Beranda > cerpen > Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 4)

Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 4)


Author: Suhadi

 

Bila Anda tergesa-gesa tapi berkenan untuk membaca, silakan di save lebih dulu. Posting ini cukup panjang.

 

Ada baiknya Anda baca secara berurut dari Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 1), sebelum membaca Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 4-Tamat) ini

 

Kepala Madi masih terasa sakit. Keras sekali pukulan di belakang kepalanya tadi. Sudah lewat tengah malam saat ia tersadar dari pingsan. Badannya pegal-pegal karena ikatan tangan dan kakinya di kursi itu sangat kencang dan kuat. Ia tak bisa bergerak. Bulan dan Pak Ramdani—yang sekarang berupa sosok sangat mengerikan itu—telah meninggalkan mereka bertiga dalam keadaan terpasung. Ada segumpal penyesalan di hati Madi. Diamatinya keadaan Rudi yang tertembak di bahu kanan. Darah sesekali masih keluar dan merembes membasahi bajunya. Ah mudah-mudahan anak itu bisa bertahan, tak kehabisan darah. Wajahnya sudah nampak pucat. Sementara itu, Galih dengan kacamata minusnya masih tergolek-tengadah. Mulutnya setengah terbuka. Kacamata minusnya tampak sedikit retak di sudut bawah belahan lensa kirinya. Dipukul seperti dia-kah anak itu sehingga sampai sekarang tak sadar-sadar juga? Teringat Madi akan lolongan-teriakan Amat yang demikian keras tadi malam saat tertangkap akan masuk lewat jendela. Diapakan Pak Ramdani sahabatnya yang selalu menurut padanya itu? Kenapa ia tak ada di sini? Kenapa Amat tak diikat bersama mereka? Dibunuhkah? Mudah-mudahan ia berhasil melarikan diri. Jika ia tewas, tak akan ada yang tahu kami terperangkap di sini. Oh, habislah sudah. Semua ini salahku. Akan diapakan aku dan teman-teman oleh kedua beranak itu? Mereka sedang menyiapkan sesuatu untukku. Menyiapkan apa? Digantungkah? Atau disiram larutan asam sulfat? Madi tak berani membayangkannya. Ia takkan sanggup menanggung rasa sakitnya.

 

Nyali Madi benar-benar sudah menciut. Tak ada lagi bayangan pesta pora penyekapan Bulan seperti yang mereka rencanakan saat di kamarnya tadi sore. Tak ada lagi desir kenikmatan ketegangan itu. Kini ia benar-benar tak berdaya. Bulan ternyata jauh lebih kuat dari dugaannya. Bulan ternyata bukan gadis lemah tak berdaya. Ia bahkan masih punya Pak Ramdani yang dikiranya telah tewas sepuluh tahun yang lalu.

 

Sampai kokok ayam hutan mulai terdengar, tak satupun, baik Galih maupun Rudi yang sadar dari pingsannya. Usaha Madi untuk melepaskan diri dari ikatan tali-temali yang menjerat tangan, tubuh, dan kakinya—sia-sia belaka. Lampu tembok masih menyala, walaupun salah satunya sudah mulai meredup karena—mungkin mulai kehabisan bahan bakarnya. Entah sudah berapa lama sejak ayam hutan berkokok bersahutan. Madi berusaha menggeser pergelangan tangannya. Tali nilon pengikat lengan itu begitu kencang dan kuat, sakit rasanya. Ia berhasil juga melirik jam tangan digital di pergelangan. Pukul 06.23. Sudah pagi rupanya.

 

Tak berselang lama, Madi mendengar langkah-langkah kaki di luar. Lalu bunyi pintu ruangan itu di buka. Bulan muncul dengan sosok mengerikan—Pak Ramdani. Senyum penuh kemenangan nampak jelas di sudut bibir gadis cantik bersepatu boot kulit itu. Sorot matanya dingin dan tajam. Sambil menyibakkan tirai compang-camping yang menutup jendela, gadis itu berbicara pada Pak Ramdani. Cahaya matahari pagi masuk lewat kaca kusam berdebu.

“Hoo, belum sadar juga dua cecunguk ini rupanya.”

“Argghhh mgrrrhhhhhaahhh.”

“Ya, mungkin ayah terlalu keras memukul si kacamata ini.” Kata Bulan sembari memeriksa kepala Galih.

 

Ia kemudian beralih mengamati kondisi Rudi yang pucat pasi. Gadis itu memegang sekitar pergelangan tangannya. Mungkin ia mencoba mencari nadi Rudi untuk memeriksa keadaannya. Ia juga memegangi jidat Rudi. Madi hanya dapat memandanginya saja.

“Mungkin temanmu yang satu ini sebentar lagi akan mati.” Kata Bulan tanpa ekspresi pada Madi, kecuali tatapannya yang dingin dan tajam. Suaranya bahkan terdengar datar tanpa intonasi.

 

Madi tak menyahut, ia hanya memandangi Bulan dan Pak Ramdani. Ia berusaha menyembunyikan rasa takutnya di hadapan kedua orang ini. Mereka pasti menaruh dendam pada ayahnya—Juragan Bani, dan tentu juga pada Madi dan teman-temannya yang telah lancang mengganggu kehidupan mereka di kesunyian perkebunan karet tak terawat ini.

 

“Tapi aku dan Ayah takkan membiarkannya mati dengan sia-sia. Ha..ha…ha…., bukan begitu Ayah?”

“Arrgghhhh.grhhhhh….arrrhhhhhhhhhhh.”

“Ya, kita sadarkan dulu mereka dari pingsannya.” Kata Bulan kemudian sembari menatap Madi. Tatapannya memang hampir tak pernah beralih dari Madi. Tatapan mengancam dan mengintimidasi.

 

Pak Ramdani ke ruangan lain yang merupakan bagian dari ruangan itu. Beberapa saat ia telah kembali membawa seember air. Rupanya ruangan itu adalah kamar mandi.

“Byuurrrr”

“Byuuurrrr”

“Byurrr”

Air itu disiramkan kepada Galih dan Rudi, juga Madi. Galih dan Rudi mulai bergerak-gerak. Tapi tak bisa leluasa. Sama seperti Madi, tubuh, tangan, dan kaki mereka terikat. Kepala mereka terkulai lemah, tak bertenaga. Akhirnya hanya mata keduanya terbuka. Sadar.

 

“Selamat pagi, ha..ha…ha…. Kita akan segera mulai pestanya!” Gadis itu berjalan keluar ruangan, lalu kembali lagi setelah beberapa saat. Di tangannya terdapat beberapa perkakas. Madi tak berani berpikir lagi setelah melihat perkakas-perkakas yang dibawa Bulan. Jantungnya berderu kencang. Menunggu apa yang akan dilakukan gadis cantik itu pada mereka bertiga.

 

Gadis itu kini mendekati Rudi. Sepatu boot hitamnya menimbulkan suara berkecipak karena menginjak bagian lantai yang basah-menggenang sisa guyuran air yang tadi disiramkan Pak Ramdani pada mereka. Senyum Bulan mengisyaratkan rencana gilanya pada Rudi. Ia telah memegang sebuah obeng yang yang tadi malam mungkin digunakan salah satu dari mereka berempat untuk mencongkel jendela rumah besar di tengah perkebunan karet ini. Gadis itu kini menjambak rambut Rudi. Menengadahkan kepalanya yang tertunduk tak berdaya. Menekan ujung obeng itu ke wajah, dan menariknya ke bawah, menjalari permukaan pipi Rudi yang ketakutan setengah mati. Ujung obeng itu terus menjalar-menari hingga leher. Garis merah bekas goresan ujung obeng terlihat jelas di kulit Rudi yang basah.

“Apa yang akan kamu lakukan padaku?”

“Bersenang-senang! Kita berpesta! Bukankah itu yang kalian rencanakan di rumah ini terhadapku?”

 

“Ampunilah aku. Ampuni aku…” Rudi terisak.

“Ampuni? Apa kalau aku yang berada di posisi seperti kamu saat ini, kamu akan mengampuniku? Aku yakin, tak akan!” Ujung obeng itu terus menari-nari hingga akhirnya Bulan menusukkannya ke bagian bahu kanan Rudi yang tertembak tadi malam.”

 

“Akhhhhhhh uuuu!!!!!!!!!! Ampunnnn!!!” Demikian keras Rudi berteriak. Pasti sakit sekali.

“Hentikan! Jangan siksa Rudi! Mohon jangan siksa dia.” Galih memohon agar Bulan menghentikan apa yang dilakukannya terhadap Rudi.

“Plak!!” Sebuah tempelengan keras dari sosok mengerikan Pak Ramdani menghentikan kata-katanya.

“Arghh..grh…rhrrr..” Sosok mengerikan itu memandang dengan tajam pada Galih. Memberi peringatan.

 

“Heh, tunggu saja giliranmu bodoh! Sabar saja. Kamu juga akan dapatkan giliran nanti. Ini baru pertunjungan pembuka.” Kata Bulan penuh nafsu amarah pada Galih. Pandangannya yang demikian dingin dan tajam membuat remaja berkacamata minus itu bergidik ngeri.

“Dan kau, heh anak tukang fitnah, nikmati pertunjukan ini selagi kamu masih bisa! Sebelum aku bermain-main dengan bola matamu.” Bulan menyeringai pada Madi. Pemuda berambut ikal yang biasanya tak kenal takut itu kini berkeringsut, menggigil.

 

Bulan terus mengorek-ngorek luka tembak Rudi. Ia tampak begitu menikmati. Darah mengucur lagi dari luka itu. Baju Rudi kini telah benar-benar merah oleh darah. Rudi hanya bisa meronta-ronta di dalam ikatannya. Tak banyak gerak yang bisa dilakukannya. Hingga akhirnya Rudi benar-benar lemas tak berdaya. Kepalanya kini terkulai. Hanya erangan-erangan kesakitan yang keluar mendesis dari mulutnya. Puas bermain-main dengan luka tembak Rudi, Bulan mulai mendekati Galih.

 

“Sekarang giliranmu!” Bulan melepaskan kacamata minus Galih. Melemparkannya ke tembok dengan keras hingga pecah berderai. Ia kemudian menuju kumpulan perkakasnya. Memegang palu, tapi meletakkannya kembali. Ia geleng-geleng sendiri. Matanya berbinar-binar, setelah mengambil sebuah gergaji pemotong besi. Ia mengangkat gergaji itu dan menunjukkannya pada Madi. Remaja tanggung berambut ikal itu tak tahu apa yang akan dilakukan Bulan pada Galih. Akan ia gunakan untuk apa gergaji besi itu? Tapi ini pasti sangat mengerikan dan kejam. Kejam? Oh bukankah apa yang telah dilakukan ayahnya—Juragan Madi—terhadap ibunya Bulan jauh lebih kejam? Bukankah apa yang telah dilakukan ayahnya terhadap Pak Ramdani jauh lebih kejam? Bukankah yang dilakukan ayahnya terhadap gadis kecil Bulan sepuluh tahun yang lalu jauh lebih kejam? Madi mencoba memalingkan wajah saat Bulan sudah dekat dengan Galih yang ketakutan setengah mati. Tapi jambakan Pak Ramdani di rambutnya memaksanya untuk tetap menghadapkan wajah pada adegan yang akan disajikan Bulan.

 

“Apa yang akan kamu lakukan? Jangan siksa aku.. Jangan!”

“Kalau aku ingin menyiksamu, memangnya kamu mau apa? Protes? Berteriak? Silakan!” Gadis cantik itu membentak dengan sangat keras. Rudi yang tadi memejamkan mata, kini mencoba mengintip dengan sudut matanya. Selanjutnya setelah melihat Bulan akan menggergaji jemari tangan kanan Galih yang terikat di kursi, ia segera memejamkannya dengan rapat dan menangis tersedu-sedu.

 

Galih mencoba menghindarkan jari-jarinya dari geretan gergaji besi. Tapi tentu sia-sia belaka. Ikatan tali di pergelangan tangannya begitu kencang ke bagian lengan kursi.

“Aakkkkkhhhhhhhhh……….!!!!!!” Galih mulai berteriak melolong saat Bulan mulai memaju mundurkan gergaji besi. Ia meronta-ronta. Urat lehernya menegang kencang, menahan sakit tak terkira.  “Argkhhhhhhhh…!!!! Aaaaaaahhh…………!!!! Akhhhhhhh…!!!!!!” Kursinya mungkin sudah jatuh beberapa kali karena kuatnya ia meronta, kalau saja Bulan tidak sambil memeganginya. Darah segar muncrat saat arteri-arteri yang berukuran cukup besar di jari-jari itu terpotong. Beberapa menciprati wajah Bulan. Dengan ujung lidahnya ia menyapu bagian yang terkena sudut bibirnya. Ia menyeringai. Ia semakin bersemangat memaju-mundurkan gergaji besi itu, bersamaan dengan rontaan dan jeritan kesakitan.

 

Madi yang mencoba mengalihkan pandangannya dari pemandangan mengerikan itu. Tapi ia tak berdaya saat sebilah pisau di tangan Pak Ramdani yang berkilat-kilat menempel dingin di kulit lehernya. Sosok mengerikan itu memaksanya untuk terus membuka mata. Tak ada kenikmatan seperti yang ia rasakan sepuluh tahun lalu saat menyaksikan prosesi penggantungan Si Wanita Tukang Tenung—ibunya Bulan. Tak ada kenikmatan seperti saat tubuh Pak Ramdani diguyur dengan larutan asam sulfat. Tak ada kenikmatan apa-apa kecuali kengerian luar biasa. Jeritan dan lolongan Galih terus terdengar bergema hingga ke lembah-lembah sunyi di lereng Pegunungan Meratus itu. Sepasang tupai yang kaget berlarian setelah saling pandang. Mencoba menduga-duga, teriakan kesakitan luar biasa siapa itu.

 

***

Matahari kemarau sudah mulai menunjukkan teriknya. Raungan mesin-mesin motor yang dipacu di jalan setapak berbatu di tengah-tengah perkebunan karet tak terurus itu menakuti beberapa hewan liar. Cukup banyak jumlah orang-orang itu. Mungkin jumlahnya mencapai dua puluh orang. Memang tak sebanyak rombongan sepuluh tahun yang lalu. Banyak sekali perubahannya. Wajah-wajah itu kini tak seberingas dulu. Beberapa dari mereka lebih menunjukkan rasa gentar dan cemas luar biasa. Dari sekian banyak orang-orang yang demikian cemas air mukanya itu, adalah seorang lelaki yang masih tampak gagah, tapi tak menunjukkan pengaruh yang begitu luar biasa seperti dulu. Ia adalah Juragan Bani, ayah Madi. Dua lelaki lain yang juga tampak sangat cemas adalah ayah Galih dan Rudi. Beberapa dari mereka menyandang senapan berburu di bahu. Sebagian yang lain membawa golok atau mandau, atau senjata tajam lainnya di pinggang. Beberapa di antara orang-orang itu terdapat pula beberapa orang berseragam. Muda-muda dan gagah. Mereka adalah aparat kepolisian. Memimpin rombongan itu bukan Juragan Ramdani, tapi seorang muda dan tampan bernama Yansen. Juragan Bani, Ia bukan lagi penguasa non-formal di kota kecil di kaki Pegunungan Meratus itu. Ini bukan sepuluh tahun yang lalu, saat semua kekayaan dan pengaruhnya demikian luar biasa. Semuanya telah runtuh bersama jaman yang berputar karena digerakkan sang mesin waktu. Ia tak banyak bersuara. Dosa-dosanya sepuluh tahun yang lalu terhadap keluarga Pak Ramdani telah menuai ini semua.

 

Rombongan itu terus memacu motor masing-masing. Kini mereka telah tiba di depan pintu gerbang rumah besar di tengah perkebunan karet yang sepuluh tahun tak terawat itu. Saat mereka mulai melangkah memasuki halaman yang penuh semak belukar, terdengar sebuah bunyi tembakan dari dalam rumah. Bunyinya mengejutkan mereka semua. Sepertinya dari lantai atas, bagian sebelah kiri rumah. Semua berlari ke halaman kiri rumah. Tepat di bawah pohon bungur besar. Orang-orang itu menoleh ke jendela-jendela yang berderet. Mencari arah asal bunyi tembakan.

 

“Bagaimana ini Pak Yansen? Suara tembakan itu tadi. Apakah makhluk mengerikan itu, atau gadis yang bernama Bulan itu telah membunuh anak-anak kami? Apakah kita akan masuk mendobrak sekarang?” kata seorang lelaki yang tak lain ayah Rudi.

 

“Tidak, kita tak akan masuk sekarang, makhluk mengerikan itu sudah tahu kedatangan kita. Lihat!” Polisi gagah itu—Yansen, menunjuk ke salah satu jendela. Sebuah jendela yang persis bersejajar dengan pohon bungur besar, di mana orang-orang itu berdiri. Sesosok makhluk dengan wajah seperti tengkorak hidup menyibakkan tirai jendela yang koyak-koyak termakan usia. Ia juga sedang memegangi kerah baju seorang remaja yang berlepotan darah dengan tangan kanannya. Ia memegangi Rudi, sembari memegang sebuah senapan berburu di tangan kiri. Ia kemudian menghentakkan ujung senapannya hingga kaca jendela itu pecah berhamburan.

 

“Anakku, Rudi! Rudi! Ini ayah, kami akan segera menolongmu! Bertahan Nak, ya…” Lelaki bertubuh agak gemuk itu berteriak-teriak dengan sangat gelisah. Ia mengenali bahwa sosok lemas yang sedang dipegang makhluk mengerikan itu adalah anaknya. Sementara sosok tubuh yang dipegang tak bisa menyahut. Kondisinya sudah sangat lemah. Lalu muncul sosok lain di jendela itu. Bulan. Ia berteriak keras. “Kalau kalian ingin ketiga anak nakal ini selamat, turuti semua kata-kataku!”

 

Rombongan penduduk kaki Pegunungan Meratus itu tampak sangat gusar. Mereka ingin mendobrak masuk. Pemimpin rombongan mereka, polisi muda bernama Yansen itu menyabarkan dan memperingatkan mereka, bahwa tindakan mereka yang sembrono tanpa dipikir bisa membahayakan nyawa Galih, Rudi dan Madi. Akhirnya semua kegusaran itu cuma menjadi gerutuan-gerutuan kecil. Tapi mereka menyadari bahwa apa yang dikatakan Yansen itu benar adanya. Semua berusaha menahan diri.

 

“Apa yang kau inginkan, Bulan? Bukankah Bulan namamu? Kamu anak mendiang Pak Ramdani bukan?”

“Ya, aku Bulan. Aku masih hidup. Pertama aku ingin semua senjata-senjata itu dilucuti!”

“Bagaimana mungkin, kamu bisa saja berbuat curang. Kamu bisa tetap membunuh ketiga remaja itu, bahkan kamu bisa membunuh kami semua jika kami menyerahkan senjata-senjata kami.” Polisi muda itu berteriak. Orang-orang anggota rombongan itu manggut-manggut.

“Hei, kalian tak punya pilihan lain bukan?”

“Benar, kami memang tak punya pilihan. Tapi ini tidak adil!”

“Tidak adil? Memangnya keadilan apa yang telah kuperoleh selama sepuluh tahun ini?”

“Okey, baik kami akan turuti. Tapi, kami ingin yakin bahwa ketiga remaja yang berada di tanganmu itu dalam kondisi selamat. Tunjukkan!” Yansen sepertinya mencoba bernegosiasi dengan Bulan. Gadis itu kemudian mengangguk. Dia seperti memberi isyarat kepada sosok mengerikan di sampingnya.

 

Sosok berwajah menyeramkan kemudian menyeret satu per satu remaja tanggung sandera mereka secara bergantian ke depan jendela. Setelah Rudi, Galih, lalu Madi ditunjukkan pada semua orang-orang yang berdiri tegang di bawah pohon bungur besar itu. Ketiga orang tua anak-anak itu tampak sangat gelisah.

“Kalian lihat, semua masih bernyawa. Mereka baik-baik saja, walau sedikit lemah dan luka lecet-lecet. Tadi kami sedikit berpesta. Sekarang maju satu-satu dan lemparkan senjata-senjata kalian ke arah tembok rumah ini. Jangan berbuat macam-macam. Nyawa ketiga remaja bodoh ini sepenuhnya tergantung pada kesungguhan kalian. Kalau ada yang macam-macam, tanggung sendiri akibatnya.”

 

Rombongan orang-orang itu kemudian saling berbicara. Ada mau menuruti kehendak Bulan, ada juga yang berkeras tidak. Tapi akhirnya semuanya bersedia melucuti senjata. Pertimbangan bahwa nyawa ketiga remaja itu lebih utama. Sesuai permintaan Bulan mereka berbaris dan melemparkan senjata ke tembok rumah di bawah jendela yang tadi malam di bobol Madi dan kawan-kawan. Satu per satu, hingga semuanya tak bersenjata lagi.

 

Juragan Bani yang sedari tadi hanya berdiam diri kini mulai berteriak.

“Sekarang, lepaskan anakku hai tukang tenung. Setelah mendiang ibumu memelihara berbagai macam ular dan kadal sebagai hewan untuk teluh, kini kau rupanya telah bersekutu dengan iblis itu.” Juragan Bani menunjuk makhluk mengerikan di dekat Bulan yang sedang memegangi Madi anaknya.

 

“Ho…ho…ho! Rupanya itu kamu Juragan Bani. Lama tak bersua hah! Sepuluh tahun yang lalu, kau tampar pipi seorang gadis kecil berumur tujuh tahun tanpa rasa iba. Kau paksa aku, gadis kecil itu, menyaksikan semua kekejaman terhadap orang tuaku. Semua yang berpangkal pada fitnah busukmu! Sekarang kau mencoba trik lama itu! Ha..ha…ha……”

“Oh, memang begitu kenyataannya bukan? Siapa lagi makhluk mengerikan itu bila bukan setan peliharaanmu!”

“Dia ayahku! Dia Pak Ramdani. Dia lelaki yang kalian guyur dengan larutan asam sulfat sepuluh tahun yang lalu. Dia bukan monster atau iblis. Iblis itu kamu, he Juragan Bani!”

Juragan Bani terdiam. Orang-orang juga terkejut mendengar penuturan gadis cantik di depan jendela itu.

 

“Sekarang akuilah semua fitnahmu, atau aku ledakkan kepala anakmu! Ceritakan tentang pertemananmu dengan ayahku sepuluh tahun yang lalu.”

“Pertemanan apa? Aku tak pernah berteman dengan seorang lelaki suami wanita seorang tukang tenung!”

 

Bulan marah sekali. Sejenak dia lenyap dari pandangan orang-orang di bawah pohon bungur itu. Ia kembali lagi lalu melemparkan bungkusan plastik berisi sesuatu ke arah orang-orang itu. Kerumunan orang-orang itu terkesiap ketika benda-benda di dalam bungkusan itu jatuh berhamburan hanya sekitar satu meter di depan Juragan Bani. Beberapa potongan tubuh seperti jari-jemari, jempol kaki, dan telinga belepotan darah. Masih segar, walaupun beberapa tampak mulai mengering. Semua bergidik ngeri. Semua tak tahu, potongan tubuh siapa itu persisnya. Tapi tentu potongan tubuh ketiga remaja yang tersandera itu. Pantas tubuh dan kepala mereka tadi tampak berlepotan darah.

 

“Katakan yang sebenarnya hei Juragan yang kehilangan kekuasaan! Katakan yang sebenarnya sekarang hei Juragan yang telah kehilangan pengaruh. Sekarang kau bukan siapa-siapa! Ini bukan sepuluh tahun yang lalu, saat kau dengan mudah bisa meracuni pikiran orang-orang kaki Pegunungan Meratus yang bodoh itu. Bukan! Ini saatnya kebenaran terungkap! Jelaskan hubungan pertemanmu dengan ayahku, atau kuledakkan kepala anak manja ini!”

 

Dengan terpatah-patah, akhirnya Juragan Bani mulai bercerita. Di bawah ancaman terhadap Madi, ia terpaksa mengungkapkan semuanya. Saat suaranya mulai pelan, Bulan memintanya untuk kembali berteriak. Ia meminta lelaki yang dulu punya kuasa itu tetap bercerita dengan suara keras. Ia menjelaskan bagaimana pertemanannya dengan Juragan Bani terkait bisnis lateks, lalu muncul rasa iri karena Pak Ramdani mulai membuka perkebunan karet dengan pemeliharaan yang lebih intensif. Ia mulai membenci ketika sebagian pendduduk kaki Pegunungan Meratus mulai beralih menjadi pekerja di kebun karet Pak Ramdani. Ia takut bisnis dan pengaruhnya akan runtuh oleh Pak Ramdani. Bulan juga membentak lelaki itu untuk menceritakan fitnahnya terhadap ibunya. Fitnah bahwa ibunya adalah seorang wanita tukang tenung, hanya karena ia mempunyai hobi unik memelihara reptil seperti aneka ular dan kadal. Juragan Bani terpaksa mengakui semuanya. Ia mengakui bahwa ia sangat menyesal. Ia meminta maaf kepada Bulan. Lelaki mantan penguasa non-formal daerah di kaki Pegungungan Meratus itu bertekuk lutut.

 

Bulan tersenyum puas. Semua telah terungkap. Bulan juga bisa melihat betapa marahnya orang-orang kaki Pegunungan Meratus itu pada Juragan Bani. Mereka sadar bahwa dulu mereka ditipu dan diperalat oleh Juragan Bani. Akhirnya, seorang polisi anak buah Yansen, segera memborgol Juragan Bani. Lelaki itu pasrah saja. Ia hanya memelas kepada Bulan agar melepaskan remaja-remaja yang disanderanya. Bulan menyanggupi.

 

***

 

Bulan keluar lewat salah satu jendela yang sudah dipersiapkannya. Ia keluar bersama ketiga sandera yang terikat tali. Keadaan mereka sungguh mengenaskan. Berjalan terhuyung-huyung tak bertenaga dibawah todongan sebuah senapan laras panjang Bulan. Sementara Pak Ramdani masih berjaga-jaga di jendela lantai atas, memperingatkan setiap orang yang mencoba bergerak. Ia telah menembak seorang polisi yang mencoba menyelinap. Bulan dan Pak Ramdani memang tak main-main. Kini semua orang itu tak berani macam-macam. Bulan kemudian menjadikan Madi sebagai tameng. Ia menunggu ayahnya turun dari lantai atas dan keluar lewat jendela tersebut. Setelah berada di luar, Pak Ramdani menggunakan Rudi, Galih dan Madi untuk ditukar dengan pimpinan rombongan, polisi muda itu, Yansen. Ketiga orang tua remaja tanggung itu memeluk anak mereka masing-masing. Ketiganya selamat walaupun kondisi sungguh mengenaskan.

 

Di bawah todongan senjata, Yansen digiring mendekati kumpulan motor yang diparkir di depan pintu gerbang. Ia dipaksa Bulan membonceng Pak Ramdani yang terus menempelkan moncong senapan di kepalanya, sementara Bulan menaiki motor yang lain. Beberapa orang anak buah Yansen yang mencoba mengejar terhenti langkahnya, setelah Bulan menembakkan senapan ke arah mereka. Sesaat saja, motor-motor itu telah melaju kencang di bawah tajuk-tajuk pohon karet yang sudah mulai kehilangan rimbun hijaunya.

 

***

 

Kedua motor itu terus bermanuver di sela-sela pohon karet untuk menghindari semak belukar yang kadang-kadang tumbuh rapat, karena beberapa pohon karet tumbang dan memungkinkan tanaman semak itu tumbuh lebih baik. Mereka sudah cukup jauh dari rumah besar di tengah perkebunan karet itu. Yansen, polisi muda dan gagah itu, kemudian mengerem laju motornya dan berhenti di dekat sebuah pohon karet lain yang juga tumbang—melapuk. Bulan ikut mengerem dan berhenti. Ia tersenyum kepada pemuda gagah yang sepuluh tahun lebih tua darinya itu.

 

“Terimakasih Kak Yansen.” Kata Bulan kepada sang polisi.

“Ya, sekarang semuanya telah selesai. Kuharap kau sudah bisa melupakan dan memaafkan semuanya. Jangan lagi bersikeras ingin tinggal di perkebunan ini. Sekarang pukullah aku keras-keras. Sampai bertemu di perkampungan Dayak secepatnya. Aku ingin kau dan Pak Ramdani tinggal bersama ayah.” Katanya penuh bahagia.

Bulan mengangguk sembari tersenyum. Ia akan kembali ke rumah Amang Dantiang, ahli obat-obatan dan kepala suku Dayak yang telah menyelamatkannya dan ayahnya.

 

Bulan melangkah mendekati Yansen, polisi gagah itu. Sebuah pukulan telak di bagian bawah dagu telah menjatuhkan Yansen. Lelaki yang dicintainya itu. Lelaki yang selalu menghibur dan menemaninya saat tinggal di perkampungan Dayak, nun jauh di balik puncak-puncak Meratus di sebelah tenggara perkebunan ini. Yansen jatuh pingsan dengan sebuah senyuman. Bulan dan Pak Ramdani menaiki motor-motor itu kembali. Keduanya menghidupkan mesin, dan kemudian melaju di sisa-sisa keteduhan daun-daun karet terakhir. Beberapa helai dauh kuning jatuh berderai dari tangkai-tangkainya yang labil setelah tertiup semilir angin lereng Pegunungan Meratus, mengiringi kepergian mereka. Salah satunya persis menimpa sebuah bordiran bertuliskan sebuah nama di atas saku baju seragam polisi itu. Bordiran itu bertuliskan: YANSEN DANTIANG.

 

The End.

  1. taliguci
    Juli 10, 2008 pukul 9:54 pm

    Akhirnya muncul juga seri ke-4 .. Seru..!!
    Banyak pesan moral yang bisa diambil. Mungkin salah satunya adalah “Jangan terlalu percaya pada wanita”
    kekekeke….

    *punya pengalaman dengan yang satu itu pak :)*

    ===============
    to taliguci

    Untungnya belum pernah😆

  2. Juli 10, 2008 pukul 10:54 pm

    bener2 cerita yang seru, menarik, dan menegangkan, pak suhadi. cerbung ini kayaknya sudah layak diterbitkan menjadi sebuah novelet, pak. mungkin hanya tinggal edit sana-sini. ceritanya sangat menghibur, tapi tak terjebak pada kecengengan. salut buat pak suhadi.

    ==============
    to Pak Sawali Tuhutseya

    Wah, makasih Pak, berkat Bapak saya jadi makin rajin nih.. Bapak guru yang hebat, pandai ngasih feedback dan reward pada muridnya yang dodol ini. He..he..

  3. Juli 10, 2008 pukul 11:30 pm

    Ya ya … pat IV. Siiiip. Eh … kalau tukang tenung ada ngak ya he he

    ==========
    to Pak Ersis Warmansyah Abbas

    Maksih Pak.
    Tukang tenung, kayaknya emang ada. Kitab suci kan menyebutnya juga
    Tapi mungkin kita jangan terlalu kepikiran ke situ truss suka suozon sama kesialan atau penyakit yang datang. Saya punya kenalan yang selalu menghubungkan sesuatu dengan hal-hal macam itu. Dua hari ini saya nonton tv7, ada wanita yang mengaku ditenung, tapi kok anehnya saya kurang yakin kebenarannya. Jangan-jangan cuma cari sensasi dan duit belaka. Ah entahlah.

  4. Juli 11, 2008 pukul 4:06 am

    Ya-ya-ya, aku sudah save. Bukan soal akses internetnya, tapi untuk disimpan dalam satu folder khusus.

    Akan kunikmati sembari menyeruput kopi…🙂

    ========
    to Daniel Mahendra

    Waw! Seorang Daniel Mahendra menyimpan tulisan saya di folder khusus, thanks Pal!
    Saya sedang berusaha keras untuk tulisan “motivasi” itu Mas Daniel
    Nanti saya mo kirim e-mail, tapi kalau udah merasa siap. Sekarang belum, takutnya mengecewakan saja.

  5. Juli 11, 2008 pukul 9:12 am

    *melirik komen0komen di atas*
    wah, keduluan sama para sesepuh blog.
    biarin deh, gpp.
    saya sekalian mau make a confession nih, pak.
    seperti daniel, saya juga save karya-karya pak suhadi di satu folder khusus.
    ntar kalau tiba masanya mau saya tawarkan ke penerbit atas nama saya.
    yuk!yuk!yuk!👿

  6. Juli 11, 2008 pukul 9:49 am

    wah… seru.
    tapi horor banget adegan mutilasinya.
    bikin saya bergairah (sadisme mode: on, terpengaruh si madi)😳
    ditunggu cerita-cerita lainnya.
    sementara itu, jangan bosan posting berita-berita lain in between ya, pak?

    btw, kalimat yang ini:
    >> Mereka adalah aparat kepolisian. Memimpin rombongan itu bukan Juragan Ramdani, tapi seorang muda dan tampan bernama Yansen.

    yang dimaksud dengan juragan ramdani itu adalah juragan bani, bukan pak?

  7. Juli 11, 2008 pukul 11:11 am

    To Marshmallow.

    Saya malah bangga kok kalau tulisan saya di save sama kamu, atau siapa saja.
    Apalagi dikumpulin di folder khusus.

    Jangan-jangan dokter yang satu ini juga ngajar ya?
    kok kayaknya mau bikin portofolio buat muridnya yang satu ini. He..he…

  8. Juli 11, 2008 pukul 11:13 am

    To Marshmallow

    Oh ya betul, thanks for your correction. Harusnya memang Juragan Bani.
    Ntar saya betulin..

  9. Juli 11, 2008 pukul 2:25 pm

    to pak suhadi, sebelum di googling biar saya kasih tau saja pak, uni marshmallow selain dokter juga dosen pak. hehehe,
    ntar ditipu sama om google.

  10. suhadinet
    Juli 11, 2008 pukul 2:46 pm

    To Catra.. Waw! Bener dugaanku Cat, dari caranya ngasi masukan, tergambar kalau marshmallow itu mengerti pedagogik n andragogik. Pantes…
    Pasti dosen fav di kampusnya.

  11. Juli 11, 2008 pukul 3:16 pm

    Hwaa gak jauh meleset ma dugaan sya.:D
    Happy ending…. yess.. critanya wuff bikin pnasaran…Dibikin sinetron oke juga ya…
    Ditunggu ceritra2 berikutnya

  12. Juli 11, 2008 pukul 3:37 pm

    Ini crita horor kedua yang ku temui disini
    Ceritra berikiutnya kira2 masih horor gak ya….

    ===================
    to Rita

    Selamat deh Bu Rita, dugaannya benar. He..he…
    Selamat menunggu cerita lainnya

  13. Juli 11, 2008 pukul 8:12 pm

    salam kenal…

    saya pernah tinggal lama di amuntai…🙂

  14. Juli 11, 2008 pukul 10:34 pm

    seppp… crita baru lagi ditunggu…

  15. Juli 12, 2008 pukul 9:42 am

    Ngak The End ngeblog kan? Mana postingan barunya Bos? Ditunggu ya.

  16. Juli 12, 2008 pukul 2:50 pm

    saya dari lahir di Amuntai sampai SMA. terakhir tinggal di Alamatan, Amuntai Tengah.

    Saya muridnya Pa Humam, guru SMU 1 Amuntai.

    Baru pas kuliah sampai sekarang di Banjarbaru…

    Asli Danau Panggang Pa?

  17. Juli 12, 2008 pukul 5:35 pm

    Wah tamattttt….tapi kejam adegan mutilasinya…ditunggu cerita berikutnya😀

  18. suhadinet
    Juli 12, 2008 pukul 5:51 pm

    To Pak Ersis, insyaAllah gak brenti. Ini saya lagi pelatihan bintek dan peningktn profesionalisme guru di BTKPPKB guntung payung dari tgl 12-15 juli.

  19. suhadinet
    Juli 12, 2008 pukul 6:59 pm

    To Bakhri… Asli alabio, tp skul kt sama sman 1, pa humam guru kimia fav saya, dulu juga sempat jadi wali kelas sy. Sekarang beliau kepsek di sana. Tp kalau ndak salah, tahun depan mo pensiun.

  20. Juli 13, 2008 pukul 5:33 am

    Wew,,akhirnya cerita yang happy.Well, mantap pak.Tapi coba di dramatisir, endingnya jangan gitu pak..ke..ke..ke..

    =============
    to Iis Sugianti

    Awalnya sih niatnya, mo dikasih drama, tapi pada dasarnya saya gak melo dan romatis, jadi suseeh. Hee…he..he.. Bikinnya.

  21. Juli 13, 2008 pukul 9:24 am

    pak! pak polisi! ada kasus pencemaran nama baik dan pemalsuan identitas nih, pak. masak saya dituduh dokter merangkap dosen.
    ini nih pak orangnya!
    *nunjuk-nunjuk pak suhadi dan catra*

    ===============
    to Marshmallow

    *Sembunyi di belakang Catra, pasang tampang bego

  22. Juli 13, 2008 pukul 1:02 pm

    Ouw, sedang ada acara hingga 15 Juli rupanya. Pantas, setiap ke mari belum ada suguhan baru nih…🙂

    Semoga sukses pelatihannya, Pak.

    =================
    to Daniel Mahendra

    Makasih coey

  23. Juli 14, 2008 pukul 12:56 pm

    Pak, ada beberapa pertanyaan yang mengganjal nih:

    1.Bagaimana dengan nasib si Amat setelah melarikan diri?

    2.Apakah mayat tergantung yang ditemuinya itu merupakan mayat Ny. Ramdani atau hanya halusinasi saja? Mungkin halusinasi ya, Pak? Kan mustinya mayatnya udah dikubur keluarga yang mencintainya. Kalaupun tidak, pastinya selama sepuluh tahun sudah membusuk ya?

    3.Bagaimana sebenarnya nasib Madi, penganiayaan bagaimana yang dialaminya? Mustinya yang paling parah dia tuh, kan dia yang paling jahat hatinya.

    Happy seminar!

    =================
    to Marshmallow

    1. Amat selamat, soale berhasil melarikan diri, mangkanya orang-orang kaki pegunungan meratus tau kalau Madi, Galih, dan Rudi ada di rumah dalam perkebunan karet itu. Ini harausnya saya masukkan kemarin biar sedikit, tapi terlupa. Wa..kak..kak..ka…

    2. Jawaban pertanyaan ini diserahkan pada pembaca. Bisa halusinasi, soalnya Madi udah cerita banyak tentang ibunya Bulan dan pohon bungur itu, jadi karena halusinasi masuk akal. Bisa juga hantu, soalnya kan ibunya Bulan mati penasaran, gak rela gitu. He..he… Btw, bisa dibikin sekuel ya, dengan tokoh hantu ibunya Bulan. Bayangkan aja ada serombongan mahasiswa meneliti suksesi ekologi di perkebunan karet itu, terus kehujanan dan terperangkap di rumah berhantu. Atau ada lagi segerombolan remaja jahil lain macam genk-nya Madi, Hii..pasti seram kisahnya.

    3. Harusnya Madi memang paling parah dimutilasinya, paling dikejamin. Pastesnya gitu kan? Permasalahan ada pada penulis, he..he.. takut dibilang gak mutu, soale kalau terlalu mengekspos kekejaman, terus ada yang terinspirasi, wah bisa gawat juga😆🙄

    Thanks a lot

  24. Juli 14, 2008 pukul 5:14 pm

    to marshmallow: 10 tahun bukan hanya membusuk, mungkin dah tinggal tulang bukan dok?

    =============
    to 1nd1r4

    Makasih udah bantu njawab. Gila Marshmallow, soalnya susah banget. He..he… 3 item lagi🙄

    Saya sebenarnya dulu itu mau masukin juga adegan bagaimana Pak Ramdani di tolong oleh Amang Dantiang (kepala suku Dayak, ayahnya Yansen Dantiang), trus gimana prosesi penguburan ibunya Bulan. Tapi takut ceritanya jadi kepanjangan, trus kawan-kawan males ngikutinnya. Takut gak laku. He..he..

  25. Juli 18, 2008 pukul 6:41 pm

    salut deh utk pak suhadi..
    cerbung-nya keren bgt.
    bisa nyaingi laskar pelangi neh, kekekeke..
    byk pelajaran yg bisa dicontoh dari cerita ini.
    thx

    =================
    to eNPe

    Makasih pujiannya. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Paling gak buat hiburan. wekek..kek..ke..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: