Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Motivasi Belajar—Rayakan Kekeliruan Sebagai Sebuah Kesempatan Untuk Belajar Lebih Intens

Motivasi Belajar—Rayakan Kekeliruan Sebagai Sebuah Kesempatan Untuk Belajar Lebih Intens


Author: Suhadi

 

Setiap guru, pasti pernah menemui kekeliruan banyak siswa dalam menjawab soal kuis, tugas, PR, atau ulangan. Tidak mungkin tidak. Selama lebih delapan tahun menjadi guru, telah puluhan kali saya mengalami. Misalkan, dari sepuluh soal yang diberikan untuk PR, hanya sedikit soal bisa dijawab oleh mereka. Haruskah saya frustasi?

 

Sebagai guru yang baik, janganlah frustasi. Kita boleh menyalahkan diri kita karena ketidakberhasilan kita mengajar. Tapi janganlah pula terlalu berlebihan, atau berbalik menyalahkan siswa. Menganggap mereka telah tidak serius belajar, tidak memperhatikan penjelasan atau presentasi guru, atau hal-hal lain yang tertitik pada: menyalahkan siswa. Jangan. Apalagi mengomel dan marah-marah kepada siswa. Itu bisa mematahkan motivasi belajar mereka bersama kita atau motivasi belajar mereka terhadap mata pelajaran yang kita ampu.

 

Sangat wajar bila kita sebagai guru yang telah merancang dan melaksanakan pembelajaran sebaik-baiknya kecewa. Tapi jadikanlah kekecewaan itu untuk memperbaiki diri dan pembelajaran. Bila hampir seluruh siswa tidak bisa menjawab banyak soal, itu adalah indikasi bahwa pembelajaran yang kita laksanakan masih belum sip. Masih belum oke. Akar masalah bisa datang dari mana saja. Lalu bila demikian, apa yang harus kita lakukan?

 

Yang sebaiknya kita lakukan adalah berpikir reflektif. Memutar ulang kembali memori tentang pelaksanaan pembelajaran kita yang gagal itu, lalu berusaha menemukan akar kelemahan itu untuk selanjutnya memperbaiki dan memperkuatnya pada pembelajaran berikutnya. Setelah itu, ada lagi satu hal yang sangat penting kita laksanakan. Kita harus tulus memaafkan kekeliruan siswa menjawab soal, mengerjakan tugas, atau ulangan itu dengan lapang dada. Berilah mereka feedback yang baik. Jangan lupa pula untuk “merayakan” kekeliruan itu bersama siswa kita. Tetap pancarkan kegembiraan yang tulus, bahwa kita memaklumi, sebuah pembelajaran tak selalu berhasil mulus-bagus. Jujurlah pula mengemukakan kelemahan-kelemahan pembelajaran yang berbuah kekeliruan itu. Akui kekurangan kita dengan dewasa, lalu untuk selanjutnya kita minta pula mereka memberikan pendapat, mengungkapkan perasaan, dan pendapat mereka tentang penyebab kekeliruan atau kegagalan mereka. Kita minta feedback dari mereka. Jangan takut melakukan ini. Dijamin, wibawa kita tidak akan turun walau seperseribu derajat sekalipun!

 

Rayakan kekeliruan atau kegagalan pembelajaran sebelumnya tersebut dengan cara berikut. Katakan saja kepada siswa kita, bahwa hari ini kita akan mengulang pembelajaran itu untuk memperoleh hasil yang gemilang. Rayakan, bahwa dengan kekeliruan atau kegagalan itu, justru kita semua memperoleh kesempatan kedua untuk mengulang pembelajaran itu dengan lebih intens, dengan lebih semangat, dengan lebih banyak motivasi belajar untuk memperoleh keberhasilan. Katakan bahwa hari ini, kita semua akan mendapat “kesempatan kedua” untuk BISA.

  1. Agustus 15, 2008 pukul 8:24 pm

    pertamax?

  2. Agustus 15, 2008 pukul 8:41 pm

    literatur juga mengakui kalau ada model guru yang selalu menyalahkan, baik menyalahkan siswa, maupun si guru sendiri bila ada kesenjangan antara hasil dan intended learning outcomes.

    model yang ini justru sering sekali ya, suhu? paling sering lagi yang menyalahkan siswa.

    tips yang bagus untuk menghindari perilaku tersebut.
    yang dibutuhkan adalah kebesaran hati untuk mengakui kekurangan serta kemauan untuk memperbaiki.

  3. Agustus 15, 2008 pukul 8:41 pm

    eh, ternyata emang pertamax.
    cihuy…
    (makan-makan…)

  4. Agustus 15, 2008 pukul 9:40 pm

    ya, bener sekali, pak suhadi. “Rayakan” ini termasuk salah satu tahapan dalam pembelajaran berbasis quantum teaching *kalau ndak salah*yang berusaha untuk memberikan refresh bagi siswa didik agar mereka selalu berada dalam suasana yang menyenangkan. selamat melakukan inovasi, pak, semoga anak2 negeri ini bener2 memiliki kecedasan ganda seperti yang diharapkan.

  5. Agustus 15, 2008 pukul 10:45 pm

    wah, saya dapat pelajaran bagus dari pak suhadi, nih.
    saya pengen juga bisa jago ngajar.
    makasih ya, pak.

  6. Agustus 15, 2008 pukul 10:54 pm

    Terbelalak juga aku membaca tulisan ini. Karena jadi ingat, dulu waktu sekolah kalau ada pelajaran yang aku tidak mengerti, aku kerap bertanya dalam hati: “Ini gurunya sebenarnya bisa menjelaskan nggak sih? Kok aku nggak ngerti?” Hehehe.

    Sampai kuliah, ternyata pola seperti itu masih sedikit-sedikit terbawa, hanya saja bedanya aku mulai berani mempertanyakan: “Bu, Ibu tadi bilang, bla-bla-bla… Tapi kok, bla-bla-bla…”

    Kalau sudah seperti itu si dosen jelas sewot. Hihihi!

  7. Agustus 16, 2008 pukul 5:07 am

    Karena kita tidak bisa merayakan kekeliruan guru itu, kita selalu menganggap apa yang keluar dari mulut guru itu benar, jadi malah tidak mengembangkan kreativitas atau berpikir kritis anak.
    Btw..ini memang pembelajaran penting juga, karena dalam kehidupan nyata kekekeliruan adalah hal yang wajar kita hadapi. Yang penting adalah bagaimana memperbaiki kekeliruan itu…CMIIW

  8. Agustus 16, 2008 pukul 7:13 am

    jadi ingat kisah saya waktu SMA pak. Pernah suatu ketika guru saya keliru dalam memberikan materi, saya protes malah menjadi bumerang bagi saya. Mungkin guru-guru di sekolah saya dulu tidak mau diprotes pak.

  9. Agustus 16, 2008 pukul 10:37 am

    @dm dan catra:
    disewotin dan bumerang?
    wah, nasibmulah, nak…

    makanya dalam kurikulum andragogi yang “student-centred”, peserta didik belajar dari literatur sebagai sumber yang lebih akurat, dibandingkan omongan guru. pendidik lebih kepada fasilitator saja, menunjukkan dan mengarahkan.

    guru juga bicara harus berdasarkan “evidence”, jadi istilahnya “evidence-based education”.
    istilah “teaching” juga harus berganti menjadi “learning”, karena basically both teacher and students are in a mutual process, learning.

    *sambil buka-buka buku medical education*
    ghyaaa…..

  10. Agustus 16, 2008 pukul 8:47 pm

    merdeka…!

  11. Agustus 16, 2008 pukul 8:57 pm

    @ Marshmallow:
    Upppsss…

  12. Agustus 16, 2008 pukul 11:30 pm

    hmm berlajar jadi lebih baik dari kesalahan githu ya pak😀

  13. Agustus 17, 2008 pukul 4:14 am

    ide kreatif pak. Yang terpenting adalah bisa memotivasi diri untuk tidak larut saat gagal menimpa.

  14. Agustus 18, 2008 pukul 10:51 am

    Mengajar memang sesuatu yang kompleks. Kunci keberhasilan mengajar adalah 2 arah, dari guru dan dari murid sendiri. Jikalau terjadi kegagalan dalam transfer ilmu dari guru ke murid harus dianalisa mana yang salah…..fihak mana yang perlu perbaikan….. perbaikan tersebut harus dilandasi dengan analisa yang obyektif dan akurat sebelumnya, dan tidak sekedar main tunjuk secara subyektif. Itu andaikan proses mengajar mau berjalan sukses……

  15. Agustus 18, 2008 pukul 3:40 pm

    @Pak Sawali: bener pak merayakan (celebrating) adalah bagian dari quantum teaching & learning🙂

    @Pak Suhadi:setuju dengan tulisan bapak, kekeliruan idealnya dijadikan cambuk untuk menjadi lebih baik…guru dan siswa bersama-sama membahas kekeliruan yg terjadi, jadi ga terulang lagi…sama2 belajar kan pak…😀

  16. alifia82
    Agustus 18, 2008 pukul 6:04 pm

    kalo yang gak bisa banyak, musti mikir-mikir lagi ya.. ini anak kita atau kita yang salah

  17. Agustus 18, 2008 pukul 7:13 pm

    Wah kalau semua guru seperti Anda… betapa hebatnya anak-anak kita nantinya🙂

  18. September 19, 2009 pukul 12:29 pm

    Tlng bantuin saya donk???…..
    Emangnya pembelajaran quantum tdk ada kekurangannya??

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: