Beranda > cerpen > Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 1)

Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 1)


Author: Suhadi

 

Suara ketiga motor itu meraung-raung saat dipacu para pengendaranya. Mereka bergerak melingkari perbukitan. Saling salip di bawah pohon-pohon karet. Turun naik mengikuti sebuah jalan setapak yang hampir tertutup oleh semak karena hampir tak pernah dilewati penduduk. Ada enam orang di atas motor-motor itu. Mereka saling berboncengan. Madi dan Jainah, Rudi dan Amat, serta Galih dan Rina. Seragam putih abu-abu mereka penuh corat-coret spidol, stabillo, dan cat semprot aneka warna. Pengumuman kelulusan mereka di sekolah tadi pagi membuat keenam siswa satu-satunya SMA di kaki Pegunungan Meratus itu larut dalam euforia. Ini adalah sebuah perayaan kelulusan. Dan mereka punya rencana gila. Menghabiskan waktu siang itu—setelah puas corat-coret baju dan konvoi dengan teman-teman lain—ke sebuah tempat terpencil. Jauh, di dalam sebuah perkebunan karet yang pernah menggegerkan kota kecil mereka.

 

Ya, sebuah kejadian menggegerkan yang terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat pertengahan musim keramarau yang teramat panjang. Kemarau yang mengeringkan sumber-sumber air di desa-desa di bawah kaki Pegunungan Meratus. Membuat sawah dan ladang kering-kerontang. Tanah pertanian merengkah dan palawija kurus merana. Kemarau panjang yang membuat daun-daun karet di kebun penduduk menguning dan rontok satu per satu. Melayang jatuh meninggalkan ranting-rantingnya.

 

Di atas motor mereka, keenamnya tertawa-tawa bebas. Jainah malah membentangkan tangan dan memejamkan mata. Rambutnya tergerai menari-nari berkibar ditampar-tampar angin. Ia begitu menikmati kesejukan dan keteduhan sisa-sisa daun karet terakhir. Sebelum seluruhnya jatuh di beberapa pekan ke depan. Kemarau panjang memang telah datang kembali. Pohon-pohon karet di perkebunan yang tak terawat ini mencoba mempertahankan hidup dengan mengurangi transpirasi. Suatu proses fisiologis, penguapan air lewat daun. Mereka menggugurkan daun-daunnya. Roda-roda motor itu menggilas tanah yang mengering. Sesekali mereka keluar dari jalan setapak. Jika tak ada semak dan rumput ilalang. Bermanuver di antara pohon-pohon karet. Hembusan sejuk angin dari puncak-puncak Pegunungan Meratus menimbulkan kesiur dendang daun-daun karet yang saling bergesek.

 

Setelah sekitar 30 menit berkendara melintasi track yang turun-naik berliku itu, Madi mengerem laju motornya. Jainah yang dibonceng di belakang—yang sedang asyik menikmati kesejukan udara Meratus terdorong ke depan. Tubuhnya jadi menempel rapat dengan Madi. Remaja laki-laki berambut ikal itu hanya tersenyum nakal. Jainah merengut lalu memukul-mukul manja pundak kekasihnya. Dua motor di belakangnya juga mengerem, lalu berhenti di sisi kiri dan kanan motor Madi.

 

Madi turun dari motor. Tak jauh dari sebatang pohon karet besar yang mati-tumbang, Madi berjalan meneliti sekeliling. Kelima remaja lainnya mengikuti di belakang.

“Masih jauh, Di?”

“Kurasa tidak,  Rud! Aku masih ingat betul di mana letak rumah keluarga Si Wanita Tukang Teluh itu. Kita turuni bukit ini. Lalu naik lagi ke bukit di depannya. Di atas bukit itulah rumah keluarga Si Wanita Tukang Teluh berada,”  jawab Madi, sembari menghempaskan pantatnya. Duduk di batang pohon karet tumbang yang mulai melapuk itu.

“Kau yakin?” tanya Rudi lagi pada Madi.

“Yakin sekali.”

Jainah dan Rudi akhirnya juga ikut duduk di pohon karet tumbang. Sementara Rina, Galih, dan Amat berjongkok di dekatnya.

 

“Kita pulang saja yuk.. Ngapain sih ke sini segala. Mana kebun karetnya sepi dan angker begini. Bisa berbahaya. Bagaimana kalau kita bertemu macan atau beruang?” Rina, seorang gadis berseragam putih abu-abu yang juga penuh corat-coret seperti kelima remaja yang lain mengeluh dengan nada gelisah. Memotong pembicaraan itu.

 

“Aduh sayang, kenapa takut? Kan ada Aa. Lagian rumah Tukang Teluh itu pasti kosong. Semua anggota keluarganya kan telah tewas dihakimi massa sepuluh tahun yang lalu?”  Sahut Galih, remaja berkacamata minus yang membonceng Rina.

 

“Aku tidak begitu yakin kalau rumah itu tak ada penghuninya.” kata Madi. Mengejutkan Galih dan remaja-remaja lainnya. Semua mata tertuju pada Madi. Memandang penuh tanda tanya. Setahu mereka, yang hanya samar-samar tahu tentang peristiwa sepuluh tahun lalu, semua keluarga Si Wanita Tukang Teluh telah tewas.

 

“Mungkin Bulan masih hidup dan tinggal di rumah itu hingga hari ini. Memang, Si Wanita Tukang Teluh tewas digantung massa di atas dahan pohon bungur besar yang ada di samping rumah. Aku tahu karena aku ada di sana. Saat digantung, tangan dan kakinya menggapai-gapai mohon pembebasan. Tak lama kemudian, lidahnya terjulur karena tercekik. Matanya melotot menahan sakit, atau mungkin karena amarah yang tak terkira. Seingatku, tak cuma si wanita tukang teluh saja yang tewas. Suaminya juga. Pak Ramdani. Lelaki itu tewas setelah diguyur asam sulfat oleh massa. Asam sulfat yang digunakan untuk mengental-bekukan cairan lateks. H2SO4! Cairan kimia yang sangat korosif!” Kelima remaja lainnya bergidik membayangkan.

 

“Kau tahu bagaimana jika cairan itu terkena kulit tubuhmu? Kulit dan dagingmu akan melepuh dan meleleh. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana penduduk beramai-ramai menyiramnya dengan cairan itu. Sekujur tubuh! Dari kepala hingga kaki! Bau asam dan uap pekat yang ditimbulkannya…hi…. Aku hampir tak tahan melihatnya. Kejadian yang mengerikan.”

 

Kelima remaja lainnya mendengarkan cerita Madi dengan menahan napas. Tegang. Termasuk Jainah yang tadi sepanjang perjalanan cuma cengengesan saja.

 

Madi melanjutkan ceritanya. Ia memang pandai berintonasi. Dan sesekali berhenti untuk memberikan kesenyapan di antara ceritanya. Wajahnya ekspresif sekali. Kalimat-kalimatnya memunculkan gambaran-gambaran mengerikan yang dramatis di benak kelima remaja lainnya. Lalu ia melanjutkan.

 

“Malam itu, seluruh penduduk di sekitar kaki pegunungan mengepung perkebunan karet. Obor-obor dan senter dinyalakan. Seisi perkebunan menjadi terang benderang. Mereka mengepung rumah di atas bukit itu. Kentongan-kentongan dari bambu dipukul bertalu-talu. Ratusan orang barangkali. Mereka membawa mandau, golok, belati, dan senjata-senjata tajam lainnya. Ada juga yang membawa pentungan. Pengepungan itu sudah direncanakan sebelumnya. Di rumahku. Ayahku mengkoordinir mereka. Penduduk marah karena seluruh sumber air mengering. Panen gagal. Hewan-hewan ternak seperti kambing, sapi dan kerbau mati kehausan. Penduduk percaya, semua itu karena ulah dari Si Wanita Tukang Teluh. Dan tentu juga suaminya, Pak Ramdani. Pemilik perkebunan karet yang luas ini. Bagaimana tidak, perkebunan ini begitu subur dan rindang, sementara kebun dan sawah di bawahnya mati kering dan terserang hama penyakit.” Madi berhenti lagi.

 

“Pulang…yuk.. Rina takut nih.”

“Halah! Diam..Ayang jangan bawel dong!” Galih menyahut ketus, seakan kesal. Sebenarnya kata hatinya juga ingin pulang. Tapi malu dengan yang lain. Rudi dan Amat senyum-senyum saja, tapi kalau ditilik benar-benar, juga terbersit rasa gentar di wajah mereka.

 

“Krak!!!!” Tiba-tiba terdengar suara ranting kering yang patah terinjak.

Keenam remaja itu menoleh sumber suara. Kaget. Hanya ada gerumbul semak belukar. Sepertinya tak ada siapa-siapa di balik rerimbunan yang dirambati tanaman berbunga terompet warna ungu itu.

 

Hening.

Hanya suara gesekan daun-daun kuning karet yang bergoyang tertiup semilir angin Pegunungan Meratus yang terdengar.

 

“Ada orang di situ? Keluarlah! Jangan main-main dengan kami!” Madi dengan lantang bersuara.

Tak ada sahutan. Tetap hening. Beberapa helai daun karet jatuh.

 

Madi berjongkok. Mengambil sebuah batu sebesar pimpong yang ada dekat kakinya. Lalu melemparkan ke arah suara ranting patah terinjak yang tadi terdengar. Jatuh persis di gerumbul semak-semak itu.

 

“Brasskk!!!”

Seekor biawak besar lari terbirit-birit, menerobos semak-semak. Batu yang dilemparkan Madi rupanya telah mengenai kepala dan mengejutkannya.

 

“Ha…ha….. ternyata hanya seekor biawak!”  Amat tertawa terbahak-bahak. Diikuti Rudi dan Galih. Jainah dan Rina hanya tersenyum kecut. Sedikit lebih lega.

 

“Ssstt…. diam!” Madi memotong tawa mereka sembari menempelkan telunjuk di atas bibirnya. Kelima remaja itu kaget dan dengan serta merta menoleh tanpa kata kepada Madi. Menoleh dengan tatapan minta penjelasan. Dengan nada setengah berbisik Madi menjelaskan.

 

“Bisa jadi biawak itu adalah bekas peliharaan Si Wanita Tukang Teluh itu. Dia dikenal penduduk kaki Pegunungan Meratus sebagai seorang wanita cantik yang sangat aneh. Suka dengan berbagai macam binatang melata seperti ular, dan bermacam-macam kadal. Hewan-hewan yang sangat menjijikkan bagi orang kebanyakan. Kata orang, lewat binatang-binatang itulah ia mengirimkan teluhnya. Merampas kekayaan dan kesuburan tanah sawah dan kebun di kaki Pegunungan Meratus. Lalu mengalihkan kekayaan dan kesuburan itu ke kebun-kebuh karet yang luas ini. Meninggalkan kekeringan dan berbagai hama penyakit pada sawah, kebun karet, dan hewan ternak penduduk.”

 

“Pulang yuk…” Rina merengek lagi. Kini wajahnya sudah semakin menunjukkan ketakutannya. Ia hampir menangis. Tangannya gemetar memegang tangan Galih. Tapi Galih menyentakkannya.

 

“Diam ah! Kalau tau kamu penakut begini, gak aku ajak tadi!” Galih kembali pura-pura kesal dengan Rina, sekedar menutupi rasa takutnya sendiri.

 

“Eit…apa ini!?!?” Madi menyentakkan sesuatu ke arah wajah Jainah yang tegang di samping. Seekor kadal kecil. Kadal kecil yang sempat ditangkapnya diam-diam di dekat tempat dia duduk. Kadal kecil yang terjebak di antara lubang-lubang bekas pohon karet tumbang yang melapuk itu. Jainah kaget bukan kepalang. Juga keempat remaja lainnya. Jainah sampai terjengkang ke belakang. Madi tertawa terbahak-bahak melihat Jainah hampir pingsan. Gadis itu merengut marah. Remaja lainnya yang tadinya kaget akhirnya juga ikut tertawa, kecuali Rina yang kini mulai menangis. Merengek pulang.

 

Madi belum puas dengan kesenangannya. Candanya makin keterlaluan. Dengan tertawa-tawa diarahkannya kadal kecil itu lebih dekat lagi ke wajah Jainah. Gadis itu berkeringsut sembari menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangan. Takut setengah mati.

 

“Madi, sudah dong bercandanya! Aku tak suka kadal. Jijik!” Semakin berkeringsut Jainah, semakin didekatkan Madi kadal kecil itu ke wajahnya. Hingga tiba-tiba….

 

“Jangan ganggu dia!” Sebuah suara lantang seseorang menghentikan candaan Madi yang kelewatan itu. Keenam remaja itu langsung menolehkan wajah ke arah sumber suara. Kaget bukan kepalang.

 

Di dekat sebatang pohon karet yang tak jauh dari mereka, seorang gadis berdiri sambil menodongkan sebuah senapan berburu ke arah Madi. Gadis yang sangat cantik. Kulitnya putih bersih. Sosoknya yang semampai dibalut ­blue jeans, kemeja hijau lumut, dan sepatu boot dari kulit hitam. Tatapan matanya dingin dan tajam. Jelas ia serius dengan ancamannya.

 

“Terima kasih.” Jainah yang tadi ketakutan karena ulah Madi dan sudah bisa mengontrol dirinya. Ia sekarang malah bisa tersenyum pada gadis yang menodongkan senapan laras panjang itu. Ekspresi dan emosi gadis ini memang cepat sekali berubah-ubah. Itulah yang membuatnya unik bagi Madi, anak Juragan Bani yang merupakan tengkulak karet terkaya di sekitar kaki Pegunungan Meratus.

 

“Puih!!” Gadis cantik yang sedang menodongkan senapan itu meludah.

“Hei, saya cuma ingin mengucap terima kasih…!” Jainah protes dengan tanggapan gadis misterius itu terhadap ucapan terima kasihnya.

“ Bukan kamu, hei genit!” Jawab gadis misterius lagi dengan tatapannya yang tetap dingin dan tajam. Jainah kaget, senyumnya perlahan berubah kecut bercampur malu. Ia tidak paham apa maksud gadis bercelana blue jeans itu.

 

“Jangan ganggu kadal kecil itu he berandal! Lepaskan dia!” Gadis misterius itu menggerakkan sedikit laras senapannya sembari memberi syarat kepada Madi, bahwa ia ingin kadal kecil itu dilepaskan. Pahamlah kini keenam remaja itu.

 

Madi melepaskan kadal kecil di tangannya. Sesaat setelah jatuh ke atas dedaun karet kering di tanah, sang kadal lari terbirit-birit. Menyingkir dari tempat itu.

 

“Sekarang, segera kalian tinggalkan tempat ini dan jangan pernah berpikir untuk kembali lagi!” gadis misterius itu mengancam dengan terus menodongkan senjatanya. Kelima remaja itu masih terpaku di tempatnya.

 

“Cepat!!!!” Gadis misterius berteriak. Tapi tak satupun dari keenam remaja itu yang bergerak. Mereka terlalu kaget untuk menyadari arti teriakannya.

“Duarr!!!!” sebuah tembakan terarah dekat sekali dengan ujung kaki Madi. Akhirnya, seperti dikomando, keenam remaja tanggung berseragam putih abu-abu penuh coretan itu segera lari tunggang-langgang. Menuju motor-motor mereka yang diparkir tak jauh dari tempat itu. Si gadis cantik misterius tetap mengawasi mereka dengan tatapan tajam—dinginnya.  Hingga ketiga motor yang dipacu menuruni jalan setapak berliku di sepanjang kaki Pegunungan Meratus itu tak tampak lagi olehnya.

 

***

 

Malam harinya di kamar Madi.

“Gila Madi! Ini rencana gila! Aku tak mau ikut. Terlalu berbahaya. Kau lihat gadis itu mempunyai senapan. Mungkin ia anggota kawanan perampok. Pasti banyak kawan-kawannya yang lain. Aku bukan babi hutan yang pantas mati terkena peluru-pelurunya.” Galih, pemuda berkacamata minus itu menolak ketika Madi mengutarakan niatnya.

 

“Senapan? Kau lihat itu! Aku juga punya senapan he Galih!.” Madi menunjuk beberapa pucuk senapan berburu yang digantung di dinding kamarnya. Lalu memandang Rudi, Amat, dan Galih bergantian. Ia melanjutkan.

 

“Koleksi ayahku juga banyak. Cukup untuk kita pegang masing-masing satu. Kalian tinggal pilih yang mana suka. Heh.. kalian lihat betapa cantiknya gadis itu. Tubuhnya yang semampai. Kulitnya yang putih mulus. Rambutnya yang hitam sepundak. Dia pasti Bulan. Aku bisa kenali dia dari matanya. Matanya, mata yang sama dengan mata Bulan. Gadis berusia tujuh tahun yang meronta-ronta di tangan ayahku malam itu. Aku takkan lupa. Sepuluh tahun yang lalu, mata itu dipaksa massa untuk melihat bagaimana ibunya meregang nyawa digantung di atas dahan pohon bungur di samping rumahnya. Ya, mata yang juga dipaksa melihat bagaimana ayahnya, Pak Ramdani diguyur beramai-ramai dengan cairan asam sulfat. Mata gadis misterius bercelana blue jeans, berkemeja hijau lumut dan bersepatu boot dari kulit hitam itu….adalah mata Bulan. Wajahnya juga sangat mirip dengan Si Wanita Tukang Teluh.”

 

“Kalau gadis cantik misterius itu adalah Bulan, akan ada masalah lain Madi. Bagaimana kalau dia menggunakan ilmu sihirnya saat kita akan menagkapnya? Bagaimana kalau dia menggunakan mantera-manteranya?” Galih memberi alasan lain.

 

“Apakah penampilannya tadi siang mengindikasikan kalau dia seorang penyihir? Tukang tenung? Tidak bukan? Ibunya saja, sepuluh tahun yang lalu, yang terkenal sebagai tukang tenung tak bisa berbuat apa-apa ketika dihakimi penduduk. Tadi siang kita lari karena kita kaget. Dia menguasai keadaan. Kita takut duluan. Kalau malam ini kita berempat bisa menguasai keadaan. Kita yang pasti menang! Kalian bisa bayangkan bagaimana indahnya Bulan itu bukan?” Madi tersenyum. Pikiran nakal telah bergelayut di kepalanya.

 

Galih hanya terdiam. Berusaha mencerna dan menerka-nerka jalan pikiran Madi. Rudi dan Amat dapat menangkap pikiran nakal itu. Madi melanjutkan lagi menyampaikan rencana.

 

“Kita kepung rumah itu diam-diam. Tengah malam ini. Saat Bulan sedang terlelap. Kita todong dia. Lalu kita bisa ikat dia. Kita sandera di dalam rumah itu. Lalu……….ha..ha…ha…. kita bisa sedikit belajar bermain-main dengannya. Bisa kalian bayangkan? Mengasyikkan bukan? Ha..ha…ha…” Madi mengedipkan matanya sembari tersenyum pada Rudi, Amat, dan Galih. Ketiganya kini telah benar-benar paham dengan jalan pikiran nakal Madi.

 

“Tapi itu kriminal Madi!” sanggah Galih.

“Memang! Ini adalah tindakan kriminal. Tindakan kriminal kita yang pertama.” Dengan lugas Madi menjawab sembari menggerakkan alisnya. Madi memang kharismatis. Teman-temannya selalu menurut padanya. Ada pesona tersendiri dari kepribadinya yang meledak-ledak. Ia kemudian melanjutkan.

 

 “Tapi bukankah itu mengasyikkan? Malam ini akan jadi petualangan yang sungguh mendebarkan. Tak akan ada yang tahu. Asal semua pegang rahasia! Rumah di perkebunan karet itu sangat terpencil. Tak ada orang yang berani ke sana. Tak akan ada yang tahu. Jadi, tindakan kriminal ini juga akan menjadi rahasia terbesar dalam persahabatan kita. Bagaimana? Setuju?”

 

Rudi dan Amat mengangguk-angguk. Galih masih menunjukkan sedikit kegamangan di wajahnya. Madi tak memperdulikan Galih. Temannya yang satu ini memang selalu ragu-ragu. Madi mengulurkan tangan, Rudi menyambutnya dengan meletakkan tangannya di atas tangan Madi. Lalu Amat. Dan akhirnya dengan sedikit kaku Galih menyusul. Kompak dan setuju. Madi tersenyum. Puas.

 

To be continued…

  1. Juni 24, 2008 pukul 11:38 pm

    wah kit sama nih
    lagi posting cerita bersambung😀

    ========================
    to Achoey Sang Khilaf

    Yup Choey… cerbung kamu Diorama…. itu asyik banget. Islami. Gak kaya punyaku yang agak “liar”

  2. Juni 25, 2008 pukul 2:39 am

    yang aku sukai dari kisah ini deskripsi settingnya yang bagus, pak suhadi. ini rencananya mau jadi novel atau novellet, pak? wah salut banget nih. cerita2 ttg mitos dan kearifan lokal sedang banyak dicari dalam dunia sastra mutakhir kita, pak. salam kreatif!

    ==========================
    to Sawali Tuhutseya

    Makasih Pak pujiannya
    Bingung juga.. njawab pertanyaan Bapak. He..he… Novel atau novellet, tadi saya buka kamus dulu..
    Novel lebih panjang dari novellet ya Pak
    Kayaknya saya pilih novellet deh.. he..he..
    Novel gak kuat nulisnya
    Awalnya sih pingin cerpen saja, tapi kejadiannya jadi kayak waktu nulis Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas, cerita tambah panjang..tambah panjang… gak bisa terkontrol oleh saya
    Inilah yang juga saya harus banyak belajar Pak, mengontrol panjang pendek tulisan.
    Ada yang mau ngasih tips cara mengontrol panjang-pendek tulisan?

  3. Juni 25, 2008 pukul 6:15 pm

    wah, lagi demam cerbung ya pak. barusan saya mampir di blog mas achoey, isinya cerbung juga. ah, kalau cerbung saya kok blm pernah coba ya.

    maju terus pak. rambah terus lahan kreatif itu

  4. suhadinet
    Juni 25, 2008 pukul 6:26 pm

    To Pak Zulmasri… Demam nulis cerpen sebenarnya Pak Zul, masih harus banyak belajar.

  5. Juni 25, 2008 pukul 7:49 pm

    menarik nich pak ceritanyah…….musti di bikinin buku nich kek pak sawali…..😛

    ========================
    to abeeayang

    Makasih, senang dipuji kamu bee.. Andai saja ada yang tertarik mau membukukan… Masih jauh ‘kali ya..?

  6. Juni 26, 2008 pukul 2:55 pm

    hmmm bagus juga pak,,, napa g’ di kirim ke redaksi koran atau tabloid githu😀

    ==========
    to Zoel

    Wah belum kepikiran sampai sana Zoel, Ini masih latihan dulu..

  7. Juni 26, 2008 pukul 3:19 pm

    gak sabar nunggu kelanjutannya.
    deskripsi khas pak suhadi.
    pak, “to be continue…” itu maksudnya “to be continued” kan ya?

  8. Juni 26, 2008 pukul 3:24 pm

    Nah bagus itu, kasih yang betulnya ya, ntar saya perbaiki posting-nya.😉
    Thanks..
    Satu lagi mo nanya..
    On my sidebar, saya kan nulis longlife learner, itu bener gak?
    Saya kok sering ragu, apa ndak lifelong learner ya?

  9. Juni 26, 2008 pukul 3:33 pm

    lifelong learner, pak, kalau maksudnya you learn for your lifetime, which is true untuk pak suhadi!
    cool profile!

  10. Juni 26, 2008 pukul 3:37 pm

    Nah.. berarti saya mau ganti tu slogan. Untung saya gak pernah malu nampilin tu kata-kata. Jadi bisa dikoreksi sama teman-teman bloger.
    Saya kan niatnya mau belajar sepanjang hayat.
    Senang punya teman kayak kamu dan dr. yuni.
    Berani ngoreksi, dan selalu santun.

  11. Juni 26, 2008 pukul 5:04 pm

    omong2 soal bahasa yang lg diomongin di atas, saya pikir selama orang ngerti aja ga masalah, (cuma saya sendiri juga bingung untuk TA nanti)hehehehe😆

  12. suhadinet
    Juni 26, 2008 pukul 5:36 pm

    To Catra… Emang TA di almamater kamu wajib pakai english? Hebat ya…

  13. Juni 26, 2008 pukul 8:47 pm

    @catra: andaikan semua reviewers di usyd berpikiran seperti adinda, maka nilai-nilai assignment-ku gak ada yang lemes angkanya.
    hiks…

  14. Juni 26, 2008 pukul 10:57 pm

    Pak…kayaknya bapak orang yang ROMANTIS TO THE POINT ya……hahhahahhaa terlihat dari cara bapak nulis hahahaha

    ================
    to Imoe

    Begitukah Moe? Saya gak ngerasa deh…he..he..

  15. Juni 26, 2008 pukul 11:14 pm

    Satu lagi hebatnya. Gile, pinter nyastra juga rupanya guru IPA ini. cekk ckkkk….

    =============
    to Aristo

    Saya sih biasa-biasa aja Pak. Bapak yang hebat!

  16. FAD
    Juni 27, 2008 pukul 1:57 am

    Yang paling serem itu Janda Tukang Teluh dari dusun Girah…Nyi Calon Arang…Pasti Pak Guru Inget itu..

    ===============
    to FAD

    Wah yang mana ya? Saya kurang tahu…

  17. Juni 27, 2008 pukul 2:58 am

    Ketika partikel-partikel lembut betebaran di blog ini, Newton, Einstein, Archimedes, Galilea, dan para ilmuawan lain merasa tergetar.
    Padahal hanya sebuah tulisan yg aku transfer lewat lewat bola mata dengan bantuan seberkas cahaya dapat membangkitkan andrenalin dalam tubuh ini.

    Sekuelnya dibuat lebih GILA lagi pak. RESPECT

    ==================
    to namakuananda

    Mudah-mudahan. Kalau ternyata jelek, jangan kecewa ya. Soalnya masih belajar.

  18. Juni 27, 2008 pukul 2:57 pm

    gemana ya biar bisa bikin cerpen kyk gini?

    =====================
    to kucing keren

    Gimana ya? Asal tulis saja, he..he…

  19. Juni 27, 2008 pukul 4:37 pm

    jadi penasaran ama gadis yang bersenjata laras panjang anaknya Juragan Bani. Apa hubungannya dengan wanita teluh ya.., sehingga ia melindungi sikadal. dan apakah emang gadis itu bulan….? oke, ditunggu kelanjutannya.

    =================
    to jiwa kelana

    Wah, apa saya salah nulis kalimat ya? Yang anak Juragan Bani itu namanya Madi… Bukan gadis bersenjata laras panjang itu.

  20. Juni 28, 2008 pukul 9:49 am

    Inilah salah satu metode dalam dunia penulisan klasik untuk mampu menjaring pembaca yang akan setia mengikuti. Dibuat cerbung, berarti membuat orang penasaran. Psikologi tulisan yang patut dihidupkan!

    Saya tunggu kisah klimaks berikut endingnya.

    Salam,

    =====
    to esensi

    bener ya mau nungguin?

  21. Willy Ediyanto
    Juni 28, 2008 pukul 11:20 am

    Saya tertarik penggambaran seting gaya guru IPA ini. Ilmiah, tapi mengena untuk pembaca terididik.
    Makasih atas kunjungannya.

    =========
    to willyedi

    Makasih support (pujiannya), Makasih juga dah mau kunjung balik

  22. Juni 28, 2008 pukul 12:53 pm

    Pak Suhadi,mantab!!!
    ijinkan aku utk membaca kedua kalinya.

    ======================
    to Langit Jiwa

    Semoga bisa se-mantabb puisi-puisimu Mas
    Monggo dibaca…

  23. cikalie
    Juni 29, 2008 pukul 10:24 am

    Jadi pengen nulis cerpen juga tuh !!!
    tapi sayang ya…Tuhan ga ngasi’ aku kemampuan tuk nulis cerpen.hehe….

    ==============
    to Cikalie

    Saya juga masih belajar Cikalie. Ini baru cerpen ketujuh saya. Awalnya juga jelek. Lihat cerpen pertama saya, di blog ini juga, judulnya Kalung Anyaman Kulit Kijang. Ketahuan banget jeleknya.

  24. Juni 29, 2008 pukul 2:44 pm

    duh panjang banget bang tulisannya … udah 30 menit nih online, lom kelar juga … jadi gak tahu musti comment apa.

    ==================
    to Rindu

    Kalau Rindu memang berkenan membaca, di save aja dulu Mbak.

  25. Juli 1, 2008 pukul 8:43 pm

    lanjut baca part 2 dulu baru komen😀

  26. Juli 1, 2008 pukul 9:20 pm

    MAu lanjut ke bagian dua😀

  27. Juli 3, 2008 pukul 9:02 am

    Mengikuti

  28. Juli 7, 2008 pukul 10:23 am

    wah, pak suhadi bikin cerpen lagi, temanya crime mystery lagi, kaya yang di villa kemaren…
    pak suhadi jago deh, bikin cerita yang seperti ini…😀

  29. Juli 8, 2008 pukul 5:17 pm

    Another nice story…can’t wait to read more😀

  30. akhriadi
    Juni 20, 2009 pukul 4:13 pm

    hehe …. orang amuntai kah pian ????

  1. Juni 30, 2008 pukul 10:24 am
  2. Juli 4, 2008 pukul 6:18 pm
  3. Juli 10, 2008 pukul 8:12 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: