Beranda > about me > SMPN 4 Danau Panggang, Lulus UN 50%…Alhamdulillah (Hiks..)

SMPN 4 Danau Panggang, Lulus UN 50%…Alhamdulillah (Hiks..)


Senin 23 Juni 2008 lalu saya di daulat untuk ngisi materi Model-Model Pembelajaran Inovatif pada sebuah seminar untuk guru. Lumayan kaget juga pas sampai di lokasi. Kegiatan yang dipanitia-i oleh guru-guru SMAN 1 Danau Panggang ini ternyata dijubeli peserta. Pada saat panitia mengontak saya, Jum’at 20 Juni, mereka mengatakan bahwa peserta dibatasi hanya 60 orang. Ee.. ternyata, peserta membengkak hingga 200 orang. Dari guru SD hingga guru SMA. Banyak juga yang datang dari Amuntai dan Alabio, gak cuma seputaran Danau Panggang.Hoho.. untung saya sudah cukup persiapan. Segala materi presentasi, termasuk beberapa editan video pembelajaran dan selingan potongan-potongan klip-klip musik (Klip musik? Yups..! Tapi masih terkait materi lho!_Terkait materi? Kok bisa? Ya iyalah…Pak Suhadi….He..he..).

Di sela-sela ngisi materi untuk kegiatan itu, saya sempatkan nelpon ke sekolah. Ternyata persentase kelulusan anak-anak cuma 50%. Itu berarti dari seluruhnya siswa yang 16 orang, ada 8 orang yang tidak lulus. Agak kecewa juga. Tapi itu sudah hasil akhir perjuangan kami selama ini.

Ternyata dari ke-16 siswa, untuk IPA yang saya pegang secara bergantian dengan Bapak Kepala Sekolah, 14 orang sudah melampaui passing grade kelulusan. Dua (2) orang belum atau tidak lulus untuk IPA. Dari rekap nilai yang saya amati setelah kembali ke sekolah dari kegiatan seminar, ternyata ke-8 siswa yang tidak lulus itu disebabkan mereka tidak berhasil dalam mata uji Bahasa Inggris dan Matematika. Ironis ya…gurunya ikut natar kesana-kemari, ee…siswanya banyak yang gak lulus. Apakah karena sekolah kami letaknya di kampung? Ah..saya tidak ingin itu jadi alasan. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih baik.

Andai kami punya guru yang lebih lengkap…Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia… hiks.. (sudah! Jangan beralasan!)

Saya makin sedih ketika dua siswa yang terpandai ternyata tidak hadir saat acara pengumuman kelulusan. Setelah tanya sana-sini dengan anak-anak, maklumlah saya. Keduanya tak akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat ini mereka telah bekerja. Seorang bekerja di sebuah perusahaan kayu lapis (cukup umur gak ya?), satunya lagi menjadi shop keeper di Palangka Raya. Ironis. Pintar kok disuruh bekerja oleh orang tuanya.

Kapan pendidikan menjadi prioritas nomor satu bagi orang-orang Danau Panggang?

  1. Juni 26, 2008 pukul 10:15 am

    seperti nasib si Lintang, murid terpintar di novel laskar pelangi, yang terpaksa memilih pekerjaan ketika ayahnya yang merupakan tulang pungung ekonomi keluarga meninggal.

    padahal pendidikan adalah investasi yang sangat berguna di kemudian hari

    =====================
    to Catra
    yap.. Kasian banget. Anak-anaknya potensial sekali. Salah satunya pernah saya bimbing, hingga jadi direjen-itu loh yang memimpin paduan suara, saat acara pembukaan MTQ tingkat Kabupaten Hulu Sungai Utara 2006 lalu.

  2. Juni 26, 2008 pukul 2:39 pm

    wah, langsung ada 2 entries bagitu selesai presentasi.
    pak suhadi yang develop tgt kan ya?
    ada niatan buat memproteksinya?
    selamat buat kelulusan 50% siswanya, dan ikut simpati buat yang berprestasi tapi gak lanjut ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

  3. suhadinet
    Juni 26, 2008 pukul 2:44 pm

    Bukan saya yang men-develop nya, saya cuma bikin beberapa variasi-nya saja. Teruatama pada bagian game yang dimainkan. Guru-guru lain pasti juga bisa asal sedikit pakai bumbu creativity…. Dan memang harus gitu, biar tgt-nya gak mo nonton.. eh monoton,
    memproteksi maksudnya dari kopi-paste kah?

  4. Juni 26, 2008 pukul 3:26 pm

    memproteksi dalam arti hak ciptanya, pak.
    dipatenkan gitu loh.:mrgreen:
    eh, tapi serius koq.
    supaya lebih ada penghargaan buat para guru yang kreatif seperti pak suhadi.
    kayaknya pak suhadi ini pambicara yang entertaining ya?
    pasti para peserta senang dengan presentasinya.

  5. Juni 26, 2008 pukul 3:33 pm

    Oh dipatenkan,, gak dulu-lah. Variasinya gak banyak.
    Kalau sesekali dikasih kesempatan presentasi di seminar (seminar lokal saja), saya suka ngasih sesuatu yang beda, biar gak pada ngantuk. Tapi tetap ada kaitannya dengan materi yang disampaikan.
    Saya lebih suka ngajak peserta aktif, hands on and minds on.
    Gak cuma dengerin. Saya belum merasa cukup pantas untuk didengari ceramah saya.
    Jadi saya sering sharing saja. Gak one direction.
    Peserta biasanya suka begitu.

  6. Juni 26, 2008 pukul 10:34 pm

    membaca postingan ini bener2 membuat teringat Lintang…semoga “Lintang – Lintang” dari Danau Panggang ini mendapatkan jalan yang lebih baik. Misalnya menjadi pekerja yang berprestasi dan tetap punya kesempatan untuk mengembangkan diri tanpa sekolah…amien

  7. Juni 26, 2008 pukul 11:10 pm

    Tadinya saya trenyuh dengar cerita murid 2 pak suhadi. Ya, trenyuh seakan-akan pingin mbantu mengajar di sana (laku nggak ya?). Tapi setelah tahu kehebatan pak suhadi saya malah jadi minder. Gurunya dah mantab, kreatif, inovatf, pekerja keras, peseminar tangguh. Bolgger lagi. Jadi 50% siswa tak lulus itu jelas bukan dari faktor gurunya, tapi yang lain. Sabar dan tetap semangat ya Pak.

  8. Juni 27, 2008 pukul 2:03 pm

    Sabar, Pak ya. Benar kata Bapak, sekolah di kampung tidak dapat dijadikan alasan yang tepat. Ini mengingatkan saya kepada Laskar Pelangi-nya Andrea yang meski di Belitong sana dg taraf ekonomi keluarga yang rendah, tapi anak2nya bisa kuliah ke luar negeri. Keep your spirit, Pak!

  9. Juni 27, 2008 pukul 10:19 pm

    ikut prihatin mendengarnya pak! maaf terlambat.. sepertinya mungkin karena ada standar ganda di pusat sana… maaf, bukan suuzzhon… siswa saya tak bangga sama sekali dengan nilainya sendiri meski tinggi2 dan bgus2 tapi tak sesuai kenyataan… miris pak!

    saya yakin bukan karena kegagalan Bapak dalam mengajar, saya yakin itu.. tapi persoalan eksternal di luar kendali bapak… Mudah2an dikaruniai kesabaran lebih pak!

  10. Juni 28, 2008 pukul 2:26 am

    Tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi bukan stempel mati masa depan yang suram pak,
    Kalau asa itu memang ada (dan tetap dijaga), mungkin tahun depan atau tahun berikutnya, mereka bisa melanjutkan pendidikan , bahkan mungkin dengan keringat sendiri.

    anw, aku salut dengan dedikasi pak guru
    tetap semangat pak!

  11. Juni 28, 2008 pukul 9:57 am

    Ironis. Pintar kok disuruh bekerja oleh orang tuanya. Kapan pendidikan menjadi prioritas nomor satu bagi orang-orang Danau Panggang?
    .
    Pintar secara akademik nampaknya mesti diimbangi pula dengan kecerdasan emosi, yang mana kecerdasan emosi (berikut spiritual) lebih banyak didapatkan si anak dalam kehidupan nyata yang ternyata keras dan pahit. Jadi, ada baiknya juga, bisa mengasah mentalitas dan membuahkan kesadaran jiwa, “hidup itu ternyata tidak gampang”

    Saya pribadi cenderung lebih gembira jika anak-anak yang cerdas secara akademik, disodori pula pengalaman dan kenyataan pahit di alam realitas. Tak lain agar mereka (sebagai generasi penerus) bisa memiliki jiwa yang tak mudah goncang di kemudian hari, serta berani menghadapi berbagai wajah kehidupan.

    Selebihnya, saya sepakat dengan pendapat saudara saya Lainsiji, bahwa putus pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak serta merta menjadi harga mati bahwa kelak ia akan menjadi manusia gagal.

    Salam hangat,

  12. Juli 1, 2008 pukul 7:26 pm

    inilah mungkin salah satu dilematis pendidikan antara “pusat” (kota) dengan daerah yang jauh tertinggal, namun hal ini jangan jadi penghalang tuk berbuat untuk kemajuan! Salute buat Bpk.

  13. Juli 1, 2008 pukul 11:07 pm

    Pak saya lulus dengan nem 37.80! susah juga untuk anak2 yang berada di daerah2, saya aja yang berada di pusat kota ampe jumpalitan belajar buat cari bahan2 pelajaran yang bakal keluar….

  14. suhadinet
    Juli 2, 2008 pukul 10:53 am

    To Aya… Nilai hebat! Jangan sia-siakan intelegensi, talenta, dan fasilitas yang kamu punya. Banyak orang2 tak beruntung di sekitar kita. Jadilah remaja yang kreatif dan bertanggung jawab.

  15. mriza
    Juli 3, 2008 pukul 11:27 am

    Kayaknya semua juga tergantung sama garis nya allah pak disamping mereka berusaha,
    Saya setelah tamat “STM” 2 tahun menganggur dan memang gak ada niat sama sekali untuk kuliah. Di tahun ke 3 akhirnya saya di paksa untuk kuliah dan alhamdulillah sekarang saya bisa nulis komentar di blognya bapak.. (eh.. nyambung gak yah..?).

    ============
    to Mriza

    Nyambung banget, kok! He..he.. Makasih suportnya buat kami

  16. putri palupi
    Agustus 21, 2008 pukul 8:31 am

    gimana ya, sekolah di desa dan di kota kok standarnya sama, padahal fasilitasnya nggak sama, pusing tuh semua guru di des, apalagi yang dipelosok masya Allah kasian banget.

  1. September 3, 2008 pukul 1:00 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: