Beranda > cerpen > Perempuan Bergaun Putih

Perempuan Bergaun Putih


Cerpen ini adalah posting ulang. Sekedar pengingat, bahwa Pak Sawali Tuhusetya adalah orang yang telah membuat saya berani menulis cerpen (fiksi). Cerpen perempuan bergaun putih ini adalah cerpen hasil rekayasa ulang saya terhadap cerpen dengan judul yang sama (Perempuan Bergaun Putih) karya Pak Sawali Tuhusetya.

 

Author: Suhadi

 

Telah lewat tengah malam saat Juni melompat dengan hati-hati lewat jendela kamarnya. Ia berjalan tergesa ke ujung hilir kampung sambil membawa sebuah bungkusan kantong kresek hitam. Juni menuju gedung sekolahnya untuk memenuhi sebuah ujian gila yang tak akan ingin diulanginya lagi seumur hidupnya nanti. Lebih kurang duapuluh menit berjalan di bawah gerimis, akhirnya sampai juga ia di depan gedung sekolah itu. Juni menengok ke kiri, ke kanan dan ke belakang berulang-ulang kali. Lalu memantapkan hati maju melangkah ke depan.

 

“Kree…..eee.ee…ttttt…” Juni mendorong pintu teralis besi yang berat itu perlahan. Bunyi engsel yang lama tak diminyaki menegakkan bulu kuduknya. Dinginnya besi-besi bulat penyusun pintu teralis gerbang sekolah itu sedingin ujung-ujung jari tangan dan kakinya. Lehernya tegang. Dengan perlahan, sekali lagi ia menengok ke kiri dan ke kanan, kemudian ke belakang. Ia merasa seperti ada sepasang mata tengah mengintainya di balik sudut-sudut gelap gedung SMP Danau Panggang yang dibangun di atas rawa-rawa ini. Rawa-rawa yang amat luas dan menyatu dengan Sungai Pandan Liris yang mengalir tepat di depan gedung sekolah. Sungai yang merupakan jalur transportasi satu-satunya menuju kota kecamatan.

 

Sial…sial…sial. Rutuknya berulang-ulang kali dalam hati. Sementara bibirnya yang yang dingin dan terasa berat bergerak-gerak berusaha melafadzkan bacaan ayat-ayat Al qur’an  sebisanya. Andai saja ia tak berkeinginan bergabung dengan anak-anak Geng Macam Hitam. Andai saja ia tak meladeni permintaan Katung c.s. untuk meletakkan bunga kacapiring ini di depan pintu laboratorium IPA yang terkenal angker ke seluruh antero kampung. Laboratorium IPA yang telah dikenal masyarakat Desa Sapala sebagai tempat yang banyak makhluk halusnya. Berbagai macam cerita pernah didengarnya tentang makhluk-makhluk halus penunggu laboratorium IPA itu, dari jin berkepala api, atau laki-laki bertubuh tinggi besar hitam dengan jari-jari tangan sebesar pisang ambon, sampai perempuan bergaun putih yang sering menangis atau tertawa di malam-malam gerimis. Hiii…ngeri.

 

Semua ini berawal ketika Juni menyatakan ingin bergabung dengan sebuah perkumpulan anak laki-laki kelas VIII SMP Danau Panggang. Sebuah perkumpulan tidak resmi, di luar Osis tentu saja. Juni sangat tertarik ikut dengan perkumpulan ini karena sepertinya keren sekali. Namanya saja Geng Macam Hitam. Kalau kemana-mana mereka selalu bersama. Kalau ada anggotanya yang berkelahi, semua anggota yang lain akan membantu. Keroyok rame-rame. Pokoknya kompak. Geng Macan Hitam terdiri dari Katung sebagai ketuanya, lalu ada Syarif, Bambang, Encek, dan Hamid. Di sekolah tak ada anak yang berani macam-macam dengan mereka.

 

Barangkali benar kata Pak Zidan beberapa waktu yang lalu saat pelajaran Bahasa Indonesia. Kata beliau, hati-hati dengan ucapan kita. Ada peribahasa, karena mulut badan binasa. Ah… akankah aku malam ini mati karena dicekik oleh makhluk-makhluk halus penunggu ruang laboratorium IPA itu. Hiii.. Rasanya Juni belum ingin mati semuda ini. Ada segumpal penyesalan di hati Juni. Tapi apa daya, demi sebuah harga diri dan kata-kata yang telah diucapkannya di hadapan anggota Geng Macan Hitam, ia akan lakukan ini walau apapun yang akan ditemuinya nanti. Harga diri, rasanya ingin Juni menganalisa ulang definisi tentang harga diri. Apakah harga dirinya memang harus dipertahankan dengan sebuah pembuktian gila macam ini. Harga diri…… heh, ada yang bilang, harga diri hanyalah selembar kertas basah yang kita pertahankan mati-matian agar tidak sobek. Padahal, tersentuh sedikit saja habislah ia. Masih teringat perjanjiannya dengan Katung c.s. tadi siang di depan pintu ruang laboratorium IPA saat jam pulang sekolah.

 

 “Kalau kamu mau ikut gabung geng kita, kamu harus memenuhi sebuah syarat. Kamu harus membuat sebuah pembuktian yang bisa meyakinkan kita berlima bahwa kamu tidak penakut. Geng ini adalah kumpulan anak-anak pemberani. Kami tidak akan dengan mudah menerima anggota yang terkenal pengecut macam kau Jun!” kata Katung di hadapan semua anggota geng. Nada suara Katung jelas bernada melecehkan. Itupun masih ditambah senyum mengejek yang kompak dari Syarif, Bambang, Encek, dan Hamid.

 

“Aku bukan pengecut. Itu harus kalian catat! Apapun syaratnya aku akan penuhi. Sebutkan saja Tung!” Juni menantang.

 

“Okey, begini syaratnya.” Lalu Katung menyebutkan syarat yang harus dipenuhinya. Sebenarnya syarat itu lebih berupa sebuah ujian atau tes unjuk keberanian. Juni diminta mengambil tujuh kuntum bunga kacapiring di komplek pekuburan umum di ujung hulu Desa Sapala saat Adzan Maghrib dikumandangkan. Lalu setelah lewat tengah malam, ia harus berjalan ke ujung paling hilir kampung, ke gedung sekolah mereka SMP Danau Panggang. Lalu kemudian menaruh ketujuh kuntum bunga kacapiring itu di depan pintu Ruang Laboratorium IPA. Sebenarnya ada juga niatan mau mundur di hati Juni, tapi rasanya sudah kepalang basah. Harga dirinya—mungkin memang harus dipertahankan dengan cara seperti ini.

 

Melewati pintu gerbang teralis besi yang memang tidak pernah dikunci itu Juni terus waspada. Dibiarkannya pintu besi itu tetap terbuka. Gerimis yang turun semenjak sore tadi tak berhenti-henti juga. Di seberang sungai di depan sekolah yang menyatu dengan rawa Danau Panggang yang teramat luas itu tampak barisan pohon-pohon jingah berukuran besar membentuk siluet-siluet hitam karena pekatnya malam. Dahan-dahan besarnya menjulur ke arah permukaan sungai membuat bentukan-bentukan tubuh raksasa dengan lengan-lengan yang siap mencengkeram. Ah…dalam situasi seperti ini bayangan apapun macam pohon jingah di seberang sungai itu akan tampak seperti sosok-sosok menyeramkan. Juni berusaha keras membuang rasa takutnya jauh-jauh. Bukankan Sebagian besar bapak dan ibu guru yang mengajar tinggal di komplek sekolah juga? Kenapa harus takut? Di komplek sekolah ada Pak Zidan, Pak Salman, Bu Endah, Pak Zani, Pak Muhammad, dan Bu Barliah. Sebagian dari mereka tinggal bersama keluarganya demi mengabdikan diri pada kemajuan pendidikan di kampung ini. Seringkali timbul perasaan kagum Juni pada dedikasi mereka. Juni tahu persis bagaimana Pak Zidan, Pak Zani dan Pak Salman sudah mengajar di SMP ini sejak awal sekolah ini dibangun pada tahun 1993. Saat itu listrik belum masuk ke Desa Sapala. Transportasi ke kota kecamatanpun demikian susahnya. Sudah lima belas tahun lebih mereka tinggal di kampungnya dan sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat Sapala. Sepertinya mereka betah-betah saja, bahkan terkesan begitu menikmati pekerjaan mereka di tempat sunyi ini. Mereka sudah menjadi guru bahkan sebelum Juni dilahirkan. Barangkali cerita-cerita mengenai makhluk-makhluk halus itu hanya isapan jempol belaka. Bapak dan ibu guru menempati bagian gedung sekolah yang letaknya berjauhan sekitar tiga ratus meter dengan laboratorium IPA, tapi paling tidak cahaya-cahaya lampu dari jendela kamar mereka masih kelihatan. Kalau terjadi sesuatu ia bisa lari ke tempat itu dan berteriak minta tolong pada mereka. Heh..jangan-jangan Katung c.s. sedang mengamati gerak-gerikku di salah satu sudut gedung sekolah ini dan siap menertawakanku dengan keras jika aku menunjukkan rasa takutku. Juni menguatkan hatinya lagi.

 

Juni terus berusaha menepis rasa takutnya meskipun detak jantungnya justru semakin menderu. Sekarang yang terbayang-bayang di benaknya adalah sosok perempuan bergaun putih yang sering jadi pembicaraan masyarakat kampungnya. Kata mereka, kalau saat-saat gerimis seperti malam ini, jangan mencari ikan di sekitar gedung sekolah ini—yang dibangun di atas rawa. Soalnya bisa diganggu oleh setan perempuan bergaun putih. Juni bisa membayangkan bagaimana perwujudan perempuan hantu itu berdasarkan film-film atau sinetron-sinetron horor yang sering ditontonnya di televisi. Ia bisa bayangkan bagaimana wajah sadis penuh belatung yang tertutup sebagian oleh rambut hitam panjang yang tergerai, atau kuku-kuku yang panjang hitam dan siap mencekik leher korbannya, atau tawa cekikikannya yang melengking merindingkan bulu roma.

 

Juni melangkah perlahan dan mulai memasuki bagian koridor yang menuju kantor guru. Sebuah bola lampu lima watt menerangi bagian ini dengan cahayanya yang redup dan suram. Huh…kenapa gak dipasang lampu yang lebih terang, rutuk Juni dalam hati. Di atas atap gedung sekolah sesekali terdengar nada sengau suara burung cabak malam—sejenis burung hantu berukuran kecil. Mungkin burung-burung itu sedang menunggu mangsa lengah, berupa tikus-tikus rawa kecil yang hidup di antara rumpun-rumpun enceng gondok dan rumput rawa. Suaranya lebih mirip orang mendehem bagi Juni. Tujuh kuntum bunga kacapiring di kantong kresek yang di tangan kanannya dipegang erat-erat. Hampir sampai Jun, kuatkan hatimu.

 

Beberapa meter di depan Juni, di ujung koridor, terbentang lapangan upacara yang dibuat dalam bentuk panggung di atas rawa dari kayu ulin dengan luas berukuran duapuluh meter kali duapuluh meter persegi. Sebelum mencapai lapangan upacara, koridor ini membentuk simpangan berbentuk seperti huruf T. Satu ke arah kanan menuju deretan kantor TU, wc guru, kamar mandi, beberapa ruang kelas kosong—karena tak banyak anak yang bersekolah di kampung ini, dan gedung yang dijadikan asrama tempat tinggal guru-guru. Percabangan koridor yang satu lagi ke arah kiri, menuju deretan ruang perpustakaan, ruang-ruang kelas, deretan wc siswa, ruangan olahraga, gudang, dan paling ujung; laboratorium IPA yang angker itu. Juni mengarahkan pandangan ke jendela-jendela kamar asrama guru yang tampak sepi namun cahaya terang nampak menerobos jendela-jendela kaca itu melewati kain gordin aneka warna. Aman Jun…tak akan ada apa-apa. Kata hati Juni untuk menenangkan dirinya. Lalu pandangannya dialihkan ke arah laboratorium IPA di sisi yang berlawanan. Gelap—pekat di bagian itu. Huh….penghematan listrik atau memang sengaja dibiarkan gelap oleh bapak ibu guru karena takut cahaya lampu listrik akan mengganggu makhluk-makhluk halus itu? Hiii… Bergidik Juni membayangkan bagaimana seandainya makhluk-makhluk halus itu marah karena merasa terganggu. Apakah kedatangannya malam ini untuk meletakkan tujuh kuntum bunga kacapiring ini di depan pintu ruang laboratorium IPA tidak akan mengganggu ketenangan mereka? Apakah aku tidak akan disangka mengolok-olok mereka? Atau barangkali tujuh kuntum bunga kacapiring ini justru adalah suatu ritual untuk memanggil keluar mereka? Kesiur angin dingin dan tempias gerimis malam menyentuh lembut bagian tengkuk Juni. Darahnya serasa tersirap. Sekujur bulu-bulu halus ditubuhnya berdiri menegak.

 

“Ya Allah…lindungilah hambamu ini ya Allah…. Saya jera… Tak akan ikut geng-geng lagi… ampuni saya… wahai para penunggu…..” Juni sudah mulai gemetaran.

 

“Kletak! Kletak! ……….Kletak! Kletak!…….. Kletak! Kletak!…….. Kletak! Kletak!” Suara tali bendera pada tiang pipa besi di tengah lapangan upacara itu menimbulkan bunyi aneh saat tertiup angin. Sebenarnya kalau siang hari tidak ada yang aneh dari bunyi itu. Cuma suasana dan aroma mistis yang kental malam ini membuat Juni semakin ciut hatinya. Saat dipandanginya lagi benderang cahaya jendela-jendela kaca di bagian asrama guru Juni kembali bisa menguatkan nyalinya. Aku harus bisa. Tadi saat maghrib aku telah berhasil mengambil tujuh kuntum bunga kacapiring ini di komplek pekuburan umum kampung. Tidak terjadi apa-apa. Padahal pekuburan itu juga angker. Tinggal penyelesaian akhir. Berjalan sekitar seratus lima puluh meter ke arah depan pintu ruang laboratorium IPA dan meletakkan ketujuh kuntum bunga kacapiring ini di sana, lalu berlari pulang. Itu saja.

 

Juni mencoba menegakkan kedua lututnya yang terasa lemas. Berbelok ke arah kiri lalu berjalan menyusuri koridor ruang perpustakaan, ruang-ruang kelas, deretan wc siswa, ruangan olahraga, gudang, dan paling ujung laboratorium IPA perlahan-lahan dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Saat melewati gudang, suasana mistis semakin menjadi. Berbagai bayangan seakan berkelebatan. Juga hidung Juni seperti mencium berbagai aroma aneh. Juni mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya ilusi saja. Beberapa ekor tikus yang tadi asyik bermain-main di atas bangku-bangku patah di depan pintu gudang berlompatan menceburkan diri ke rawa. Kaget oleh kehadiran Juni—yang sama kagetnya oleh ulah tikus-tikus yang ketakutan itu. Bau wangi tak nyaman dari kuntum-kuntum kacapiring di kantong kresek itu mulai menyentuh indera penciumannya. Bulu kuduknya kembali meremang. Tubuh Juni terasa panas-dingin tak menentu. Degup jantungnya sekencang bedug masjid yang dipukul saat malam takbiran lebaran. Bertalu-talu. Beberapa meter lagi Jun….

 

“Audzubillahi minasyaitonirrajiem…. Bismillahirrahmanirrahiem….Qul a’u..jubirabbinnaas….. “ Juni berkomat-kamit sambil mengawasi sekelilingnya. Rasa-rasanya, sedari tadi sepasang mata terus mengawasinya dari balik sudut-sudut gelap bangunan sekolah ini. Juni mencoba mengawasi sekitarnya. Meneliti setiap sudut. Sepi. Tak ada siapa-siapa. Dengan tergesa-gesa ia melangkah ke depan pintu ruang laboratorium itu. Sampai saat ini tak terjadi apa-apa. Juni membuka kantong kresek dan berjongkok meletakkan ketujuh kuntum bunga kacapiring. Saat itulah jantungnya serasa copot ketika terdengar suara halus dari arah belakangnya….

“Anakku………. Bagus anakku…. Kau bawakan aku tujuh kuntum bunga kacapiring…. Bunga kesukaanku…. Hii…hi…hi….”

Juni menoleh perlahan memaksa lehernya yang kaku seakan terpancang—terpaku dengan seluruh kekuatannya untuk berputar agar ia bisa melihat ke arah datangnya suara itu. Di bawah, di rawa-rawa…. di antara rumpun-rumpun enceng gondok yang tebal sesosok bayangan putih dengan tangan-tangan kurus terarah kepadanya seolah hendak meraih tubuh Juni….

 

“Pee…rem…mmm…puan….ber…ga..un…..pupp… put…tih……!!!!!” seru Juni kaget bukan kepalang. Tubuhnya melemas jatuh lunglai dan pingsan.

 

“Ha..ha..ha…… dasar penakut!” Perempuan bergaun putih itu kemudian melepaskan mukena lama yang sudah tidak terpakai. Ternyata dia adalah Katung. Lalu bermunculanlah di balik rumpun-rumpun enceng gondok empat orang anak laki-laki lain yaitu Syarif, Bambang, Encek, dan Hamid. Semuanya tertawa terpingkal-pingkal sampai keluar air mata menahan geli. Ternyata Geng Macam Hitam telah merencanakan semuanya. Mereka sedari tadi telah menunggu kedatangan Juni di depan laboratorium IPA. Hanya saja mereka naik perahu dan disamarkan dengan memasukkan rumpun-rumpun enceng gondok ke dalam perahu mereka sehingga benar-benar tidak kentara di dalam kegelapan malam.

 

“Kita apakan dia Tung?” tanya Hamid.

“Halah.. biarkan saja! Yuk kita pulang. Badanku sudah bentol-bentol digigit nyamuk nungguin anak itu. Dasar penakut, kalian lihat bagaimana dia berjalan dengan penuh keragu-raguan menyusuri koridor sekolah? Besok pasti jadi cerita heboh. Ha…ha..ha…….ha….ha….”

Tawa Katung kembali disambut tawa keempat temannya yang lain. Mereka bersiap pergi dan mulai mendorong perahu dengan galah bambu.

 

Tapi tiba-tiba……

“Braakkk!!!!! Pintu ruang laboratorium IPA terbuka keras. Tak ada angin kencang atau siapa-siapa.

“Tung…?” Hamid melompat memeluk Katung. Semuanya gemetaran. Perahu mereka jadi oleng dan hampir saja terbalik. Kelima anak geng Macan Hitam itu kaget setengah mati karena ketakutan.

 

Dari pintu yang terbuka secara tiba-tiba itu, tepat hanya beberapa langkah di dekat tubuh Juni yang pingsan muncul sesosok tubuh dibalut kain putih yang panjang hingga menyapu lantai berdiri tegak memandang mereka dengan kilatan mata tajam. Rambutnya yang tergerai hitam menutupi sebagian wajahnya yang berkeriput hitam menyeramkan. Telunjukknya diarahkan kepada kelima anak geng Macan Hitam di atas perahu.

 

“Kalian berani berbuat macam-macam di sini he! Itu sama saja dengan mengolok-olok aku…!!!” Suaranya terdengar amat geram. Katung yang merasa telunjuk perempuan itu diarahkan lebih ke arahnya langsung jatuh pingsan. Hamid yang sedari tadi tanpa sadar memeluk Katung jadi ikut jatuh. Perahu mereka menjadi oleng dan kali ini benar-benar menjadi terbalik sehingga kelima anak di atas perahu itu jatuh ke dalam air.

 

Kini yang kaget justru sosok berbalut kain putih itu. Dengan sigap ia mencopot wig di kepala dan melepaskan kain putih panjang yang melilit tubuhnya dan melompat ke rawa untuk menolong kelima anak itu. Ternyata sosok berbalut kain putih itu tak lain adalah Pak Zidan yang telah tahu rencana anak-anak geng Macam Hitam yang akan mengerjai Juni. Lalu beliau menyusun rencana dan menunggu mereka dari dalam ruang laboratorium dan berdandan ala perempuan bergaun putih. Dengan sigap ia menolong Katung dan menenangkan keempat kawannya yang lain.

 

Setelah Juni dan Katung dapat disadarkan dari pingsannya Pak Zidan menasihati mereka.

“Makanya, kalau sekolah gak usah pakai geng-gengan segala! Sekolah bukan tempat untuk jadi jagoan. Kalian ini mau belajar atau mau jadi preman di sekolah he? Mau saya laporkan kenakalan kalian ke kepala sekolah?”

Anak-anak itu hanya tertunduk dan menyesali perbuatan mereka. Mereka berjanji tidak akan mengulangi lagi.

“Ya sudah, sekarang sudah larut malam. Pulang semua! Jangan-jangan orang tua kalian bingung mencari anaknya.”

Setelah semua anak-anak itu pulang Pak Zidan kembali ke kamarnya.

 

Koridor di depan ruang laboratorium IPA itu kembali sepi. Tujuh kuntum bunga kacapiring dengan aroma khasnya berserak tertinggal di depan pintu. Kantong kresek hitam pembungkusnya sudah terbang tertiup angin entah kemana. Gerimis masih terus turun dengan setia mengiringi malam. Bersama hembusan dingin angin malam yang entah datang dari mana, segumpal kabut tipis berarak pelan. Kabut itu kemudian memadat membentuk sesosok bayangan samar yang beberapa saat kemudian semakin jelas dan jelas. Perempuan bergaun putih! Rambutnya tergerai tak beraturan, sebagian menutupi wajahnya. Senyum kecil tersungging di sudut bibirnya yang pucat membiru. Sebenarnya senyum itu lebih mirip sebuah seringai karena tampak sederet geligi putih dan secuat taring panjang. Di depan pintu laboratorium IPA, perempuan yang gaun putihnya tampak sedikit berkibar-kibar karena hembus angin itu berjongkok mengulurkan tangan kurusnya yang dibalut kulit kering-mati. Kuku-kuku panjang hitamnya meraih ketujuh kuntum bunga kacapiring di atas lantai. Sejenak ia menciumi wanginya. Lalu tertawa keras dengan nada yang teramat ganjil. Gemanya terdengar jauh bersama semilir angin hingga ke kamar Pak Zidan. Merinding buku roma Pak Zidan mendengar suara tawa ganjil—menyeramkan itu. Sesegeranya ia menarik selimut menutupi seluruh tubuh dan kepalanya. Walau sudah sedemikian keras ia berusaha, matanya tetap tak dapat terpejam. Bahkan hingga fajar datang menjelang. Dan kokok ayam jantan bersahut adzan—lantang berkumandang.

 

Cerpen ini dipersembahkan untuk para guru berdedikasi yang mengajar di daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia. Semoga pemerintah lebih menghargai mereka semua. Banyak pengorbanan besar yang telah mereka berikan, bahkan mungkin termasuk pengorbanan pendidikan putra-putri mereka sendiri.

 

Buat sahabat saya Ilham di Sapala, tetap sabar dan pantang putus asa, semoga SK mutasi cepat dikeluarkan dan segera bisa berkumpul dengan anak-istri di Probolinggo setelah lebih dari 10 tahun mengabdi di Danau Panggang.

 

Saran buat pemerintah: sesekali dirolling dong guru-guru di kota dengan guru-guru dipelosok biar semua tahu bagaimana mengajar di tempat yang benar-benar berbeda.

  1. Juni 11, 2008 pukul 12:26 am

    sudah lebih seminggu ga ngupdate blog, ternyata pak suhadi lagi bikin cerpen ya!!!
    sepertinya saya tahu sumber inspirasi cerita di atas. hehehe:mrgreen:

  2. Juni 11, 2008 pukul 12:32 am

    saya jadi merinding juga membacanya pak!!!disini kosan juga dah pada sepi! hyiii serem!!!!

    =========================
    to Catra
    Inspirasi sosok perempuan bergaun putih itu dari cerpennya Pak Sawali. lalu kepikiran bikin ini setelah ingat sinetron teenlit horor tentang hantu di sekolah beberapa tahun yang lalu di sebuah stasiun tv, trus saya twisted dengan pengalaman pribadi saat masih ngajar di Sapala. Saat malam sepi saya suka ketakutan sendiri. Terutama kalau teman-teman pulang kampung. Saya penakut lho Cat😆
    Tapi hobby nonton film horror barat

  3. Juni 11, 2008 pukul 3:01 am

    sungguh inspiratiff

    ====================
    to Hanggadamai
    Makasih Ngga
    Jangan takut ngritik cerpen saya ya..
    Saya suka dikritik 😀

  4. Juni 11, 2008 pukul 7:07 pm

    sungguh posting yang panjang

    ========================
    to Ario Saja:mrgreen:

  5. Juni 12, 2008 pukul 10:59 am

    Siiiiiiiiiiiiiiip, salut deh.

    ======================
    to Pak Ersis Warhamsyah Abbas

    Makasih Pak, secara tidak langsung Bapak juga ikut mengajari saya menulis..

  6. Juni 12, 2008 pukul 3:12 pm

    Wah, Pak Suhadi bikin cerpen lagi nih. Saya jadi iri nih…

    (semoga saja ini bukan iri doang. Doakan mudah-mudahan saya bisa nyusul secepatnya ya, Pak)

    =====================
    to Nastanesha

    Saya tunggu rilisnya ya………
    Mari saling menyemangati!

  7. Juni 12, 2008 pukul 6:30 pm

    nah tuhhhh, apa saya bilang….pasti temen-temen pada nungguin tulisan pa suhadi,a palagi cerpen-cerpennya…dibikinin sinetron bagus tuh pakkk. Saya tinggal deket sekali dengan pemakaman umum pak, tapi insyaallah gaka ad gangguan, mudah-mudahan ndak akan ada.heheheh

    =====================
    to Imoe

    kalau hantunya cantik?

  8. Juni 12, 2008 pukul 9:02 pm

    Ngritik ah,,,

    ada bbrapa yg bwt sy bingung:
    ada penulisan yg salah.
    penggunaan kal. Langsung n tdk langsung ada yg kurang jelas.
    Kok crita hantu jd k masalah geng?
    Endingnya tambahin lg dong.
    Karakter hantu yg sering.

    Udah ah segitu ajah. Takut d omeli lagi.

    Uniknya :
    ada bag. Yg kejadian horor tjadi b’ulang dgn pemeran yg bbeda.
    Penggambaran lokasi hampir salah yg berarti banyak yg benar.

    Yah walopun sy bkn penulis cerpen. Jadi, maaf2 ajah. :p.
    Ide pertukaran guru kyknya bagus tuh.

    ===========================
    to T4rum4

    Makasih coy, kritik n sarannya OK juga.
    Saya baru sadar kalau saya melakukan pengulangan demikian. Thanks.

  9. Juni 16, 2008 pukul 8:27 pm

    saya biasanya gak suka horor, tapi kalau ceritanya suspense dan bikin penasaran seperti “dark water”, “the sixth sense”, dan ada pesan moral yang bagus, saya gak keberatan menikmati.
    seperti cerpen ini…

    ayo, pak. nulis lagi. jadi ketagihan nih ke sini. jangan kapok jadi tuan rumah ya?

  10. Juni 16, 2008 pukul 8:37 pm

    To Marshmallow

    Makasih.
    Soal tempat kejadian/setting cerita kamu bisa membayangkan ndak lewat tulisan ini?

  11. Juni 16, 2008 pukul 8:39 pm

    sangat deskriptif. sangat bisa dibayangkan.
    *jadi ketauan nungguin posting baru terus, i have been tailing your blog neh*
    *malu*

  12. Juni 16, 2008 pukul 8:55 pm

    To Marshmallow

    Waw!
    Saya jadi senang. Kayak burung kutilang menjemput awan.
    Maksih, sudah bolak-balik halaman di sini.

  13. September 15, 2008 pukul 1:10 pm

    wakakakak…
    jadi ingat masa-masa awal kenal blog suhu.
    waktu itu saya bolak-balik ke sini nungguin cerita baru.
    sekarang juga masih sih…
    hehehehe…

    ayo dong, sobat!
    cerita yang buanyaaaak!

  14. September 15, 2008 pukul 4:00 pm

    woi, cerpen yang bagus, pak suhadi, produk danau panggang, hehehehe😆 semoga menjadi penyemangat rekan2 sejawat dalam mengabdikan diri di danau panggang dan sekitarnya. salut dg perjuangan temen2 guru, meski harus sering berhadapan dg berbagai macam mitos dan mistis yang masih saja berlangsung.

  15. September 15, 2008 pukul 4:19 pm

    Wah,,, mas suhadi udah bisa mempermak cerpen mas sawali!! asyik juga tuh, mengoprek cerpen orang laen tapi nggak terpengaruh dengan cerpen yang diopreknya!!
    Selamat berkarya!

  16. September 15, 2008 pukul 8:03 pm

    wah Ceritanaya bagus hari ini sama muncul judul yang sama tapi kalo aku karena menati Kumcer belum datang heheheh
    salut untuk Pak Suhadi kita tunggu cerpen pak Suhadi yang masih dalam proses kali hehehe
    untuk lokasi nya kok ngeri gitu Pak ……
    Salut aja untuk pak Suhadi

  17. September 15, 2008 pukul 8:11 pm

    slmt pak Hadi.
    baru mlm ini lg saya bisa berkunjung pada kamar kata bapak.
    krn beberapa hr ini banyak sekali pekerjaan yg hrs diselesaikan.
    terus berkarya,pak.
    salamku

  18. September 16, 2008 pukul 9:16 pm

    Bapak memang makin hebat🙂

  19. September 17, 2008 pukul 5:30 am

    saya sedang belajar membuat cerpen..
    weh jadi tertantang nih utk bisa sehebat pak suhadi🙂

  20. September 17, 2008 pukul 8:30 am

    Yang tak kalah seru:

    Cerpen ini dipersembahkan untuk para guru berdedikasi yang mengajar di daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia.

    Menakjubkan!

  21. September 17, 2008 pukul 9:20 am

    Serem-serem lucu……..

  22. SQ
    September 17, 2008 pukul 9:54 am

    Dalam pikiran saya berkelebat berbagai kejadian. Seperti menyaksikan filmnya. Apalagi bagian akhirnya… benar2 meremangkan bulu kuduk dan jiwaaa..🙂

  23. September 17, 2008 pukul 3:02 pm

    kapan di bikin pelem nya pak?😀

  24. September 17, 2008 pukul 6:29 pm

    wah, ada unsur pengalaman pribadi pak suhadi nih. siiip. usulan roling boleh juga tuh.

  25. September 22, 2008 pukul 3:12 pm

    mantabbbss pak, kapan saya bisa nulis cerpen seperti bapak ya

  26. September 30, 2008 pukul 10:04 am

    senangmembacanya

  27. Desember 29, 2011 pukul 11:09 am

    Serem!!!

  1. September 15, 2008 pukul 7:46 pm
  2. September 15, 2008 pukul 9:02 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: