Beranda > Uncategorized > Titian Makin Terus Tampak Mendaki

Titian Makin Terus Tampak Mendaki


Author: Suhadi

 

Pada aspal hitam panas berfatamorgana

Dan atmosfer berasap mesin-mesin kota

 

Di perempatan jalan rimba

Serta di bawah sergap halte buas berbahaya

Kaki-kakimu kecil tertatih letih tak punya kuasa

Dialasi sandal jepit hijau-biru tak rata

 

Haruskah selamanya kamu berlari berebut masuk ke pintu kesempatan?

Menjual belas kasihan

Yang terbaca lewat headline-headline koran

Yang terdengar lewat kecek-kecek tutup botol minuman

Yang terpandang lewat kulit berbakar matahari

Yang tercium lewat dekil baju berpeluh daki diperam hari

 

Jikalau titian makin terus tampak mendaki

Kapan kamu akan bisa membebas diri?

 

 Alabio, 7 Agustus 2008. (Belajar menulis puisi)

Kategori:Uncategorized Tag:
  1. Agustus 7, 2008 pukul 2:47 pm

    tetap semangat…😀
    *just comment, he2*

  2. Agustus 7, 2008 pukul 3:58 pm

    di…puisinya bagus banget…diksinya ok…temanya juga ternyata pengamen yang sering kita temui di jalanan. ternyata suhadi bukan hanya jago bikin cerpen…tetapi juga jago bikin puisi…eh tapi bukan ayam jago lho…

  3. Agustus 7, 2008 pukul 4:30 pm

    hmm…
    pak suhadi selain pemerhati pendidikan, juga tertarik mengamati lingkungan ya? terutama yang menyangkut anak-anak.

    gak fiksi, artikel serius, puisi, semuanya digarap sama pak guru ini.
    salut deh.
    keep up the good work, mate!

  4. Agustus 8, 2008 pukul 2:36 pm

    Let’s pray for all the lost children…

  5. Agustus 12, 2008 pukul 10:03 am

    Tanggung jawab siapa tuh..( fakir miskin dan anak-anak terlantar di pelihara negara)..harus nya diganti aja bunyi pasalnyafakir miskin dan anak-anak terlantar jadi beban negara…atau dijual negara buat dapet utangan..hee( menjual kemiskinan..)

  6. arifrahmanlubis
    Agustus 12, 2008 pukul 2:45 pm

    semoga kita masuk kedalam golongan yg bisa berbuat banyak untuk saudara-saudara kita itu pak.

    selalu ada rasa malu dan gundah pada diri jika melewati perempatan jalan di kota-kota.

  7. Agustus 14, 2008 pukul 8:41 am

    puisinya bagus Pak
    ..sebuah empati yang menyentuh, sementara saya cuma bisa mengumpat :tanya kenapa…???

  8. Agustus 14, 2008 pukul 6:28 pm

    Nice poem, sir🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: