukan kisah nyata kan pak😀

  13. Oktober 29, 2008 pukul 4:24 pm

    Tin, andai aku bukan sebongkah batu karang di puncak bukit ini, kan kuraih jemarimu itu.

    Aih… romantis sekali kalimat ini! Ehm

  14. Oktober 29, 2008 pukul 4:25 pm

    ( Tin, andai aku bukan sebongkah batu karang di puncak bukit ini, kan kuraih jemarimu itu. )

    Aih… romantis sekali kalimat ini! Ehm

  15. Oktober 29, 2008 pukul 6:22 pm

    ehm.. itu sisi lain korban sebuah politik ‘tingkat tinggi’ ya…

  16. Oktober 30, 2008 pukul 9:09 am

    spechless pak
    udah dibilang dari dulu kalo urusan deskripsi pak suhu tak ada dunianya, detil abis…..

  17. arifrahmanlubis
    Oktober 30, 2008 pukul 11:30 am

    salam.

    cerpennya mengiris dalam pak🙂

    hebat.

  18. Oktober 30, 2008 pukul 6:23 pm

    tulisannya sangat menarik mas

  19. Oktober 30, 2008 pukul 9:41 pm

    Wah… ini cerita melambangkan pepatah “bagikan batu merindukan cyperus” huehehe…..

    Tapi ceritanya bagus…. peraduan antara sentuhan hati dan romantisme…..😀

  20. Oktober 31, 2008 pukul 12:25 am

    Asyik tu … tapi ingat tidak semua orang familiar dengan nama-nama Latin lho …

  21. Oktober 31, 2008 pukul 2:32 am

    Ini nih yang ditunggu-tunggu…
    Dan ikatkan bunga-bunga rumput Cyperus itu,
    duh…
    Sebak mataku.

  22. Oktober 31, 2008 pukul 8:42 am

    Ajari saya menulis seperti diatas kang …

  23. November 3, 2008 pukul 8:43 pm

    saya slalu senang membaca tulisan yang menggambarkan alam seperti pada bagian2 awal. selalu indah & bisa mengingatkan saya siapa penciptanya. takjub!
    *baru dibaca deh pak

  24. November 19, 2008 pukul 3:58 pm

    Dipterocarpus, Imperata, Widelia…
    .
    ah, saya serasa menjadi orang yang bodoh sedunia setiap kali menikmati cerpen yang disisipi istilah-istilah latin seperti ini, sebagaimana halnya ketika saya membaca Laskar Pelangi. Pak Suhadi, apakah karya seperti ini akan kehilangan keindahannya apabila tidak (terpaksa?) menggunakan istilah yang sama sekali tidak familiar dan jarang didengar mayoritas kita? Malu ya kalau Bapak menggunakan nama keruing, sehingga diptorecarpus yang dipilih? Kurang percaya diri ya, apabila Bapak menggunakan nama alang-alang dan gulma sehingga agar terkesan lebih “puitis” dan “eksotik” (serta tampil beda), Bapak memilih nama dari bahasa lain?
    .
    Baiklah, baiklah…
    Bapak adalah seorang guru IPA, wajar apabila dalam tulisan Bapak, istilah-istilah sains/biologi bertebaran. Tapi tolong, satu hal yang setidaknya bisa Bapak pertimbangkan, yakni daya tangkap pembaca-pembaca awam.
    .
    Terlepas dari “keluhan” saya di atas, cerpen Bapak, seperti biasa (terlebih sejak saya mengikuti tetralogi Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung itu), sungguh memukau…
    .
    Salam,
    Aris

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: