Beranda > cerpen > Horeee, Cerpen Saya (Untuk Pertama Kali) Dimuat di Radar Banjarmasin!!!!!

Horeee, Cerpen Saya (Untuk Pertama Kali) Dimuat di Radar Banjarmasin!!!!!


Posting ditulis, 11.35 Wite: 27 Juli 2008

Sebuah obsesi saya: tulisan saya dipublikasikan melalui media kertas akhirnya terwujud. Ola..la.. senangnya. Seperti anak kecil yang mendapat baju baru saat menjelang lebaran. Berkat dorongan dan tantangan dari Pak Ersis Warmansyah Abbas akhirnya saya percaya diri untuk mengirimkan sebuah naskah cerpen saya ke redaksi Koran Radar Banjarmasin. Saya tak mengira bahwa cerpen yang saya beri judul “Umi” tersebut dapat dimuat pada edisi Minggu, 27 Juli 2008. Apakah ini karena katabelece dari Pak Ersis yang berjanji melempangkan jalan saya? Wuih, saya tak mau terlalu berpikir ke arah sana (saya yakin, Pak Ersis berani berjanji demikian karena apa yang saya tulis, “cukup masuk kriteria” standar penulisan untuk dipublikasikan). Pun redaktur Radar Banjarmasin, takkan dengan sedemikian mudahnya meloloskan cerpen saya hanya karena kasihan dan bersedia mengesampingkan mutu tulisan-tulisan yang dimuat di koran mereka.

 

Saat menulis posting ini saya masih kirim-balas sms kepada teman-teman, untuk mengabarkan ini (he..he.. saya benar-benar seperti anak kecil ya?) Teman-teman mengucapkan selamat, ada bilang ke-geer-an (saya gak marah, soalnya betul sih), ada juga yang bertanya bagaimana cara membuat acount e-mail agar bisa kirim tulisan juga ke Radar Banjarmasin. Wah, tenang, nanti semua saya bantu (dengan senang hati) untuk bikin acount e-mail ya… He..he…

 

Saya kira, adalah tidak berlebihan jika saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Pak Ersis Warmansyah Abbas, Sandi Firly, Pak Sawali Tuhutseya (yang telah membuat saya tergugah untuk belajar membuat cerpen—setelah saya membaca cerpen-cerpen beliau), Marshmallow (pengomentar terbaik yang selalu memberikan feedback pada tulisan-tulisan saya di blog ini), Catra (yang selalu mendukung saya), Imoe (yang tulisan-tulisannya menginspirasi saya untuk membuat cerpen “Umi” yang bertema anak jalanan ini), Daniel Mahendra (yang cerpennya banyak saya baca sebagai bahan pembelajaran), Lainsiji, Namakuananda, Langitjiwa, eNPe, 1nd1r4, Zulmasri, Cikalie, Hariesaja, Zoel Chaniago, Achoey Sang Khilaf, Jiwakelana, kucingkeren, taliguci, ubadmarko, f.hery’s, Septha49, dan teman-teman ngeblog lain tak tersebutkan di sini. (kayak habis nerima penghargaan pullitzer saja. He..he…)

 

Daripada saya semakin nyerocos tak terkendali dan sodara-sodara pada tutup kuping sambil ketawa ngikik (berusaha pelan ketawanya, takut saya tersinggung), lebih baik saya persilakan sodara-sodara baca cerpen Umi tersebut:

 

***

 

Umi

Author: Suhadi

 

Aku masih terbayang-bayang pertemuan terakhirku dengan gadis kecil berumur satu setengah tahun yang bernama Umi tersebut. Bayi yang lincah. Mulutnya yang mungil selalu menyunggingkan senyum dan tawa kecil saat aku menyebut namanya.

“Umi… Ciluk…. Ba!” Aku membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahku sembari berjongkok menghadap Umi. Aku tersenyum. Dan dengan segera gadis kecil berbaju kumal dan lusuh itu tertawa-tawa. Setelah beberapa saat tergelak, ia lalu akan berlari tertatih-tatih menuju ibu asuhnya, Halimah. Menyembunyikan wajah lucunya di balik sarung buruk wanita janda gelandangan itu. Kemudian segera bangkit lagi. Berdiri sempoyongan, karena ia memang belum fasih berjalan. Umi akan berlari-lari kembali mendekatiku, tapi setelah hampir sampai ke dekat kakiku, gadis cilik itu akan terbahak-bahak lagi sesaat, kemudian berputar dan berlari kembali ke pangkuan Bu Halimah.

Ci..luk ba! memang menjadi permainan yang sangat menarik baginya.

Umi kecil telah mencuri hatiku. Matanya yang bening dan cemerlang berkilau mengalahkan penampilannya yang kumuh. Tak dapat baju lusuh dan kulit kotor berdebunya menyembunyikan sorot mata cerdasnya. Barisan geligi susu yang putih kecil itu juga amat menarik. Lesung pipi yang demikian dalam, mengalahkan rambut ikal kusutnya yang memerah karena tak pernah terawat. Heh, Aku paling suka melihat lesung pipi itu. Mengingatkanku pada seseorang yang kini entah di mana.

Umi cantik sekali, walau kulitnya hitam karena tersengat panasnya mentari di emperan plasa. Dia bayi mungil yang imut, walaupun tubuhnya kotor berjelaga karena terpapar asap bis kota, angkot, sepeda motor, dan mobil-mobil yang melalu-lalang di jalan besar di depan plasa ini. Celotehnya meningkahi kebisingan deru mesin kendaraan dan jeritan klakson-klakson sopir yang hilang kesabaran.

Aku tahu betul, Umi selalu ada di depan plasa ini. Halimah, ibu asuhnya, biasanya lebih suka duduk di dekat trotoar yang di belakangnya terdapat sederetan tanaman hias merana. Bagaimana tidak merana tanaman-tanaman hias tersebut, box-box dari beton tempatnya ditanam lebih sering dijadikan tempat duduk para pengemis dan gelandangan ketimbang disiram dan dipupuk. Tempat mangkal yang strategis untuk tempat meminta-minta atau berdagang asongan. Sejak jam sembilan pagi sampai jam sepuluh malam, orang-orang berlalu-lalang. Keluar masuk pusat perbelanjaan ini, hingga memberikan kemungkinan yang lebih besar bagi Bu Halimah dan kawan-kawannya untuk mendapatkan uang receh yang cukup banyak. Bahkan kadang-kadang ada orang-orang bermobil pribadi yang kulitnya putih bersih dan berpakaian indah-indah, licin dan wangi suka memberi uang lebih kepada mereka.

Di antara orang-orang berduit itu, tak sedikit yang mengomentari betapa cantiknya Umi. Gadis kecil, anak asuh Bu Halimah itu. Bahkan aku tidak pernah lupa, bahwa menurut Bu Halimah, sudah tiga orang ibu-ibu yang menawarkan ingin mengadopsi Umi. Tapi Bu Halimah selalu menolak. Bu Halimah begitu mencintai gadis mungil itu.

 

***

 

Selalu ada kerinduanku kepadanya. Umi, bayi berumur satu setengah tahun itu. Ini aneh?

Tidak begitu aneh-aneh amat barangkali. Mengingat Umi, gadis cilik itu memang sangat menarik. Tak cuma bagiku pasti, semua orang lain yang melihatnya juga.

Sebenarnya sudah enam bulan lebih aku bekerja di pusat perbelanjaan besar ini. Sebagai kasir pada sebuah counter kosmetik. Cuma aku tak pernah memperhatikan para pengemis, gelandangan, dan anak-anak jalanan yang selalu mondar-mandir di depan plasa. Biasanya saat jam istirahat siang, aku keluar bersama Nindy dan Agustine. Tapi kadang-kadang aku juga pergi makan sendiri. Biasa, makan nasi campur atau sesekali lontong, atau nasi sop di warung Ma Haji di belakang plasa.

Selama enam bulan itu, aku tak pernah memperhatikan mereka sampai pada minggu yang lalu ketika aku keluar untuk makan sendiri. Saat asyik menyendok nasi sop di dalam piring dan ditemani beberapa tusuk sate ayam, seorang gadis kecil menarik-narik tasku yang bergambarkan Tedy Bear.

“Wa-wau….!” Sebuah tangan mungil menunjuk gambar Tedy Bear dan menarik-narik ujung tas dari bahan katun itu.

Aku menoleh ke samping, menghentikan makan. Betapa takjubnya aku akan kehadiran gadis mungil itu. Matanya yang bening dan cemerlang, alangkah memukaunya! Kurasa aku seperti melihat cahaya bintang nan indah, nun jauh di dalam sana. Lebih-lebih lesung pipi itu. Dalam dan lebar. Khas sekali. Ah, lesung pipi itulah yang mengingatkanku dengan serta-merta pada seseorang. Seseorang yang telah sangat berpengaruh pada perjalanan hidup yang harus kutempuh.

“Wa-wau?” Aku mengulang kata-kata gadis kecil berambut ikal kemerahan terpanggang matahari kota yang panas-terik itu. Tapi dengan nada setengah bertanya.

“Wa-wau……!” Gadis cilik itu menyahut kembali sembari tertawa kecil. Deretan gigi-gigi susunya yang putih semakin memikat hatiku.

“Duh, cantiknya. Ngegemesin!” Kucubit lembut pipi gadis mungil itu. Aku tersenyum memandangnya.

Aku paham betul bahwa gadis cilik itu pasti mengasosiasikan gambar Tedy Bear itu dengan kucing. Kucing kan mengeluarkan suara “maong-meong”. Namun, anak seusia gadis kecil yang kutaksir sekitar setengah tahun itu belum bisa mengucapkannya dengan baik. Sehingga ia hanya mengucapkannya dengan kata “wa-wau”. Ia pasti juga belum bisa membedakan mana kucing dan mana hewan berkaki empat berbulu lainnya macam anjing, beruang, atau hewan lainnya.

Aku jadi ingat mata kuliah psikologi pendidikan yang dulu pernah kuikuti saat masih kuliah di FKIP. Menurut teori perkembangan kognitif, seseorang akan selalu memperbaharui konsep-konsep yang dimilikinya, bila terjadi disekuilibrium atau ketidakseimbangan konsep. Hm, mungkin pada saat usianya menjelang tahun kedua atau melewati tahun kedua nanti, ia sudah akan dapat membedakan mana kucing, mana beruang, dan mana anjing. Ia akan mengalami disekuilibrium. Aku masih ingat betul, bahwa pada usia gadis kecil ini, yang umurnya masih kurang dari dua tahun, sedang berada pada tahap sensori motor. Si mungil yang cantik ini pasti sedang mulai belajar menggunakan memori, imitasi, dan pemikiran. Mulai melatih gerakan-gerakan dari gerakan bersifat refleks ke gerakan yang terkontrol oleh pikiran. Pasti ia belum bisa menggunakan sendok untuk makan, karena gerak tangan belum dapat dikontrolnya dengan baik. Karena itu pula langkah-langkah kakinya belum seimbang betul. Masih sering terjatuh. Aku yakin, ia juga masih dalam tahap belajar memperbaiki gerakan motorik halusnya, sehingga ia belum dapat memegang benda-benda dengan cara yang benar.

Semakin aku memperhatikan gadis satu setengah tahun ini dan mencoba-hubungkan dengan materi kuliah psikologi yang pernah aku dapatkan dulu, semakin aku tertarik kepadanya.

Sayang, dua tahun yang lalu kuliahku terhenti karena kesalahanku sendiri. Aku yang terlalu bebas bergaul telah menimbulkan kemurkaan ayah di kampung yang notabene adalah seorang ulama terpandang. Kini, aku harus putus kuliah, bahkan putus hubungan dengan keluarga. Aku diusir dan tak berani pulang. Aku tak lagi dianggap anak, dan pernah terlunta-lunta. Entah bagaimana kesehatan ibu saat ini, aku tak lagi diberi kabar. Apakah penyakit paru-paru masih menggerogoti tubuhnya hingga begitu kurus, seperti saat aku memandang perempuan lembut itu untuk yang terakhir kalinya? Terakhir kali sebelum melangkah pergi untuk selamanya dari rumah ayah. Bagaimana dengan adikku Fikri? Apakah anak itu masih suka membolos dan tidak masuk sekolah? Masih suka tawuran dan menggunakan obat-obatan terlarangkah? Masih sering dipukuli ayahkah Fikri?

Aku sadar betul bahwa kami berdua memang selalu mengecewakan ayah. Membuat malu ulama terpandang itu dengan kelakuan kami. Rasanya ingin sekali pulang dan bersimpuh di kaki ayah-ibu. Tapi, ah, hatiku tak pernah pula bisa memenangkan kakiku agar mau melangkah pulang. Entah kenapa.

 “Maaf Mbak, kalau Umi mengganggu Mbak.” Seorang perempuan setengah baya dengan pakaian kumal meraih lengan gadis mungil itu. Suaranya membuyarkan lamunanku tentang masa lalu. Ia tersenyum kepadaku, lalu menggendong gadis kecil yang ternyata bernama Umi itu.

Aku kemudian merogoh tas bergambar Tedy Bear yang tadi ditarik-tarik Umi. Aku mengeluarkan selembar uang seribuan. Kusodorkan kepada Umi. Tapi si gadis kecil malu-malu dan segera berlindung, membenamkan wajah lucunya ke dada ibunya. Ibu setengah baya itu meraih lembaran uang yang kusodorkan sembari mengucap terimakasih.

 

***

Begitulah awal perkenalanku dengan Umi dan Bu Halimah yang ternyata adalah ibu asuhnya. Perkenalan yang akhirnya membawa kedekatan dengan keduanya. Sebenarnya di sekitar kosku juga banyak anak kecil seumuran Umi, tapi aku tak pernah tertarik kepada mereka. Umi memang beda.

 

***

 

Aku bergegas menuruni eskalator. Satu tas plastik berisi beberapa lembar baju anak kecil yang kutaksir pas ukurannya untuk Umi dan mainan boneka-boneka berukuran kecil penuh sesak di dalamnya kutenteng dengan riang. Kebetulan ada diskon cukup besar karena sekarang musim liburan. Aku akan menggunakan waktu istirahat singkat siang ini untuk mengantar baju-baju dan mainan ini ke halaman plasa. Aku akan mencoba sekali lagi merayu Bu Halimah agar aku boleh merawat Umi. Mengadopsinya. Kemarin gagal, tapi tak ada salahnya kucoba lagi. Siapa tahu hati Bu Halimah bisa goyah oleh kegigihanku.

Kulewati pintu depan yang memisahkan atrium plasa dengan udara luar. Dengan segera kulitku merasakan panasnya udara siang itu. Berjelaga dan berdebu, di tambah kebisingan deru mesin kendaraan serta bunyi klakson mobil-mobil yang tergesa ingin sampai di tujuan meskipun lampu hijau di perempatan di sudut jalan itu belum menyala. Semua seperti tergesa, seperti halnya diriku siang ini.

Kuedarkan pandangan ke seluruh bagian halaman plasa. Tak ada dua sosok yang kucari-cari. Biasanya mereka duduk-duduk di samping box-box beton berisi tanaman hias itu. Yang terlihat cuma sosok-sosok kumuh dan kumal lainnya. Tapi bukan sosok Bu Halimah dan Umi. Kemana mereka?

Aku menyusuri halaman parkir samping kiri, kanan, belakang, dan juga di sekitar warung-warung makan di belakang plasa. Tak ada. Akhirnya kuputuskan untuk bertanya dengan Udin, seorang anak kecil pengamen yang biasanya sering bercakap-cakap dengan Bu Halimah.

“Mana Bu Halimah, Din?”

“Mbak tidak tahu?”

“Tidak tahu apa, Din?”

“Umi meninggal, tadi malam ia ditabrak mobil saat pulang bersama Bu Halimah. Tabrak lari. Siang ini dimakamkan.” Udin menjelaskan dengan datar.

“Apa?” Rasanya sungguh tak percaya. Aku sudah terlanjur akrab dengan bayi berumur satu setengah tahun itu. Bahkan hari ini aku sudah punya rencana yang lebih jitu untuk merayu Bu Halimah agar aku boleh mengadopsi Umi. Tapi ternyata….

 

***

 

Dengan ditemani Udin, yang masih tetangga Bu Halimah, aku mendatangi gubuk reotnya di pinggir sungai. Di bawah jembatan. Tidak mudah merayu Udin agar mau mengantar. Tak hanya buat para bos berdasi, rupanya prinsip time is money juga ada pada pengamen cilik ini. Untung saja di dompetku masih tersisa sedikit uang. Selembar uang dua puluh ribuan kuberikan padanya sebagai imbalan.

Beberapa tetangga di pinggir sungai itu tampak berusaha menenangkan Bu Halimah. Sekedar berbela sungkawa atas kecelakaan yang menimpa Umi. Anak asuh kesayangannya. Aku tergesa masuk. Perempuan setengah baya itu sedang melolong-menangis di depan mayat Umi yang kaku bertutup kain sarung.

“Aku bodoh, aku teledor!” Bu Halimah memukul-mukul kepalanya sendiri. Saat melihatku ia makin menjadi-jadi. Rambut dan pakaiannya kusut-masai. Awut-awutan.

“Sudah Bu. Sudah… Ikhlaskan.”

“Andai aku mau menyerahkan Umi kepadamu sore itu untuk diadopsi. Huu..hu..hu…” Ia terus saja memukul-mukul kepalanya, menjambak-jambak rambutnya sendiri, lalu memelukku demikian eratnya. Aku cuma bisa menepuk-nepuk punggungnya untuk menyabarkan. Menciumi pipinya yang basah oleh air mata.

“Sudah, yang sabar Bu Halimah. Mungkin di sana Umi akan lebih bahagia.”

“Kau tahu, kenapa aku beri nama dia Umi?” Bu Halimah memandangku.

“Kenapa Bu?” kataku dengan lembut sembari tersenyum. Mudah-mudahan bisa membuatnya lebih nyaman. Akupun mengharap hal yang sama pada diriku yang terlanjur telah jatuh hati pada Umi. Dapat lebih nyaman dan ikhlas.

“Agar kalau ia sudah dewasa nanti bisa menjaga anaknya dengan baik. Umi itu artinya ibu.”

Aku mengangguk, tersenyum. Aku juga tahu arti kata umi itu. Sedari kecil aku dikelilingi kitab-kitab berbahasa Arab, juga nasyid-nasyid.

Ia melanjutkan kata-katanya sambil sesenggukan. “Ternyata, aku, ibu asuhnya yang bodoh ini tak lebih baik dari ibu kandungnya. Tak bisa menjaganya dengan baik. Tak bertanggungjawab. Kupikir, aku lebih baik dari ibu kandungnya yang meninggalkannya saat masih merah di depan sebuah mesjid dekat plasa itu.”

MasyaAllah! Tersirap darahku mendengar kata-kata Bu Halimah. Selama ini aku tak pernah bertanya tentang asal-usul Umi. Aku hanya tahu kalau Umi anak asuh Bu Halimah. Hatiku berdebur kencang saat kupandangi tubuh kecil kaku di balik kain sarung.

“Satu setengah tahun yang lalu pada suatu shubuh sebelum azan dikumandangkan, kutemukan Umi tertidur pulas setelah seorang perempuan muda meninggalkannya dengan diam-diam. Kuambil Umi, kurawat dia. Kupikir aku bisa menjaganya. Tapi nyatanya, aku tak lebih baik dari ibu kandungnya yang kejam itu. Huu..hu..huuu….”

Kata-kata yang terbata-bata diseling isak tangis penuh sesal dari mulut Bu Halimah itu bagaikan petir yang menyambar-nyambar. Lidah-lidah apinya membakar-menyengat sekujur tubuhku. Dadaku serasa meledak sedemikian kerasnya. Tak tertanggung rasanya.

Kuingat dengan baik bagaimana aku, si ibu jahat itu, meletakkan bayinya yang masih merah dalam sebuah kardus mie instan. Begitu jahatnya ibu itu, hingga ia menipu darah dagingnya sendiri, meninabobokannya dengan kidung indah tapi kemudian meninggalkannya. Menelantarkan buah perzinahannya yang suci tak berdosa itu di depan sebuah masjid di dekat plasa saat shubuh menjelang.

 

***

 

Sejuta bayangan hitam masa lalu berkelebatan hingga memenuhi kepalaku. Berat terasa hingga aku tak kuasa lagi menanggungnya. Aku jatuh, luluh di atas tubuh mungil dingin kaku itu. Lalu hilang tenggelam, terseret memori pekat dosa yang takkan pernah bisa kuperbaiki lagi. Umi, insan suci dari buah zinaku itu kini telah tiada. Akankah aku bisa memaafkan diriku?

 

 

(Alabio, 19 Juli 2008)

Cerpen ini didedikasikan untuk sahabatku Imoe, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Sumatera Barat.

Kategori:cerpen Tag:
  1. Juli 27, 2008 pukul 7:22 pm

    selamat pak,,,,, nama saya juga di sebut duhhh cenangnya hatikuhhhhh

  2. Juli 27, 2008 pukul 7:25 pm

    pertamax yach…😀

  3. Juli 27, 2008 pukul 7:25 pm

    sekalian hettrik😆

    =========
    to zoel

    He..he.. sama-sama zoel.😆

  4. Juli 27, 2008 pukul 7:36 pm

    WAAAHHH……!!!!!! SELAMAT, Pak Suhadi, SELAMAT!

    Ini hari indah buat Anda. Biasanya karya pertama yang dimuat di media memberikan efek yang luar biasa pada penulisnya.

    Selamat! Betul-betul selamat! Sayang kita berbeda pulau. Kalau satu kota, sudah kujabat tangan Anda.

    Terus produktif, Pak Suhadi. Cerah cemerlang untuk Anda dan karya Anda berikutnya.

    Sekali lagi, Selamat!

    ==========
    to Daniel Mahendra

    Terima kasih banyak Mas Daniel. Komentar ini saja sudah sangat berarti besar buat saya, apalagi dijabat tangan seorang besar dalam dunia tulis-menulis dan publishing seperti Mas.

  5. Juli 27, 2008 pukul 9:05 pm

    ahai, selamat, pak suhadi, sekali lagi selamat! selama baca cerpen2 yang dimuat di blog ini, saya merasa bahwa cerpen2 pak suhadi cukup layak untuk dimuat di media cetak. saya kira bukan siapa2 yang melambungkan nama pak suhadi di dunia fiksi, melainkan karya2 itulah yang membesarkannya kelak. tidak ada kata terlambat untuk memulai. pak suhadi sudah memasuki labirin dunia fiksi. ini bisa meneruskan langkah pak SN Ratmana yang guru fisika tapi juga piawai bikin cerpen. suatu ketika, pak suhadi perlu juga keluar, tak melulu mengirim karya ke media lokal semacam radar banjar masin. ada banyak media yang setiap minggunya menerbitkan cerpen. saya biasa mengumpulkan alamat redaksi banyak koran yang biasa memuat rubrik cerpen, pak. salam kreatif!

    ========
    to Pak Sawali Tuhutseya

    Wah makasih banyak Pak. Boleh kirim alamat-alamat redaksi itu ke surati.suhadi@gmail.com ya Pak. Tapi nanti saya keluarnya, setelah paling gak 3 atau 5 kali di radar dulu. Saya senang sama radar banjarmasin, soalnya cerpen-cerpen yang dimuat bagus-bagus.

  6. Juli 27, 2008 pukul 9:44 pm

    Pak Suhadi,selamat yah.
    dan tetap terus berkarya,pak.
    aku sangat begitu senang dgn kebahagian ini.

    salamku,
    langitjiwa

    =========
    to langitjiwa

    Makasih, saya ingin jadi sastrawan seperti kamu mas
    Doakan ya

  7. Juli 27, 2008 pukul 10:08 pm

    Gile pak
    Endingnya tragis bener
    Salud buat bapak
    Nyeniwei slamat yah pak atas terbitnya cerpen bapak

    ========
    to Fanz

    Makasih fanz
    Terakhir beberapa waktu lalu saya ke blog kamu, lama gak diupdate kayaknya, kenapa?

    Tapi udah aktif ngeblog lagi kan Fanz?

  8. taliguci
    Juli 27, 2008 pukul 10:56 pm

    selamat pak, semoga terus melahirkan karya-karya yang eksotik ya pak..

    *salaman*
    *makan-makan🙂 *

    ==========
    to taliguci

    makasih ci
    *salaman
    *mau kemana makannya? he..he..:mrgreen:

  9. aminhers
    Juli 27, 2008 pukul 11:02 pm

    Mudah2an ini bukan karya yg terakhir. nanti ditantang lagi Bang Ersis🙂

    ==============
    to Pak Aminhers

    makasih pak atas supportnya

  10. Juli 28, 2008 pukul 1:24 am

    Ha ha … ngaklah. Itu karena memang pantas. Percaya deh … saya ngak bikin katebelece, lagi pula kalau bikin mana mau redaktur Radar Banjarmasin mengamini he he. Tanya aja sama Sandi. Ngak-ngak ah. Selamat ya. Teman cerpen Samopeyan memang kuat, saya ngikuti kog. Dan, saya tahu —karena memang sahabat saya— redaktur Radar Banjarmasin sangat ketat kalau soal meloloskan cerpen. Salam. Selamat. Horeee … Pak Suhadi berhasi, berhasil, dan akan terus berhasil. Amin.

    ============
    to Pak Ersis Warmansyah Abbas

    Seandainya tak Bapak tantang, saya belum pede ngirim tu cerpen Pak. Makasih banyak. Senang bisa ketemu Bapak. Berhasil…berhasil….(Dora and the genk)

  11. Juli 28, 2008 pukul 8:58 am

    kuucapkan selamat Pak atas dimuatnya cerpen Bapak
    salam kreatif:mrgreen:

    ========
    to tomy

    makasih tom
    salam kreatif😀

  12. Juli 28, 2008 pukul 9:51 am

    wah, pantes saja dimuat, cerpennya bagus sekali.
    ceritanya mengharukan.
    sarat pesan moral, padahal hanya sebuah cerita singkat. apalagi khas pak suhadi, tiap cerita musti ada yang nambah pengetahuan pembaca, kali ini tentang perkembangan psikologi anak.
    seperti biasa, ending-nya tidak terduga, closure-nya mengalir mulus gak dipaksakan.
    btw, makasih udah disinggung di entry ini, pak.
    you deserve good comments, though!
    congrats!

    ==========
    to Marshmallow

    Thanks mate

  13. Juli 28, 2008 pukul 12:50 pm

    Koq cerpen saya gak dibaca kang? emang gak terlalu bagus sih … pemula soalnya.

    =========
    to Rindu

    Wah, maaf Rin lama saya tak kunjung-kunjung ke blog kamu. Maaf ya. Cerpen kamu oke punya selalu, membawa kedamaian dan indah.

  14. Juli 28, 2008 pukul 1:25 pm

    Selamat yah🙂

    ========
    to affan

    makasih

  15. Asep
    Juli 28, 2008 pukul 3:00 pm

    Mantap pak, Cerpennya sungguh menggugah,,ceritanya padat bermakna: )

    terus berkarya,,,

    Salam bahagia
    Asep:)

    ============
    to asep

    makasih sep,🙂

  16. Juli 28, 2008 pukul 4:55 pm

    Wah… selamat ya…
    pengalaman pertama memang indah…
    Saya jadi ingat pengalaman pertama tulisan saya dimuat di media massa… kertas wesel yang dikirimkan sampai hampir sebulan tak lekas saya cairkan… karena saking senangnya…!

    =========
    to qizinklaziva

    o lewat wesel ya pak? he..he.. wah, nanti kalau dapat saya kasih bingkai aja deh buat pajangan

  17. Juli 28, 2008 pukul 7:53 pm

    *melirik komen qizinklaziva*
    eh, ada honornya toh?
    makan-makan…

    ==========
    to marshmallow

    Honornya belum nyampai, tapi gak papa buat pengomentar terbaik, mo makan di mana? He..he..

  18. Juli 29, 2008 pukul 12:55 am

    dan akhirnya tiada kata yg pantas tuk terucap untuk bapak, selamat dan terus berkarya.
    Obsesi yang ini telah Bapak raih dan jangan tinggalkan obsesi yang terpendam, curahkan kedalam tulisan untuk lebih berkarya dan berkreatifitas.

    =============
    to namakuananda

    terimakasih kawan

  19. Juli 29, 2008 pukul 1:34 am

    Wah congratz2. Agak2 susah juga ngedobrak sastrawan mainstream sekarang ini.

    Saya jadi penasaran sama isi amplopnya Pak😀

    (husyh kurang ajar)

    =============
    to utchanovsky

    amplopnya belom nyampai, he..he….

  20. Juli 29, 2008 pukul 9:41 am

    Wahhhhh *sambil tepuk tangan* Selamat ya pak, ikut senang dan bangga dengarnya😀 nice story & I know u deserve the best…keep writing sir!

    =========
    to 1nd1r4

    I will…😀

  21. Juli 29, 2008 pukul 11:54 am

    Saya gak bisa ngomong apa-apa…

    Jujur saja…dari pertama hingga akhir…cerpen bapak membuat saya menangis…cerpen Bapak telah membuka kenangan lama saya tentang sahabat kecil saya anak jalanan yang wafat akibat tabrak lari tahun 2000 di persimpangan lampu merah di Padang, pada pukul 23.00 WIB.

    Malam itu juga, ditemani sobat-sobat anak jalanan yang lain, kami ke ruang jenasah sebuah rumah sakit.

    Saya sedih……, menangis…….tapi tidak bisa berbuat apa-apa…….

    Sobat-sobat anak jalanan yang menemani saya, hanya tertunduk, tidak ada sedikitpun air mata dari nya..MUNGKIN KARENA SUDAH KERING akibat kesedihan yang selalu menimpa….

    Maaf pak…bukan saya tidak suka dengan cerpen Bapak…kenangan lama saya tersebut, sampai hari ini belum bisa saya lupakan….saya merasakannya hadir kembali…..saya tidak tahu kenapa Bapak bisa menerka apa yang saya alami lewat cerpen yang bapak buat….

    MOHON MAAF BERIBU MAAF…………….CERPEN BAPAK MEMBUAT SAYA SEDIH…MOHON MAAFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF SEKALI LAGIIIIIIIIII

    ==================
    to Imoe

    Moe, I’m so sorry, turut sedih dengan sahabat kecilmu. Saya ndak tau, SUNGGUH. Saya cuma membuat fiksi, tak tau ada kejadian tabrak seperti di kisah ini. Idenya dari tulisan kamu yang ngajak anak-anak jalanan makan sama-sama itu.

    Semoga makin banyak orang yang perduli dengan anak-anak jalanan itu, banyak dari mereka dieksploitasi oleh orang-orang tak berbelas kasih.

    Sudah dong Moe…

  22. Juli 29, 2008 pukul 3:22 pm

    whew!….
    selamat ya pak….
    saat tulisan dipublikasikan untuk pertama kalinya, kita memang terasa terbang ke awan…

    Keep Writing…..
    Sukses selalu🙂

    ==============
    to Dewi

    Betul Bu, rasanya seperti terbang, he..he…
    Thanks untuk spirit yang udah dikasih. Salam sukses pula.

  23. Juli 29, 2008 pukul 4:47 pm

    selamat ya Pak

    kini giliran saya untuk mencoba🙂
    saya jadi termotivasi nih

    ============
    to achoey sang khilaf

    Sip choey, harus itu. Kita saling dukung dari jauh. He..he..

  24. Juli 29, 2008 pukul 4:52 pm

    jangan minder Pak. Cerpen minggu kemarin itu emang sep dah. Pas saya baca versi korannya, kebayang Suhadinet. Ternyata emang bener. Selamat deh Pak. Terus berkarya. Honornya buat ntraktik saya aja, deh. Hehehehe….

    ===========
    harie insani putra

    boleh, saya pingin sekali ke banjarbaru. Mudah-mudahan nanti ada kesempatan. Gimana kalau di Book Cafe ruMahcerita? Sekalian saya mo beli Kumpulan Cerpen: Perempuan yang Memburu Hujan. He..he…

  25. Juli 29, 2008 pukul 8:49 pm

    wah saya sangat suka neh baca tulisan2 bapak

    moga2 saya bisa jadi kayak bapak juga

    dalam melahirkan tulisan2 inspiratif

    ============
    to iman

    makasih pujiannya. semoga kamu lebih hebat ribuan kali dari saya..Gimana oke?

  26. Juli 29, 2008 pukul 10:12 pm

    Pak Suhadi…tetap terus bikin cerpen yang begini ya…tadi sore saya bawa tulisan bapak ke teman-teman di jalanan….mereka baca dan respon mereka………..

    DIAM dan SALING BERPANDANGAN………

    Awalnya saya deg deg an…..

    ===========
    to imoe

    makasih moe, o ya saya dah bikin cerpen baru lagi. Tentang anak-anak selebritis yang orang tuanya mau cerai. Lagi dikirim ke Radar Banjarmasin, mudah-mudahan memenuhi kriteria. nanti saya upload lagi, tapi nunggu dulu.

    TAPI AKHIRNYA MEREKA TERSENYUM…..

    Saya gak berani menterjemahkan senyuman mereka…yang saya rasakan…saya jadi lebih baik….

    Tetap semangat pak……..saya tunggu cerpen yang lain……untuk bahan bacaan anak-anak…hehehehe

  27. Juli 29, 2008 pukul 11:46 pm

    Selamat, Pak!
    Salam kenal🙂

    ==========
    to donny verdian

    makasih don (DV), salam kenal juga 🙂

  28. Juli 30, 2008 pukul 12:00 am

    akhirnya pak. tuh kan, sebenernya dari dulu juga udah bisa dimuat, cuma baru kesampaian sekarang aja pak, cuma baru dikirim aja. coba dari dulu. hehehe selamat ya pak. syukur alhamdulillah

    ===========
    to catra

    iya cat, akhirnya.. he..he..
    alhamdulillah. makasih Cat

  29. Juli 30, 2008 pukul 11:00 am

    Bagi-bagi honornya pak.

    =======
    to ubadmarko

    kirim ke mana Pak😀

  30. Juli 30, 2008 pukul 12:14 pm

    Wah… selamat ya…. mudah2an ini suatu awal bahwa cerpen2 pak suhadi (eh benar ya namanya??) bisa berkibar lebih megah lagi di masa mendatang dan sanggup menghiasi ranah sastra nasional kita…….

    ===========
    to yari nk

    makasih pak yari. mudah-mudahan.

  31. Juli 30, 2008 pukul 12:31 pm

    selamat pak. turut senang dg keberhasilan pak suhadi. ditunggu cerpen berikutnya pak.
    ok.

    =======
    to zulmarsi

    makasih pak zul.

  32. Juli 30, 2008 pukul 4:44 pm

    Selamat pak Suhadi, semoga tetap terus berkarya, dan tulisan Bapak akan saya jadikan inspirasi dalam ngeblog

    ==========
    to achmad sholeh

    terimakasih, setiap orang bisa jadi inspirasi buat orang lain ya leh.

  33. Juli 30, 2008 pukul 6:18 pm

    kok namaku ga disebut? terlalu…

    tapi emang kontribusiku apa? heheheh sadar diri mode: ON

    ===========
    to bakhrian

    sori, lupa nyantelin. Ada kok kontribusi bapak, sedikit banyak pasti ada. he..he..

  34. Juli 30, 2008 pukul 9:53 pm

    Wow! cerita yg luar biasa pak, sangat kena di hati.. kayanya udah pantes kalo diterusin jd novelis.
    Salam kenal pak, dr si pejuang juga..

    ============
    to si dion

    makasin dion, ada sih cita-cita ke sana, mudah-mudahan kesampaian, he..he..

    salam kenal juga hei pejuang..😀

  35. Juli 30, 2008 pukul 10:39 pm

    Selamat Pak… Salam kenal…

    ========
    to rizky

    makasih, salam kenal juga

  36. Juli 31, 2008 pukul 8:47 am

    Ketika semua anak-anak tersenyum, mengapa hati ini ingin kembali menjadi anak-anak? Jika hidup adalah metamorfosa, akan kemana kita buang kulit-kulit usang kita yang lalu?

    Selamat ya Pak! Saya sangat senang melihat hasil karya bapak bisa dinikmati oleh masyarakat, tentunya pesan moral juga jadi santapan batin yang segar. Antologi cerpen mungkin bisa jadi target selanjutnya.

    ============
    to sutarsa

    o, iya, sekarang saya ingat…sutarsa, cerpen tentang jerawat itu oke punya.

    makasih pujiannya, keknya saya belum apa-apa dibanding sodara.

    target antologi cerpen? boleh juga ya. terimakasih.

  37. Juli 31, 2008 pukul 9:36 am

    selamat aja dahhh booozz pokoke

    ========
    to ronggo

    makasih, oke!

  38. Juli 31, 2008 pukul 10:24 am

    moga ini menjadi sebuah awal yang lebih panjang lagi….hingga penghujung akhirnya lebih lama, ya to?

    salut dech buat sampeyan

    ================
    to ndoro seten

    makasih, semoga

  39. Juli 31, 2008 pukul 10:53 am

    coba lihat kary saya
    dah layak terbitkah?😀

    ==========
    to achoey

    saya dah baca. saya bukan ahlinya juga, tapi menurut perasaan saya pasti deh layak terbit.

  40. Juli 31, 2008 pukul 4:21 pm

    Selamat ya pak, Cerpen bapak emang T.O.P Bget dech.

    =============
    to septha

    makasih septha.

  41. Agustus 1, 2008 pukul 1:05 pm

    Selamat pak!, ikut seneng. Moga2 besok2 di buat FTV, amien😀

  42. Agustus 2, 2008 pukul 4:12 am

    Salam
    Duh Congrat ya Sir.. hmm bagi2 dong honornya? *kabur akh*😀
    semangat terus yak..ntar tularin ke saya he..he..

  43. Agustus 2, 2008 pukul 10:37 pm

    selamat deh pak dan selamat kenal, ups salam kenal maksud saya🙂

  44. ali
    Agustus 3, 2008 pukul 11:06 pm

    Ikut senang, pak guru. Mau bikin cerpen tentang apa lagi pak?

  45. Agustus 4, 2008 pukul 2:01 pm

    kapan yah cerpen saya dimuat, hehehehe

  46. Agustus 11, 2008 pukul 5:15 pm

    Selamat, semoga setelah terbit di media cetak akan segera di angkat ke layar kaca… sukses pak..

  47. Agustus 12, 2008 pukul 5:51 pm

    wah..selamat ya Pak… hebat ey…. jangan lupa makan2 honor pertamanya..🙂

  48. zulfaisalputera
    Agustus 12, 2008 pukul 8:59 pm

    Pak Suhadi, jadikan kegembiraan atas dimuatnya cerpen Anda yang berjudul ‘Umi’ sebagai badai yang akan menggerakkan seluruh persendian Anda untuk terus berkarya!

    Salam buat seluruh siswa-siswa Anda di Danau Panggang. Mereka pasti bangga punya guru seperti Anda!

    Tabik!

  49. bayusmart
    September 26, 2008 pukul 3:12 pm

    waaaaah hebat pak. yoga juga pelnah dimuat cerpenxah tapi gak diradar. di kolan laen.

    kunjungin bayu ya pak di bayusmart.wordpress.com

  50. April 28, 2009 pukul 9:53 am

    selamat ya pak…

  1. Maret 27, 2009 pukul 9:22 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: