Beranda > cerpen > LELAKI TUA ITU SUDAH PIKUN

LELAKI TUA ITU SUDAH PIKUN


Cerpen: Suhadi

 

“Tangkap Kakek Tua itu!”

Seorang komandan yang berjaga-jaga di sekitar tribun kehormatan itu segera berteriak lantang kepada beberapa orang anak buahnya ketika melihat seorang lelaki tua berpakaian veteran perang kemerdekaan menyeruak dari kerumuman barisan yang baru saja dibubarkan setelah apel ucacara hari proklamasi kemerdekaan selesai dilaksanakan.  Lelaki tua berpeci miring kuning kecoklatan itu dengan sigap berlari mendorong para tetamu di tribun kehormatan. Mencari jalan menuju podium yang tadi digunakan oleh Pak Bupati untuk menyampaikan sambutannya. Lelaki tua itu mendorong Bapak Sekda, Bapak Kapolres, Bapak Wakil Bupati, bahkan Ibu Bupati yang berkipas-kipas karena pengapnya udara saat berdiri dan akan meninggalkan tempat upacara. Gelang berlian Ibu Bupati yang besarnya berkarat-karat dan berdesain elegan putus saat wanita gempal  berbedak tebal itu berusaha mempertahankan keseimbangannya dengan mencengkram besi penyangga tenda. Pak Bupati menggeram marah kalamana sepatu kulit yang dibelinya di Singapura saat sebuah kegiatan studi banding terinjak sepatu butut si lelaki tua. Satu dari tiga veteran yang tersisa, karena satu-satu mereka habis, dari tujuh orang yang tahun lalu hadir, telah bergilir meninggal dunia.

Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ada di hati kakek tua itu hingga ia berbuat senekat itu. Kecuali dirinya sendiri.

Tak ada yang tahu, bila kenangan lama itu telah masuk perlahan-lahan mengisi sudut-sudut hatinya yang paling jauh. Bersama waktu yang semakin melarut ke ujung senja usia, kenangan lama itu semakin masuk ke ceruk-ceruk kecil yang dalam. Menusuk. Sebagian lagi membentuk endapan-endapan kesedihan dan penyesalan. Penyesalan? Ya, penyesalan karena mata tuanya melihat kenyataan: semakin lama ia hidup, semakin tampak tak guna pengorbanannya. 

 

***

 

Jika seluruh milikmu adalah untuk kemerdekaan, lalu apa lagi yang tersisa untuk hidupmu? Benarlah adanya bahwa seluruh kehidupan para pejuang rela dikorbankan untuk kemerdekaan. Rela! Tapi bagaimana pulanya rasanya bila kamu harus merelakan cinta? Merelakan cinta berarti kehilangan cinta? Cinta yang seharusnya menjadi milikmu, apalagi bila nyawa yang rela kau persembahkan itu tak terenggut jua. Memaksamu hidup dalam dilema, terjepit himpit kenangan cinta serta hidup tak bahagia di alam merdeka?

Di langit senja kuning yang berbias sedikit menjingga, berhari-hari menjelang acara peringatan proklamasi kemerdekaan republik ini, kenangan-kenangan itu semakin mengusik. Melontarkan gelembung-gelembung kesedihan yang meriak di permukaan telaga hatinya. Rasanya perih saat gelembung-gelembung kenangan itu memecah di kesunyian jiwa. Gas kepahitan dalam gelembung-gelembung kenangan bersatu dengan atmosfer gegap gempita perayaan proklamasi kemerdekaan republik ini. Setelah berpuluh-puluh tahun hidup dalam alam merdeka, apakah ia menjadi tidak suka merdeka? Tidak! Ia telah memberikan segalanya, termasuk cintanya, untuk kemerdekaan ini. Sayang, nyawanya tak terambil jua.

Jangan pernah berani berpikiran atau menuduh lelaki ini demikian. Berpikiran atau menuduh bahwa lelaki tua, veteran ini, menjadi tidak suka merdeka. Apalagi mengatakan itu di hadapannya! Ia bisa menembak kamu di kepala. Ia bisa buas, jauh lebih buas dari singa bila menyangkut martabat bangsa dan negara. Asal kamu tahu saja, lelaki tua ini adalah seorang patriot sejati. Dialah yang selalu berada di lini terdepan saat berhadapan dengan derap sepatu lars pasukan-pasukan kompeni belanda. Dialah yang paling kencang berlari ke depan menerobos desingan peluru musuh. Lelaki tua inilah yang paling lantang berteriak: “majuuuu!” Jangan menuduh lelaki tua ini, veteran perang kemerdekaan ini, seorang yang tidak ikhlas mengorbankan segala yang dia punya termasuk yang paling berharga baginya: CINTA. Dia rela, hanya saja empat perlima dari hampir seabad umurnya hidup dalam dilema, terjepit himpit kenangan cinta dan hidup tak bahagia di alam merdeka. Jangan! Jangan sekali-kali menuduhnya menyesal berjuang untuk bangsa dan negara!

Masih terbayang di langit senja sepotong wajah perempuan bersahaja penuh rahasia, Niah. Saat matahari menyemburatkan senja kuning berbias sedikit jingga di pertengahan Agustus ini. Heh, pertengahan Agustus. Saat sang merah putih menyemarakkan seluruh jalan-jalan utama, di lapangan-lapangan upacara, di muka-muka perkantoran milik pemerintah dan swasta, bahkan sampai ke halaman rumah-rumah desa, senja kuning itu selalu hadir dan memunculkan wajah Niah. Wajah Niah ada di langit yang berwarna kuning. Bahkan dengan segera bayangan wajah berhidung bangir, berambut ikal, dan berbibir mungil sedikit tebal kemerahan itu ada dan berduplikasi di atas-atas pucuk pohon kelapa. Di kilap bodi-bodi mobil yang melintas di jalan raya depan rumah si lelaki tua, di dinding lapuk kamarnya, di bingkai jendela, di permukaan Sungai Negara tempat mandinya, bahkan di kantong plastik bungkus obat paru-parunya. Apalagi pada umbul-umbul, bendera, nyiru-nyiru yang dicat merah putih, gerbang-gerbang bernuansa merah putih di depan-depan gang, atau di mana saja yang ada warna merah putihnya.

Senja kuning berbias jingga penuh makna. Apalagi di pertengahan bulan Agustus, saat merah-putih ada di mana-mana. Tak ada yang tahu, apa yang sebenarnya tersedimentasi di dasar ceruk-ceruk hati si lelaki tua, veteran perang kemerdekaan itu.

Kamu pasti maklum bila roh cinta telah merasuki jiwa seorang gadis belia, membuatnya meracau ingin bunuh diri bila tak dikawinkan orang tua dengan seorang kakek yang telah tua renta. Kamupun tentu mengikhlaskan bila sanak saudara kamu menikahi orang yang berbeda bangsa. Membuat sanak saudaramu itu harus pergi dari kampung halaman dan pergi untuk selamanya tanpa harapan untuk berjumpa lagi dengannya, walaupun mungkin hanya untuk saat sakit atau matinya. Kamu pasti memaafkan bila cinta telah menggerogoti jiwa, kamu diduakan, ditigakan, atau bahkan diempatkan.

Jika kamu mengenal dengan baik siapa cinta, kamu akan sadar bahwa seberapapun besar dosa Niah pada bangsa dan negara yang terjajah ini, membuat kamu akan bisa dengan mudah mencari alasan untuk mengampuni Niah. Kamu takkan sanggup melihat tarikan napas terakhirnya. Kamu takkan bisa mengikatkan tambang di dahan pohon jingah itu lalu melingkarkan di lehernya. Di tengah hapau, di depan punduk markas gerilya, lelaki tua itu dulu berkeras mempersiapkan sendiri tali gantungan untuk Niah, istrinya. Kamu takkan bisa. Tahukah kamu, tapi lelaki tua itu dulu bisa.

Kamu harus maklum jika lelaki tua itu masih menyimpan selaksa wajah Niah di ruang mata berkabut katarak ini. Heh, itu bila kamu mencintai Niah. Sekali lagi, itu bila kamu mencintai Niah. Kamu mungkin akan seperti lelaki tua itu, masih menyimpannya di sudut-sudut labirin rasa. Dia tak berkarat. Tidak. Cinta lelaki tua itu pada Niah tak bernah berkarat, karena cinta bukan logam. Cinta lelaki tua itu pada Niah tak pernah lapuk, karena Niah bukan sejenis gagang bedil tua yang tergantung di dinding kamar lelaki tua itu, yang kini telah mulai termakan rayap saat tak ada lagi yang tersisa, karena dinding rumah kayunya telah habis digerogoti mereka berturun-turun generasi. Cinta lelaki tua itu pada Niah juga tak pernah lekang, karena ia menyimpannya begitu dalam. Begitu hati-hati. Lelaki tua itu tak membiarkan cintanya kepada Niah didedah panasnya terik matahari saat ia dengan tubuh ringkihnya harus mencangkul tegalan kering buat sekedar menanam ubi pengisi perut saat lapar menggigit lambung di malam-malam kemarau yang dingin menusuk tulang. Lelaki tua itu tak membiarkan cintanya pada Niah melapuk diguyur lebat hujan saat ia harus menambal atap-atap rumbia rumah gubuknya yang bertahun tak pernah bisa terperbaharui. Dia simpan cinta itu baik-baik. Dia lipat rapi-rapi. Licin, dan selalu disegarkannya dengan percikan minyak wangi yang khusus dibeli walau hanya di kaki lima. Lelaki tua itu tak ingin cinta pada Niah menjadi apek. Tidak. Tak!

Kalau kamu tahu bagaimana rasanya mencintai Niah, kamu akan maklum. Kamu akan setuju. Kamu akan mengangguk-angguk. Kamu akan menggumam, mungkin dengan ucapan “kasihan…aku bisa memahami perasaanmu, Kek” atau “sudahlah Kek….ikhlaskan, toh orang meninggal tak akan hidup lagi” atau kata-kata lainnya yang senada. Membuat kamu berbela sungkawa dalam arti sebenar-benarnya bela sungkawa, bukan basa-basi apalagi dusta belaka. Kamu akan trenyuh. Bahkan mungkin menitikkan air mata.

Heh, air mata. Lelaki tua itu selalu berusaha menyembunyikan air matanya. Dia menyembunyikan air matanya dari para tetangganya yang selalu bergantian mengantar nasi putih dan ikan asin karena kasihan dengan si tua yang sebatang kara. Lelaki tua itu selalu menyembunyikan air matanya di balik bantal di dipan reyotnya. Sayangnya, air mata yang coba dicurahkan untuk membasuh luka cinta itu justru memunculkan lukisan wajah-wajah Niah yang berkulit coklat, bertahi lalat di sudut kelopak mata kirinya itu dalam aneka bentuk dan cara di atas kulit bantalnya yang menguning tua. Terlebih saat senja-senja di pertengahan bulan Agustus yang menguning jingga.

Lelaki tua, veteran itu, tak pernah berusaha menghapus lukisan-lukisan wajah Niah. Ia menikmatinya dalam kesendirian berdasa-dasawarsa. Kala menghisap tembakau jawa, ia menghirup hembus nafas Niah yang serupa saat perempuan itu masih ada di sampingnya. Dan batuk-batuk yang kadang disertai percik-percik kecil darah luka paru-parunya adalah tanda bahwa ia ingin segera bersama. Percik-percik darah atau gumpalan dahak memerah itu menuliskan tanda-tanda cinta di atas tanah. Apalagi saat senja kuning berbias jingga di hari-hari pertengahan bulan Agustus ini.

Tetapi, apakah Niah akan menerima kedatangan lelaki tua itu? Lelaki yang pernah membekap mulutnya saat hendak berteriak sewaktu jukung melaju didorong menuju ke tengah hapau? Menerima lelaki tua yang pernah menggantung Niah di dahan pohon jingah, di depan punduk, di tengah hapau itu, di markas para pejuang gerilya itu? Lelaki tua itu takut, bahkan sangat takut. Akankah Niah menerimanya?

Senja kuning di pertengahan-pertengahan bulan Agustus itu semakin menguat, mendagingi tulang-belulang kenangan, mendarahinya, mengulitinya, membentuk sosok Niah yang sedemikian nyata di benak labirin cintanya. Sosok Niah hidup kembali, menuntunnya menuju lembah kenangan masa revolusi melawan penjajahan belanda. Sosok Niah, seorang sapiun yang bersahaja tapi penuh rahasia. Salahkan bila lelaki tua ini dulu, bahkan hingga kini, tergoda cinta? Kamu akan manggut-manggut sambil mengusap jenggot. Kamu akan menghela napas panjang saat memahami bagaimana eratnya jalinan rasa cinta mereka. Kamu takkan menyalahkan lelaki tua itu. Tak cukup kata untuk menyusun alasan pembenaran cinta. Karena cinta terlalu sarat makna. Kalimat-kalimat yang terangkai hanya akan mengaburkannya. Tak! Tak akan ada yang mampu memaknai cinta lelaki tua itu kepada Niah dengan kata-kata!

 

***

 

Orang-orang berseragam itu berlarian mengejar lelaki tua, veteran itu. Ia sudah meraih mikrofon. Lewat corong-corong speaker tergetar menggema membahana suaranya saat terhantar lewat udara.

“Hari ini saya sangat kecewa. Adakah sedikit penghargaan lebih terhadap peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan bangsa ini.” Lelaki tua itu memberi jeda. Beberapa orang yang sudah hampir menjangkaunya terhenti pergerakannya. Terhenyak oleh wibawa. “Tahukah kalian wahai generasi bangsa? Betapa besar pengorbanan yang telah di berikan para pahlawan untuk mencapai kemerdekaan ini. Pengorbanan harta benda, jiwa, raga, bahkan cinta. Kalian, jangankan mengisinya dengan perjuangan untuk mensejajarkan bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain, mengikuti upacara saja kalian tidak becus. Bisik-bisik, berbicara, bahkan duduk dan berlindung di bawah bayang-bayang peserta upacara lain. Barisan tak rapi. Beberapa berkeliaran di luar area upacara. Para pegawai pemerr…”

Orang-orang berseragam itu, aparat keamanan itu segera membekap mulut lelaki tua. Mereka meringkusnya.

Semua orang memandangi si lelaki tua, veteran itu, dengan jijik.Orang-orang berbisik, para hadirin dan tamu-tamu kehormatan di tribun berbisik. Bapak Bupati berbisik. Ibu Bupati berbisik. Semua orang saling berbisik, dengan nada sangat jijik. “Lelaki itu sudah pikun. Veteran itu sudah pikun. Kasihan.”

 

Alabio, 14 Agustus 2008

 

!. Jingah : pohon khas yang tumbuh di rawa atau pinggiran sungai.

2. Punduk: pondok

3.  Jukung : perahu

4. Hapau : rawa yang sangat luas, dengan air berwarna coklat seperti teh, ditumbuhi vegetasi: galam, jingah, belangiran, dan bangkal

5. Nyiru: tampah, tempat menampi beras

6. Sapiun : mata-mata belanda

Kategori:cerpen Tag:
  1. Agustus 17, 2008 pukul 1:05 pm

    sayang sekalih pak, kadang nasib para veteran ituh tidak diperhatikan……..padahal mereka semuah adalah pejuang2 kemerdekaan……… 😕

  2. Agustus 17, 2008 pukul 1:50 pm

    saya mampir dulu pak, komen, trus baru dibaca di rumah, soale kalo di warnet ini pake argo. hehe..
    MERDEKA !!

  3. Agustus 17, 2008 pukul 2:26 pm

    Sayang saya tidak jadi Bupati, Gubernur atau Presiden. Kalau saya punya kekuasaan, maka semua veteran saya beri tunjangan hidup yang besarnya 10x lipat gaji pegawai pemerintah saat ini.
    Tak perlu pusing mikir anggaran, toh jumlah mereka tinggal sedikit. Tak perlu pusing mikir dasar hukumnya, toh negara ini tegak hasil perjuangan mereka.
    Inilah sebab bangsa Indonesia tidak bisa menjadi bangsa yang besar dan disegani, karena mereka tidak bisa menghargai jasa pahlawannya.
    Sayang sekali……

  4. Agustus 17, 2008 pukul 3:56 pm

    suhu, penasaran nih, sebenarnya apa yang terjadi pada niah?
    kenapa dia dibunuh (kalau memang dibunuh)?
    penulisan seperti ini dikategorikan sastra yang bagaimana?

    suhu makin hebat aja bercerita.
    alurnya pake setup, flash back, trus closure.
    jadi terintimidasi sama orang-orang melek sastra ini…

  5. Agustus 17, 2008 pukul 4:11 pm

    Marshmallow, sori tak menyebut secara gamblang. Saya cuma menyebut bahwa Niah punya dosa pada republik. Dia seorang mata-mata. Cerpen ini terinspirasi kisah seorang sahabat yg pernah bertemu seorang kakek yg tanpa diminta menceritakan kisah percintaan seorang pejuang dengan mata-mata belanda. Orang banjar menyebut mata-mata dengan istilah ‘sapiun’ mungkin dari kata spy atau spionase.

  6. Agustus 17, 2008 pukul 4:19 pm

    Marshmallow, saya belum melek sastra. Walau sedang berusaha. Soal kategori sastra apa, juga kurang tau (Mas DM, Pak Sawali, please help me..). Cerpen sih maksud saya kategorinya. Bener gak ya?

  7. Agustus 17, 2008 pukul 4:19 pm

    komen dulu baru baca….😀

  8. Agustus 17, 2008 pukul 5:03 pm

    cerita yang menarik pak suhadi. endingnya sungguh tragis. pak tua yang veteran itu agaknya sudah banyak dlupakan jasanya. bahkan hanya sekadar utk berkata-kata saja sudah ndak ada tempat. salam merdeka!

  9. Agustus 17, 2008 pukul 5:05 pm

    waduh, sastra sebenarnya bukan sekadar utk dipahami, kok, pak, kekekeke😀 tapi justru yang lebih penting adalah utk dinikmati. saya sangat menikmati cerpen2 pak suhadi. dari usaha utk memahami dan menikmati itulah, konon, menurut orang2 yang ahli sastra, haks, akan muncul sikap apresiatif terhadap teks sastra, genre apa pun.

  10. Agustus 17, 2008 pukul 6:47 pm

    Hanya ALLAH yang pandai menghargai pengorbanan umatnya … bahkan menjanjikan syurga untuk para sahid, iya kan kang?

  11. Agustus 17, 2008 pukul 8:53 pm

    begitu tragis nasib mereka itu ( para veteran )sdh berjuang dgn tulus dan segenap jiwa,setelah itu dicampakannya,benar2 orang gila para pejabat itu!

    MERDEKA !!!

  12. Agustus 17, 2008 pukul 9:03 pm

    wahhh pak…..makin produktif aja yah….saluttt dehhhhh kayaknya bapak mudah terispirasi ya….bikin kumpulan cerpen ajapak…bagus tuhhhhh cerita bapak menalir indah….

  13. Agustus 17, 2008 pukul 10:02 pm

    sebenarnya yang pikun lelaki tua itu atau yang semua yang berbisik..
    memang sunguh kejam dunia..
    tapi Allah pasti memberi balasan yang setimpal bahkan lebih buat lelaki tua itu..

  14. Agustus 17, 2008 pukul 11:13 pm

    Izinkan aku membaca cerita Pak Tua yang sudah pikun ini.

  15. Agustus 18, 2008 pukul 1:11 am

    Assalamualaikum wbt…

    Pak Suhadi memang berbakat dalam penulisan cerpen ya..saya suka membacanya..
    Emm kesemppatan ini, saya mengucapkan Selamat HUT RI ke-63…MERDEKA!!! he he he…

    ————————————–
    Kalam Abu Musaddad
    http://ibnismail.wordpress.com
    MALAYSIA

  16. Agustus 18, 2008 pukul 12:37 pm

    Veteran harusnya punya meteran kayaknya..kalo meterannya jauh ama kekuasaan beginilah jadinya…kalo veteran orde baru enjoy aja tuh…

  17. Agustus 18, 2008 pukul 1:57 pm

    membaca cerpen mas suhadi makin enak nih… ada warna lokalnya… dan ceritanya juga mengalir
    Namun maaf mas suhadi, saya harus memberinya sedikit catatan yakni Masih ada pemborosan kalimat!
    Saya menemukan banyak kalimat …lelaki tua itu, veteran itu. ‘. Kalimat itu memang tak ada salahnya. Namun kalimat itu terkesan sebuah pemborosan karena diungkapkan (dituliskan) lebih dari satu kali. Kata ‘veteran itu’ berulang-ulang seakan menjadi penegas tentang si lelaki tua. Mungkin ada baiknya (ini cuma saran), penegasan itu diganti menjadi kalimat yang menunjukan karakter penokohan si lelaki tua, misalnya : …lelaki tua, yang wajahnya penuh bercak hitam. saya pikir karakterisasi tokoh ini akan lebih membantu pembaca dalam mewujudkan imajinasinya tentang si lelaki tua.

    Sekali lagi, maafkan saya dengan catatan ini!

  18. suhadinet
    Agustus 18, 2008 pukul 3:03 pm

    Mas qizinklavia, tak melukai hati saya kok dengan memberi saran demikian. Justru komentar seperti inilah yang dirindukan seorang pebelajar seperti saya. Jangan takut mengkritik saya. Saya suka sekali. Bila mas buka cerpen-cerpen saya sebelumnya, di akhir tulisan selalu saya tulis: mohon kritik dan saran karena saya dalam tahap belajar. 
Ini tulus dan bukan basa-bari seperti kata pengantar tugas kuliah mahasiswa pembeli skripsi Mas. 
Thanks.😉

  19. Agustus 18, 2008 pukul 3:40 pm

    oh, salah alamat neh, rupanya kumpulan para penulis semua…..missi

  20. Agustus 18, 2008 pukul 3:52 pm

    Salute to Mr. Suhadi…ceritanya makin mantap aja🙂

  21. Agustus 18, 2008 pukul 3:55 pm

    seringkali….
    kita lupa atau sengaja dan pura-pura lupa pada pejuang. bahkan pada saat mereka sudah berteriak untuk diperhatikan. balasannya kadang malah penangkapan dan dianggap penjahat.
    seringkali….

  22. Agustus 18, 2008 pukul 4:30 pm

    Pak
    mantap
    eh dikirim lagi gak ini ke Radar?

  23. Agustus 18, 2008 pukul 8:20 pm

    bagus pak ceritanya, sering kita melupakan perjuangan para veteran perang padahal kita bisa seperti ini adalah jasa mereka

  24. Agustus 18, 2008 pukul 10:20 pm

    Siip deh pokoknya. Mau konsern jadi cerpenis nich? Kenapa tidak ya. Menulis cerpen mengasyikkan, sebab terkadang kita tidak perlu bahan di luar diri. Selamat ya Pak Cerpenis. Kalau boleh usul, buat cerpen berseting rawa dong Pak, misal tentang pengembala Kerbau rawa yang kesohor itu, atau lomba pacu kerbau rawa. Salam.

  25. Agustus 18, 2008 pukul 11:44 pm

    wahhh semoga masih banyak cerpen lainya ya pak,,,!!!

  26. Agustus 19, 2008 pukul 6:28 am

    wahhh saya udah ketinggalan ngomen nih, udah rame aja……… mantap pak, kirim ke banjarmasin pos lagi pak!!

  27. Agustus 19, 2008 pukul 11:08 am

    Berkarya terus🙂

  28. ariefdj™
    Agustus 19, 2008 pukul 12:16 pm

    keren banget ceritanya.. seperti nyata.. yeah, inti dari kisah itu, seperti coretan tentang kekelaman, betapa peringatan hari kemerdekaan di negeri kita, acap kali kehilangan makna..

  29. Agustus 19, 2008 pukul 2:12 pm

    Ahh..jadi iri nih…
    Mau belajar membuat cerpen juga aahhh….
    Moga ketularan ilmunya Pak Suhadi..

  30. alifia82
    Agustus 19, 2008 pukul 3:07 pm

    Tambah keren aja..:)

  31. Agustus 19, 2008 pukul 4:05 pm

    masih banyak ribuan pengorbanan yg kini tersia-sia… sungguh sayang..

  32. Agustus 19, 2008 pukul 8:11 pm

    Aku nanti jadi veteran apaanya, veteran bolger kali ?

  33. vizon
    Agustus 20, 2008 pukul 7:39 am

    menyentuh sekali ceritanya… sebuah cara beda untuk mengingatkan jasa para pejuang bangsa.
    salut buat pak suhadi, izinkan saya untuk selalu membaca cerpennya, ingin belajar…🙂

  34. taliguci
    Agustus 20, 2008 pukul 4:33 pm

    langsung dikirim pak, editor sudah menunggu kan🙂

  35. Agustus 20, 2008 pukul 6:49 pm

    Perlu di buat seri.. panjang amat🙂

  36. Agustus 21, 2008 pukul 11:01 am

    menyimak kisah dengan latar belakang rakyat kebanyakan adalah bagaikan menjalani hidup yang sebenarnya….

  37. Agustus 22, 2008 pukul 8:37 pm

    Salam
    Wah Pak salut semakin piawai saja nie🙂

  38. September 8, 2008 pukul 12:22 pm

    ughh.. dalemm pak cerpennya😦 sangat menyentuh..
    lagi lagi cinta…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: