Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Motivasi Belajar—Menangani Siswa Yang Menyimpang dari Perilaku Belajar dengan Isyarat-Isyarat Nonverbal

Motivasi Belajar—Menangani Siswa Yang Menyimpang dari Perilaku Belajar dengan Isyarat-Isyarat Nonverbal


Author: Suhadi

 

Teringat kembali pengalaman saya waktu SMA dulu dan juga pengalaman beberapa rekan bloger yang dilempar pakai penghapus saat membuat keributan atau berperilaku menyimpang dari kegiatan belajar, membuat saya tertarik untuk mengupas penggunaan isyarat-isyarat nonverbal (nonverbal cues). (lihat komentar-komentar pada posting saya: Menghapus Papan Tulis). Isyarat nonverbal sangat patut dijadikan alat untuk menangani siswa-siswa yang berbicara di luar topik pembelajaran, mengganggu teman di sekitarnya, atau asyik dengan kegiatannya sendiri saat pembelajaran sedang berlangsung.

 

Menggunakan benda-benda semacam penghapus, kapur, atau apa saja untuk melempar siswa bukan perilaku terpuji seorang guru. Apalagi kalau nanti benda yang dilemparkan guru tidak mengenai sasaran. Tidak mengenai siswa yang dimaksud. Atau, bahkan dapat mengenai siswa lain yang sudah berperilaku belajar yang baik. Guru bisa jadi malu sendiri kan? Tengsin.. Cikgu!

 

Penanganan perilaku menyimpang dari kegiatan belajar di kelas sebaiknya dilakukan dengan isyarat nonverbal. Tidak menggunakan suara. Tidak melalui kata-kata. Apalagi main lempar penghapus atau main pukul seenaknya. Jangan-jangan, perilaku menyimpang dari kegiatan belajar itu disebabkan oleh kita sendiri, guru! Pembelajaran kita tidak menarik. Atau, pembelajaran yang diberikan guru tidak bisa mengakomodasi kebutuhan belajar siswa. Akhirnya mereka tidak memiliki atau kehilangan motivasi belajar.

 

Kembali ke topik, isyarat-isyarat nonverbal (nonverbal cues) dapat digunakan untuk mengatasi perilaku-perilaku menyimpang dari kegiatan belajar yang seringkali terjadi di dalam kelas. Terutama perilaku-perilaku menyimpang “rutin” yang biasa terjadi di kelas. Isyarat nonverbal (tanpa bicara, tanpa bersuara) dapat dilakukan dengan kontak pandang, didekati, mengetuk pelan meja siswa yang bersangkutan, atau menyentuh pundak siswa tersebut. Isyarat nonverbal lebih utama dilakukan sebelum melakukan tindakan lain yang sifatnya lebih keras.

 

Sebagai contoh kongkret, saat sedang berlangsung diskusi atau presentasi, bila ada dua siswa yang asyik berbicara tentang hal-hal lain di luar materi atau topik pembelajaran, kita dapat melakukan kontak pandang yang mengisyaratkan bahwa kita ingin perilaku menyimpang mereka dihentikan. Bila belum berhasil, kita dapat berjalan mendekati bangku mereka. Bila belum berhasil juga, kita dapat memegang pundak mereka (untuk siswa yang berlainan jenis kelamin dengan guru sebaiknya ketuklah meja mereka secara perlahan).

 

Perlu dicatat, saat menangani perilaku menyimpang dengan menggunakan isyarat-isyarat nonverbal ini presentasi dan diskusi dapat terus berlangsung. Tidak terinterupsi. Dalam hal ini guru telah melakukan apa yang disebut “overlapping”. Guru profesional harus pandai melakukan overlapping. Guru melakukan dua pekerjaan sekaligus: (1) menghentikan perilaku menyimpang siswa; dan (2) melaksanakan pembelajaran seperti diskusi atau presentasi tanpa terinterupsi saat menghentikan perilaku menyimpang tsb.

 

Anda mungkin masih ingat beberapa kejadian di kelas anda sewaktu sekolah dulu. Misalnya ada teman anda yang sedang dimarahi karena berbicara atau melakukan perilaku menyimpang lain di luar kegiatan belajar yang sedang berlangsung. Apakah gurunya galak atau tidak, pasti ada efeknya buat pembelajaran anda. Sekecil apapun efek yang ditimbulkan dari keputusan guru untuk memarahi siswa jelas-jelas akan mengganggu pembelajaran. Apa yang anda rasakan? Bisa jadi anda, sebagai siswa menjadi kehilangan konsentrasi belajar. Bisa juga itu menjadi tontonan mengasyikkan buat anda. Bisa jadi anda merasa takut, atau gugup. Nah, ini dapat merusak motivasi belajar anda (siswa) saat itu.  

 

Memperbaiki penyimpangan perilaku belajar selain dengan menggunakan isyarat nonverbal dapat merusak momentum pembelajaran yang sedang berlangsung. Seluruh siswa di dalam kelas akan terinterupsi kegiatan belajar hanya karena satu atau dua orang siswa yang melakukan penyimpangan. Kita merusak sendiri “smoothness” pembelajaran yang kita laksanakan. Enggade time juga otomatis akan jauh berkurang karena terpakai untuk marah-marah atau mengomel. Kasihan kan siswa-siswa yang sedang belajar itu? Saat guru marah-marah, siswa menjadi terdistraksi. Terganggu proses belajar di dalam benaknya.

 

Jadi guru, bila menemui ada siswa yang melakukan penyimpangan perilaku belajar, mulailah dengan isyarat nonverbal lebih dulu. Jangan buru-buru marah, apalagi main lempar penghapus atau main pukul. Jangan!

  1. Agustus 4, 2008 pukul 5:08 pm

    Saya dapat ilmu baru nih..Pak Suhadi! Menegur siswa tanpa mengganggu suasana belajar yang ada. Istilahnya overlapping, guru menegur siswa sambil terus melakukan pembelajaran. Mungkin agak sulit dilaksanakan ya, tapi rasanya patut dicoba.

    Maklum saya termasuk guru yang sering marah. Kemana-mana bawa penggaris panjang (walau belum pernah satu kalipun penggaris tsb menyentuh badan siswa). Suara saya nyaring. Siswa kalau saya tatap saja sudah deg-degan bahkan ada yang gemetar. (ah masa iya sih pak).

    Biasanya kalau saya menegeru, otomatis suara nyaring, semua siswa terdiam. Pelajaran jadi terganggu ya, mod siswa jadi nggak enak lagi ya…waduh baru terpikir nih.

    Doakan saya, supaya bisa menjadi guru yang baik.

    ==============
    to Syam al ideris

    Saya juga masih terus belajar melakukan overlapping. Makanya saya menulis ini. Saya menulis bukan berarti saya lihai. Justru karena pingin tau dan mencoba.😀 Susah-susah gampang. Belajar mengatasi masalah tanpa menimbulkan masalah lain (kayak pegadaian saja😆 ).

    Guru matematika ya?
    Soalnya bawa penggaris terus…he..he..

  2. Agustus 4, 2008 pukul 6:34 pm

    tips yang bagus banget, pak.
    saya pernah menggunakan isyarat non verbal dengan memandangi peserta didik yang agak ngelantur sikapnya, tapi malahan saya dikedipin. dasar mahasiswa!

    setelah itu jadi lebih hati-hati menggunakan isyarat non verbal.
    padahal itu adalah cara terbaik untuk overlapping ya, pak. supaya peserta didik yang lain gak terganggu konsentrasinya.

    ================
    to marshmallow

    He..he… barangkali mo ngajak kencan dosennya?Barangkali karena dosennya manis dan baik?😆
    Kenapa gak sisihkan dua-tiga menit untuk berbincang di akhir kuliah? Bisa ditanya atau ditegur dengan baik-baik saat tak banyak orang, saat mahasiswa lain sudah keluar ruangan. Tahan dia sebentar. Ungkapkan keberatan kita dengan bersikap asertif.

  3. Agustus 4, 2008 pukul 6:37 pm

    btw, ganti template ya?
    bagus sih, cuman jadi gak ada galeri foto lagi.🙂

    ==========
    to marshmallow

    biar gak bosen, tapi buku tamunya gak bisa diaktifkan untuk komennya. Mungkin karena theme ini gak support lebih dari satu halaman. Atau karena saya yang dodol. He..he…
    🙂
    Galeri foto? Nanti saya pajang yang baru-baru, yang lebih keren. he..he..

  4. Agustus 4, 2008 pukul 8:46 pm

    wahhhh salut saya ama bapak guru yang satu ini,,, pendidik sejati githu lo😀

    =====
    to zoel chaniago

    ah, biasa aja zoel. Guru biasa. (*lubang hidung kembang-kempis MODE ON)

  5. Agustus 5, 2008 pukul 12:51 am

    dulu sewaktu saya mengajar di salah satu sekolah di daerah bekasi. pada saat itu saya sedang menerangkan di depan kelas,apa yg terjadi coba pak. anak murid saya sdg asik bermain kartu gaple!. sungguh,saya kesal ,marah.campur aduk perasaan saya waktu itu. lalu,akhirnya saya marah pada saat itu juga. nah kalau kelakuannya sdh begitu gimana coba,pak!?

    ===========
    to langitjiwa

    main domino ya? wah, ini namanya “serious missbehavior” sudah. Bukan lagi perilaku menyimpang “rutin”. Mungkin karena Mas Langitjiwa kurang mengawasi, makanya sambil presentasi atau menjelaskan atau sedang nulis di papan tulis, tetap perhatian tertuju juga ke seluruh bagian kelas. Prinsip overlapping tadi Mas. Trus, kalau ada penyimpangan perilaku kecil, cepat-cepat diatasi sebelum menjadi penyimpangan perilaku yang lebih berat macam main domino tadi. Guru sebaiknya gak terpaku berdiri di depan kelas saja, tapi juga ke seluruh bagian kelas lain. Ke deretan bangku-bangku belakang. Ibarat penyakit, cegah dulu kalau bisa, jika terlanjut sakit juga, obati dulu selagi belum parah. Kalau sudah parah, isyarat nonverbal gak manjur lagi Mas, perlu teknik dan strategi khusus.😀

  6. Agustus 5, 2008 pukul 6:06 am

    Ya-ya, bahasa nonverbal penting juga sih, Pak Suhadi. Hanya saja terkadang ada kondisi yang tak cukup jika hanya menggunakan isyarat itu. Reaksi komunikan tak selamanya sama dalam menangkap isyarat yang dilontarkan komunikator. Jadinya, sering salah tangkap. Tapi kalau berhasil, memang efektif.

    Dan theme baru ini, ai-ai…🙂

    ===================
    to daniel mahendra

    sangat penting Mas. Lebih utama dilaksanakan sebelum menggunakan teknik lainnya, untuk mengatasi penyimpangan perilaku belajar ini.

    Betul kata Mas Daniel, adakalanya isyarat nonverbal tak cukup lagi jika penyimpangan perilaku sudah serius, bukan penyimpangan perilaku “rutin” macam: berbicara, mengantuk, tidak memperhatikan penjelasan, tidak mendengarkan orang yang sedang berbicara, dll. Untuk perilaku yang lebih berat, diperlukan teknik dan strategi khusus lain.

    Reaksi komunikan mungkin tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Ini bisa jadi karena kesalahan guru (tekniknya belum begitu sempurna, makanya keterampilan ini harus selalu diasah biar bahasa tubuh kita dapat selaras dengan isyarat yang dimaksudkan.). Bisa juga karena siswanya tadi penyimpangan perilakunya sudah parah.

    Coba-coba ganti dengan yang simpel ini. Kayaknya oke juga.

  7. Agustus 5, 2008 pukul 11:26 am

    Setiap datang kesini, saya jadi tambah semangat.
    Terima kasih Pak Suhadi atas artikelnya

    ========
    to agus sampurno

    sama-sama Pak. Blog bapak juga punya efek demikian terhadap saya.

  8. Agustus 5, 2008 pukul 12:39 pm

    Setuju pak, tapi gimana kalau seandainya isyarat nonverbal itu malah tak di hiraukan oleh sang murid? atau Terjadi salah persepsi terhadap isyarat yang diberikan oleh sang guru?

    ==========
    to Septha

    Kalau ndak dihiraukan, baru gunakan isyarat verbal. Tapi upayakan supaya tetap gak mengganggu jalannya pembelajaran. Jangan bikin tegang siswa lain.

    Kalau guru sering melatihkan keterampilan menggunakan isyarat nonverbal ini, insyaAllah hasilnya oke punya. Tidak akan salah persepsi. Tapi ya itu tadi kalau anak/siswanya gak paham-paham juga, ya terpaksa deh pakai isyarat verbal.😀

  9. Agustus 5, 2008 pukul 1:02 pm

    wuah… jadi inget bu Irine… Guru Matematikaku….
    Si ibu ini sering banget jalan2 se antero penjuru kelas saat menerangkan. Sambil sesekali mengusap dan memijit pundak anak2 dengan halus. proses KBM jadi terasa menyenangkan dan semua konsen dengan pelajaran.

    ==============
    to abdee

    berarti bu irene itu pinter memelihara learning environment kelas. Beliau hebat dalam melakukan overlapping. Melakukan pengawasan, mengatasi perilaku menyimpang dari belajar, sekaligus mengajar. Guru hebat!

  10. Agustus 5, 2008 pukul 2:50 pm

    wah setuju Pak
    Anda memang guru yang bijak😀

    Salam semangat!

    ===========
    to achoey sang khilaf

    makasih choey

  11. Agustus 5, 2008 pukul 2:59 pm

    isyarat nonverbal kadang2 malah lebih mengena ketimbang kata2, pak suhadi😆

    ============
    to Pak sawali tuhutseya

    Betul Pak, yang penting harus terus dilatih. Pasti makin lihai memberikan isyarat nonverbal

  12. Agustus 5, 2008 pukul 5:59 pm

    Ajakan yang bijaksana pak suhadi, dengan cara yang halus akan membentuk karakter yang halus pula dengan anak didik

    ==============
    to laporan

    betul banget pak. jangan ada kekerasan di sekolah.

  13. Agustus 6, 2008 pukul 7:49 am

    nampaknya memang pendekatan pola pembelajaran demikianlah yang lebih dapat memanusiakan siswa didik yo kang?

  14. arifrahmanlubis
    Agustus 6, 2008 pukul 8:45 am

    salam kenal pak guru🙂

    tambahan lagi menemukan blogger guru🙂

    jadi makin percaya di Indonesia banyak guru yg dapat benar-benar berfungsi sebagai pendidik dan pembentuk karakter🙂

  15. Agustus 6, 2008 pukul 10:10 am

    Semoga cita cita saya menjadi guru tercapai … amin ya ALLAH.

  16. Agustus 6, 2008 pukul 11:28 am

    salam semangat Pak🙂

  17. Agustus 6, 2008 pukul 1:05 pm

    bermanfaat…. semoga guru2 lain lebih banyak ngeblog,. dan tentunya mampir kesini buat baca2 metode di atas… huhuhuhu

  18. Agustus 6, 2008 pukul 1:55 pm

    Kalau saya sih nyuruh mahasiswa ribut he he …

  19. Agustus 6, 2008 pukul 3:21 pm

    wah kalo untuk anak SD kayaknya agak susah tu pak, dipesankan, ‘nanti tertib ya nak di museum’ mereka akan bingung sendiri. Itu maksudnya apa ya? Jadi kita harus mendefinisikan arti kata tertib, ‘Jangan lari-larian, apalagi main petak umpet di dalam museum. Jangan pegang-pegang peninggalan sejarah’. Lalu mereka akan tanya: Kenapa bu? ‘Karena tanganmu mengandung keringat yang bisa merusak peningalan sejarah itu’. Ooooo…

    Hmmm, tapi saya akan coba isyarat nonverbal ini. Trimakasih atas sharingnya pak!!

  20. Agustus 6, 2008 pukul 10:23 pm

    Artikel yang menarik…Salam dari Malaysia..

    ——————————-
    Kalam Abu Musaddad
    http://ibnismail.wordpress.com

  21. Agustus 6, 2008 pukul 11:05 pm

    Karna tugas saya di sekolah adalah merangkul siswa, menjadi teman buat siswa, maka saya sudah seharusnya meminimalisir hal2 akan membuat siswa tsb menjadi sakit secara fisik dan psikis. sehingga hal ini akan berimbas pada motivasi belajarnya.

    Prinsip saya :
    kalau di rumahnya siswa bisa seperti di surga (home sweet home), kenapa juga di sekolah harus di buat seperti neraka ?
    *salah sedikit diomeli guru. padahal seharusnya ditegur baik2*

    atau

    kalau d rumah siswa tsb merasa seperti di neraka (banyak masalah keluarga misalnya), haruslah kita menjadikan sekolah sebagai surga yang indah. sehingga setidaknya ia nyaman disana.

    yang terpenting adalah jangan sampai mereka tidak memilih kedua-duanya

    tidak betah di rumah, dan tidak betah di sekolah😦

    mau betah di mana hayooo ???

    Ayo… ciptakan Sekolah Ramah Anak🙂

    Salam kenal pak…
    duh, baru sekali kesini, saya sudah komen panjang lebar…:mrgreen:
    Abis bahasannya assik sih🙂

  22. Agustus 14, 2008 pukul 6:27 pm

    Aakhirnya bisa kebali blogwalking ke blog pak Suhadi😀 . Kalau saya paling sering pakai pandangan mata dan alhamdulillah selalu ampuh…

  23. Desember 19, 2008 pukul 3:34 pm

    Kelembutan, kesabaran, keuletan dan telaten merupakan kunci guru dalam hadapi semua karakter murid

  24. Februari 26, 2009 pukul 11:19 am

    🙂
    :-p

  25. CHely
    Maret 9, 2009 pukul 5:05 pm

    teruzz maju pak
    sucsezzzz

  26. hanitazaini
    November 22, 2009 pukul 5:55 pm

    kalo saya punya anak didik yang sok berkuasa, dia merasa berkuasa atas teman2nya. sehingga dia selalu mengatur teman2nya. bahkan ada satu anak yang betul2 takut sama dia. gimana pak kalo seperti ini??? menangani dia tapi tetap tidak mematikan kreatifitasnya, karena dia memang kreatif. dan tidak membuat dia tidak suka ma kita. apa lagi dengan pelajaran kita. dia seorang perempuan dan kelas 5 sd. satu kelas isinya 10 orang dan perempuan smuanya. saya tunggu jawabannya. thanks pak

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: