Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Volition—Selain Motivasi Belajar, Merupakan Salah Satu Aspek Penting dalam Proses Belajar Seorang Self Regulated Learner

Volition—Selain Motivasi Belajar, Merupakan Salah Satu Aspek Penting dalam Proses Belajar Seorang Self Regulated Learner


Author: Suhadi

 

Saya menulis ini karena saat ini, saya sangat terobsesi untuk menjadi penulis dan hasilnya dapat dipublikasikan melalui media surat kabar atau bahkan buku. Akankah saya berhasil mewujudkan itu? Saya tidak tahu pasti, tapi saya sedang berusaha keras. Nah, dalam proses ke arah pencapaian obsesi tersebut, saya menemukan sebuah rintangan dari dalam diri saya sendiri. Saya yang merasa telah punya motivasi besar, dan mungkin juga “cukup” pengetahuan untuk dasar penulisan. Tapi ternyata, saya harus merangkak dengan sangat pelan karena terhambat dengan apa yang disebut volition.

 

Volition? Apaan sih volition itu?

Saat saya cari di kamus English-Bahasa, ternyata artinya kemauan. Dalam buku-buku psikologi pendidikan disebut juga willpower. Trus, setelah saya buka kamus Oxford Advanced Learner, saya menemukan bahwa volition itu dimaknai sebagai: the process of using one’s will in choosing something, making a decicion, etc.

 

Agak rumit kalau membicarakan “makhluk kasat mata” yang bernama volition ini. Mungkin sebaiknya kita mulai dari apa itu self regulated learner saja. Apaan lagi sieh makhluk yang yang satu ini? Wah, kalau ini agak-agak mudah. Soalnya makhluk bisa ditemukan di sekitar kita. Anda mungkin kenal seorang siswa atau teman kuliah yang hampir tak pernah kehabisan energi untuk belajar, belajar, belajar, dan belajar. Pokoknya tiada hari tanpa belajar. Nah, itu cuma salah satu tanda dari seorang self regulated learner. Orang-orang ini sangat menikmati belajar. Mereka bisa marah kalau diganggu pas lagi asyik belajar. Mereka bisa tahan berjam-jam di depan komputer (bukan main game apalagi ngedownload file-file bernuansa XXX yang meng-exspose daerah under belly gitu, he..he..). Tangan mereka gak bisa lepas dari yang namanya buku. Nah, orang-orang ini sangat termotivasi belajar, bukan karena orang lain (motivasi ekstrinsik), tapi mereka termotivasi oleh “something” yang ada di dalam diri mereka sendiri (motivasi intrinsik). Mereka juga mempunyai keterampilan belajar (learning skills) yang membantu mereka memudahkan untuk belajar. Mereka punya strategi-strategi tertentu untuk berhadapan dengan konten (materi) yang sedang dipelajari. Mereka lebih efisien dalam belajar. Bila mereka sedangkan mempelajari materi jenis A, maka mereka akan mengetahui bahwa yang cocok dipakai untuk belajar adalah strategi I. Bila berhadapan dengan materi jenis B, maka mereka akan menggunakan strategi II, dst. Kalau dalam psikologi pendidikan, disebut keterampilan metakognitif, gitu. Kalau ingin pinter, kita musti punya keterampilan metakognitif ini. Pak Suhadi punya gak ya? Pada dasarnya semua orang punya, cuman, seberapa besar dan terlatih keterampilan metakognitif itu. Lalu Pak Suhadi? Ah, entahlah, dia gak pintar-pintar amat. He..he.. Selain itu, seorang self regulated learner juga punya volition yang oke!

 

Dalam belajar, ada banyak hal bisa jadi penghambat. Taruh contoh, ia telah punya orang tua yang mendukung dengan setia, suami atau istri yang sabar memberi semangat, ia, secara pribadi sudah punya motivasi intrinsik yang besar, segala fasilitas belajar dimiliki, de el el. Tapi kok ya, apa yang ingin dicapai kok gak bisa diraih dengan mulus? (tentu tanpa mengesampingkan takdir: perjuangan dan do’a gitu). Mengapa?

 

Penghambat ini bisa datang tiba-tiba, kapan saja, dari mana saja, dan di mana saja, serta dalam bentuk yang berbagai macam. Misal, saya yang pingin banget (motivasi besar)  nulis banyak, sudah punya ide unik, punya kompie buat dipencet, tapi kok ya hanya gara-gara ada sekejap tontonan menarik di tv jadi terhenti sesaat. Trus, saat mo kembali menulis jadi hilang gairah. Loyo. Sekejap tontonan menarik di tv tadi adalah contoh pemicu munculnya distraction. Volition saya diuji. Jika saya adalah seorang self regulated learner yang baik, maka saya akan berusaha duduk kembali di belakang kompie dan mulai mengetik lagi. Seorang self regulated learner membutuhkan volition, disiplin.

 

Nah, makanya, seorang ahli psikologi pendidikan yang bernama Anita E. Woolfolk, 1995 pernah mengatakan, “Where motivation denotes commitment, volition denotes follow-through.”

 

Biar tambah mengerti, ca elah! Saya kasih contoh lain. He..he..contoh lainnya, si 1nd1r4, yang ngungkapin bagaimana besarnya kawan kita yang satu ini punya motivasi belajar. Buktinya Indira pergi ke perpustakaan kok buat milih-milih buku. Sayang, Indira saat ini kehilangan yang namanya volition karena baru pulang dari tanah air dalam rangka berlibur. Suasana liburan membuat 1nd1r4 harus berjuang keras untuk kembali belajar. Dia harus pandai memproteksi dirinya dari distractions  yang menyebabkan proses belajarnya dapat menjadi ter-interrupted. Misalnya pingin tidur muluu! Zzzzzzzz! (Sorry In, saya ngambil kamu jadi contoh. Ojo ngambek yo).

 

Pokoknya, nyang namanya volition itu sangat penting, sama pentingnya dengan motivasi belajar. Kalau seorang pebelajar punya volition, dia akan bisa mengatasi godaan untuk berhenti, kecemasan, kekhawatiran, kemalasan, dan perasaan di saat-saat sedang down dan terpuruk. Learning process-nya gak terpengaruh.

 

Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi seorang self regulated learner yang punya motivasi, volition, keterampilan dan strategi metakognitif yang kuat ya. Volition membuat kita tegar, kokoh, kuat, gak gampang tergoda untuk berhenti belajar.

  1. Juli 19, 2008 pukul 5:41 pm

    Wah nama saya muncul euy🙂 gpp pak dijadikan contoh. Sekarang dah semangat lagi kok pak…senin kemarin dah mulai kuliah lagi, bukunya juga sudah dibaca😀 laporan selesai!
    Ada strategy buat self-regulation (GAMES):
    G= goal oriented study
    A =active study
    M= meaningful and memorable
    E =explain to understand
    S =self-monitor successes and errors
    sedang berusaha menerapkan pada diri sendiri..hehehehe

  2. suhadinet
    Juli 19, 2008 pukul 6:26 pm

    To 1nd1r4

    Syukur deh gak marah. Tadi waktu nulis takut kamu ngambek. Tapi setelah tak pikir-pikir, rasanya gak mungkin seorang 1nd1r4 ngambek cuma karena tulisan beginian. He..he..

    Wow!
    GAMES nya oke punya tuh.

  3. Juli 19, 2008 pukul 9:03 pm

    ayo pak, jangan berhenti menulis…
    dan jangan berhenti mengirimkan tulisannya ke media, minimal media lokal,
    banjarmasin post hehehe

  4. Sir Arthur Moerz
    Juli 19, 2008 pukul 9:50 pm

    semangat…
    salam kenal..

    ================
    Sir Arthur Moerz

    Salam kenal juga. Blog kamu bagus. saya suka puisi-puisimu

  5. Juli 19, 2008 pukul 10:46 pm

    pak saya kasih award ya, ada PR menanti lho…:mrgreen:

    =============
    to Catra

    Iya, kamu tempatkan aku di peringkat satu. He..he.. senangnya. Tapi gak ada guru ideal lo Cat. Gak ada yang sempurna. He..he… nanti tak bikin PR-nya, tapi ndak wajib kan?

  6. Juli 19, 2008 pukul 11:35 pm

    Saya juga maunya jadi penulis, cuma pekerjaan terkadang selalu menghalangi keinginan tersebut. Yang masih bisa dilaukan ya, paling nge blog😀

    =========
    to Harjo

    He..he… itulah masalah saya dan juga bapak, kita selalu punya alasan. Itu yang harus diobatin Pak. Saya juga pulang sekolah hampir jam 3, trus ke kegiatan lain. Nulisnya ya di sela-sela itu. Kadang pas gak ada kerjaan dan jam mengajar di sekolah.

  7. Juli 20, 2008 pukul 3:50 am

    motivasi bisa mengalahkan tantangan, pak suhadi. kita pada dasarnya *halah sok tahu* adalah manusia2 pembelajar *istilah anderas harefa*. menulis dan aktivitas apa pun akan sangat nikmat dan nyaman jika kemauan dan motivasi tumbuh secara internal. pak suhadi sudah ounya itu dan saya optimis, keinginan pak suhadi tak lama lagi akan terwujud, amin.

    ==============
    To Pak Sawali Tuhutseya

    Betul Pak, makasih do’anya.

  8. Juli 20, 2008 pukul 10:32 am

    Kaykanya Sampeyan ngak perlu motivasi dan ‘ilmu’ lagi deh, nagk perlu bertanya atau merndah lagi, ntar habis waktu dan kesempatan lho. Lalu?

    Nulis saja, dan jadikan buku. Sekarang saya tantang, mau ngak bikin buku? Ntar saya bantu deh. Tapi, saya ngak suka orang pengeluh, lho. Pertanyaan saya: Udah mahir PageMaker atu InDesign apa belum?

    Kedua, dalam menerbitkan buku, jangan pernah berpikir tentang biaya. Itu kuno, dan belenggu. Saya, kalau mau nerbitkan buku, ada aja tuh sponsor he he. Sampeyan juga bisa. Saya akan lempangkan jalannya, Insya Allah. Apa syarat?

    Melakukan, dan jangan mengeluh. Titik.

    ===============
    to Pak Ersis Warmansyah Abbas

    Terimakasih Pak
    InsyaAllah saya tak akan mengeluh lagi, tapi berpikir reflektif boleh kan Pak, biar bisa memonitor tujuan yang ingin dicapai, sudah sedekat mana..

  9. Juli 20, 2008 pukul 11:23 am

    Salam
    Waduh kayakanya ini bisa dibilang penyakit klise, motivasi besar tapi selalu merasa ada hambatan..atau mungkin kurang PD juga kali, ah tapi saya sie tak perlu meragukan itu dari Bapak🙂 Ok semangat!!!!

    ================
    to Nenyok

    Makasih mampir lagi, setelan kunjungan dulu itu
    Betul, ini penyakit klise. Saya juga sudah baca-baca ulang jawaban saya terhadap komentar-komentar kawan pada posting-posting sebelumnya. Saya sering mengatakan “belum PD”. Ini penyakit klise. Saya akan obati.

    Makasih

  10. azaxs
    Juli 20, 2008 pukul 11:50 am

    Salam..

    Tulisan yang bagus n panjang pak…hehe

    Obsesi tersebut pasti terealisasi pak!🙂

    ==============
    to azaxs

    Maksih zaxs
    panjang? he..he… maklum mau belajar bikin buku.😆

  11. Juli 20, 2008 pukul 12:24 pm

    Salam Kenal. Isi tulisan Bapak bagus. Pemakaian bahasa Indonesia bakunya juga cukup bagus. Kata-kata seperti “cuman” dan “apaan” sebaiknya Bapak tinggalkan saja.

    Selamat berjuang sebagai penulis!

    ============
    to Mahmud

    Mkasih sarannya. Kamu betul, ada beberapa (banyak sebenarnya) kata-kata tidak baku dalam tulisan ini. Campur-campur english pula, he..he.. Saya memang tak bermaksud menulis serius, biar gak terkesan berat materinya. Santai gitu.

    Aku udah jalan-jalan ke blog kamu, tapi belum banyak baca. Belum kasih komentar di tempatmu. Rupanya kamu benar-benar penggila dan pemerhati bahasa-sastra, walau masih muda. Cerpen kamu bagus! Puisinya aku belum baca.

  12. Juli 20, 2008 pukul 1:55 pm

    salam haleloya

    =========
    to Haris Zaky Mubarak

    Salam. Blog kamu bagus. Kamu punya ide-ide hebat. Aku tadi sepintas jalan-jalan di tempatmu. Nanti aku kasih komentar ya. Soalnya tadi pake hape, susah.

  13. aminhers
    Juli 20, 2008 pukul 2:46 pm

    Secara matematik titik dapat di bentuk oleh minimal 2 garis yg saling berpotongan. Garis yang pertama kemampuan dan garis yang ke 2 adalah kesempatan dan titik adalah kenyataan sukses.
    *halah teoritik yah ?*–maklum yg ngomong penikmat matematika🙂
    Pokoknya Sukses slalu Sobat,
    tobe is to do !

    ====================
    to Pak aminhers

    Analogi yang keren. Semoga garis kemampuan dan kesempatan kita, semua para bloger, terbentuk dari titik-titik masif yang kontinyu ya Pak..Gak putus-putus gitu, he..he…

  14. Juli 20, 2008 pukul 8:37 pm

    motivasi yang kuat adalah kunci keberhasilan seseorang , sukses untuk kita dan salam kenal

    ===========
    to Achmad Sholeh

    Betuulll. Sukses selalu buat anda, dan salam kenal balik.

  15. Juli 20, 2008 pukul 10:14 pm

    amin… moga kesampaian pak

    =================
    to Zoel Chaniago

    Thanks untuk support dan doanya zoel

  16. Juli 20, 2008 pukul 10:55 pm

    Wah… kalau saya sih nggak tahu, saya ini tipe pembelajar seperti apa, prinsip saya sederhana saja, setiap informasi (yang berguna) saya telan, lalu saya olah dan kalau perlu saya hubung2kan seperti jigsaw puzzle dengan informasi2 lainnya yang telah ada pada kepala saya…. lalu jadilah kesimpulan yang baru atau mungkin juga perbaikan dari kesimpulan sebelumnya……🙂

    ==============
    to Yari NK

    Bapak pebelajar tipe apa? Saya juga bingung, harus dites dulu atuh Pak.
    Cara belajar Bapak bagus, cara macam Bapak ini dijelaskan oleh teori disekuilibrium (ketidakseimbangan konsep). Bapak menghubungkan dengan pengetahuan bapak sebelumnya, terus mencantelkannya di bagian situ untuk melengkapi atau bahkan mengoreksi pengetahuan sebelumnya yang mungkin bertentangan dengan informasi baru. Atau informasi baru jika tidak logis, dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang salah, lalu yang tadi bapak telan akan bapak muntahkan kembali. Hee..he… Mungkin begitu Pak.

  17. Juli 20, 2008 pukul 11:09 pm

    Alhamdulillah , semoga Volution ini bisa membuat saya bertahan dan berjuang demi kemajuan blogger Sumut khususnya dan Blogger Indonesia pada umumnya

    =============
    to realylife

    Betul, moga volition kita kuat. Hingga kita bisa konsisten. Gimana kopdar sumutnya. sukses kan?

  18. Juli 21, 2008 pukul 1:39 am

    BAPAK. Jadi gemesssss.
    Bapak udah jadi penulis, tulisannya udah banyak yang baca, mudah dipahami, feature-nya asyik dan meliuk-liuk.
    Terus mo nunggu VOLITION di persimpangan jalan? Kalo toh Volition ngga’ dateng, tinggalin aja, naik ojek aja ke penerbit, benar saran Pak Ersis.🙂
    Kalo butuh desain dan lay out, Insya Allah, aku siap bantu. Otre.

    =============
    to namakuananda

    He..he.. meliuk-liuk karena gak terkonsep dengan baik ‘kali ya dari awal, gak dibikin kerangka dulu. Langsung tulis. Bener kayaknya, tinggalin aja kalau telat datangnya.

    Ini enaknya punya teman ngeblog jagoan desain grafis. Thanks.

  19. Juli 21, 2008 pukul 10:55 am

    pakabar, pak suhadi?
    jadi kalau menurut teori woolfolk, pak suhadi udah punya intrinsic motivation yang cukup, volition juga insyaAllah gak perlu diragukan, tinggal implementasinya aja ke tulisan yang mau dikerjakan.
    udah ada topik belum?

    tapi kayaknya volition itu makhluk yang “tak kasat mata” deh.
    *melirik paragraf #3*

    salam sukses, pak!

    ===========
    to marshmallow

    kabar baik
    insya Allah deh, sudah mulai ditulis nih.

    salam sukses juga. Udah di Oz?

  20. taliguci
    Juli 21, 2008 pukul 11:23 pm

    saya merasa postingan ini begitu bersemangat.. semoga menular ke saya ya🙂

    ==========
    to taliguci

    mudah-mudahan, amin

  21. Juli 21, 2008 pukul 11:26 pm

    wah.. pak Suhadi.. mm.. saya semakin salut.. haha

    http://www.imanpotter.wordpress.com

    ============
    to iman

    makasih

  22. cikalie
    Juli 22, 2008 pukul 11:26 pm

    aku juga pengen tuh suatu saat nanti bisa nulis Novel, 1 aja dah cukup. tapi ko’ susah banget ya. kadang ide sudah punya tapi mulainya yang susah. pernah juga nulis sampai beberapa bab, tapi…melanjutkannya yang susah & akhirnya terhapus sendiri deh !!!!
    hehehe……

    ============
    to cikalie

    kalau punya cita-cita, jangan tanggung lie. Kenapa cuma satu?

  23. Juli 23, 2008 pukul 2:42 am

    Wah, ini dia yg sedang saya rasakan juga. Ide-ide di kepala begitu membludak, menggedor ruang kepala berkali-kali, tapi ya entah kenapa jari jemari saya masih idle jg untuk segera melakukan “tugasnya”. Ngerti saya sekarang masalahnya.

    Terima kasih, saya terbantu dengan postingan Anda.

    Salam,

    ==========
    to esensi

    Banyak orang begitu, cuma tidak menyadarinya. Dengan mengenal “musuh” ini mudah-mudahan kita bisa menaklukkannya dengan lebih mudah.

  24. Juli 23, 2008 pukul 8:58 am

    Terlalu cepat kali saya berkunjung ya, belum ada yang baru he he

    =========
    to Pak Ersis Warmansyah Abbas

    Tadi masih ngajar Pak. He..he..

  25. Juli 23, 2008 pukul 12:26 pm

    Ayo buktikan Pak klo Bapak bisa… hehehehehehe

    =======
    to Shaleh

    Tentu Leh..

  26. Juli 23, 2008 pukul 7:43 pm

    TETAP SEMANGAT>>>BERKARYA>>BERDOA

  27. Juli 25, 2008 pukul 9:52 am

    hemmm buat aku tambah semnagt sajahhh…. terima kasih pakkk😛. Kayak e bapak yang saru ini udah pengalaman dengan masalah memotivasi diri untuk belajar, ciayooo semangatttt

  28. ane marlinde
    Juli 31, 2008 pukul 3:57 pm

    Asslm…
    sebelumnya salam kenal… =)
    sungguh luar biasa tulisan bapak…
    membuatku jadi semangat untuk belajar, mngenali diri sendiri dalam hal belajar…
    Jakallah..

  29. Juli 31, 2008 pukul 4:17 pm

    kata pepatah, kalau ada kemauan pasti ada jalan…, meski jalannya berliku, mutar-mutar, tersesat, terhenti karena buntu, dan lain-lain hambatan selama masih ada kemauan, pasti ada jalan., hei!! kok balik lagi, berarti jalan saya lagi mutar-mutar he..he..he..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: