Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Motivasi Belajar—Feedback Bisa Dijadikan Sarana untuk Tujuan Ini Lho!

Motivasi Belajar—Feedback Bisa Dijadikan Sarana untuk Tujuan Ini Lho!


Author: Suhadi

 

Pada pembelajaran di kelas, guru barangkali sering menggunakan feedback, atau dalam Bahasa Indonesia disebut umpan balik. Umpan balik? Benarkah anda sering menggunakannya? Atau jarang? Atau malah tidak pernah? Seberapa pentingkah umpan balik atau feedback itu?

 

Tulisan saya kali ini akan mencoba membahas beberapa aspek mengenai penggunaan feedback di dalam kelas. Maaf, saya memilih menggunakan kata dalam versi English-nya bukan karena sok british (saya sendiri belum pintar berbahasa Inggris), tetapi karena kata-kata ini rasanya telah lebih banyak digunakan dalam dunia pendidikan kita dibanding kata umpan balik.

 

Feedback, menurut buku-buku psikologi pendidikan adalah informasi terhadap hasil upaya belajar seseorang. Menilik dari definisi di atas, berarti feedback sangatlah penting. Bagaimana tidak? Seseorang yang sedang belajar sangatlah perlu untuk memperoleh informasi mengenai hasil upayanya dalam belajar. Sudah mencapai hasil yang diharapkan oleh guru atau belum? Bayangkan bila seorang pebelajar (baca: siswa) tidak memperoleh feedback tentang pembelajarannya, ia tidak akan tahu bagaimana perkembangan yang sudah dicapainya dalam belajar.

 

Feedback  yang diberikan dengan cara yang tepat akan memberikan dampak yang sangat besar terhadap proses pembelajaran seorang pebelajar. Feedback yang diberikan secara tepat dapat meletupkan motivasi intrinsik di dalam diri siswa. Tapi sekali lagi harus diingat, caranya haruslah tepat, agar feedback yang kita berikan dapat berfungsi sebagai pelecut motivasi. Guru, apabila memberikan feedback dengan baik, berarti telah memberikan motivasi ekstrinsik pada siswanya, dan nantinya, jika terus berlangsung secara kontinyu dan tepat, bisa membangun motivasi intrinsik di dalam diri siswa.

 

Motivasi belajar dalam bentuk motivasi ekstrinsik dapat diberikan melalui feedback. Tak perduli apakah feedback  yang diberikan untuk upaya belajar yang berhasil ataupun feedback yang diberikan terhadap upaya belajar yang mengalami kegagalan atau kesalahan. Wah, hebat dong? Ya, iyalah. He..he..he..  Gimana sie caranya?

 

Cara pertama adalah berikan feedback yang JELAS. Supaya lebih konkret, kita lihat contoh feedback berikut ini.

 

“Pekerjaan yang bagus! (sambil mengacungkan jempol). Karangan kamu tentang pengalaman saat liburan ini hebat. Kamu sama sekali tidak membuat sebuahpun kesalahan penulisan huruf kapital dan huruf kecil. Pemenggalan kata di ujung baris juga bagus. Kamu memenggal persis pada suku-suku kata dengan tepat. Saya suka ini, tetap pertahankan.”

 

Bisa dilihat, feedback tersebut di atas JELAS. Berisi informasi tentang upaya belajar mengarang yang telah dilakukan siswa telah bagus karena dalam karangan tersebut tidak terdapat kesalahan penulisan terkait huruf kapital, huruf kecil, dan pemenggalan kata di ujung baris. Pada feedback itu tentu juga disisipkan reward untuk menumbuhkan motivasi belajar intrinsik dari motivasi belajar ekstrinsik (berupa reward) yang diberikan guru.

 

Contoh lain:

“Hebat! Dodon, pertahankan ini. Saya suka, kamu selalu teliti dalam setiap perhitungan. Dari sepuluh nomor PR yang Bapak berikan, tak satupun salah. Hitunganmu tepat! “

 

Perhatikan, ada informasi yang jelas, bahwa guru senang dengan ketelitian Dodon. Dia juga memberikan reward dalam bentuk kata-kata: Hebat! Hitunganmu tepat!

 

Atau perhatikan contoh ini:

“Seratus Catra! Engage time atau time on task itu bisa dikatakan sebagai netto dari allocated time. Bisa dianalogikan demikian. Kamu hebat! Saya bahkan tak kepikiran ke sana waktu nulis posting itu. Kamu pasti telah memikirkan secara mendalam apa yang saya tulis.”

 

Ini adalah contoh feedback yang berisi reward (penghargaan) kepada Catra Prathama yang telah berhasil memformulasikan sendiri istilah engage time (time on task) dengan istilah netto. Pada feedback ini saya mengatakan “Seratus Catra! Kamu hebat!” Kata-kata itu adalah reward yang saya padukan dengan informasi bahwa saya senang bahwa Catra berhasil membuat analogi, dan saya ingin Catra, nantinya mengulang lagi, selalu memikirkan secara mendalam apa yang saya tulis.

 

Ketiga contoh di atas adalah contoh feedback yang dapat diberikan kepada siswa (sorry Cat, kamu mahasiswa ya?) yang memberikan hasil baik pada upaya belajar yang dilakukannya. Lalu bagaimana caranya memberikan feedback terhadap kegagalan atau kesalahan, atau kekurangtepatan dari suatu hasil upaya belajar? Wah, sebenarnya tak jauh beda. Tinggal informasinya saja yang diubah. Beri siswa atau pebelajar informasi mengenai perbaikan yang harus mereka lakukan pada upaya belajarnya, tapi tetap reward harus diberikan. Bukankah mereka sudah berusaha? Contoh feedbacknya bisa macam ini misalnya:

 

“Saya yakin, jawabanmu seharusnya benar. Walaupun pada kenyataannya masih kurang tepat, kamu jangan putus asa. Lihat, amati dengan baik! Kamu melakukan sedikit kekeliruan saat menjawab ini. Pada saat kamu menjumlahkan pecahan, kamu harusnya lebih dulu menyamakan penyebutnya yang berbeda. Jangan langsung dijumlahkan. Lihat harusnya begini!” (guru kemudian menunjukkan langkah-langkah yang benar dalam menjumlahkan pecahan yang berbeda penyebutnya).

 

Pada contoh ini tergambar bahwa guru memberikan informasi yang jelas di mana letak kekeliruan siswa saat menjawab soal penjumlahan pecahan yang penyebutnya tidak sama. Guru memberikan informasi itu dengan JELAS. Pun, karena feedback juga dapat difungsikan sebagai sarana untuk motivasi belajar, maka berilah reward (penghargaan) terhadap upaya belajar yang telah dilakukan oleh siswa. Walaupun hasilnya belum tepat alias masih keliru, it’s OK, namanya juga belajar. 

 

Kemudian, selain harus bersifat sebagai informasi yang jelas, mengandung reward untuk memotivasi, feedback juga harus digunakan SEGERA. Menurut Paklik saya (maunya he..he…) yang bernama Kulik & Kulik, 1988, feedback harus diberikan segera. Jika mereka telah melakukan upaya belajar yang tepat, berikan feedback segera agar upaya itu tetap dipertahankan. Juga, bila mereka melakukan upaya belajar yang masih salah, kurang tepat, belum memuaskan, feedback juga harus diberikan segera, agar kesalahan, kekurangtepatan, kekurangmemuaskan (ada ndak kata ini dalam Bahasa Indonesia? Pak Sawali Tuhutseya, please help me..) itu tidak berlarut-larut.

 

Terus satu lagi, jangan bosan memberikan feedback. Merata, bergilir, dan sering, kepada SEMUA siswa. Awas! Jadi guru jangan pilih-pilih kasih sama yang pintar, yang kaya, atau yang cantik/ganteng saja. Harus adil! Jangan sampai yang “agak lamban” ditinggalin, gak diperdulikan. Saya nulis ini karena banyak guru cenderung meninggalkan anak yang “agak lamban”. Kasihan mereka to? Apalagi sekarangkan prinsipnya kurikulum: mastery learning. Guru yang bahagia adalah guru yang dicintai SEMUA muridnya. Jangan sampai ada murid atau siswa yang membenci kita hanya karena kita lebih suka berinteraksi dengan siswa-siswa tertentu dan mereka (anak-anak yang terabaikan itu) akhirnya merasa dianaktirikan. Tak disayang.

  1. suhadinet
    Juli 26, 2008 pukul 11:41 pm

    O ya, selain secara lisan, feedback juga dapat diberikan secara tertulis pada koreksian lembar jawaban siswa, laporan praktikum, atau kertas2 tugas lainnya.

  2. Rizky
    Juli 27, 2008 pukul 12:58 am

    Assalamualaikum mas… Salam kenal yaa… Tulisan anda benar2 aspiratif sekali….

  3. Juli 27, 2008 pukul 4:21 am

    kalau saja setiap guru mampu memberikan feedback yang tepat, saya yakin anak2 negeri ini akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan kaya ilmu. btw, feedback juga bisa datang dari anak2, pak. sesekali mereka perlu dimintai kesan dan kritiknya terhadap gaya mengajar dan metode yang kita gunakan. salam kreatif!

  4. Juli 27, 2008 pukul 6:17 am

    To Pak Sawali, setuju sekali Pak.

  5. Juli 27, 2008 pukul 7:58 am

    Saya mendapat trick mengajar baru neeh.. Makasih Pak Suhadi…

  6. Juli 27, 2008 pukul 10:15 am

    pengalaman memperoleh feedback yang komprehensif saya dapatkan selama bersekolah di syd. feedback yang jelas memang memotivasi pelajar untuk melakukan yang lebih baik ke depan, belajar dari kesalahan, dan mempertahankan prestasi.

    tak banyak pendidik yang peduli pentingnya feedback ini, padahal feedback juga sekaligus menunjukkan PENGUASAAN pendidik terhadap materi yang diajarkan.

    atau jangan-jangan guru minim feedback karena memang tak menguasai?

  7. Juli 27, 2008 pukul 2:26 pm

    Guru harus adil, yup bener banget pak. bahkan jika ada anak kandungnya sendiri kan pak jika mengajar di kelas yang sama. saya pernah mendapati kasus seperti itu pak. guru tersebut sepertinya kurang adil, lebih mementingkan anaknya.

  8. Juli 27, 2008 pukul 7:48 pm

    Sepertinya tak semua pendidik memahami hal ini. Ini suatu bentuk atau cara membuka mata bagi para pendidik agar fokus tidak semata pada dirinya.

  9. Juli 29, 2008 pukul 9:36 am

    Setuju ama uni marshmallow, feedback di Monash khususnya sangat membangun dan membantu saya melihat dimana kekurangan dan memperbaikinya dikedepannya. Semua pendapat yang kita berikan di kelas juga sangat dihargai oleh dosen dan teman2, jadi semangat untuk berpartisipasi dalam setiap diskusi…ga perlu takut salah atau ditertawakan….nice tips sir😀

  10. Juli 29, 2008 pukul 4:49 pm

    wah ini masukan yg baus🙂

  11. Juli 31, 2008 pukul 3:53 pm

    Setelah saya ingat-ingat, feedback yang bapak contohkan selama ini sering saya lakukan, tapi saya tidak tau kalau itu namanya feedback. saya pikir itu yang namanya memberi penguatan. Apapun istilahnya, memang wajib dilakukan guru untuk memotivasi siswanya…,ya kan…

  12. suhadinet
    Juli 31, 2008 pukul 7:24 pm

    To Fitri

    Penguatan, ada bedanya dikit Fit, tapi kabur juga sih dalam prakteknya. Nanti aku mo tulis nih tentang reinforcement (penguatan). O ya penguatan itu ada positif, ada negatif.

    Setuju, yang penting memotivasi siswa. Sukses selalu untuk kamu.

    Senangnya kamu udah bikin blog. Black Zone-nya oke punya. Matching sama Dark Angel, nama hp-mu itu. he..he..

  13. Agustus 1, 2008 pukul 8:50 am

    tes komentar lagi

  14. fun
    Agustus 18, 2008 pukul 5:28 am

    Bagus banget artikelnya..
    artikel feedback ini sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

    Tetap termotivasi
    http://katakatamotivasi.blogspot.com

  15. September 23, 2008 pukul 4:33 am

    Hmmm saya juga sering membuat catatan-catatan atau komentar atas hasil pekerjaan murid-murid saya. Apalagi kalau karangan yang ditulis itu punya ciri khas tertentu. Rupanya itu dinamakan feedback. Saya tidak mengerti istilah-istilah pendidikan di Indonesia sih. Test kecil masuk feedback tidak pak?
    EM

  16. kebenaran
    Desember 23, 2008 pukul 2:39 am

    jamu psikologi klik : http://www.setansatan.blogspot.com jamu memang pahit
    =======================
    to kebenaran

    makasih infonya……..

  17. wahyu suseno
    Desember 27, 2008 pukul 10:28 am

    Saya seorang guru komputer, feedback itu sangat penting untuk kemajuan dan perubahan tingkah laku siswa, menurut saya ilmu dan fasilitas cumalah alat, yang paling penting Akhlak/Tingka laku siswa. Saya pernah memberi catatan kecil ke raport siswa-siswa saya, mau tau jawaban dari mereka. ini jawababnya : Kami tidak membutuhkan guru, yang kami butuhkan SAHABAT, sangat berkesan menurut saya, thanks untuk siswa-siswa SMK BBS (Batam Business School) Batam tempat ngajar saya yang lama, Maju terus SMK DEK (Dedikasi Edukasi Kualiva) Padang, tempat ngajar saya yang baru

    ======================
    to wahyu suseno

    Betul pak wahyu. Saya setuju dengan anda. Guru harus bisa berbicara dalam level mereka tanpa kehilangan peran sebagfai guru. Itu tantangan berat. Hanya guru-guru yang profesional yang bisa melakukannya. Salam.

  18. Angelica
    Mei 21, 2009 pukul 7:48 am

    Info ini sangat membantu saya dalam penyusunan thesis tentang Techer’s Ieedback in Writing Class. Kalau ada yang punya referensi lain tolong bantu dooong! Kirim ke gajahwati@Qyahoo.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: