Beranda > cerpen > Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 3)

Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 3)


Author: Suhadi

 

Bila Anda tergesa-gesa tapi berkenan untuk membaca, silakan di save lebih dulu. Posting ini cukup panjang.

 

Ada baiknya Anda baca secara berurut dari Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 1), sebelum membaca Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 3) ini

 

Kini Madi sudah berada di depan pintu gerbang. Cahaya sepotong bulan di langit cerah berbintang sangat membantu pandangannya. Ia tak perlu menyalakan senter kecil. Tak seperti saat tadi mereka menyusuri jalan setapak berbatu di dalam perkebunan.

 

Besi-besi penyusun gerbang itu sudah berkarat. Walaupun tak terkuak lebar, pintu gerbang yang sedikit terbuka itu masih memungkinkan orang untuk keluar masuk halaman dengan mudah. Hampir seluruh bagian gerbang telah dililit oleh tanaman liar yang merambat. Pintu gerbang itu bersambungan dengan pagar yang juga dari dari jeruji besi. Tinggi pagar dan pintu gerbang lebih kurang dua kali tinggi orang berdiri. Keadaan pagar sama seperti pintu gerbang, penuh tanaman liar yang merambat. Seingat Madi pagar tinggi itu mengelilingi seluruh halaman, termasuk rumah-rumah petak bekas tempat tinggal pegawai perkebunan dan gudang di bagian belakang rumah. Sebenarnya ada dua pintu gerbang. Di depan ini dan di bagian belakang.

 

Rumah besar itu benar-benar tampak gelap. Balkon besar yang terdapat di atas teras juga gelap. Hanya pantulan cahaya bulan yang memperjelas bentuk pilar-pilar megah penyangganya yang mungkin terbuat dari pualam. Jendela-jendela kaca di lantai atas sama sekali tak menyiratkan ada kehidupan di dalamnya. Bingkai kusennya seakan membentuk figura. Bagaikan pajangan lukisan-lukisan malam di atas kanvas hitam pada sebuah pameran. Gadis yang pintar dan sangat hati-hati, pikir Madi. Siapapun tentu takkan menyangka bila ada orang yang menghuni rumah besar itu. Kesan angker dan kisah mengerikan yang membalutnya takkan membuat orang berani dekat-dekat rumah itu. Apalagi memasukinya. Diedarkannya pandangan ke seluruh bagian halaman. Penuh semak belukar lebat dan tinggi. Tak ada siapa-siapa.

 

Bunyi jengkrik dan tonggeret masih terdengar, walaupun sesekali berhenti. Madi memberi isyarat dengan gerakan tangan agar Rudi, Amat, dan Galih bergerak maju. Ketiganya mendekat.

 

“Bagaimana menurutmu, Madi?”

“Aman. Kita masuki halaman. Mungkin Bulan sudah tertidur. Tapi ingat! Tetap hati-hati dan jangan berisik!”

“Pasti, Bos!” Sahut Amat.

Rudi mengangguk.

Galih kembali menggeser letak kacamata minusnya yang makin terasa menekan pelipis. Ujung jari tangan dan kakinya mulai terasa dingin. Hatinya semakin merasa tidak enak.

 

Sosok mengerikan dengan mata merahnya terus membuntuti. Ia mencoba mencoba menguping pembicaraan keempat remaja itu. Saat semua sudah memasuki halaman, ia mengekor sebentar. Tapi kemudian segera mengambil arah lain. Bergerak cepat menerobos, hilang di balik rapatnya semak belukar halaman.

 

Keempat remaja tanggung itu terus mengendap-endap. Sesekali berbisik. Madi ingin memutari dulu rumah besar itu. Ia ingin melihat seluruh bangunan. Termasuk rumah-rumah petak pekerja karet dan gudang. Ketiga remaja tanggung lainnya hanya mengiyakan. Madi memimpin ketiganya untuk berjalan sambil merapatkan tubuh ke dinding rumah. Beriringan. Mereka mulai dari samping kanan rumah. Sama sekali tak ada yang istimewa di bagian ini. Jendela kaca yang lebar berderet setinggi pinggang. Tak ada satupun dari mereka yang mencoba menyorotkan senter ke arah dalam rumah. Yang jelas, bagian dalam rumah itu tampak sangat gelap.

 

Mereka terus beriringan hingga ke halaman belakang, dan sampai di bagian gudang. Bangungan kayu, gudang karet beratap seng yang cukup besar itu sudah hampir roboh. Condong ke samping kanan. Keempat remaja tanggung itu mendekati dan masuk. Kedua belah daun pintu gudang sudah lepas. Lapuk dimakan tempias hujan dan rayap. Suasana di dalam gudang gelap sekali. Sampai-sampai jari tangan mereka sendiri tak tampak. Dengan menggunakan senter kecil, keempatnya mengecek seluruh sudut. Tak seluruh bagian gudang dapat teramati sekaligus. Senter itu di arahkan ke sana-kemari. Gundukan balok-balok lateks beku menghitam bertebaran di mana-mana. Tak beraturan. Aromanya busuk sekali. Khas bau karet. Sebuah mobil jeep double gardan dan sebuah pick up terperangkap di dalam. Di antara  gundukan-gundukan balok karet. Beberapa jatuhan kayu bangunan tampak di atas kedua mobil. Sepertinya berasal dari bagian atap yang reot dan melapuk.

 

“Kita cek mobil-mobil itu!” Kata Madi kepada ketiga temannya.

Mereka kemudian menaiki gundukan-gundukan balok karet. Galih hampir terjatuh, karena gundukan itu labil untuk dipijak. Senternya terjatuh ke dalam sela-sela tumpukan balok karet.

“Aduh, Madi, senterku jatuh.”

“Dasar tolol kau, Galihl!”

“Maaf, Madi. Aku tak sengaja.”

 “Aku sudah bilang, hati-hati!”

“Aku tak sengaja!”

Madi memandang tajam Galih sembari menyorotkan cahaya senter ke wajah remaja berkaca mata itu. Sekedar menunjukkan bahwa ia marah. Rudi dan Amat kemudian mengarahkan cahaya senter mereka untuk mencari di mana senter Galih. Mereka juga membolak-balik beberapa balok karet yang berat. Tapi mereka tak menemukannya.

“Ya sudah, lupakan senter itu. Sekarang lebih hati-hati!” kata Madi dengan nada suara sangat sangat kesal. Lalu lanjutnya lagi, “Sekarang kita cek mobil-mobil itu!”

 

Mereka mendekati mobil dan mengamati. Menyorotkan cahaya senter ke setiap bagian.

“Pick up ini sudah tak berfungsi. Karat benar-benar telah membunuhnya.” Amat mengguman sambil menyorotkan cahaya senter ke seluruh bagian mobil. Madi mengangguk, sependapat.

Bagaimana dengan jeep itu Rud?”

“Sama. Tak mungkin berfungsi lagi, Madi.”

 

Puas mengamati kedua mobil dan isi gudang, keempat remaja tanggung itu lalu keluar. Setelah itu mereka mengamati sebentar kondisi rumah-rumah petak bekas tempat tinggal pekerja perkebunan yang kondisinya jauh lebih buruk. Lalu melanjutkan menyusuri halaman di bagian kiri rumah besar.

 

Di bagian halaman sebelah kiri inilah tragedi penggantungan Si Wanita Tukang Tenung itu terjadi. Di bagian halaman kiri ini juga Pak Ramdani diguyur dengan larutan asam sulfat oleh masa ke sekujur tubuh. Dari kepala hingga kaki. Madi berbisik-bisik sambil beberapa kali menunjuk ke arah pohon bungur besar. Menjelaskan di mana Si Wanita Tukang Tenung digantung. Hampir tak ada yang berubah dengan pohon bungur besar itu. Madi juga menunjukkan di mana Pak Ramdani disiram larutan asam sulfat oleh penduduk kaki Pegunungan Meratus. Ketiga kawannya bisa membayangkan kengerian itu.

 

“Oke, turnya sudah selesai. Sekarang kita mulai membobol salah satu jendela agar bisa masuk ke dalam!” kata Madi setengah berbisik sembari tersenyum.

Ketiga kawannya mengangguk.

Mereka lalu mengeluarkan beberapa alat kecil berupa besi pencongkel dan obeng. Keempatnya kemudian berpencar, mencoba membuka beberapa jendela yang berderet di bagian samping kiri rumah. Kusen-kusen jendela itu lebarnya lebih kurang  satu meter. Semuanya terkunci dari dalam. Susah sekali dibuka. Rudi, Amat, dan Galih sudah angkat bahu. Menyerah.

 

Madi tak putus asa. Ia terus mengendap-endap memeriksa setiap jendela. Sebuah jendela yang kusennya agak lapuk berhasil ditemukan. Berbekal obeng dan besi pencongkel, ia sukses. Jendela itu bisa diangkat perlahan. Engsel pada di bagian atas kusen sedikit berderit, saat daun jendela terkuak. Tapi tak terlalu keras. Madi memberi isyarat lewat sekilat sorot senter pada ketiga temannya. Rudi, Amat, dan Galih segera mengendap-endap menuju Madi.

 

“Berhasil?” Tanya Rudi pada Madi.

“Ya, untung sedikit agak lapuk kayunya. Aku bisa korek gerendelnya dari luar. Ayo kita masuk!”

Ketiga remaja lainnya mengangguk.

Madi meminta Amat memegangi kusen agar tetap terbuka sekedar muat untuk meloloskan tubuh mereka masuk ke dalam rumah. Madi naik duluan, kemudian Rudi dan Galih.

 

Sekarang tinggal Amat yang berada di luar rumah. Galih mendorong daun jendela agar Amat bisa meloncat masuk. Saat Amat mencoba meloncat, sebuah tangan memegang kakinya dengan kuat. Ia berteriak karena teramat kaget. Sebuah sosok mengerikan telah menangkapnya. Matanya merah bagaikan biji saga. Kepalanya gundul, dengan kulit berjonjot-jonjot kasar. Hanya beberapa helai rambut tampak tumbuh di kulit menghitam itu. Kulit berjonjot-jonjot kasar itu tak cuma ada pada kepala, tapi juga leher dan tangannya yang memegangi kaki Amat. Wajahnya jauh lebih mengerikan. Sosok itu hampir tak punya hidung. Hanya tulang hidung bagian atas yang tampak menonjol di tengah-tengah wajah. Sementara itu barisan geligi atas dan bawah tampak sangat jelas. Dia tak punya bibir. Wajahnya menghitam dan lebih seperti tengkorak hidup. Madi, Rudi, dan Galih mencoba menarik tubuh Amat. Tapi kekuatan mereka serasa lenyap karena takjub dengan sosok mengerikan itu. Akhirnya Amat terlepas dari pegangan ketiganya.

 

Amat demikian ketakutannya. Monster itu telah memegang sebelah kakinya. Ia berontak, menendang-nendang. Amat berhasil melepaskan kaki dan bangkit berlari. Ia menerjang semak belukar. Tak ada yang bisa dipikirnya, kecuali berlari. Beberapa kali kakinya tersangkut semak belukar. Jatuh bergulingan. Ia bangkit lagi. Monster itu mengejarnya. Tapi sepertinya kehilangan jejak karena rapatnya semak belukar. Amat mengambil napas. Memburu. Bunyi napasnya terdengar menderu-deru telinganya sendiri. Ia terus berlari. Sesekali menengok ke belakang. Takut monster mengerikan itu menemukannya. Saat itulah, kepalanya serasa terantuk sesuatu. Dingin, menggantung. Detak jantungnya semakin berpacu. Dan tatkala ditolehkannya wajah ke benda yang tergantung itu, ia berteriak melolong sedemikian kerasnya. Sepasang kaki dari tubuh perempuan yang mati tercekik-tergantung di atas dahan pohon bungur persis beberapa sentimeter di depan matanya. Amat berlari, jatuh, bangkit lagi, dan terus berlari di dalam remang malam bercahayakan sepotong bulan tanggal delapan. Tak perduli onak duri menggores seluruh wajah dan tubuhnya.

 

***

 

Ketiga remaja yang mencoba menarik Amat masuk ke dalam rumah besar itu jatuh terjengkang. Beberapa saat, setelah ketiga remaja itu terduduk lemas di atas lantai dingin berdebu, terdengar teriakan Amat. Merindingkan bulu roma.

 

“Makhluk apa itu tadi. Wajahnya mengerikan sekali.” Galih bergidik ketakutan setengah mati.

“Dia apakan Amat, sampai teriakannya sedemikian keras?” Tanya Rudi entah pada siapa. Mungkin dirinya sendiri.

“Madi, kita akan mati di sini Madi! Dari semula aku sudah punya perasaan tidak enak. Firasat buruk!”

“Sudah, hentikan ocehanmu, tolol! Jangan menambah buruk situasi!” Madi memandang Galih dengan penuh amarah.

“Oh, Tuhan, kenapa aku tidak nonton bola saja tadi. Tapi malah ikut dengan rencana gila ini.” Galih masih merutuki dirinya. Ia gemetar hebat.

“Diam Galih! Atau aku ledakkan kepalamu?” Madi membentak lagi. Dari nada suaranya jelas ia tak main-main.

Rudi tak tahu harus berkata apa. Ia sama takutnya dengan Galih. Gemetar.

 

Saat mereka mulai bertengkar, terdengar bunyi orang memukul-mukul jendela dengan palu.

Madi yang tersadar segera melompat berdiri, mendorong daun jendela. Tapi tak bisa. Tak bergerak sedikitpun. Ia akhirnya menembakkan senapannya. Kaca jendela pecah berhamburan. Tak ada siapa-siapa lagi di luar.

“Oh, sial. Monster itu mengurung kita. Ia memalang-malang jendela dari luar. Kuat dan rapat sekali. Bagaimana ini Madi.” Pekik Rudi yang menjadi panik.

 

Dengan suara bergetar, Madi memberi perintah kepada kedua kawannya.“Pegang erat-erat senapan kalian! Bila ada sesuatu yang mencurigkan, tembak saja! Kita tidak main-main lagi sekarang. Kita cek jendela lain, pasti bisa dibuka dari dalam. Mudah-mudahan monster itu tak melihat saat kita meloloskan diri dari rumah ini.”

 

Ketiganya lalu mulai bergerak beriringan. Madi dan Rudi menyorotkan senter di dalam gelap. Galih hanya bisa mengikuti Rudi dari belakang. Ia tak lagi punya senter karena telah hilang waktu memeriksa gudang. Mereka ternyata ada di sebuah kamar tidur. Perabotan di situ benar-benar telah penuh debu dan sarang laba-laba. Sprei tempat tidur dan kasur sudah terkoyak-koyak tak karuan. Perlahan Rudi membuka pintu, keluar dari ruangan pengap dan gelap itu. Ketiga berjalan sangat hati-hati. Senjata berburu di angkat dan telah dikokang. Siap tembak.

 

Mereka masuk ke sebuah ruang yang lebih besar. Ruang tengah, tampaknya. Mereka terus mengendap-endap. Beberapa kali Galih menabrak sesuatu karena gelap. Menurut Madi mereka harus menemukan jendela atau pintu depan. Dari sana mereka akan bisa keluar dari rumah. Kalau bisa tanpa bertemu monster itu. Keadaan ruang tengah yang besar itu ternyata tak jauh beda dengan kondisi kamar tidur tadi. Sama-sama gelap, pengap dan berdebu. Sudut-sudut ruangan dan meubeler penuh jaring laba-laba. Mereka terus bergerak, hingga akhirnya bisa juga menemukan ruang tamu. Ada banyak jendela di situ. Tapi alangkah kagetnya mereka, ketika tahu bahwa jendela-jendela dan pintu itu takkan mungkin bisa mereka buka. Semuanya telah dirantai dengan besi. Dikunci mati.

 

Rudi dan Galih semakin ciut hati. Madi berusaha menaklukan ketegangannya. Ia berhasil. Kenikmatan tiada tara dari ketegangan itu kini mulai dirasakannya. Persis sepuluh tahun yang lalu. Saat ia menyaksikan ketegangan di bawah pohon bungur besar.

 

“Sekarang kita periksa seluruh bagian rumah besar ini!”

“Ya, Madi.” Jawab Rudi.

Mereka bergerak bersisian. Setiap ruangan di lantai bawah dimasuki. Keadaannya sama, semua jendela dirantai dari dalam. Mereka lalu bergerak ke lantai atas. Menaiki anak-anak tangga dengan perlahan-lahan. Selalu beriringan. Madi di depan, Rudi, lalu Galih di belakangnya. Sampai di lantai atas suasananya cukup nyaman. Lantai sepertinya bersih. Begitu juga perabotan. Tak terlalu pengap. Jelas rumah besar ini ada penghuninya. Madi semakin yakin Bulan tinggal disini. Tapi mengapa ada monster itu? Makhluk apakah itu? Hantu-kah? Hmm, pasti bukan. Madi mencoba berpikir. Dia sudah punya dugaan. Tapi tak terlalu yakin. Bisa saja dugaannya salah.

 

Sosok mengerikan yang menarik kaki Amat waktu mereka akan masuk ke dalam rumah tadi sudah menantikan mereka. Mata merah saga memperhatikan ketiganya di dalam gelap, sosok itu sangat dekat sekali dengan Galih. Hampir tak berbunyi, ketika mulut Galih dibekap dari belakang oleh jari-jari kasar yang kuat. Tubuhnya ditarik ke sebuah ruangan yang terdapat di dekat ujung tangga. Bunyi pintu ditutup membuat Madi dan Rudi membalikkan badan. Keduanya kini menyadari bahwa Galih telah tak lagi ada di belakang mereka.

 

“Sial, Madi! Sial! Mana Galih?” Rudi merutuk dan ketakutan.

“Kurasa seseorang telah membekapnya.” Madi menyorotkan cahaya senternya. Mencari-cari pintu dimana Galih mungkin disekap. Begitu banyak kamar di lantai atas itu. Sebuah hiasan gantung berbentuk lima ekor ikan lumba-lumba dan beberapa batang aluminium di depan daun pintu salah satu ruangan tampak bergerak-gerak. Menggemirincing bunyinya, walau pelan. Madi memberi isyarat pada Rudi. Mereka mendekatinya dari sisi kanan dan kiri. Madi kemudian mendobrak daun pintu itu. Sepi. Madi dan Rudi bergerak masuk. Hanya kegelapan dan beberapa lemari buku hampir setinggi plafon di dalamnya. Ruang perpustakaan. Beberapa foto terpajang di tembok, di belakang sebuah meja kerja atau meja baca dekat jendela kaca. Dengan senter masing-masing, Madi dan Rudi terus mengamati setiap sudut ruangan. Tak ada siapa-siapa. Mata Madi kembali tertumbuk ke beberapa foto lain. Sebuah potret keluarga. Pak Ramdani, istrinya—Si Wanita Tukang Tenung, dan gadis kecil—Bulan, ketiganya tampak tersenyum penuh kebahagiaan. Sejenak Madi terpaku.

 

“Di, Madi! Sepertinya tak ada si..”

“Duarr!” sebuah tembakan mengenai bahu kanan Rudi. Senapan di tangannya terlepas begitu juga senternya. Ia tersungkur di atas lantai. Mengerang kesakitan sambil memegangi bahunya yang mulai mengeluarkan darah.

“Duar! Duarr!” Madi membalas tembakan yang asalnya dari balik lemari-lemari buku. Ia cepat berguling dan berlindung ke balik meja baca.

Mata Rudi melotot, ia ingin memperingatkan Madi. Tapi mulutnya tercekat. Tak ada suara bisa keluar dari mulutnya. Hanya tangannya yang menggapai-gapai mencoba memperingatkan Madi. Sosok monster bermata merah saga itu muncul dari balik gorden kusam dan sobek-sobek di dekat jendela kaca. Sebuah pukulan di belakang kepala dengan vas bunga porselen besar telah menjatuhkan Madi. Rudi merasa jiwanya sudah mulai melayang entah ke mana. Lalu semuanya menjadi gelap.

 

***

 

“Tidak Ayah, Bulan tak ingin pergi dari sini. Inilah saatnya dendam terbalas. Bukan Bulan yang memulai. Tapi mereka. Ini memang sudah takdir sepertinya. Fitnah terhadap keluarga kita oleh Juragan Bani harus dibalas. Inilah saatnya Ayah.”

“Argghhh…argh…brarrrghhh….jragghhh” Sosok mengerikan bermata merah saga itu sedang berkomunikasi dengan putrinya—Bulan. Siapapun yang bertemu pasti mengiranya setan atau hantu. Kepala botak dan seluruh kulit berjonjot-jonjot menghitam tak karuan. Di tengah-tengah wajahnya hanya ada tulang hidung bagian atas yang tampak sedikit menonjol. Barisan geligi atas dan bawah tampak sangat jelas melekat di kedua rahangnya. Dia tak punya bibir. Wajahnya lebih mirip tengkorak. Hidung, telinga, dan bibirnya telah meleleh oleh siraman larutan asam sulfat sepuluh tahun yang lalu. Hanya matanya yang bisa selamat. Itupun setelah kedua kelopak matanya yang lengket jadi satu harus dibuang Amang Dantiang agar ia bisa melihat. Tak pernah ia bisa tidur walau sekejap. Sepuluh tahun, dilaluinya hanya dengan bergadang. Menjaga agar tidur putrinya—Bulan, dapat tenang. Toh ia juga tak pernah bisa memejamkan matanya yang tak berkelopak. Suaranya seperti erangan. Tak ada kata yang jelas bisa diucapkan. Hanya Bulan yang mengerti arti erangan-erangan itu.

“Ayah, mana mungkin Bulan bisa memaafkan semuanya. Apa yang telah mereka lakukan pada ibu di dahan pohon bungur itu. Apa yang telah mereka lakukan pada Bulan. Sungguh tak bisa dimaafkan! Lihat kondisi ayah saat ini. Siapapun akan menyangka ayah adalah setan yang datang dari neraka.” Jawab Bulan lagi.

“Arggggrhhhh…argh….arrr……hhh..bgggrrahhh.”

“Tidak, Bulan tak mau tingal dengan Amang Dantiang di perkampungan Dayak. Bulan tak kuasa menahan sedih bila melihat anak-anak di perkampungan Dayak itu ketakutan saat memandang tampilan fisik Ayah. Ayah bukan monster. Ayah adalah orang paling berhati lembut yang Bulan kenal.”

 

“Arghhrhhh……arggrrhhh……..hhhhh……….”

“Ini memang berbahaya untuk kita ayah. Tapi ini sepertinya sudah menjadi keharusan yang akan kita tempuh untuk membersihkan nama keluarga. Biarlah remaja yang bernama Amat itu lolos. Biarkan ia mengabari semua penduduk kaki Pegunungan Meratus ini. Biar semua orang berkumpul lagi di samping halaman kiri rumah kita. Biar mereka bisa mengingat kembali apa yang telah mereka lakukan terhadap kita di bawah pohon bungur besar itu ayah. Begitu besar dan lama penderitaan yang Bulan alami. Bulan takkan bisa merelakan saat orang-orang itu pergi begitu saja meninggalkan seorang gadis yang hanya berumur tujuh tahun dalam sebuah kebingungan, ketidakmenentuan, dan ketakutan yang sungguh luar biasa. Mereka bukan manusia. Mereka monster berjasad manusia. Jiwa mereka adalah iblis dari neraka. Mereka tidak perduli bagaiamana perasaan seorang gadis kecil yang tergugu melihat mayat ibundanya tergantung tewas di depan mata. Ayahnya roboh ditendangi dan disiram larutan asam sulfat beramai-ramai. Mereka tak tahu bagiamana teriakan ayah bunda yang terasa mengiris-ngiris tajam seluruh jiwa Bulan. Mereka tidak tahu.. Untung ada Amang Dantiang, lelaki Dayak sahabat ayah yang baik hati itu. Untung Amang Dantiang datang tepat pada waktunya. Untung Amang Dantiang adalah seorang ahli obat luar biasa. Untung Ayah masih bisa bertahan setelah diguyur cairan pengental-beku lateks itu. Untung Bulan mempunyai seorang ayah, yang hanya karena kecintaannya terhadap gadis kecilnya, bisa menunda waktu kematiannya. Padahal nyawanya sudah bagai telur di ujung tanduk. Ayah, anggaplah ini caraku untuk menunjukkan bakti kepadamu.” Gadis itu menghapus sedikit tetes air di kedua sudut matanya.

 

Sosok mengerikan itu terdiam.Tak ada lagi erangan-erangan keluar dari mulutnya yang lebar, tak berbibir itu. Ia telah merestui keinginan Bulan. Ia akan mendukungnya, walau hingga akhir hayatnya. Bulan memahami ekspresi dari wajah mengerikan itu. Ia tersenyum.

 

Pak Ramdani, sosok mengerikan itu, memberi isyarat pada putrinya. Salah satu tawanan mereka telah tersadar.

 

“Eahhh…” Madi mengerang. Ia merasakan sakit di bagian belakang kepalanya. Perlahan ia membuka mata. Masih berkunang-kunang. Tubuhnya hampir tak bisa digerakkan. Rupanya, tangan dan kakinya diikat ke kursi di mana ia didudukkan.

 

Ruangan itu cukup terang karena ada dua lampu minyak ditempel di dinding. Madi melihat ada tubuh lain yang juga terikat di kursi seperti dirinya. Galih dan Rudi. Dua-duanya masih tak sadarkan diri. Kondisi Galih tampak lebih baik dari Rudi yang bajunya basah oleh darah. Darah yang keluar dari bahu kanannya yang tertembak. Saat dialihkannya pandangan ke arah lain, tampak gadis cantik berkemeja hijau lumut, bercelana blue jeans dan sosok mengerikan yang tadi telah menarik Amat di jendela.

 

“Bagus! Kamu sudah sadar! Kita tunggu dua bedebah itu bangun. Aku dan Ayah akan memberi pertunjukan menarik untukmu. Pertunjukan yang tak kalah seru dengan pertunjukan di bawah pohon bungur sepuluh tahun yang lalu.” Kata Bulan sembari tersenyum penuh arti. Tatap matanya tetap dingin dan tajam.

 

Madi kini telah yakin dugaannya tadi benar. Sosok mengerikan itu bukan monster, hantu, atau setan. Itu adalah ayah Bulan. Ia adalah Pak Ramdani. Meski tak dapat dicerna logikanya, jika lelaki itu bisa masih bertahan hidup setelah diguyur dengan larutan asam sulfat sepuluh tahun yang lalu.

 

To be continued…


  1. Juli 4, 2008 pukul 6:28 pm

    ahhhh…
    tak percuma menyatronin blog ini tiap sebentar.
    iya, semaafkan deh sodara atas keterlambatannya.

  2. Juli 4, 2008 pukul 6:29 pm

    btw, saya save seperti saran pak suhadi.
    dibaca offline.
    komennya ntar ya?

  3. suhadinet
    Juli 4, 2008 pukul 6:45 pm

    Nah gitu. Lebih hemat bandwitch-nya.

  4. Juli 4, 2008 pukul 8:57 pm

    couldn’t stop reading.
    feels like reading alfred hitchcock’s works.
    jadi inget waktu membaca novel-novel trio detektif, di balik deskripsinya yang horrifying, ada sisi rasionalnya.
    ada beberapa typos yang perlu dikoreksi, tapi terabaikan oleh konten yang masif.
    kalau bisa tolong pak suhadi ceritakan sedikit bagaimana pak ramdani tidak buta (komplikasi keratitis atau radang kornea) akibat tidak ada kelopak mata selama 10 tahun ya, pak?
    karena beberapa menit aja gak berkedip bola mata kita kering dan rentan iritasi.
    apa ditutup kain lembab gitu. kan gak mungkin beli obat tetes.
    *ih, sok teung banget sih*
    pak suhadi pasti lebih tau dong, kan guru ipa.

  5. Juli 4, 2008 pukul 8:59 pm

    pak suhadi sengaja menyebut bandwidth dengan bandwitch ya?
    biar kesan cerita horornya menerus sampai ke komen?
    *sadar udah kebanyakan kasih komen*
    *pamit*

  6. Juli 4, 2008 pukul 9:09 pm

    terlalu panjang, kukopi aja bung. agak enak bacanya.

    ==================
    to Sungai eh Panda

    makasih, silakan

  7. Juli 4, 2008 pukul 9:14 pm

    Alfred Hitchcock? Wew! He is a legend.
    Ya, beberapa ketikan ada yang salah. Kata-katanya juga ada yang ketinggalan akhiran-nya. Saya gak tau para penulis hebat yang buku-bukunya diterbitkan itu apa punya orang buat merevieu tulisan mereka ya? Kok bisa begitu sempurna.

    Soal mata itu saya terjebak. Pinginnya menutup dengan ending bagus pada part 2, lalu asal tulis saja. Akhirnya, ternyata oh ternyata, gak rasional dari sisi kedokteran ya. Mata manusia, hewan lain juga, kan harus selalu basah.Kalau ndak pakai kelopak apa gak kering tu kornea dan sel-sel epitel pada sklera. Ha..ha…
    Kelenjar air mata bisa habis ya, kalau kelopak pada kedua sisinya diangkat.

    You are very clever Marshmallow.
    Thank masukannya. Berarti nanti kalau bikin lagi, harus bener-bener dipikirin ya..

    Bandwidth? Bandwitch? Ah kadang separuh hati saya sudah menyerah untuk belajar english, untung separuh lainnya masih bisa membujuknya agar tetap semangat. He…he..

    Senang banyak dikomentari. Itu kan bagian dari pembelajaran. Gak cuma buat yang dikomentari, tapi juga yang mengomentari, serta yang membacanya (kalau ada).

  8. Juli 4, 2008 pukul 11:40 pm

    Semakin sru nich ceritanya …

    ===========
    to Par Ersis Warhamsyah Abbas

    Mudah-mudahan Part 4 gak mengecewakan nanti

  9. Juli 5, 2008 pukul 12:15 am

    sambil mohon doanya demi kelancaran acara kopdar bloggersumut yang ke 2
    terima kasih

    =================
    to Realylife

    Saya doa’akan sukses ya. Selamat

  10. Juli 5, 2008 pukul 7:58 am

    *menarik nafas*
    eh kok nggantung ya..aaarrgh…
    mana sambungannya???
    ah pak suhadi ini, sukses mbikin orang penasaran

    part4..ditunggu segera

    =============
    to Lainsiji

    Selamat menanti
    Puisi kamu keren-keren ternyata ya…..

  11. Juli 5, 2008 pukul 7:59 am

    muatan isinya menarik. kompleks, rumit, dan sarat konflik. ada adonan dendam, kekerasan, juga ketegangan batin. cerita yang bagus, kata orang sih, pak, bukan saya, konon menganut prinsip “never ending story”. yaps, cerita yang tak pernah berakhir. pak suhadi sudah sanggup menggunakan prinsip itu. sesekali menggunakan alur flasback ke belakang. yang perlu dipertajam, *waduh kok jadi sok tahu nih* barangkali gambaran ttg suasana psikologis yang dirasakan oleh tokoh2nya. karakter yang kuat akan makin mampu menghidupkan suasana cerita sehingga tak terjebak dalam ketegangan fisik semata. pilihan gaya bahasa “onomatope”, semacam tiruan2 bunyi, agaknya juga perlu diperbanyak, pak, utk menimbulkan efek emosional yang lebih kuat kepada pembaca. secara keseluruhan cerita ini nilainya 9,00 hehehehe🙂 saya tunggu lanjutannya, pak.

    ===================
    to Pak Sawali Tuhutseya

    Senang punya sahabat seperti Bapak, walau belum pernah ketemu langsung. Saya ndak tau istilah-istilah itu Pak. Kan saya mulai belajar nulis karena membaca cerpen-cerpen Bapak. Maksih masukannya Pak Sawali. Jangan segan kasih kritik atau saran. Saya orang yang suka diberi masukan, gak bakalan tersinggung. Btw, nilai 9,00 itu untuk rentang 0-10 atau 0-100 Pak, he…he….

  12. taliguci
    Juli 5, 2008 pukul 10:25 am

    Wah, seru pak.. baru pertama kali berkunjung, langsung disuguhi 3 seri, nggak sepenasaran kalo harus menunggu tiap seri..

    *terima kasih loh pak suguhannya*
    **kapan tayang seri 4🙂 **

    ================
    to Taliguci

    Nama yang bagus. Banyak duitnya kali ya di dalam guci sehingga dikasih tali, he..he…
    Makasih atas kunjungannya, blog kamu bagus, baik foto-foto hasil hobby fotografimu, maupun tulisan-tulisanmu. Oke punya!

  13. Juli 5, 2008 pukul 1:16 pm

    haha sebel juga ya ga bisa OL tiap jam, tiap menit kalau liburan ini. hehehe, tapi untung aja ada yang lebih parah, UNI HEMMA, sampai2 baca cerpen ini offline…
    agiah taruih pak suhadi

    ===================
    to Catra

    Sabar aja ya, tapi di kampung halaman sendiri itu kan kata Marshmallow: “There’s no place like home” he..he…
    Gimana kopdar special/ngapel sama siatacutenya?

  14. Juli 5, 2008 pukul 7:30 pm

    waas ku sora jangkring jeung tonggeret, duh…

  15. Juli 6, 2008 pukul 12:56 am

    Tapi masih betah di part 3 he he

  16. Juli 6, 2008 pukul 6:39 pm

    hmmm part 4 kapan terbitnya pak😀

  17. ven
    Juli 7, 2008 pukul 5:01 am

    waaa ternyata ceritanya seru…
    hwadooh jd pengen baca yg sblmnya..
    copy dl ah yg sblmnya
    makasih pak😉

  18. Juli 7, 2008 pukul 10:35 am

    wah…. masih nyambung ceritanya…..
    trus, ternyata banyak sesepuh-sesepuhnya blog indo yang udah ngasih komen di sini…
    ternyata pak suhadi bener-bener terkenal di kalangan blogger elite ya, pak… hehehe
    sip deh, pak…
    ditunggu klanjutannya…😀

  19. Juli 7, 2008 pukul 12:04 pm

    wis mantap nih
    lanjut🙂

  20. Juli 8, 2008 pukul 6:38 pm

    ga sabar tunggu part 4 nya…diantosan pisan lanjutannya….😀

  21. Juli 11, 2008 pukul 2:33 pm

    Kayaknya tangan yg megang kaki Amat adalah tuan Ramdani ayah bulan??, …lanjut bacanya…..
    Hmmm ternyata bener dugaanku…
    Si amat udah nyampe rumah blom ya…😀
    Wah suasananya bakal manas nih….. adegan balas dendam!…:D

  22. Juli 14, 2008 pukul 3:15 pm

    waalaikum salam. Bujur dingsanakai, ana yaitu adi permana nang suwah sakost lawan ente di wisma bubuhannya. Kaya apa wayah ini jadi guru jua lah, he…he…asal jangan mangawini murid aja. Sudah kawin kah sudah abaanakan kah, ditunggu kabar selanjutnya, no hap ana 08565365000

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: