Beranda > cerpen > Kita Putus Saja Bur!

Kita Putus Saja Bur!


Author: Suhadi

 

“Kita putus saja, Bur….!” Demikian kalimat yang meluncur dari seberang sana.

“Apa…?!?!”

“Putus! Kita putus. Pacaran kita cukup sampai di sini!”

“Ada apa ini? Apa alas…”

“Tut..tut…tutt!” Terdengar bunyi koneksi yang diputuskan. Bahkan sebelum Burhan selesai dengan pertanyaannya.

Gila Si Rani, apa-apaan lagi ini. Burhan tak habis pikir.

“Akhhhhh…………..!!!!!!!!!!!!!!!”

Burhan berteriak, dibantingnya handphone yang baru saja dibelinya di Amuntai dua hari yang lalu dengan ditemani Rani. Tidak pecah memang, karena Burhan membantingnya ke kasur di kamarnya. Bukan di lantai.

“Burhan!! Ada apa?” suara ibunya dari dapur. Perempuan itu kaget karena pemuda penggembala kerbau rawa itu berteriak keras dengan nada sangat jengkel.

“Tak apa-apa, Bu! Cuma ingin teriak saja.”

Burhan berteriak sekenanya menjawab pertanyaan Hajjah Siti Aminah.

Ibunya yang di dapur geleng-geleng kepala saja. Sudah biasa. Memang begitu adat dan kelakuan Burhan. Anak yang aneh, pikirnya sembari tersenyum-senyum sendiri. Persis Haji Rahim, suaminya waktu muda dulu. 

Screen handphone itu menyala. Rupanya tuts panggil tergencet tanpa sengaja saat benda yang masih mulus mengkilat itu membentur kasur. Handphone itu memanggil nomor Rani. Dipandanginya dengan kesal handphone canggih itu. Handphone canggih yang memiliki berbagai fitur-fitur itu, yang hanya bisa digunakannya untuk sms dan telpon itu. Huh, rupanya benda itu bisa memahami perasaan kesalnya terhadap Rani. Handphone itu berusaha menghubungkannya kembali dengan Rani tanpa dipencet!

Burhan mengamati dengan penasaran. Beberapa puluh detik berlalu. Rani tak mengangkat. Tak ada sahutan di seberang. Handphone itu mengulang panggilan. Suara Rani terdengar. Dasar perempuan kota. Mentang-mentang guru SMP, seenaknya berlagak dengan aku yang cuma penggembala kerbau rawa! Sumpah serapah Burhan dalam hati. Tapi, walau demikian diraihnya juga handphone itu.

“Apa alasannya sayang? Kenapa putus? Kita harus bicara. Tunggu aku di dermaga sekolah ya? Awas, tunggu aku! Aku cinta kamu! Aku bisa mati tanpa kamu Bu Guru! Aku cinta mati kamu! Aku…”

“Tut..tut..tut..tutt!”

Kembali koneksi diputuskan Rani.

Burhan geleng-geleng kepala. Susahnya punya pacar orang berpendidikan, pikirnya. Padahal kemarin begitu mesranya saat mereka berdua pergi ke Amuntai untuk membeli handphone itu. Burhan tak lagi tenang. Seminggu yang lalu memang Burhan mengajak Rani untuk segera menikah dengannya. Haji Rahim sudah kebelet pingin punya cucu. Juga Hajjah Siti Aminah. Dua-duanya bahkan mengancam akan menikahkan Burhan dengan Zubaidah, anak Haji Adul. Hih, amit-amit pikir Burhan bila harus menikah dengan Zubaidah yang centilnya minta ampun itu. Tidak punya kepribadian, begitu istilah Rani, yang akhirnya tertular pada Burhan bila melihat orang-orang macam Zubaidah itu.

Memang bukan hal yang aneh bagi warga kampung yang terpencil di tengah rawa Danau Panggang ini, bila ayahnya yang memiliki lebih dari 350 ekor kerbau itu berkeinginan menikahkan anaknya dengan Zubaidah.  Ayah Zubaidah, Haji Adul, memiliki lebih dari 500 ekor kerbau. Mungkin kalau di kota besar, model seperti ini sama dengan pernikahan antar anak konglomerat. Pernikahan antara Burhan dengan Zubaidah akan jadi pernikahan antara dua keluarga terpandang yang memiliki ratusan kerbau rawa.

Seminggu yang lalu Rani memang tak menjawab. Ia belum bisa mengiyakan atau mengatakan tidak. Burhan diminta menunggu. Rani ingin berpikir. Aneh, padahal kalau Rani memang cinta kepada Burhan kenapa harus pakai pikir-pikir segala. Inilah yang membuat gundah Burhan beberapa hari ini. Sering ia tergadang pada malam hari. Sudah banyak kenangan terukir di memori Burhan.

Sela waktu menunggu yang tak pasti dari Rani membuat Burhan selalu menghubungi Rani. Walhasil, dua hari lalu Burhan berhasil mengajak Rani jalan-jalan ke Amuntai. Perjalanan yang lumayan jauh. Tiga per empat jam naik perahu motor, kemudian disabung naik motor selama 1 jam. Di Amuntai mereka menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, makan-makan, dan nonton di sebuah bioskop mini. Rasanya mesra sekali saat itu. Rani hampir tak pernah melepaskan genggaman tangan Burhan. Malu juga Burhan saat ketemu Haji Iberahim, pamannya yang adik ayahnya, di Pasar Amuntai saat menikmati soto ayam di sebuah warung di sudut pasar. Malu-malu bangga!

Burhan bergegas memakai kaos oblong yang tersampir di atas sandaran kursi di kamarnya. Ia segera mencomot handphone di atas kasur dan dengan setengah berlari menutup  pintu kamar.

“Mau kemana Bur?” Hajjah Siti Aminah setengah berteriak dari dapur. Tapi tak terdengar jawaban dari anak laki-laki semata wayangnya itu. Burhan telah pergi.

 

***

 

Tak sampai sepuluh menit, Burhan telah sampai di dermaga SMP Danau Panggang. Dermaga ini memang sangat penting artinya bagi sekolah menengah satu-satunya di desa Burhan. Di dermaga inilah, beberapa siswa menambatkan perahu mereka saat sedang belajar. Di dermaga ini juga kapal-kapal pedagang bahan makanan dan kebutuhan lain bagi guru-guru singgah. Kapal-kapal itu datang dua kali seminggu. Setiap hari Senin dan hari Kamis. Bagi Burhan sendiri, dermaga sekolah ini jauh lebih penting dari hal-hal di atas. Di dermaga inilah dulu saat kali pertama Burhan melihat Rani. Saat-saat awal perkenalan mereka ada di dermaga ini. Burhan duduk berjuntai kaki di dermaga. Ia memandang deretan bangunan sekolah yang kokoh berdiri di atas rawa itu. Ia memandang ke jendela kamar Rani, satu dari deretan jendela ruang kelas tak terpakai yang dimodifikasi menjadi kamar guru. Jendela itu terbuka. Tapi tak ada kepala Rani yang biasanya langsung nongol kalau Burhan sudah tiba di dermaga. Macam-macam saja Bu Guru ini, pikir Burhan dengan kesal.

Burhan merogoh handphone di saku bluejins-nya. Ia menelepon Rani. Saat telepon tersambung, Burhan langsung mencerocos.

“Aku di dermaga Bu Guru, ayo kita bicara! Kamu jangan buat aku kesal begini dong!”

“Tut..tut…tut..”  Terdengar bunyi sambungan diputuskan.

Burhan memandang ke jendela kamar Rani. Ia melihat bayangan Rani di sana. Cantik sekali Bu Guru itu. Tipikal anak orang kaya yang manja tapi keras kepala. Burhan tahu, ayah Rani memang bukan orang sembarangan. Wajahnya sering muncul di televisi daerah.

Burhan kesal sekali. Hampir lima menit Rani tak muncul juga. Burhan mulai mentertawakan dirinya sendiri. Ia mengingat kembali bagaimana saat-sat pertama kenal dengan Rani. Saat itu Burhan sedang lewat di depan dermaga dengan menggunakan perahu motor tempelnya. Ia akan pergi ke kalang kerbau untuk menggiring ternak-ternak besar pulang. Bu Guru itu sedang mandi. Cuma gayanya seperti gadis-gadis perawan kampung. Kain sarung dipasang setinggi dada. Rambut terurai basah. Kulitnya yang putih mulus itu bersentuhan dengan air rawa yang kecoklatan seperti air teh. Jadinya tampak indah sekali. Bu Guru itu benar-benar cantik. Mata Burhan tak berkedip memandangnya. Ternyata, yang dipandangpun demikian. Mata indah itu sepertinya tak bisa mengalihkan tatapannya dari Burhan.

Burhan tanpa sadar kehilangan kendali pada perahu motor tempelnya. Snar gas ditarik, kemudi tak diperhatikan. Perahu motor tempel melaju kencang. Akhirnya baru keduanya sadari, perahu itu telah tersuruk, masuk ke sela-sela pohon-pohon jingah di tepi sungai dan menabrak sebatang kayu lapuk. Untung tak terbalik.

Bu Guru yang cantik itu tertawa-tawa. Burhan malu sekali, tapi ada desir-desir hangat di dadanya. Dengan buru-buru, sambil tertawa-tawa Burhan melompat ke air rawa. Menarik badan perahunya yang tersuruk itu agar bisa keluar.  

Begitulah awal perkenalan mereka, hingga akhirnya Burhan minta bantuan Hasan, adik sepupunya yang merupkan siswa SMP Danau Panggang untuk mendapatkan nomor handphone Bu Rani. Mula-mula mereka ber-SMS-an. Lalu mulai telepon-teleponan. Hingga akhirnya jadian.

Burhan menjilati bibirnya yang kering karena panas udara siang itu. Tak ada naungan di dermaga sekolah itu. Tujuh menit berlalu. Burhan semakin tak sabar. Diteleponnya kembali Rani. Telepon terhubung. Tapi belum sempat ia berkata-kata, terdengar suara Rani.

“Iya, sabar sedikit kenapa! Tut..tut…tut..!” sambungan diputuskan lagi.

Burhan kesal sekali. Ujung sandalnya menendang-nendag konstruksi kayu pelabuhan. Tapi beberapa menit kemudian, sosok semampai Bu Guru Rani telah muncul dari arah gerbang sekolah. Ia tampak tenang melenggang. Sialan, pikir Burhan. Ni orang santai sekali. Sama sekali seperti tak ada beban. Jangan-jangan selama ini Bu Guru Rani mempermainkannya saja. Sekedar iseng berpacaran dengannya.

Kini Rani sudah dekat dengannya. Hanya beberapa meter lagi.

“Masuk yuk! Di sana saja kita bicara, di bangku panjang depan perpustakaan. Teduh.”

Tanpa suara Burhan mengikuti Rani. Saat keduanya duduk di bangku panjang. Rani mulai bicara.

“Tadi malam aku telepon papa. Kata beliau…”

“ Kamu harus mutusin aku kan? Kamu tak boleh menikah dengan aku kan? Aku sudah pernah bahkan mungkin sering membayangkan ini akan terjadi padaku. Aku sudah siap. Tapi mengapa Bu Guru dulu itu menerima cintaku? Saya tahu dan sadar diri kalau saya hanya seorang penggembala kerbau rawa yang…”

Rani melotot menatap mata Burhan. Pemuda kekar tampan itu tergeragap. Ia berhenti berkata-kata. Aliran deras kalimat-kalimatnya terbendung seketika.

“Kata Papa aku harus…”

“Kata Papamu kamu harus segera pindah dari kampung kami inikan? Mutasi dari sekolah jelek ini? Tak baik kamu di sini karena hanya akan…Aduuuww!!! Sakit!” Burhan mencerocos, tapi segera terhenti lagi saat lengannya dicubit Rani. Keras sekali.

“Kamu mau dengarkan aku bicara, atau kubiarkan saja kamu bicara hingga kamu selesai dengan pertanyaan-pertanyaan konyolmu yang kamu jawab dengan prasangka itu?”

“Aku mau dengarkan kamu Bu Guru. Tapi aku takut. Kamu katakan kita putus tadi saat ditelepon. Kamu keterlaluan. Kamu telah dan akan membuat saya sakit hati. Saya lebih baik mati!”

“Lho kok ngomong gitu?”

“Ya iya, daripada aku kembali mengecewakan ayah ibuku. Beberapa waktu yang lalu aku telah menolak untuk dinikahkan dengan Zubaidah anak Haji Adul. Padahal dia cantik, walau sedikit centil. Sedikit tak berkepribadian. Aku menolak karena aku berjanji akan membawa Bu Guru sebagai ganti menantu untuk mereka. Bu Guru sungguh keterlaluan. Apa artinya kita jalan-jalan ke Amuntai dengan romantisnya di setiap kelok perjalanan yang ditempuh? Apa artinya genggaman tanganku yang kau balas dengan remasan lembut mesra itu? Apa artinya kata-kata rindu yang melagu? Segudang cinta di tenga malam buta? Hingga beranak-pinak kasmaran itu?  Yang Bu Guru kirim lewat SMS di malam-malam lalu? Bu Guru memang orang kota. Berpendidikan. Dari keluarga terpandang dan terkenal. Cantik. Tak sepadan dengan saya yang cuma berpendidikan SD, tak berkepribadian seperti Zubai….”

Rani menempelkan telunjuknya di bibir Burhan. Lelaki itu terdiam.

“Jangan kau sebut lagi nama anak Haji Adul itu. Aku cemburu sayang. Sangat cemburu. Kita putus pacaran, karena aku menerima dilamar olehmu. Kita putus pacaran karena kita akan segera menikah. Kata Papaku, semua terserah aku. Aku boleh menikah dengan siapa saja yang aku mau. Kau dengar Burhan sayang? Jangan kau sebut lagi nama gadis itu. Aku cemburu.” Rani tersenyum manja.

Wajah Burhan yang tadi resah langsung berubah sumringah. Tangan-tangan berat dan besar Burhan mengguncang-guncang bahu Rani dengan keras. Gadis itu sampai kesusahan mempertahankan keseimbangan. Untung Burhan segera melepaskannya. Burhan bangkit lalu menengadah ke langit. Tangannya mengepal. Burhan berteriak keras.

“Yess!!! Bu Guru menerima lamaranku!!! Bu Guru menerima lamaranku!!!”

 

Alabio, 7 Sepetember 2008

  1. September 7, 2008 pukul 1:02 pm

    hehehe
    akhir yg indah
    aku harus segera melamar
    tapi melamar yg mana?😀

  2. September 7, 2008 pukul 1:28 pm

    suhu ternyata bisa bikin cerita romantis juga nih.
    literally romantic!:mrgreen:

    ide ceritanya sederhana, tapi bumbu-bumbu kejadiannya itu.
    pake setting daerah amuntai yang eksotis pula.
    alurnya gak bikin bosen.
    akhirnya manis.
    gak kalah deh sama cyberlove story-nya DM.
    huaaaaa…

    tambuah ciek!

  3. September 7, 2008 pukul 1:46 pm

    anjiiirr, ending nya mantap. saya kira emang akhirnya mau putus, karena si rani gak mau nerima burhan apa adanya.

    bdw sentuhan fiksi nya keren pak, dengan latar danau panggang dan amuntai hingga saya bisa membayangkan gimana lokasinya. hehehe

  4. September 7, 2008 pukul 2:33 pm

    Hehehe, alur ceritanya bagus.

    Awalnya tadi aku sedikit skeptis dengan penggunaan ide perbedaan status antara dua tokoh.:mrgreen:

    tapi ya seperti y dikatakan komentator diatas aku, setting tempat dan endingnya bikin cerpen ini lebih segar, dari cerpen sejenis y berformat sama

    *ditabok pak suhadi..sok teu kamu!!!*
    *pulang jinjit2*

  5. SQ
    September 7, 2008 pukul 3:43 pm

    Romantisnya..ngomong2 saya (rencananya) juga mau menikah satu tahun lagi. Gara-gara baca cerpen ini, terprovokasi ingin lebih cepat. He,,he 🙂

  6. September 7, 2008 pukul 4:02 pm

    burhan, bu guru rani, dan danau panggang, tokoh yang menyatu dalam sebuah setting cerita yang rancak-mengalir. btw, saya tunggu alamat rumah pak suhadi via email.

  7. September 7, 2008 pukul 6:07 pm

    Huehehehe
    Happy ending
    Akhirnya nikah
    Beda dengan cerpen saya
    Huehehe

  8. September 7, 2008 pukul 7:40 pm

    Nah ini baru cerpen; cerpen dari kehidupan. Sembari mengenalkan banua (juga kisah pribadi he he?). Menulis dari hal paling dekat rona kehidupan lebih bermakna. Tapi, saya punya keberatan (boleh ya?).

    Gelar haji bukanlah tradisi atau hadis Rasulullah. Itu fenomena Melayu. Kan tidak pernah ditulis Haji Muhammad SAW, Haji Abu Bakar Sidiq, dan seterusnya. Kalau Suhadi S.Pd cocoklah ada ijazahnya he he.

    He he selamat menulis. Semakin mantap bro. Salut.

  9. suhadinet
    September 7, 2008 pukul 9:41 pm

    To Pak Ersis

Ha.ha..
    Ya boleh pak gak sependapat. Di blog ini semua boleh mengemukakan pendapat. Cerita ini fiksi murni, bukan pengalaman pribadi :mrgreen:
Cerpen ini kan dibuat untuk Bapak. soal haji itu cuma fenomena orang melayu, saya setuju. 
Makasih pujiannya.

  10. September 7, 2008 pukul 11:34 pm

    ternyata dugaan sy benar. putus pacaran en langsung nikah.

    Sy pernah liat buku dg judul, nikmatnya pacaran setelah pernikahan. Kayaknya lebih seru.🙂

  11. September 8, 2008 pukul 12:16 am

    Hahahahahahahahah
    Mantap mantap mantap mantap mantap
    Sambung pak, bikin sekuel juga untuk yang ini. Mungkin setelah nikah, BU GURU punya surprise-surprise yang lain, sehingga sang suami makin memahami bahwa ‘memiliki sesuatu bukan perkara mudah’.

    Hehehehehe hayo terejmahkan pak…kami tunggu hahahaha

  12. September 8, 2008 pukul 12:37 am

    Maaf, bukan memuji tapi kagum dengan gaya penulisan pk suhadi. Dengan tema cerita yang sangat sederhana, tapi bisa menjadi cerita yang menarik untuk dibaca. Seperti seorang cerpenis tulen. Ngomong2 rahasianya apa ya, biar bisa menulis bagus?

  13. hedi
    September 8, 2008 pukul 10:06 am

    cerita yang bagus…. bahasa yang sederhana … terus berkarya pa guru, met kenal aja

  14. September 8, 2008 pukul 10:18 am

    Memang terkadang pendidikan itu membuat pengkotak2an dalam masyarakat, atau membuat “kelas2” dalam masyarakat, sesuatu yang sebenarnya adalah bentuk lain dari sebuah “diskriminasi” yang seharusnya dihilangkan juga.

    Tapi… akhir dari cerita ini berakhir bahagia… siip deh…. andaikan semua bisa berakhir seperti ini… hehehe…. Btw, kok hape kalau putus tat-tut-tat-tut ya?? Kan biasanya kalo hape itu putus nggak ada bunyinya, kalau yang putus itu tat-tut-tat-tut itu mah telepon rumah !! Huehehe….😀

  15. September 8, 2008 pukul 11:06 am

    happy ending nih….
    sip2

  16. September 8, 2008 pukul 11:25 am

    @Suhadinet:
    Ini rawian yang yang indah ini! Indah ini!
    Hanyut aku! Haih!

    @marshmallow:
    Woi… jelas bagus ini. Realis dan hidup. Dan endingnya itu, jenis ending yang kau suka toh?😉

  17. September 8, 2008 pukul 11:31 am

    kerennnnnn.. pak😀
    alur critanya dahsyatt!!😉 top dah ..

    slm knl ya pak,
    ^_____^

  18. September 8, 2008 pukul 1:29 pm

    wah keren pak. btw yg cowok namanya bubur yah😀

  19. September 8, 2008 pukul 2:49 pm

    @DM:
    sok tau!

    @suhadi:
    saya jadi makin gak pede dengan tulisan saya sendiri, suhu.
    tulisan para blogger ini koq mengintimidasi banget rasanya ya?
    discouraging.
    hiks…

  20. Alifia Alisarbi
    September 8, 2008 pukul 3:21 pm

    kayaknya memang bener, masih mudanya pak guru ini sering mematahkan hati cewe-cewe. Iya gak? Ngaku aja deh😀

  21. September 8, 2008 pukul 4:34 pm

    Wah mantabs banget pak cerpennya, dah ditawarin di media belum pak

  22. September 8, 2008 pukul 6:18 pm

    Gara-gara cerpen ini, aku jadi ingat kejadian 11 tahun lalu: saat bikin cerpen: “Pacarku Asisten Dosen”. Hihihi.

    Akhir-akhirnya makin romantis Suhu ini!

  23. suhadinet
    September 8, 2008 pukul 8:53 pm

    To DM

Romantis? Ha.ha.. Gak papa lah, normal itu. Sekarang aja kodok-kodok di sawah belakang rumah saja lagi musim kawin. Ini saya lagi mencoba bikin puisi romantis. Nanti tak tampilin di blog.

Setelah 11 tahun, judul cerpen itu sudah kadaluarwa banget. Out of date. Seharusnya direvisi jadi: istriku seorang dosen.😆

  24. September 8, 2008 pukul 10:30 pm

    @Suhadinet:
    Huahahaha!! Aduh-aduh. Sebetulnya aku nggak enak mau komen kok cuma ketawa doang. Tapi asli aku ngakak dan terhenyak mbaca balasan Suhu itu. “Istriku seorang dosen”? Hihihi…

  25. September 9, 2008 pukul 1:30 am

    mantab! saat jari telunjuk si’Rani itu menempel dengan indahnya di hamparam bibir Burhan.

    slmt mlm,pak hadi.

  26. September 9, 2008 pukul 9:48 am

    Saya suka cerita yang happy ending, karena kalau yang sad ending bikin saya sedih. cerpen yang menarik Pak Suhadi, saya bisa bayangin cerita itu dengan background settingnya, walaupun belum pernah tingal di Kalimantan. terimakasih

  27. September 10, 2008 pukul 2:00 pm

    Bagus ceritanya Pak!
    Tapi kalau boleh komentar…saya tak habis pikir bagaimana Bu Guru Rani yang cantik, kaya, berpendidikan bisa jatuh cinta sama Burhan sang Penggembala Kerbau yang tamatan SD. Kalau di Bajayau mungkin ada cerita yang agak mirip terjadi sih, tapi bu Gurunya nggak begitu cantik-cantik amat yang jatuh cinta dengan pemuda Bajayau yang tamatan SMP tapi ganteng dan gagah.
    Apa perlu ya alasannya? Kadang cinta memang aneh..buta…tak bisa dicerna dengan logika…

  28. September 10, 2008 pukul 6:01 pm

    Pak Suhadi, mantap sekali sekali ceritanya. Orang tidak akan menyangka akan berakhir happy ending sebelum menyelesaikan membacanya. Karena diawal cerita sudah dibuat sedemikian rupa, maka saya tadi juga beranggapan akan berakhir nestapa. Tapi ternyata saya salah sekali.
    Saya menyesal kenapa dulu gak mampir ke Amuntai, padahal dari Kelua sudah deket. Lain waktu kalo ke Kalsel lagi saya bela-in buat mampir ke Amuntai. Denger-denger gulai itik Alabio enak juga disamping ikan bakarnya.
    Salam

  1. September 18, 2008 pukul 12:09 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: