Beranda > cerpen > Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 2)

Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 2)


Author: Suhadi

 

Ada baiknya Anda baca dari Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 1), sebelum membaca Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 2) ini.

 

Sepertiga malam telah berlalu. Sepotong bulan tanggal delapan menggantung di atas langit cerah berbintang. Cahayanya yang lembut berhasil juga menerobos tajuk-tajuk pohon karet yang mulai kehilangan rimbun daun hijaunya. Jatuh hingga mencapai permukaan tanah. Bergabung dengan serasah daun-daun kering di perkebunan yang sudah sepuluh tahun tak terurus itu. Bunyi jengkrik bersahut-sahutan dengan bunyi tonggeret, serangga hijau yang bersembunyi dan hidup di balik kulit-kulit pohon karet tumbang.

 

Keempat remaja tanggung itu, Madi, Rudi, Amat, dan Galih mengendap-endap di dalam gelap. Mereka telah meninggalkan motor tak jauh dari tempat mereka bertemu gadis misterius tadi siang. Mereka kembali ke perkebunan karet ini dengan sebuah rencana liar. Menyekap gadis misterius yang menurut perkiraan Madi adalah Bulan. Anak perempuan Si Wanita Tukang Tenung. Menyekap gadis cantik bercelana blue jeans, berkemeja hijau lumut, dan bersepatu boot kulit hitam itu untuk untuk bereksperimen. Memenuhi gejolak rasa ingin tahu, tentang apa yang disebut dengan seks.

 

Keempat sosok remaja tanggung dalam remang itu terus mengendap-endap. Masing-masing menyandang sebuah senapan berburu. Hanya sebentar-sebentar saja mereka menggunakan senter kecil. Sekedar memastikan bahwa mereka tidak keluar dari jalan setapak berbatu yang kadang-kadang telah ditumbuhi semak. Sebuah jalan setapak yang seingat Madi, akan mengantar mereka ke bekas rumah Si Wanita Tukang Tenung. Sebuah rumah besar di tengah perkebunan karet yang tak terawat. Di mana di samping kiri rumah tersebut terdapat sebatang pohon bungur besar yang digunakan penduduk kaki Pegunungan Meratus untuk menghukum gantung Si Wanita Tukang Teluh. Di bawah pohon bungur besar itu juga Pak Ramdani, suami wanita itu diguyur dengan cairan pengental-beku lateks oleh massa. Sebuah rumah yang merupakan saksi sebuah tragedi mengerikan—menggegerkan yang terjadi sepuluh tahun yang lalu.

 

Sebenarnya lahan di bawah naungan pohon-pohon karet yang tak terawat itu cukup lapang. Semak belukar hanya tumbuh pada bagian-bagian yang terbuka, seperti disekitar jalan setapak yang mereka ikuti. Ada jarak yang cukup lebar antara pohon-pohon karet yang di tanam di kiri kanan jalan. Semak belukar juga hanya tumbuh lebat pada beberapa tempat tertentu, karena beberapa pohon karet mati dan tumbang. Pada siang hari, cahaya matahari yang mencapai permukaan memungkinkan semak belukar itu tumbuh berkembang dengan lebih baik. Pada bagian yang tertutup oleh tajuk-tajuk pohon karet, semak-semak itu lebih jarang.

 

Mereka memang telah menuju arah yang tepat. Madi, Rudi, Amat dan Galih telah semakin dekat dengan rumah yang dimaksud. Beberapa ratus meter di depan, di atas lahan yang agak tinggi, rumah yang merupakan saksi bisu kejadian menggegerkan sepuluh tahun lalu itu sudah terlihat. Sebuah bagunan besar yang kokoh nampak dalam bentuk bayangan hitam besar. Remaja-remaja tanggung itu semakin berhati-hati. Mereka terus mengendap-endap. Posisi mereka kini tak lebih dari sepuluh meter di pintu gerbang yang sedikit terbuka.Madi yang memimpin dan berada paling depan memberi isyarat agar mereka berhenti. Sepertinya ia ingin mengamati keadaan.

 

“Kalian tunggu di sini dulu. Aku mau lihat lebih dekat. Ke depan pintu gerbang itu. Ingat, jangan berisik! Mungkin saja Bulan belum tidur.” Madi mengingatkan.

“Kau yakin gadis cantik yang tadi siang itu tinggal di sana? Sepertinya kosong. Gelap. Tak ada siapa-siapa, Madi.” Tanya Rudi yang menjadi kurang yakin setelah melihat keadaan rumah besar itu.

 

“Dasar bodoh, kau Rud. Lihat semak belukar di dekat kakimu!” Madi menunjuk semak di dekat kaki Rudi dengan sekejap cahaya senter kecil di tangan kirinya.

“Iya, memangnya kenapa?”

“Ada bekas dipotong seseorang dengan menggunakan pisau atau parang, mungkin karena terlalu menghalangi jalan. Mungkin sudah beberapa hari yang lalu, mungkin sudah seminggu. Tapi masih jelas. Tidak banyak memang. Tapi itu menunjukkan bahwa rumah itu memang masih dihuni. Pasti gadis misterius tadi siang yang memotongnya. Pasti dia Bulan. Aku semakin yakin.” Madi menjelaskan kepada ketiga kawannya.

 

“Tapi kenapa rumahnya begitu gelap? Lihat pintu gerbang dan pagar! Hampir tak terlihat karena dirambati tumbuhan liar. Halamannya juga, penuh semak bahkan perdu. Dan soal semak belukar yang terpotong ini, bisa siapa saja yang melakukannya Madi.” Galih yang dari tadi diam saja, kini juga menyampaikan keraguannya. Remaja berkacamata minus ini paling tegang di antara mereka berempat.

 

“Iya, yang memotong semak ini bisa siapa saja. Bisa pemburu, bisa orang-orang Dayak dari pedalaman. Bisa siapa saja. Jangan-jangan gadis tadi siang memang bukan Bulan. Ia cuma pemburu yang iseng menggertak kita. Atau seperti dugaan Galih sebelumnya, gadis itu anggota komplotan perampok yang bersembunyi di kebun karet tak terurus ini. Apa tak sebaiknya kita pulang saja. Lupakan gadis cantik tadi siang.” Amat menguatkan argumen Galih. Rudi dan Galih mengangguk, mengiyakan.

 

“Inilah susahnya punya teman idiot seperti kalian.” Kata Madi sembari tersenyum mengejek kepada ketiga kawannya. Ketiga remaja tanggung yang disebut idiot itu cuma tersenyum kecut.

 

“Maksudmu?” Tanya Galih yang penasaran.

“Ckkk..!!! “ Tak urung mulut Madi berbunyi juga sambil kepalanya geleng-geleng, sebagai ekspresi sedikit rasa kesal. Lalu lanjutnya lagi menjelaskan.

“Sebenarnya aku malas kalau harus kembali menjelaskan ini pada kalian. Tapi tak apa. Dengar baik-baik! Tak mungkin gadis cantik tadi siang itu anggota komplotan perampok. Ia menggunakan senapan berburu. Tak ada pula terdengar kasus perampokan di sekitar di daerah kaki Pegunungan Meratus ini bukan? Cobalah untuk berpikir! Pakai otak! Jangan pakai dengkul! Berpikirlah jika kamu, kamu, dan kamu adalah Bulan.” Madi menunjuk bergantian kepada ketiga kawannya.

 

Galih memperbaiki letak kacamatanya yang terasa agak menekan pelipisnya. Rudi dan Amat hanya garuk-garuk kepala. Ketiganya mencoba mencoba berpikir.

 

“Jika kalian adalah Bulan, anak seorang wanita tukang tenung yang pernah digantung penduduk, seorang gadis yang ayahnya disiram dengan cairan asam sulfat, dimusuhi penduduk di kaki Pegunungan Meratus ini, apa yang kamu lakukan?. Pikir..! Berpikirlah seperti dia…!” Madi mencoba mengajak ketiga kawannya itu memahami maksudnya. Tapi ketiganya tetap melongo. Akhirnya, Madilah yang kini garuk-garuk kepala.

 

“Ah..sudahlah, lupakan soal berpikir! Sini, aku jelaskan sejelas-jelasnya! Bulan hidup dalam persembunyian. Ia takut. Ia tentu tak ingin ada orang yang tahu kalau dia masih hidup. Masih tinggal di rumah besar itu. Sedapat mungkin ia akan menyamarkan keberadaannya. Ia akan membiarkan rumah tampak gelap. Tak ada cahaya sedikitpun tampak dari luar. Semak-semak dibiarkan merambati seluruh bagian pagar dan pintu gerbang, bahkan dinding rumah. Tapi sesekali tentu dia perlu keluar rumah. Mencari makanan dengan berburu barangkali, atau apalah. Nah, tanaman liar yang terlalu lebat di dekat kakimu itu akhirnya terpaksa dipotong karena sudah menyulitkannya keluar masuk lewat pintu gerbang itu. Ia terpaksa memotongnya, walaupun sedikit. Paham?” Madi memandang pada ketiga temannya. Rudi, Amat, dan Galih akhirnya manggut-manggut.

 

“Paham, Madi.” Rudi menyahut.

“Betul juga kamu Madi.” Tambah Galih lagi.

Madi tersenyum. Puas. Argumennya mengalahkan argumen teman-temannya.

 

“Hei…kurasa aku melihat sesuatu.” Amat kemudian memungut sebuah benda kecil didekat kakinya. Tertangkap pandangannya karena sedikit berkilau, memantulkan cahaya redup sepotong bulan di atas langit. Amat menyerahkan benda kecil itu kepada Madi.

 

Sebuah liontin perak. Liontin berbentuk bulatan gepeng yang tepiannya berukir sangat indah. Pasti dipesan secara khusus dan harganya mahal. Pengerjaannya sangat hati-hati. Madi pernah melihat liontin semacam ini saat berwisata ke Kota Gede, Yogyakarta. Liontin itu mempunyai sebuah engsel kecil yang tersamar di bagian tepinya. Madi menimang-nimang liontin perak yang baru ditemukan Amat itu. Ia manggut-manggut, lalu menggumam sendiri.

 

“Hmm, aku mengerti kenapa semak itu dipotong. Mungkin tidak dipotong untuk membersihkannya. Tapi dipotong untuk mencari benda kecil ini. Sepertinya liontin yang berharga ini terjatuh tanpa sengaja. Pemiliknya mencoba mencari, tapi tak berhasil. Dan akhirnya Amat menemukannya.”

 

Madi membuka liontin yang terdiri dari dua kepingan yang saling bertangkup itu. Dengan senter kecil di tangan kirinya, ia mengamati dua buah potret wajah yang terdapat di kedua sisi sebelah dalam liontin itu. Dua buah wajah berbeda usia, tapi sangat mirip sekali. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan, dan seorang gadis kecil berumur tujuh tahunan. Potret wajah Si Wanita Tukang Tenung dan potret wajah Bulan, putrinya. Madi tersenyum lebar. Dugaannya benar. Bulan masih hidup. Ingatannya segera melayang pada kejadian sepuluh tahun yang lalu. Ingatan saat pertama kali ia melihat kedua wajah yang ada di dalam potret pada liontin tersebut.

 

***

Sepuluh tahun yang lalu.

Saat kemarau panjang tengah melanda daerah di kaki Pegunungan Meratus itu, Madi kecil baru duduk di kelas 1 SD. Ada rasa ingin tahu yang begitu menggelitik saat ratusan penduduk kaki Pegunungan Meratus berkumpul di halaman rumah ayahnya, rumah Juragan Bani. Gaduh sekali. Orang-orang membawa kentongan bambu yang dipukul-pukul dan alat-alat penerangan berupa senter dan obor. Sependengaran Madi kecil, mereka akan menghukum gantung seorang wanita tukang tenung yang tinggal bersama putri dan suaminya.

 

Malam itu, orang-orang yang telah berkumpul di depan rumah Juragan Bani—ayah Madi, benar-benar telah dirasuki amarah. Hampir semuanya membawa senjata tajam. Kalaupun tidak, mereka memegang pentungan. Suara kentongan dari bambu terus dipukul oleh dua dari lima centeng Juragan Bani. Memanggil lebih banyak penduduk untuk keluar dan ikut bergabung dengan mereka.

 

Jurangan Bani—ayah Madi, adalah seorang tengkulak karet terkaya di kaki Pegunungan Meratus. Semua orang mengenalnya. Seorang lelaki setengah umur yang gagah, kaya, dan cerdas. Sebenarnya bisnisnya bermacam-macam. Tak cuma jual beli karet penduduk. Sawahnya yang luas tersebar di berbagai penjuru pinggiran kota kecil di kaki Pegunungan Meratus itu. Juragan Bani juga punya usaha peminjaman uang. Biasanya yang sering meminjam adalah para petani penggarap sawahnya. Bisnis yang beragam dan besar itu dikelola oleh beberapa orang anak buahnya. Secara non-formal, Juragan Bani adalah penguasa kota kecil di kaki Pegunungan Meratus itu. Pengaruhnya jauh lebih besar daripada pengaruh aparat pemerintah.Tapi kini bisnis dan kekuasaan itu, yang merupakan warisan ayahnya—kakek Madi, terasa mulai meredup sejak hadirnya sebuah perkebunan karet besar di wilayah itu. Sebuah perkebunan yang dimiliki seorang lelaki dari seberang yang bernama Pak Ramdani.

 

Ketika rombongan massa bergerak menuju perkebunan karet, Madi kecil mengikuti dari belakang. Awalnya tak ada yang memperhatikan. Madi kecil terus mengikuti mereka. Ikut berjalan puluhan kilometer di jalan setapak berbatu di dalam perkebunan. Ada juga rasa gentar dan tegang melihat orang-orang yang dibalut amarah itu. Apalagi Madi kecil tahu pemandangan apa yang akan disaksikannya nanti. Hukuman gantung bagi Si Wanita Tukang Teluh! Pasti sebuah pemandangan mengerikan. Rasa penasaran akan cerita yang beredar tentang Si Wanita Tukang Tenung itu membuat Madi kecil bisa menguasai ketegangannya. Bahkan ada rasa nikmat tertentu yang dirasakannya saat ia berhasil menguasai degup jantung yang bertalu-talu. Madi kecil terus berjalan mengikuti rombongan. Obor dan senter membuat jalan setapak dan pohon-pohon karet di sekitarnya menjadi benderang. Lebih satu jam mereka berjalan naik turun perbukitan di lereng Pegunungan Meratus. Hingga akhirnya, rombongan itu sampai juga di rumah besar tempat tinggal Si Wanita Tukang Teluh.

 

Juragan Bani, meminta para penduduk yang berjumlah ratusan itu agar mulai mengepung. Rumah berpagar jeruji besi yang tingginya lebih kurang dua kali orang berdiri itu menjadi lebih benderang karena cahaya obor dan lampu senter di tangan mereka. Kentongan bambu terus dipukul bertalu-talu. Beberapa orang berteriak. Mencaci maki. Mencaci Si Wanita Tukang Teluh. Memaki bahwa karena perbuatan perempuan itu, tanah sawah jadi kering merengkah. Palawija tumbuh kurus merana. Ternak-ternak kehausan dan terserang penyakit. Pohon-pohon karet mereka mati meranggas. Dan sumber-sumber air kering-kerontang. Mencaci maki, bahwa kesuburan sawah, ladang, kebun karet, dan ternak mereka telah diambil-alihkan ke kebun-kebun karet Pak Ramdani, suami Si Wanita Tukang Teluh.

 

Kelompok orang-orang yang bersama Juragan Bani segera nglurug. Masuk halaman. Dua orang pekerja kebun karet yang berjaga di pintu pagar tak dapat menahan mereka. Juragan Bani tersenyum senang. Laki-laki pintar, gagah, tengkulak karet terkaya, penguasa tak resmi kota kecil di kaki Pegunungan Meratus itu berteriak-teriak. Mengorganisir dan membakar amarah massa. Madi kecil mendekati ayahnya, memegang kain celana Juragan Bani. Sejenak, lelaki itu kaget. Ia menghentikan teriakan-teriakannya. Anaknya yang baru kelas 1 SD, yang baru tujuh tahun juga ada di sana. Ia berjongkok, hingga wajahnya sejajar dengan wajah Madi kecil. Juragan Bani kemudian bertanya.

“Kenapa kamu ada di sini? Bagaimana kamu bisa ada di sini?”

“Saya ingin tahu ayah”

“Ingin tahu?”

“Iya, saya penasaran. Bagaimana sih rupa Si Wanita Tukang Teluh yang telah membuat bencana kemarau panjang ini. Diam-diam saya mengikuti rombongan di belakang.”

“Tapi ini bukan urusan anak kecil anakku. Ini bukan perkara main-main. Kita tidak sedang berburu babi hutan”

“Madi tahu ayah, tapi Madi sangat ingin tahu.”

“Ya sudah. Jangan jauh-jauh dari ayah! Ingat, jangan jauh-jauh! Mengerti?”

“Ya ayah.”

 

Pertunjukkan terus berlanjut di depan mata Madi kecil. Setiap kejadian itu, anehnya, bisa dinikmatinya dengan debar-debar menegangkan. Ayahnya, Juragan Bani tampak bangga dengannya. Barangkali di mata ayahnya, inilah seorang calon pewaris semua harta, pengaruh, dan kekuasaan Sang Juragan. Mata bening Madi hampir tak berkedip menyaksikan semua rentetan tragedi itu. Menunjukkan bahwa ia memang seorang anak laki-laki yang pantas sebagai pewaris semua milik ayahnya.

 

Berbagai ketegangan terus berlangsung. Mulai dari pengusiran dan pengeroyokan terhadap para pekerja yang tinggal di rumah-rumah petak di belakang rumah besar di perkebunan karet itu, hingga prosesi penyeretan ketiga beranak, Pak Ramdani, Si Wanita Tukang Tenung, dan putri mereka Bulan yang tampak seumur dengan Madi kecil.

 

Ketiga beranak itu diseret beramai-ramai ke samping kiri rumah besar. Pak Ramdani memohon belas kasihan untuk anak dan isterinya. Ia dan isterinya yang cantik menyanggah telah menggunakan tenung. Kata mereka, tak ada hubungannya kemarau dengan kebun karet mereka. Tak ada yang mendengarkan. Tak ada yang menghiraukan. Kecuali Madi kecil. Dari beberapa kalimat-kalimat yang sempat diucapkan Pak Ramdani dan Si Wanita Tukang Tenung, Madi kecil juga bisa menangkap sedikit kesan bahwa ayahnya pernah kenal baik dengan Pak Ramdani dan isterinya.

 

Tak ada yang menangkap kesan itu selain Madi kecil. Mereka telah dibakar amarah. Semua orang berteriak-teriak. Mencaci-maki. Akhirnya kalimat-kalimat Pak Ramdani itu tak terdengar lagi. Hanya tersisa rintihan-rintihan. Beberapa melempari ketiganya dengan batu. Beberapa lagi menendang dan memukuli. Tubuh Pak Ramdani, isterinya—Si Wanita Tukang Tenung, dan anak gadisnya yang kecil itu sudah mulai berdarah-darah. Yang dilakukan Pak Ramdani hanya merangkul, melindungi anak gadisnya yang sangat ketakutan. Beberapa kali gadis kecil itu tercerai-berai dari ayah ibunya. Ayahnya segera menerjang merangkulnya. Melindungi. Ia mencoba menenangkan gadis kecilnya. Tapi tentu saja sia-sia. Dari kata-kata Pak Ramdani untuk menenangkan gadis kecil itulah Madi tahu kalau namanya adalah Bulan. Gadis kecil yang sangat cantik.

 

Pukulan dan tendangan terus diarahkan para penduduk kaki Pegunungan Meratus ke arah punggung dan kepala Si Wanita Tukang Tenung dan Pak Ramdani. Juragan Bani kemudian memberangus Bulan dari peluk—perlindungan ayahnya. Gadis kecil, yang bernama Bulan itu meronta-ronta. Ia sangat ketakutan. Berteriak-teriak histeris. Kedua ayah-bundanya yang dipukuli-ditendangi kini hanya bisa memandanginya saja. Ayah Madi—Juragan Bani, menampar gadis kecil yang berteriak-teriak histeris itu. Sontak ia terdiam. Darah segar meleleh dari sudut bibirnya. Teriakan-teriakannya terhenti. Tak ada lagi rontaannya yang tadi menyulitkan Juragan Bani. Tapi kini, rontaan dan jeritan telah berganti dengan tatapan tajam dan dingin pada Juragan Bani. Ia memandangi Jurangan Bani. Ia memandangi semua orang yang ada disitu. Ia juga memandangi Madi kecil yang menonton seluruh kejadian itu di antara hiruk-pikuk massa.

 

Tragedi itu terus berlangsung. Suguhan penuh kekejaman menimbulkan ketegangan dan kenikmatan tersendiri bagi Madi kecil. Orang-orang itu mulai memasang tali gantungan di dahan pohon bungur. Cepat sekali mereka bekerja. Dalam waktu beberapa saat saja, tali gantungan itu telah siap. Seseorang yang dengan muka dan tubuh basah penuh keringat mengangkat sebuah kursi jati. Entah diambil dari mana. Di letakkan tepat di bawah tali gantungan. Wajah basahnya yang beringas berkilat-kilat memerah, memantulkan cahaya api obor di tangan massa. Madi kecil paham, kursi itu pasti akan digunakan sebagai pijakan bagi Si Wanita Tukang Tenung yang akan digantung. Heh, Madi kecil memang paling suka melihat film-film wildwest. Ia suka menonton bagaimana para perampok bank digantung oleh para cowboy, ranger, dan sheriff.

 

Para penduduk kaki Pegunungan Meratus mulai memaksa Si Wanita Tukang Tenung berdiri di atas kursi. Ia masih berteriak-teriak. Menyangkal bahwa dirinya bukan seorang tukang tenung. Beberapa lelaki memeganginya. Tali gantungan telah siap menjerat lehernya. Tepat berayun-ayun di depan wajahnya.

 

Gadis kecilnya, Bulan—memandang semua kejadian itu dengan membisu. Tak seperti saat ia pertama kali diseret beramai-ramai keluar rumah oleh massa tadi. Ia tak lagi berteriak-teriak histeris. Ia tak lagi menangis atau meronta dalam pegangan Juragan Bani. Ia tak lagi menunjukkan rasa takut. Tatapannya telah berubah. Tajam dan dingin, kepada semua yang ada di situ. Rupanya ia telah mulai belajar menyemai dendam. Wajah-wajah penuh keringat berpendar merah karena cahaya obor dan senter itu dikenalinya satu per satu. Madi kecil tak pernah bisa melupakan tatap mata tajam dan dingin itu saat diarahkan kepadanya.

 

***

“Di.., Madi!” Rudi menyentuh lengan Madi yang pikirannya tengah melayang ke kejadian menggegerkan sepuluh tahun yang lalu. Sedikit tersentak, Madi menjawab.

“Ya.. Kalian tunggu di sini. Aku akan maju mendekati pintu gerbang pagar itu. Nanti kuberi isyarat kalau kalian harus bergerak maju. Ingat, tetap waspada. Bulan mungkin saja masih terjaga! Heh, Ini akan jadi petualangan yang luar biasa kawan-kawan.” Kata Madi sembari tersenyum dan memasukkan liontin perak ke dalam saku celana.

“Siap, Bos!” Rudi dan Amat menyahut hampir bersamaan dengan senyum sama mengembang. Hanya Galih yang terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Ia punya perasaan tak enak. Firasat buruk, agaknya. Madi mulai bergerak, mengendap-endap perlahan ke arah pintu gerbang.

 

Di balik rerimbunan semak tak jauh dari tempat mereka berada, tanpa keempat remaja tanggung itu sadari, sebuah sosok yang sangat mengerikan tengah mengintai mereka. Dari mata merahnya yang bagaikan saga, terpancar sebuah tatapan penuh amarah.

To be continued…

  1. Juni 30, 2008 pukul 11:08 am

    Sebenarnya lahan di bawah naungan pohon-pohon karet yang tak terawat itu cukup lapang. Semak belukar hanya tumbuh pada bagian-bagian yang terbuka, seperti disekitar jalan setapak yang mereka ikuti. Ada jarak yang cukup lebar antara pohon-pohon karet yang di tanam di kiri kanan jalan. Semak belukar juga hanya tumbuh lebat pada beberapa tempat tertentu, karena beberapa pohon karet mati dan tumbang. Pada siang hari, cahaya matahari yang mencapai permukaan memungkinkan semak belukar itu tumbuh berkembang dengan lebih baik. Pada bagian yang tertutup oleh tajuk-tajuk pohon karet, semak-semak itu lebih jarang.

    ==========

    ini dia yang saya suka, pikiran imajinasi saya jadi terbantu dengan deskripsi yang sangat detail, ditunggu lanjutannya pak

  2. Juni 30, 2008 pukul 12:21 pm

    aaargggghhh….. keduluan catra!!!!
    *menjambak-jambak rambut dengan marah*
    *minum obat penenang*
    *baru mulai membaca*

    ============
    to marshmallow

    Hei..be carefull
    Don’t get it to much..!
    It could be harm for you..
    *bener gak englishnya?*

  3. marshmallowsays
    Juni 30, 2008 pukul 12:44 pm

    nahan napas…
    kisah tegang, horor dan sedih dirangkum mulus dalam deskripsi khas pak suhadi.
    i wish i had one tenth of your great talent, pak!
    gak sabar nunggu kelanjutannya.

    ==============
    to marshmallow

    I think you have much more great talent than me. Don’t you?
    Be passion, soon, I’ll release them
    Maybe I need two or three parts more to finish this tale
    *kalau gak keberatan cek english saya ya*

  4. sri suryaningsum
    Juni 30, 2008 pukul 12:52 pm

    Bagus sekali, anak-anak didik saya suruh membaca karya anda. Kebetulan semester pendek ini saya mengajar Bahasa Indonesia di Jurusan Teknik Informatika UPN Veteran Jogjakarta.
    Selamat berkarya untuk Bapak Suhardi.

    =================
    to Ibu Sri Suryaningsum

    Haa!!!!
    Rasanya gak percaya
    Ini baru cerita saya yang ketujuh Bu…
    Apa ndak salah?
    Saya merasa senang sekali, jika Ibu berkenan dan berkeinginan menjadikan tulisan saya sebagai bahan ajar Ibu
    Nanti hasil analisisnya anak-anak (baik kekurangan-kelebihan, utama kekurangannya) dari tulisan saya ini, kalau Ibu ada waktu, kasih tau saya ya Bu. Soalnya saya masih dalam tahap belajar
    Makasih banget Bu Sri

  5. Juni 30, 2008 pukul 4:18 pm

    hmmm panjang banget pak,,, di tunggu kelanjutannya😀

  6. Juni 30, 2008 pukul 6:40 pm

    Hei..be carefull
    (should’ve been: hey, be careful)
    It could be harm for you..
    (should’ve been: it could be harmful to you)
    I think you have much more great talent than me. Don’t you?
    (should’ve been: … much greater talent… and no need to confirm with the “don’t you” statement, karena saya akan langsung bilang: i don’t think so!)
    Maybe I need two or three parts more to finish this tale
    (should’ve been better: … two or three more parts…)
    *merasa gak pantes proof read tulisan pak suhadi*
    *menunduk*
    *pulang dengan malu*

  7. suhadinet
    Juni 30, 2008 pukul 7:26 pm

    To marshmallow.. Tidak boleh ada yang merasa malu. Tidak ada aibnya. Apalagi kalau sedang belajar. Salah adalah manusiawi. Saya belajar banyak dari kamu. Thanks.

  8. Juni 30, 2008 pukul 9:15 pm

    Amarah itu yang merusak jiwa

    wah cerita yang luar biasa😀

  9. Juli 1, 2008 pukul 12:25 am

    Mantap Pak. Terus berkarya.🙂

  10. cikalie
    Juli 1, 2008 pukul 1:13 am

    Stt…
    Smuanya jangan pada ribut !!!
    lanjutannya mana pak??
    hehe….

  11. Juli 1, 2008 pukul 11:37 am

    Byuh! Ini blog bisa bikin betah berlama-lama nie..Ilustrasinya dung pak..? Ke..ke..ke..Salam kenal

  12. Juli 1, 2008 pukul 2:40 pm

    akhirnya happy ending ya.

  13. Juli 1, 2008 pukul 6:50 pm

    Untaian katanya indah. Sangat detil. Mungkin untuk menjadi the Next Andrea Hirata bisa terwujud Pak. Saya doakan selalu sukses. Jika kelak ini jadi Novel, kirim atu ya Pak..He..he..he..

  14. Juli 1, 2008 pukul 7:09 pm

    To Ibu Iis

    Ibu bisa saja. Kejauhan di belitong sana Bu, kalau saya harus ngejar Andrea Hirata. He..he..

    Maksih do’a-nya.
    Saya pingin sekali jadi penulis. Tapi belum berani kirim-kirim naskah. Aneh ya?
    Moga dengan do’a dan support Ibu Iis, saya makin bergerak ke arah yang progresif ya Bu.

  15. Juli 1, 2008 pukul 9:10 pm

    makin seru n deg2an menunggu cerita selanjutnya😀

  16. Juli 1, 2008 pukul 9:58 pm

    Gimana sibulan bisa bertahan hidup, siapa yg ngurus dia selama ini ya?, apa benar kedua orng tuanya tukang tenun atau ini cuma fitnah Jurangan Bani yg ditenggarai Persaingan Bisnis?
    Dibagian2 akhir, jadi kasian sama bulan dan keluarganya ya….
    ditunggu kelanjutannya pak

  17. Juli 1, 2008 pukul 10:09 pm

    Soal siapa yang ngurus Bulan, akan kita bahas di Part 3 nanti.
    Wah, Ibu Rita sudah bisa mencium aroma persaingan bisnis yang tak sehat, he..he..
    Ibunya Bulan Tukang tenung?
    Tunggu aja ya Bu…

  18. Juli 1, 2008 pukul 10:49 pm

    Hah?!…. masih ada Mbak Tri (part 3), dan, yg aku duga ternyata salah.
    Keknya Mas Andre akan lewat juga nih.

    =================
    to namakuananda

    He..he…rencana awal malah gak pakai ngajak Mbak Dwi
    Ee..tulisannya gak bisa dikontrol, makin memanjang, jadinya gak cuma Mbak Dwi, Mbak Tri juga harus diajak.
    Saya takut kualat sama Bang Andrea Hirata, tak berani ber-angan sejauh itu.

  19. Juli 1, 2008 pukul 11:23 pm

    cerita yang menegangkan. Pengetahuan pak “guru” suhadi tentang hutan (pegunungan meratus), semakin menambah nilai cerita –mengingatkan pada cara Ahmad Tohari melukiskan alam pedesaan, terutama pada trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya.

    Salut, pak guru, semoga bisa ditularkan pada anak-anak didiknya.

    salam,

    ===============
    to Sandi

    Makasih
    Wah, trilogi ronggeng dukuh paruk, saya pernah baca. Waktu kuliah di unlam dulu saya suka perpustakaan daerah di pal 6. Saya pertama kali baca, justru yang lintang kemukus dini hari, baru buku satu (ronggeng dukuh paruk), baru saya baca jantera bianglala-kalau ndak salah. Novel yang bagus sekali. Senang kalau cerita saya bisa mengingatkan Mas Sandi pada trilogi yang hebat itu.

  20. Juli 2, 2008 pukul 12:14 am

    Kalimatnya nyastra sudah nich

    =============
    to Pak Ersis

    Makasih Pak, saya sudah mulai nyastra, he..he… Berkat sering ke http://webersis.com Pak.
    Oh ya, tadi malam, mahasiswa Bapak, Septha minta alamat saya untuk mengirim buku Bapak, saya sudah kasih lewat komentar saya di blognya. Makasih banyak Pak. Buku itu akan saya menjadi sebuah motivasi buat saya untuk terus belajar menulis. Bahwa, seorang Ersis Warhamsyah Abbas mau memberi perhatian kepada tulisan saya.

  21. Juli 2, 2008 pukul 12:39 am

    pak sekali lagi omong-omong soal bahasa, saya jadi bengong nih *salut* pak suhadi tidak malu mengakui kalau dirimu sedang belajar, seandainya saya dulu mempunyai guru yang tidak mengedepankan ego, tidak merasa paling benar, seandainya……

    (jadi pengen ikut koreksi nih pak, di komen no3 dari uni hemma, bapak jawab be passion, bukannya be patien pak???)

    saya juga banyak belajar selama nge blog ini pak!!

    hehehe

  22. suhadinet
    Juli 2, 2008 pukul 6:53 am

    To Catra,

    Betul Cat. Maksudku bersabar, be patien..he..he.. kok jadi pake nafsu ya? Thanks.
    =====
    Rasa malu adalah sebuah perasaan yang selalu muncul setiap saat karena kita ingin mempertahankan citra diri positif (image intelek, pintar, gak kampungan, gak ndeso).
    Padahal pada kenyataannya kita gak pintar dalam segala hal. Mempertahankan image demikian tidak perlu, karena menghambat kemajuan diri.

    Tak perlu malu mengakui kalau kita sedang belajar, atau tidak bisa. Yakinlah tak akan ada yang mentertawakan. Kalaupun ada, justru yang menertawakan itulah yang yang sebenarnya tampak bodoh (setidaknya di mata saya, he..he..).

    Saya mo cerita, agak panjng dikit ya. Di sekolah saya, saat saya baru masuk di hari pertama, saya tahu ada guru yang gak bisa naik motor. Guru laki-laki. Beliau penceramah (da’i) hebat. Cuma sayang, mobilitas beliau terhambat karena itu. Saya dekati dia secara perlahan-lahan. Butuh waktu 3 bulan untuk meyakinkan beliau kalau belajar naik motor (da’i kondang belajar naik motor itu bukan suatu aib. Beliau gak bisa naik motor karena memang duluuuu sekali gak sanggup beli motor). Saya katakan pada beliau bahwa, yah, paling orang tersenyum sekali saat melihat beliau belajar. Setelah itu? Orang akan maklum.

    Sekarang beliau sudah bisa dakwah ke mana. Beliau, yang dulunya gak bisa ngetik di komputer, sekarang dah lihai. Senang bisa nularin prinsip lifelong education pada beliau. Walaupun sudah pindah ke sekolah lain, beliau masih suka ngunjungi saya dan teman-teman. Masih gak malu-malu nanya sesuatu sama saya atau teman yang lain. Sebaliknya saya juga, walaupun kadang-kadang pertanyaan kami tampak bodoh di mata orang yang sok pintar, sok jaim.

  23. Juli 2, 2008 pukul 7:19 am

    cerita berkarakter pak. penggambarannya kuat, seolah-olah pembaca berada dan ikut terlibat dalam cerita

    =================
    to Zulmasri
    Makasih, Pak Zul.

  24. Juli 2, 2008 pukul 9:14 am

    @catra:
    kirain pak suhadi emang lagi passionate banget waktu reply itu, dan nyuruh saya being passionate juga. makanya gak dikoreksi.😆
    taunya disuruh bersabar…😳
    *komen yang aneh*
    btw, saya mau ngaku juga nih…
    kalau sebenernya…
    saya gak bisa naik sepeda.😳

    baru ngeh sekarang kalau gak musti malu mengakuinya.
    ada yang bisa ngajarin gak?

    ============
    to Masrhmallow

    Tuh kan, gak nyangka kalau Marshmallow gak bisa naik sepeda. He..he… (ooppss! Gak boleh diketawain!)

  25. sutarsa
    Juli 2, 2008 pukul 9:58 am

    Pak Suhadi, terima kasih inspirasinya.
    Walau cukup panjang dan memerlukan kerutan alis untuk memahami alur cerita, tapi saya sangat terkesan dengan cara menggambarkan situasi disana. Sangat membantu saya untuk melihat latarnya dengan imajinasi.
    Cerpen, puisi, atau karya lainnya adalah pertautan makna dan estetika. Selamat ya Pak! Tentunya kita bisa terus saling tukar kesan atau karya bukan?

    ===============
    to Sutarsa

    Saya sangat senang kalau kita bisa saling tukar kesan dan karya. Pak alamat URLnya kok gak dicantumkan. Saya ingin baca tulisan Bapak.

    Kalimat-kalimat saya memang panjang-panjang dan ruwet. Maaf telah membuat kening Bapak sampai berkerut. He..he… Saya sedang mencoba belajar itu Pak. Bikin kalimat yang lebih pendek, tapi lugas. Sayang belum dapet iramanya. Makasih.

  26. Juli 2, 2008 pukul 5:04 pm

    saya selalu mengikuti tulisan2 fiksi pak suhadi. tulisan pak suhadi punya kekuatan dalam hal diksi sehingga mampu memberikan deskripsi yang bagus dan eksotis pada latar atau setting cerita. muatan isinya juga menarik, mengungkap persoalan dan fenomena kehidupan yang penuh misteri. terus berkarya, pak. mantab sekali ceritanya. salam kreatif!

    ================
    to Sawali Tuhutseya

    Makasih Pak Sawali, banyak inspirasi tulisan saya berasal dari blog Bapak. Salam kreatif!

  27. Juli 3, 2008 pukul 10:59 pm

    *datang telat… duduk paling belakang, baca diem-diem*

    maap pak, secara aku gak paham sastra, aku cuma bisa bilang tulisannya….. mengalir

    *diusir keluar kelas*

  28. Juli 3, 2008 pukul 11:08 pm

    Hmm, yang versi Pertama dah baca, mbaca yang versi dua, kurang keknya pak? Kapan triloginya Pak? ke..ke..ke..

  29. Juli 4, 2008 pukul 10:34 am

    lanjut sobat🙂

  30. Juli 4, 2008 pukul 1:13 pm

    lanjut om!!!!!!!!!

  31. Juli 4, 2008 pukul 3:21 pm

    tiap hari berkunjung,
    berharap episode 3 udah muncul.
    tapi tiap kali juga musti nelen ludah.
    mannna???
    *gebrak-gebar komputer dengan anarkis*
    (sori, pak suhadi. ini cuman akibat buruk ketergantungan baca cerbung bapak)

  32. suhadinet
    Juli 4, 2008 pukul 6:20 pm

    Sory sodara-sodara, Mbak, Bu, Jeng…
    Telat ngepost, soale ada kesibukan sedikit.
    He..he…
    sory ya…
    Jangan pada ngambek..

  33. Juli 5, 2008 pukul 1:57 pm

    wow bagus banget
    alur cerita yang dibalut dengan kata2 yang pas
    salut banget dech

    ==============
    to tulalrasyid

    Makasih.

  34. Juli 5, 2008 pukul 3:24 pm

    He…he…. kamu memang hebat….saya ketinggalan jauh nih…. Tapi ya ndak apa-apa, kalau ndak bisa merubah keadaan kan saya bisa merubah cara pandang. Ajak-ajak irwan dan om sabarata ya….

    ================
    to fheris

    Sip bro! Setuju pisan pokokna mah saya
    Sudah di ajak, tapi si Irwan, gengsiannya itu gak ilang-ilang

  35. Juli 7, 2008 pukul 10:30 am

    hehe… cerita pak suhadi bener-bener ngefek ama banyak orang…
    uni marshmallow ampe jadi ngamuk ngga karuan begitu…. hehehe…
    lanjut, pak…..😀

  36. Juli 8, 2008 pukul 5:37 pm

    Bacanya ampe tahan nafas…menambahkan info dari uni marshmallow (bukan menggurui ya pak):
    kalau maksudnya sabar ya/bersabar, yang lebih tepat:
    Be passion –> be patient
    passion = noun
    patient = adjective
    *mode ibu guru ON*

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: