Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Motivasi Belajar—Penguatan (Reinforcement), Apa Bedanya Dengan Umpan Balik (Feedback)?

Motivasi Belajar—Penguatan (Reinforcement), Apa Bedanya Dengan Umpan Balik (Feedback)?


Author: Suhadi

Tulisan ini saya buat setelah terpicu oleh komentar seorang sahabat, Fitri Jamilah yang merupakan guru IPS dari SMPN 2 Karang Intan. Fitri adalah seorang guru profesional yang pertama kali saya kenal saat kami sama-sama mengikuti Lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional tahun 2006 di Bogor. Dan untuk bidang IPS, Fitri berhasil mengharumkan nama Kalsel sebagai Juara I mengalahkan juara-juara perwakilan dari 32 propinsi lainnya. Hebat kan ni Bu Guru? Beberapa kali dia mengomentari tulisan-tulisan di blog ini, sampai akhirnya dia mengatakan tertarik untuk membuat blog juga. Ingin punya blog sendiri. Ternyata oh ternyata, sekarang Fitri muncul dengan tiga blog sekaligus, yaitu Black Zone, Puuuuuisi, dan Esai-Artikel. Salut!

Fitri, pada posting saya yang berjudul “Motivasi Belajar—Feedback Bisa Dijadikan Sarana Untuk Tujuan Ini Lho!”, memberikan komentar yang sangat menarik. Begini bunyinya:

·         Setelah saya ingat-ingat, feedback yang bapak contohkan selama ini sering saya lakukan, tapi saya tidak tau kalau itu namanya feedback. saya pikir itu yang namanya memberi penguatan. Apapun istilahnya, memang wajib dilakukan guru untuk memotivasi siswanya…,ya kan…

Pada prinsipnya saya sependapat dengan Fitri, bahwa “apapun istilahnya, memang wajib dilakukan oleh guru untuk memotivasi siswanya.” Sip!

 

Sekarang, yang membuat saya tertarik untuk menulis ini adalah Fitri berpikir bahwa apa yang telah dilakukannya itu namanya penguatan (reinforcements/reinforcers). Lalu, yang jadi pertanyaan adalah, samakah penguatan dengan feedback (umpan balik)? Saya telah menjawab komentar Fitri dengan mengatakan bahwa “kedua-keduanya bisa menjadi kabur saat kita menerapkannya di dalam kelas”. Kok bisa begitu? Ya, bisalah. He..he… Memang kita bangsa yang suka bikin kabur makna istilah-istilah khusus. (Fit, jangan marah, saya tidak menyalahkan kamu. Jangan ngambek. Cuma alangkah baiknya kalau kita sama-sama membuka lagi materi kuliah dulu waktu di FKIP Unlam  tentang apa itu penguatan dan apa itu feedback.) Sekali lagi saya tandaskan, bahwa ini cuma teori. Teori tanpa praktek sama saja dengan omong kosong,

 

***

 

“Baik feedback maupun penguatan (reinforcement) dapat digunakan sebagai pemicu motivasi belajar siswa. Pemicu motivasi ekstrinsik yang akan menumbuhkan motivasi intrinsik.”

 

Feedback, menurut buku-buku psikologi pendidikan adalah informasi terhadap hasil upaya belajar seseorang. Feedback bisa dilakukan secara lisan, bisa juga dalam bentuk tulisan pada lembar jawaban ulangan, laporan, tugas, PR, atau kertas kerja siswa lainnya. Contohnya begini:

 

Lisan: “Keren! Hebat sekali, kamu kreatif sekali Imah, kamu bisa memanfaatkan kertas bekas, botol-botol air mineral bekas, dan bahan-bahan limbah lainnya sebagai bahan prakarya kamu. Bapak suka, ini patut dicontoh. Menggunakan barang-barang limbah.” (Feedback: bergaris bawah. Pujian—yang merupakan salah satu bentuk penguatan: dicetak miring). Feedback digandeng dengan penguat. Efeknya akan jadi luar biasa.

 

Lisan: “Kamu sudah hampir betul! Sedikiiiit lagi! Sayang kamu kurang teliti, coba perhatikan baris keempat pada alinea kedua karangan kamu, ada penulisan nama geografi yang belum tepat. Kamu menulis Sungai Musi dengan huruf kecil. Ingat! Nama geografi harus ditulis dengan huruf kapital pada awal kata-nya, Harusnya huruf “S” pada kata “sungai” dan huruf “M” pada “musi” adalah huruf kapital. Oke, bisa dipahami?” (Feedback: bergaris bawah. Pujian—yang merupakan salah satu bentuk penguatan: dicetak miring). Sekali lagi, Feedback digandeng dengan penguat. Efeknya akan jadi luar biasa.

 

Untuk tulisan: pada prinsipnya sama dengan lisan, cuma ditulis pada kertas hasil pekerjaan siswa.

 

Sedangkan reinforcement/penguatan adalah suatu konsekuensi yang menyenangkan, yang menjaga atau bahkan meningkatkan suatu perilaku belajar. Ada dua macam reinforcement, yaitu penguatan positip dan penguatan negatif. Lihat tabel berikut untuk lebih jelas.

 

Penguatan positip

Penguatan Negatif

Contoh: memberikan penghargaan (rewarding) atau pujian (praising-lewat bicara)

Contoh: Membebaskan dari tugas atau situasi yang kurang disukai

 

Memberi penghargaan berupa piagam, hadiah buku, hadiah tas, atau memberi pujian dengan ucapan “bagus!”, “hebat!”, “keren!”, cool!”, “oke banget!”, atau dengan pujian isyarat seperti acungan jempol, menepuk punggung siswa, tepuk tangan, senyum disertai anggukan, atau kombinasi ucapan dan isyarat, merupakan konsekuensi yang menyenangkan yang dapat diberikan setelah siswa melakukan pembelajaran dengan baik. Ini termasuk penguatan positip. Dengan penguatan positip ini, yang merupakan konsekuensi atau “upah” yang diterima siswa karena keberhasilan belajarnya. Nantinya, diharapkan ia akan mengulang kembali keberhasilannya itu.

 

Contoh komentar Bu Alifia pada posting saya Menghapus Papan Tulis”, juga contoh bagaimana memberi reward (penghargaan) yang baik—yang merupakan salah satu bentuk penguatan positip. Perhatikan:

·         Kalo dari pengalaman saya jadi guru SD, hukuman kurang efektif untuk mengubah prilaku anak. Kami pernah menerapkan ‘hukuman’ untuk segala pelanggaran, tapi tetap saja anak-anak malahan terkadang jadi terlihat ‘membanggakan diri’ sebagai anak yang banyak di hukum karena anak nakal itu keren. Kemudian metode kami ubah dengan memberikan hadiah bagi anak yang tertib, bukan secara materi..namanya diumumkan di upacara, di beri medali dari kertas di lockernya, nama dan foto mereka di tempel di mading sekolahan..justru hal-hal itu jauh lebih efektif mendorong anak berperilaku baik.

(reward—yang merupakan salah satu bentuk penguatan saya garis bawahi. Bu Alifia dan kawan-kawan memberi siswa mereka “upah” sebagai bentuk konsekuensi yang diterima karena telah berlaku baik, tidak melanggar peraturan).

Membebaskan dari tugas meresume materi pelajaran, atau membebaskan dari mengulang ujian (remedial) bagi siswa yang melewati batas SKBM/KKM (standar ketuntasan batas minimal/kriteria ketuntasan minimal—pada Kurikulum Berbasis Kompetensi/Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) bisa jadi adalah sebuah penguatan negatif bagi seorang siswa. Dengan penguatan negatif ini siswa dibebaskan dari suatu situasi atau tugas yang barangkali kurang disukainya.

 

Selain pembagian penguatan positip-negatif di atas, penguat (yang dapat digunakan sebagai sarana penguatan) juga dapat dikategorikan menjadi penguat primer dan penguat sekunder. Penguat primer dapat berupa makanan, minuman, rasa aman, rasa dicintai, dll atau konsekuensi-konsekuensi lain yang dapat memuaskan kebutuhan dasar manusia (basic need)-nya Maslow (Teori Kebutuhan Maslow). Penguat sekunder adalah penguat yang menjadi bernilai penguat bila diasosiasikan dengan penguat primer. Contoh penguat sekunder misalnya uang. Uang tidak akan berfungsi sebagai penguat bila ia tidak dapat diasosiasikan oleh si penerima penguatan dengan kebutuhan dasarnya. Uang bisa tidak punya makna apa-apa bila si anak belum mengerti apa fungsi uang (misal untuk membeli makanan atau minuman pada anak kecil). Contoh yang lebih kongkret dengan dunia pendidikan: rangking tidak akan berfungsi sebagai penguat bila orang tua siswa yang bersangkutan tak perduli dengan rangkingnya di kelas, tidak pernah membaca buku raport-nya. Rangking tidak dapat berfungsi sebagai penguat karena tidak ada kaitannya atau tak dapat terasosiasi dengan kasih sayang, rasa bangga, dan cinta orang tua pada siswa bersangkutan. Tapi rangking (yang bagus) dapat berfungsi sebagai penguat bila itu berasosiasi sebagai penambah kasih sayang, rasa cinta, rasa bangga orang tua terhadapnya.

 

Kiranya demikian, mudah-mudahan menambah pengetahuan bagi saya pribadi, dan pembaca sekalian dengan materi pedagogik (ilmu mengajar/mendidik) yang sangat penting dalam profesi kita sebagai guru. Wassalam.

  1. Agustus 1, 2008 pukul 12:29 am

    Mungkin ini bisa jadi tambahan informasi pak:
    Feedback and reinforcement are two of the most pivotal concepts in learning. Feedback involves providing learners with information about their responses whereas reinforcement affects the tendency to make a specific response again. Feedback can be positive, negative or neutral; reinforcement is either positive (increases the response) or negative (decreases the response). Feedback is almost always considered external while reinforcement can be external or instrinsic (i.e., generated by the individual).

    =============
    to 1nd1r4

    Sangat bermanfaat informasinya 1n. O ya, berarti ada sedikit perbedaan mengenai konsep penguatan negatif itu ya antara referensi kamu dan refensi saya. Tapi yang penting seperti kata teman-teman bloger lain, yang penting pelaksanaannya di kelas. Sip.

  2. Agustus 1, 2008 pukul 12:30 am

    Comment di blog saya muncul kok pak….

  3. Agustus 1, 2008 pukul 1:27 am

    Thanks 1n, it’s very useful information. Saya ngasih komen tentang puisi dan cerita tragedi itu kemarin kalau tak salah. Barusan aku masukkan lagi satu tapi gak muncul. Ini aku coba komen pake hape. Tadi bisa di blog pak budi. Lihat komen di atas, kok banyak banget keluarnya. Sampai duplikasi 7 kali dgn waktu hampir bersamaan. Heran..

  4. Agustus 1, 2008 pukul 6:09 am

    Wah-wah, yang seperti ini belum pernah terjadi ketika aku masih lagi sekolah. Kini banyak guru berbondong-bondong memiliki blog. Sebuah kesadaran apa ini?

    Bukankah ini menarik, cara pandang guru dapat dilihat pula dari tulisan-tulisannya di blog. Dan di blog seperti ini, kurasa berlaku hukum egaliter (tanpa menafikan kesantunan) bahwa siswa pun berhak bersuara, mengomentari, serta berpendapat seperti halnya para blogger lainnya. Bukankah ini menarik?

    ============
    to Daniel Mahendra

    Setuju Mas Daniel. Andai internet sudah merata, ini bisa dijadikan sarana untuk pembelajaran. e-learning. Pasti keren dan menyenangkan buat siswa. Mereka bisa menyuarakan apa saja, pendapat, ide, kritik, tanggapan, dsb. pada gurunya atau pada dunia.

  5. Agustus 1, 2008 pukul 8:59 am

    artikelnya bagus.
    perilaku guru yang dapat memotivasi siswa memang harus dipelihara dan ditularkan.
    amenable sama mas DM, fenomena guru menjadi blogger itu menarik.
    bermanfaat karena menjadi sarana ukhuwah dan belajar.

    pak, banyak blogger yang namanya sama dengan pak suhadi dan icon-nya sama loh.
    mereka semua pada komen di sini, 8 komen teratas lagi.

    =============
    to marshmallow

    Untuk komentar pertama itu sebenarnya saya juga yang kasi komen, cuman itu saya ambil dari spam.
    Komen berikut yang buanyyaaak itu juga dari saya, cuma terduplikasi dengan sendirinya. Tapi tidak masuk spam. Makanya saya heran. Sekarang saya gak bisa kasih komen ke Pak Ersis. Kalau saya kirim, tangkapan akismet bertambah. Kelihatan kalau komen saya langsung masuk spam. Sampai hari ini (2 agt) belum bisa kasih komen ke catra juga rekan bloger dari wordpress lainnya. Sepertinya semua menganggap komentar saya spam. 😥 😥

  6. alifia82
    Agustus 1, 2008 pukul 9:42 am

    Pak Suhandi, comentnya juga masuk ke spam saya. Kenapa tuh ya?

    ============
    to alifia

    Makanya Bu, kemarin saya coba ganti email, terus juga minta bantuan ke forum wordpress dan lihat-lihat apa saya telah melanggar ToS (terms of sevice)nya wordpress. Mungkin solusinya kata mereka adalah dengan bantuan kawan-kawan, dengan menyelamatkan komentar saya dari kotak spam quene. Biar akismet bisa belajar, katanya, kalau saya bukan spammer.
    😥

  7. Agustus 1, 2008 pukul 11:34 am

    ada apa pak? kok ngomennya banyak banget???

    hati2 pak!! itu risiko seleb blog…. hehehe

  8. Agustus 1, 2008 pukul 2:37 pm

    mungkin karena email saya dianggap makanya komen saya selalu di bawah (ga pernah diatas) hehehehe

  9. Agustus 1, 2008 pukul 2:37 pm

    mungkin karena email saya dianggap spaM makanya komen saya selalu di bawah (ga pernah diatas) hehehehe

    ===========
    to Catra

    kamu belum pernah masuk kotak spam di tempat saya Cat. Btw, saya bukan seleb blog. Ada-ada aja kamu. O ya, ada komenku yang juga gak muncul di blog kamu. Sepertinya juga di anggap spam. Sampai hari ini aku belum bisa kasih komen di tempat mu. Kalau bisa, keluarkan komentar saya dari kotak akismet ya Cat, please…….

  10. Agustus 1, 2008 pukul 3:15 pm

    ini ilmu yg bermanfaat buat saya🙂
    Makasih

    ======
    to achoey sang khilaf

    sama-sama choey, apalagi kamu kan sekarang sudah jadi pembicara seminar juga. Bisa pakai teknik-teknik mengajar biar makin oke.

  11. Agustus 1, 2008 pukul 3:25 pm

    wah, postingan yang menarik, pak suhadi. tapi, kenapa kita kok masih suka terjebak utk mempermasalahkan istilah, yak, hehehe😀 feedback, reinforcement, atau apa pun istilahnya, menurut saya sih, penerapannya dalam kbm itu yang lebih penting. tujuannya, kan sama, untuk membantu siswa dalam menguasai kompetensi tertentu. *waduh, kok jadi sok tahu nih*

    ==============
    to Pak Sawali Tuhutseya

    Betul sekali Pak. Setuju pisan.
    Yang penting pelaksanaannya. Jangan pintar teori saja. Tapi kalau kita juga tau teorinya, biar dikit-dikit, juga ada manfaatnya lho Pak.😀

  12. Agustus 1, 2008 pukul 4:52 pm

    wah jadi feedback artinya itu toh..

    ===============
    to hanggadamai

    yup
    si pusat gravitasi blogosphere come back!!!!!!!!!
    Euy, sodara-sodara, ada seleb blog masuk ke sini…:mrgreen: :mrgreen:

  13. Agustus 1, 2008 pukul 9:14 pm

    pendidika yang baik harus selalu memberikan feedback yang konsturktif kepada anak didiknya…

    jangan hanya ketika mereka salah mereka dikritik… harusnya ketika mereka berhasil melakukan sesuatu… sekecil apapun itu… harus ada enforcement ke mereka…

    ==========
    to bakhrian

    betul pak😀

  14. Agustus 2, 2008 pukul 11:43 am

    saya setuju dgn kang Daniel,mudah2an diantara murid dan guru ada diskusi menarik di dunia blog ini.yah,tentang apa saja.

    ==========
    to langitjiwa

    Bener Mas, mudah-mudahan, internet makin terjangkau dan merata, sehingga apapun bentuknya bisa jadi sarana komunikasi guru dan murid.

  15. Agustus 2, 2008 pukul 12:34 pm

    Aduh..pak suhadi, senangnya karena tanggapan saya mendapat tanggapan balik dari bapak, sebagai blogger amat sangat pemula, saya merasa sangat senang. gak ngira euy…he..he..he..
    oh..ya..,saya baru baca permen nomor 41/2007 tentang standar proses, duh..ternyata selama ini masih banyak hal-hal yang semestinya saya lakukan di dalam kelas ternyata belum saya lakukan. jadi malu sama siswa saya karena terima gaji tapi tidak menjalankan tugas dengan benar.

    ===========
    to Fitri

    sama Fit, saya juga masih banyak yang belum dikerjakan. Dengan mengetahui apa kewajiban kita, mudah-mudahan kinerja kita bisa makin bagus. Thanks

  16. Agustus 2, 2008 pukul 1:27 pm

    Yah apalah namanya, yang penting bagus-bagus aja kalok, …. mana blognya irwan?

    =======
    to F heri S

    Tull, yang penting pelaksanaannya. Sip bro! Udah pasang shoutmix?

  17. suhadinet
    Agustus 2, 2008 pukul 1:31 pm

    Katanya irwan alamatnya irwanrozanie.wordpress.com. Di google belum bisa terdeteksi mungkin dua-tiga hari lagi.

  18. Agustus 2, 2008 pukul 5:04 pm

    Bener seperti kata Pak Sawali, mengapa harus ribut tentang istilah. Dulu, menurut suamiku, Dosen dia menerapkan teknik pengajaran Punishment and Reward, (waktu di ITS dulu…), tapi tujuan pembelajaran Dosen tersebut termasuk berhasil, ditinjau secara kasat mata (tanpa riset dll.) dari banyaknya anak didik Dosen tersebut menuai pujian tugas akhir…

    ===========
    to iis sugianti

    Bu Iis, kita tidak ribut kok Bu…he..he…..
    Cuma sekedar membuka materi kuliah yang udah lama gak kebaca ama saya. Bagus lho bu is, tahu tentang konsep feedback dan reinforcement, atau punishment. Apalagi buat saya yang guru. Biar hasilnya mengajar, insyaAllah, lebih maksimal. Jadi mengambil sebuah keputusan tindakan dalam pembelajaran oleh guru gak trial and error, apalagi asal-asalan.
    Thanks Bu Iis.😀

  19. Agustus 2, 2008 pukul 9:25 pm

    wahhhh postingannya bermanfaat banget pak

    ===========
    to zoel

    Mudah-mudahan zoel.

  20. Agustus 2, 2008 pukul 10:08 pm

    comment-comment dari para blogger itu juga feedack yah pak…dan kebanyakan jadi reiforcement positif. makin banyak comment makin rajin bikin posting…😛
    monggo pada kasih feedback dan reinforcement ke blog saya…hehehehe

    ========
    to unita

    Betul, komentar yang baik adalah dalam bentuk feedback. Biar bikin posting tambah semangat dan ada peningkatan kualitas dari hari ke hari. InsyaAllah.😀

  21. Agustus 3, 2008 pukul 12:47 am

    Semakin mantap. Maju terus. Sudah dapat dikategorikan selebritas bloger nich. Salam.

    =========
    to Pak Ersis Warmansyah Abbas

    Makasih Pak
    tapi saya bukan selebritas Pak. Catra yang nuduh-nuduh tu Pak (*nunjuk-nunjuk Catra). He..he..😀

  22. Agustus 3, 2008 pukul 2:20 am

    Intinya sama pak, namun reinforcement itu lebih spesifik dan terstruktur, ada standarisasi secara baku, bisa diukur, dan dievaluasi.

    ========
    to laporan

    Wahhhh, saya belum nemu literatur yang mengatakan demikian Pak. He..he..:mrgreen:

  23. Agustus 3, 2008 pukul 6:16 pm

    Wah orang tua saya harus baca artikel ini nih. Mereka juga guru tapi cuman lulusan SPG, terimakasih Pak, karena sudah membantu guru-guru di Indonesia dengan tulisan bapak ini. Saya tunggu tulisan bapak lainnya.. Semoga sukses.

  24. Agustus 3, 2008 pukul 8:40 pm

    Salam
    Se penting aplikasinya Pak klo menurut sayah mah toh nanti istilah-istilah itu otomatis akan dirasakan bersinergi dengan penerapannya *halah sok tahu saya*🙂

  25. Agustus 4, 2008 pukul 4:08 am

    wah theme baru, seger banget kelihatannya pak!!!

  26. Agustus 4, 2008 pukul 9:27 am

    He he kirain dah ada postingan baru

  27. bayusaja
    Agustus 4, 2008 pukul 2:18 pm

    wah ilmu nih..ILMU!!!😀

  28. Agustus 15, 2008 pukul 5:05 am

    masa iya sih? hehehe btw salam kenal ya🙂

  29. Agustus 15, 2008 pukul 7:26 am

    Terus berkarya pak. menciptakan kader-kader bangsa…Guru pahlawan tanpa tanda jasa…( semua ibadah demi kebaikan.)

  30. Angelica
    Mei 21, 2009 pukul 6:13 am

    I need an article about the significance of teacher’s feedback to improve the students’ learning attitude. Please contact me as soon as possible.085852341234

  31. Mei 18, 2010 pukul 8:39 am

    Langkah-langkah menggunakan reinforcement itu apa dong, pak, bagi dong

  32. Mei 17, 2011 pukul 1:27 pm

    thanks for your information, I find many knowledge from your blog, I will come to this blog again.

  33. suhadinet
    Mei 23, 2011 pukul 10:07 pm

    @ Azhar
    Thanks

  1. Agustus 15, 2008 pukul 7:14 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: