Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Motivasi Belajar—Gunakan Siswa Pandai Menjadi Tutor Sebaya Bagi Temannya

Motivasi Belajar—Gunakan Siswa Pandai Menjadi Tutor Sebaya Bagi Temannya


Author: Suhadi

 

Perbedaan potensi belajar dalam sebuah sebuah kelas seringkali menjadi sebuah hambatan dalam pembelajaran. Benarkah itu? Bisa jadi benar, bila kita, para guru tidak memenej dengan cara yang tepat.

 

Saya seringkali dicueki oleh para siswa dengan potensi belajar tinggi (SDPBT) bila saya sedang menjelaskan materi-materi yang mereka anggap mudah dan sudah dikuasai, kepada teman-teman sekelasnya yang merupakan siswa dengan potensi belajar rendah (SDPBR) atau di bawah rata-rata. Keadaan ini sebenarnya dilematis. Bila saya meneruskan penjelasan terhadap siswa-siswa yang belum paham (SDPBR), maka siswa-siswa pandai tersebut (SDPBT) akan terlepas secara mental dari kegiatan belajar itu. Ia bisa melakukan apa saja, dari sekedar pasif, sampai aktif membuat keributan atau gangguan. Melakukan perilaku menyimpang dari kegiatan belajar (missbehavior).

 

Bila saya tidak memberikan penjelasan itu, maka SDPBR akan semakin sulit untuk melanjutkan ke materi berikutnya. Biasanya materi pembelajaran disusun berjenjang. Jadi, bisa saja materi yang tidak dijelaskan itu adalah materi prasyarat. Bila memang demikian adanya, tentu semakin merugikan pada pembelajaran berikutnya. SDPBR sudah dapat dipastikan tidak dapat melanjut ke materi berikutnya. Lagipula, membiarkan SDPBR tidak bisa menguasai sebuah materi tanpa ada usaha guru untuk membantu mereka adalah sebuah dosa.

 

Keadaan dilematis ini sangat berkait dengan motivasi belajar siswa. Bisa menurunkan motivasi belajar siswa. Bila kita melayani SDPBT, maka SDPBR akan kehilangan motivasi belajar. Materi yang disampaikan semakin tak SDPBR pahami. SDPBR semakin tercecer di dalam kelas. Sebaliknya, bila kita melayani SDPBR, maka SDPBT yang akan kehilangan motivasi belajar. Mereka jenuh dan menjadi bosan. Salah satu cara yang dapat kita lakukan sebagai guru adalah memberikan pengertian kepada SDPBT, bahwa kawan-kawan mereka (SDPBR) juga harus memahami materi tersebut.

 

Keadaan ini sebenarnya lebih baik dimanfaatkan oleh guru dengan memberikan kesempatan kepada SDPBT untuk menjadi tutor sebaya bagi SDPBR. Bila kita, guru, dapat memenej ini dengan baik, maka kita dapat meraih multimanfaat, antara lain: (1) mereduksi keributan atau perilaku-perilaku menyimpang kecil lain yang mungkin ditimbulkan oleh SDPBT yang pada mulanya tak punya kegiatan belajar; (2) SDPBT membantu meringankan pekerjaan guru dalam mejelaskan materi tersebut pada SDPBR; (3) dengan memberikan bantuan kepada siswa lain yang membutuhkan, sebenarnya SDPBT telah pula melakukan elaborasi tahap lanjut. Materi itu akan semakin dipahami dan melekat lengket di otaknya; (4) membiasakan siswa untuk saling bekerja sama dan tolong-menolong; (5) sangat sering terjadi, dengan bantuan tutor sebaya dari SDPBT, siswa-siswa yang kurang pandai itu lebih mudah mengerti dibanding jika penjelasan itu diberikan oleh guru. Bisa jadi “bahasa” yang dipakai tutor sebaya lebih mudah dimengerti dibanding “bahasa” guru; (6) membangun active learning community di dalam kelas kita.

 

Kelas yang dalam kondisi aktif belajar dengan menerapkan tutor sebaya dari SDPBT kepada SDPBR akan membuat semua orang bersemangat. Semua siswa dan guru akan terpupuk motivasi belajarnya. Lebih dari itu, akan tumbuhlah rasa penghargaan terhadap perbedaan antar individu, yang selanjutnya akan membantu mewujudkan keharmonisan hidup antar sesama manusia.

  1. Agustus 21, 2008 pukul 9:07 pm

    pertamax!!!!
    yes!!!

    ===============
    to marshmalow

    selamat😆

  2. Agustus 21, 2008 pukul 10:24 pm

    Tapi Pak, bagaimana kalau yang SDPBR akhirnya malah menyepelekan apa yang dijelaskan SDPBT ?

    Dari yang sudah-sudah (ketika saya sekolah dulu) mendengarkan teman sendiri menjelaskan meski ia adalah pandai, tetap tak terlalu digubris.

    Apa aku dulu yang terlalu nakal ya hahaha

  3. suhadinet
    Agustus 21, 2008 pukul 11:36 pm

    @DV
Ha.ha..Mas DV gak nakal kok. Itu sangat manusiawi. Mas DV barangkali ada sedikit kesal diajar sama kawan yg mungkin sebenarnya gak pintar2 amat (dalam pandangan Mas DV). Di sinilah peran guru untuk menumbuhkan rasa saling menghargai itu. Ini jadi pembelajaran bagus buat afektif SDPBR or SDPBT. Menjadikan SDPBT tutor, bukan berarti guru lepas tangan. Tanggungjawab keberhasilan tetap ada di pundak guru. Tutor sebaya di sini, hanya terbatas saat pembelajaran berlangsung.

  4. suhadinet
    Agustus 21, 2008 pukul 11:47 pm

    @DV
Tidak ada label: TUTOR atau TUTEE, kedua peran samar dan disamarkan. Guru bisa meminta, ”buat yang sudah bisa/paham, tolong bantu Pak Guru menjelaskan kenapa cara menjawab soal ini jadi seperti itu. Siapa yang sudah bisa, bantu yang belum bisa.” SDPBT belajar tidak tinggi hati. SDPBT belajar tidak kecil hati. Semua belajar untuk kemajuan bersama. Kooperatif, bukan semata kompetitif.

  5. Agustus 22, 2008 pukul 12:18 am

    suhu, artikel ini jadi mengingatkan saya pada konsep peer learning dengan semua keuntungan yang suhu sebutkan.

    hmm… kalau kondisi kemampuan siswa seragam memang enak, tapi jadi kurang tantangannya ya, suhu?

  6. Agustus 22, 2008 pukul 6:00 am

    @marshmallow
Betul, salah satu strateginya bisa dengan peer, berpasangan. Kombinasi peer bisa dilakukan misal dengan teman sebangku, teman di belakang bangku, atau menyerong. Kalau saya lebih suka membiarkan mereka bebas berkeliaran mencari tutor atau mencari tutee sendiri. Karena akan mudah kelihatan siswa yang memerlukan bantuan, terlihat menyendiri. Lalu kita bantu mereka baik dari sisi afektif, keterampilan bekerjasama, maupun kognitif atau psikomotornya.

  7. Agustus 22, 2008 pukul 6:25 am

    Ini blog guru beneran. Bener-bener blog guru.

    =================
    to rochmaniac

    betul saya memang guru, he..he.. jadinya ya blog guru. :mrgreen:

  8. Agustus 22, 2008 pukul 7:09 am

    Untuk SDPBT, jadi tutor, selain yg tersebut diatas, yg lebih menyenangkan, si SDPBT akan lebih termotivasi untuk belajar, mencari tau dan mendapatkan pengetahuan lebih untuk satu mp. Kebetulan ini terjadi pada anak saya, karena sering diberi kesempatan untuk menjadi tutor bagi teman2nya terutama mp matematika, dia semakin semangat dan selalu ingin tau berbagai cara (rumus) untuk mendapatkan jawaban yg benar.Dan Alhamdulillah sama antusiasnya dia di semua mata pelajaran….
    Kadang saya berfikir apa karena diberi kesempatan untuk berbagi sama temannya sehingga kepercayaan dirinya begitu numbuh?.. Akhirnya saya juga paham kalau merasa dibutuhkan teman2nya itulah sehigga antusias belajarnya muncul untuk semua mp.

    =================
    to Rita

    berarti gurunya hebat ya bu, tapi lebih hebat anak ibu dan ibunya juga, he..he..

    benar bu, dengan memberikan kepercayaan kepada SDPBT untuk membantu teman-temannya, mereka dapat mengaktualisasikan diri. Mereka dapat menunjukkan dengan cara yang positif bahwa mereka adalah orang pintar. Siapa yang tak suka dipuji dan memuaskan diri sendiri? Ini hierarki tertinggi dari teori kebutuhan Maslow terkait motivasi (belajar) bu.

  9. Agustus 22, 2008 pukul 9:11 am

    Wah ini cara yang hebat ak
    Sungguh deh
    Jadi kan lebih hidup suasana belajarnya😀

  10. Agustus 22, 2008 pukul 9:31 am

    Saya ingin sekali jadi guru … melamar kemana yah, gak digaji juga gpp koq🙂

    ==================
    to rindu

    keknya kamu cocok banget jadi guru, dan memang cita-citamu kan? O ya kenapa tak coba melamar aja. Cari sekolah pinggiran atau bergabung dengan sekolah anak jalanan di kotamu, pasti menantang. Atau ikut ibu-ibu yang bikin home schooling, itu juga keren.

  11. Agustus 22, 2008 pukul 12:10 pm

    @marshmallow: sebaliknya uni, ini adalah tantangan besar buat guru, bagaimana caranya me-manage kelas agar nggak kacau (siswa ada yg berpindah duduk dan sebaginya), sekaligus menciptakan hubungan saling menghargai dan saling support antar siswa

    @pak suhadi: bagus pak metode ini, tapi kalau jumlah siswa SDPBT dan SDPBR sangat tidak berimbang akan perlu strategi cadangan🙂 ini serupa dengan peer mentoring/tutoring yg ada di kampus saya

    ==================
    to 1nd1r4

    wew! di kampus kamu pakai strategi ini. Pasti enak ya, terjalin keakraban dan belajar bersama, secara koperatif.

    kalau jumlah SDPBT dan SDPBR tidak seimbang, lebih banyak SDPBR tak masalah juga. SDPBT bisa menghandel 2 orang. Mereka pasti makin senang. Makin rame belajar dan berdiskusinya. Soal ribut, kalau ribut berdiskusi gak masalah. Asal jangan mengganggu ke kelas sebelah saja.

  12. Agustus 22, 2008 pukul 3:29 pm

    saya pikir itu ide baru dalam proses pembelajaran, mudah2 an hasilnya juga lebih baik dan bisa diterima semua siswa pak

    ===============
    to achmad sholeh

    sebenarnya bukan ide baru, banyak teorinya dan penelitian yang mendukung tentang ini pak, cuma kita (saya barangkali) baru mencoba melaksanakannya.

  13. Agustus 22, 2008 pukul 4:46 pm

    mungkin bentuknya bisa membuat kelompok belajar yang anggotanya dipilihkan oleh gurunya, sehingga SDPBT dan SDPBR bisa tergabung menjadi satu kelompok dan bisa saling sharing, gitu ya pak?

    =======================
    to dion

    bisa juga yon, sebagai variasi.

  14. Agustus 22, 2008 pukul 8:07 pm

    saya sudah mempraktikkan pendekatan tutor sebaya ini sejak tuga tahun yang lalu, pak. hasilnya memang sangat membantu guru dalam menyajikan materi, apalagi saat mendekati ujian. sepertinya anak2 lebih suka bertanya kepada temannya sendiri ketimbang pkepada gurunya. agaknya inilah yang membuat pendekatan ini makin banyak digunakan, pak suhadi.

  15. Agustus 22, 2008 pukul 8:34 pm

    Salam
    Akh saya sering bermimpi mengajar di kelas yang muridnya superbandel, sepertinya itu sangat menantang🙂 dulu2 waktu masih ngajar kebetulan muridnya biasa2 saja jd agak membosankan he..he..

  16. joe
    Agustus 23, 2008 pukul 8:48 am

    Wah…..caranya saya pake ni pak…..

    Tp Klo jumlah SDPRB nya lebih besar dar SDPRT gmn pak????

  17. Agustus 25, 2008 pukul 1:40 am

    @suhadinet:
    Suhu, itu komentator pertama di atas itu kok iseng betul itu? Kehabisan bensin atau gimana kok teriak-teriak di rumah orang. Memangnya ini pom bensin apa? Sembarangan… :p

  18. Agustus 25, 2008 pukul 8:28 am

    @DM:
    kayaknya mendingan deh, daripada komen cuman mgomentari cara orang berkomen!
    nah, terkelu deh.
    du… du… du…

    @suhu:
    sori, suhu, jadi OOT gini.
    bukan saya yang mulai kan ya?

  19. agusampurno
    Agustus 28, 2008 pukul 12:54 pm

    Saya sudah juga menerapkan dan hasilnya, tugas saya jadi lebih ringan. Tapi kemudian jadi tertantang untuk membuat penugasan bagi lapisan siswa yang berbeda-beda kemampuannya.

  20. Maret 25, 2009 pukul 8:46 pm

    pak, kalau pengaruh internet ke siswa apa yaaa…..?????

  21. martin
    Mei 16, 2009 pukul 3:47 pm

    kalo menurut say sihh….
    metode paling baik yaitu pake LCD ama pake LAPTOP
    pasti banyak siswa yg semangat belajarnya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: